Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
120


__ADS_3

"Sayang, nanti kita jalan yuk." Rendra mengusap pipi halus Dita saat mereka berbaring di atas ranjang setelah pulang dari kampus.


"Jalan ke mana, Mas?" tanya Dita sambil menatap suaminya.


"Ke mana aja, yang penting kita jalan. Aku kangen jalan berdua, Sayang." Rendra kembali mengelus pipi istrinya.


"Mas, kenapa sih? Lagi ada masalah? Kok tumben ngajak jalan padahal enggak lagi weekend." Dita semakin mengerutkan keningnya.


Rendra menggeleng. "Enggak ada apa-apa, Sayang. Aku cuma pengen jalan aja."


"Tapi enggak biasanya loh. Ada apa sih, Mas?" Dita menangkup wajah Rendra.


Rendra meraih tangan Dita yang menangkup wajahnya. Dia lalu mencium lembut tangan belahan jiwanya itu.


"Serius, Sayang. Enggak ada apa-apa. Kok kamu curiga terus sih dari tadi. Enggak percaya sama suami sendiri, hummmm."


"Bukannya enggak percaya, Mas. Tapi, aku udah jadi istri Mas lebih dari setahun loh. Paling enggak aku sudah cukup tahu sifat dan kebiasaan, Mas."


Rendra tersenyum. "Jangan-jangan kamu hamil lagi, Sayang?"


"Enggak mungkin lah, Mas. Baru juga selesai haid dan diproses," kata Dita dengan pipi tersipu.


"Proses lagi, yuk," goda Rendra sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Apaan sih, Mas. Badanku masih capek dan pegal semua ini. Lagian aku juga belum boleh hamil."


"Sini, aku pijat biar ilang capeknya." Rendra mulai memijat lengan Dita.


"Enggak ada acara pijat memijat ya hari ini. Enggak tambah segar malah makin capek yang ada nanti," protes Dita.


"Tuh kan, enggak percaya sama suami sendiri."


"Mas, please. Aku capek dan ngantuk banget ini." Dita menatap Rendra dengan tatapan memohon.


"Oke, tapi nanti malam jalan ya." Rendra memberikan syarat.


"Tapi aku ada tugas, Mas."


"Dikumpul kapan?" tanya Rendra.


"Minggu depan," jawab Dita sambil meringis.


"Bisa besok-besok mengerjakannya kan, Sayang. Kalau enggak mau ya udah, aku pijat lagi nih." Rendra berakting akan memijat Dita lagi.


"Iya, nanti malam kita jalan. Sekarang, izinkan aku tidur dulu ya, Mas." Dita kembali memohon pada suaminya.


Rendra tersenyum puas mendengar jawaban Dita. "Iya, sini aku peluk tidurnya. Janji, cuma peluk aja, biar Sayang makin nyenyak tidurnya."


Dita lebih mendekat pada suaminya. Satu tangannya dia letakkan di pinggang Rendra. "Nanti Asar bangunin ya, Mas."


"Siap, Sayang. Sudah, sekarang tidur. Jangan lupa berdoa dulu."


Dita mengangguk. Dia lalu berdoa dan perlahan memejamkan matanya. Tak butuh waktu lama untuk Dita terlelap karena dia sudah sangat mengantuk dan juga kelelahan.

__ADS_1


"Selamat tidur, Sayang." Rendra mengecup lembut kening Dita. Dia lalu berdoa dan menyusul istrinya ke alam mimpi.


...---oOo---...


"Ma, nanti malam Rendra sama Dita mau keluar. Kami enggak makan di rumah," kata Rendra pada mamanya yang sedang duduk santai di ruang keluarga. Dia lalu duduk di samping mamanya.


"Mau pergi ke mana?" tanya Ibu Dewi.


"Rendra lagi pengen pacaran sama Dita, Ma," jawabnya lugas.


"Ya, enggak apa-apa. Mama mengerti. Nikmati waktu kalian berdua sebelum nanti punya anak lagi."


"Iya, Ma."


"Dita mana?"


"Masih tidur, Ma. Kecapekan dia."


"Jangan sering membuatnya capek, Ren. Kasihan Dita."


"Iya, Ma."


"Tadi kamu mampir dulu ke mana, kok baru pulang?"


"Enggak ke mana-mana. Tadi bakda salat diajak ngobrol sama takmir masjid, Ma."


"Tumben, ada apa?"


"Masjid kan mau mengadakan pengajian akbar memperingati Isra Mikraj. Mereka minta Rendra tilawah sebelum pengajian dimulai."


"Malam Jumat, minggu depan, Ma."


"Untuk umum kan? Mama mau datang kalau boleh."


"Iya, Ma. Jemaah masjid pasti diundang kok. Besok datang aja semua. Tapi kemungkinan bakal ramai karena dibuka untuk umum."


"Ya sudah sana bangunkan istrimu. Nanti keburu habis waktu Asar," titah Ibu Dewi.


"Siap, Ma. Rendra ke kamar dulu." Dia bangkit dari duduknya kemudian beranjak masuk ke kamar.


Dita masih tampak tertidur pulas saat Rendra masuk ke kamar. Rupanya istrinya benar-benar kelelahan. Dia sedikit merasa bersalah karena sudah membuat Dita kepayahan semalam saat melayaninya. Seharusnya dia lebih bisa menahan dirinya. Tetapi, Dita sudah menjadi candu baginya jadi sangat sulit untuk bisa menahan diri.


Rendra mendekati ranjang. Dia membelai kepala Dita, kemudian mengecup keningnya. "Bangun, Sayang. Salat Asar dulu."


Dita mulai membuka matanya pelan. "Jam berapa, Mas, sekarang?"


"Jam empat," kata Rendra sambil tersenyum manis pada istrinya.


Dita terkejut, bola matanya langsung melebar. Ternyata cukup lama dia tidur tadi.


"Rileks, Sayang. Santai, enggak usah terburu-buru nanti malah sakit kepala. Pelan-pelan saja bangunnya," saran Rendra saat melihat Dita ingin segera bangkit dari tidurnya.


"Mas, kenapa baru bangunin aku?" Dita cemberut.

__ADS_1


"Aku baru pulang dari masjid, terus tadi ngobrol sebentar sama mama. Jadi baru bisa bangunin kamu, Sayang." Rendra kembali membelai rambut istrinya.


"Mau mandi dulu atau salat dulu, Sayang?"


"Salat dulu aja, Mas. Udah telat waktunya." Dita bangun dari tidurnya lalu duduk di atas ranjang.


"Habis salat terus mandi kan. Nanti aku siapin air hangatnya, sekalian aku kasih aroma terapi, biar capek dan pegalnya hilang."


"Makasih, Mas Rendra Sayang." Dita tersenyum lalu merangkul leher suaminya. Dia mengecup kedua pipi Rendra.


"Jangan memancingku, Sayang," kata Rendra dengan senyum menggoda.


Dita segera menjauhkan wajah dan badannya dari Rendra. "Memangnya Mas itu ikan pakai dipancing segala," ledeknya. "Udah, aku mau wudu dulu."


Dita secepat kilat pergi dari samping Rendra sebelum suaminya itu semakin menggodanya. Setelah membersihkan diri dan wudu, Dita menjalankan salat Asar. Sementara itu, Rendra menyiapkan air hangat untuknya di kamar mandi.


Usai salat dan berdoa, Dita masuk lagi ke kamar mandi untuk mandi. Sesudah menutup pintu, dia terkejut melihat Rendra yang masih ada di sana. Dia pikir suaminya sedang ke luar kamar. "Mas, ngapain? Belum selesai siapin airnya?" tanyanya curiga.


"Udah kok. Aku nungguin kamu, Sayang," jawab Rendra sambil menghampiri istrinya. Segera dia kunci pintu kamar mandi sebelum Dita kabur dari hadapannya. "Kita mandi bareng ya."


"Tapi, Mmmmmmhhhh." Dita tak bisa melanjutkan ucapannya karena Rendra sudah membungkam bibirnya dengan ciuman yang memabukkan.


Meski awalnya Dita memprotes, tetapi akhirnya dia menikmati setiap sentuhan yang Rendra berikan. Mereka saling memberikan kenikmatan hingga mencapai puncak nirwana bersama.


"Su ... dah ya, Mas," pinta Dita yang masih terengah-engah.


"Iya, Sayang. Terima kasih." Rendra mengecup kening istrinya. "Tapi, nanti malam kita lanjut lagi," bisiknya.


"Ahhhh, Masssss," pekik Dita.


Rendra tertawa melihat istrinya. "Sudah, jangan protes. Sayang, mau dilaknat sampai pagi?"


Dita menggeleng sambil cemberut.


"Istriku memang salihah." Rendra tersenyum seraya menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah istrinya.


"Sayang, berendam dulu aja biar pegal dan capeknya hilang. Aku mandi dulu pakai shower." Rendra lalu mengangkat tubuh belahan hatinya itu ke dalam bath up.


Dita memposisikan dirinya dengan nyaman di bath up. Dia memejamkan mata sembari menikmati hangatnya air dan harumnya aroma terapi yang menenangkan. Dia hanya ingin menghilangkan rasa lelah di tubuhnya. Dia juga tidak memedulikan Rendra yang mandi di depannya.


"Sayang, bangun. Ayo mandi, malah tidur nyenyak di sini. Udah setengah jam loh berendam, nanti masuk angin." Rendra mengelus-elus pipi Dita.


"Hah ... aku ketiduran ya, Mas. Enak banget sih rasanya."


"Ayo, bangun, Sayang. Apa perlu aku gendong?" tawar Rendra.


"Enggak-enggak, aku bangun sendiri." Dita segera bangun dan keluar dari bath up.


"Sayang, langsung mandi pakai shower aja. Ini aku yang bersihkan. Sebentar lagi Magrib, setelah Magrib kita pergi."


"Iya, Mas."


...---oOo---...

__ADS_1


Jogja, 180521 13.15


Jangan lupa jempol atau like-nya ya Kak setelah membaca, terima kasih šŸ™


__ADS_2