
"Nak Rendra, meski Nak Rendra dan Dita sama-sama saling mencintai, tapi maaf, saya tidak mengizinkan kalian pacaran."
Deg ... deg ... deg ....
Jantung Rendra berdetak lebih kencang dari biasanya. Dia merasa seluruh tulang di tubuhnya menjadi lemah. Telapak tangannya mulai basah. Pikirannya kosong. Tapi dia berusaha secepatnya menguasai diri. Seharusnya dia sudah mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi, menyiapkan mentalnya untuk hal yang terburuk. Dan, saat ini dia hanya bisa menerima dengan pasrah keputusan yang diambil oleh Ayah Dita.
“Nak Rendra, saya memang tidak akan mengizinkan anak saya pacaran karena tidak ada pacaran dalam Islam. Pacaran hanya akan mendekatkan pada zina, dan saya tidak mau anak saya mendekati zina apalagi melakukannya.” (1)
“Bila memang Nak Rendra mencintai Dita, silakan Nak Rendra melamar dan menikah dengan dia, saya pasti akan langsung mengizinkan.” Tutur Pak Wijaya tegas.
“Ayah,” seru Adi dan Dita bersamaan.
“Tapi Rendra dan Dita masih kuliah, Yah. Apa harus secepat ini?” Adi berusaha membujuk Pak Wijaya.
“Memangnya kenapa kalau masih kuliah?” Pak Wijaya mengerutkan keningnya.
“Setidaknya biarkan mereka bertunangan dulu baru menikah nanti saat mereka sudah siap, paling tidak sampai Rendra selesai kuliah.” Ujar Adi.
“Tidak ada tunangan dalam Islam. Adi, kenapa kamu membela mereka? Apa kamu tidak mau dilangkahi adikmu?”
“Ayah, bukan begitu. Aku tidak masalah kalau Adek mau menikah dulu. Justru aku akan lebih tenang. Aku tidak perlu khawatir Adek di rumah sendiri kalau aku harus lembur sampai malam. Tetapi mereka masih sangat muda dan masih kuliah, apa tidak bisa Ayah pertimbangkan lagi?” Bujuk Adi.
“Menikah saat kuliah diperbolehkan, tidak ada hukum yang melarangnya. Dan keputusan ayah sudah final, menikah atau tidak usah berhubungan sama sekali.” Tegas Pak Wijaya.
Dita sedari tadi hanya diam mendengarkan sambil memegang erat tangan bundanya. Dia tidak berani membantah ayahnya seperti Adi. Meski Pak Wijaya terlihat lembut dan penuh sayang pada anak-anaknya, tetapi perihal pendidikan agama memang keras dan tegas.
Saat Adi hendak bicara, Rendra mencegahnya. “Mas Adi, izinkan saya yang bicara dengan Pak Wijaya.”
Adi menganggukan kepala dan memberi Rendra kesempatan untuk bicara.
“Untuk soal lamaran dan menikah, kalau boleh izinkan saya berbicara dengan Dita terlebih dahulu. Saya juga harus membicarakannya dengan keluarga saya, terutama mama dan kakak saya yang belum menikah. Saya memang serius dengan putri Pak Wijaya, tetapi untuk menikah terus terang saya juga belum memikirkannya.” Ujar Rendra.
“Kenapa belum memikirkan untuk menikah? Saya lihat Nak Rendra sudah mampu dan juga sudah berpenghasilan, apa lagi yang harus dipikirkan? Kalau sudah berani jatuh cinta dan meminta izin pada orang tua seorang gadis harusnya Nak Rendra sudah memikirkan untuk menikah.” (2)
“Saya memang sudah memikirkan untuk menikah dengan Dita, tetapi tidak dalam waktu dekat atau saat saya masih kuliah. Apa boleh saya melamar dahulu baru menikah setelah saya lulus kuliah?”
“Berapa lama lagi Nak Rendra selesai kuliah?” Tanya Pak Wijaya.
“Insya Allah bila semuanya lancar 1,5 tahun lagi, Pak.” Jawab Rendra.
__ADS_1
“Saya tidak setuju. Terlalu lama jarak antara lamaran sampai menikah, pernikahan itu hal baik yang jadi sebaiknya disegerakan."
"Menurut Bapak, sebaiknya berapa lama jarak antara lamaran sampai menikah?"
"Lebih cepat lebih baik, tapi maksimal saya beri waktu 6 bulan untuk mempersiapkan pernikahan."
Suasana menjadi hening, masih terasa aura ketegangan di sana.
Kepala Rendra berdenyut, dia sama sekali tidak menduga hal ini akan terjadi. Dia berusaha tetap berpikir jernih meski Pak Wijaya hanya memberikannya dua pilihan dan lebih mendesaknya. Sebisa mungkin dia masih ingin bernegosiasi dengan kepala dingin.
Melepaskan Dita? Tentu saja itu hal yang tidak mungkin dia lakukan. Dia sudah berjalan sejauh ini dan pantang baginya untuk mundur. Sekilas tadi dia sempat melihat wajah Dita yang menjadi murung, dan itu sangat menyakiti hatinya. Dita yang sangat dia rindukan selama dua minggu ini sedih karena dia.
"Menikah itu menyempurnakan separuh agama, apa Nak Rendra tahu?" Pak Wijaya kembali memecah keheningan. (3)
"Iya, saya tahu Pak."
"Apa Nak Rendra tidak ingin menyempurnakan separuh agama?"
"Tentu saja saya mau Pak."
"Nak Rendra, kalau begitu pikirkan baik-baik semua yang saya katakan tadi. Nanti bicarakan dengan Dita karena kalian yang akan menjalani dan memutuskan akan berlanjut ke pernikahan atau cukup sampai di sini. Adi, nanti kamu temani mereka bicara setelah makan siang, jangan biarkan mereka berdua saja."
"Iya, Pak."
"Sebentar lagi masuk waktu zuhur, kita salat di masjid. Nanti Nak Rendra ya yang azan dan iqomah di masjid."
"Baik, Pak."
"Saya siap-siap dulu, setelah itu kita berangkat ke masjid." Pak Wijaya lalu masuk ke dalam untuk berganti baju takwa dan sarung.
"Ayo Nak Rendra diminum lagi tehnya, pasti haus kan. Kalau kurang nanti biar ditambah sama Dita." Bu Hasna berusaha mencairkan suasana yang tadi sempat tegang.
"Iya Bu, sudah cukup ini." Rendra menyesap tehnya yang ternyata sudah dingin karena sudah terlalu lama disajikan, membuatnya sadar kalau mereka cukup lama melakukan pembicaraan tadi.
"Maafkan sikap ayahnya Dita ya Nak Rendra, beliau memang cukup keras soal prinsip agama." Ucap Bu Hasna.
"Tidak ada yang harus dimaafkan Bu. Justru saya salut pada bapak yang benar-benar menjaga putra putrinya agar tidak berbuat dosa." Rendra menyunggingkan senyumnya.
"Ayo Rend kita ke masjid dulu, kamu kan harus azan jangan sampai didahului orang lain." Ajak Adi sembari menepuk bahu Rendra.
__ADS_1
"Iya Mas. Bu Hasna, saya ke masjid dulu. Assalamu'alaikum." Rendra bangkit dari duduknya lalu mengikuti Adi menuju ke masjid.
"Wa'alaikumsalam," balas Bunda dan Dita bersamaan.
"Ayo Dek, kita masak sekarang." Ajak Bunda pada Dita, lalu mereka berdua berjalan ke dapur.
Bunda memanaskan oven dengan metode grill untuk membakar nila yang sudah digoreng dan dioles dengan bumbu bakar.
"Bikin capcai sambil goreng tempe dan tahu ya Dek, biar Bunda yang mengulek sambal."
"Iya Bun," Dita lalu menyalakan 2 tungku kompor dan menyiapkan bahan di dekatnya.
"Bun, apa iya aku harus menikah?"
"Ya, pasti suatu saat juga Adek menikah kan."
"Tapi juga enggak secepat ini kan Bun?"
"Nanti Adek bicarakan dulu sama Nak Rendra, yang akan menjalani kan kalian. Kalau bunda hanya mendukung dan mengarahkan saja."
"Bunda sudah tahu ya ayah bakal kaya tadi?"
"Belum Dek, tapi bunda sudah menduganya."
"Menurut bunda, aku harus bagaimana?"
"Perasaan Adek sendiri bagaimana sama Nak Rendra kan Adek tahu. Kalau Adek tidak siap menikah berarti Adek harus siap melepas Nak Rendra."
"Tapi kan aku masih kuliah Bun, umurku juga masih 19 tahun."
"Sudah nanti dibicarakan lagi dengan kepala dingin. Sekarang kita fokus masak dulu, jangan sampai mereka sudah pulang kita belum selesai masak."
"Iya Bun."
...※※※※※...
Catatan :
(1) Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al Isra’: 32)
__ADS_1
(2) "Wahai para pemuda, barangsiapa yang sudah sanggup menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kema luan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu obat pengekang nafsunya." (HR Bukhari dan Muslim)
(3) "Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah kepada Allah pada separuh lainnya." (HR Baihaqi)