
“Girls, kalian mau ke Gelanggang Expo enggak?” ajak Baim pada Dita dan Bella yang sedang asyik mengobrol di ruang kuliah sambil menunggu dosen datang.
“Mau dong, nanti jadi bisa pilih UKM mana yang paling menarik, sekalian cuci mata lihat kating dari jurusan lain,” sahut Bella dengan binar mata ceria. “Kamu mau kan, Ta?”
“Oke.” Jawab Dita singkat.
“Yessss!!!!” Pekik Bella girang, membuat beberapa orang yang ada di sana menoleh padanya.
“Enggak usah lebai gitu deh, Bel.” Tegur Dita yang merasa tidak enak karena teriakan Bella sudah mengganggu beberapa temannya.
“Oke, gimana kalau kita ke sana pas malam terakhir saja? Kan malam Minggu biar sekalian lihat closing ceremony? Bisa pulang malaman lah kan Minggu-nya libur.” Usul Baim.
“Sampai jam berapa Im kira-kira? Kosku tutup gerbang jam 10.00.” Tanya Bella.
“Ya besok kita bisa pulang jam setengah sepuluh biar kamu tetap bisa masuk kos, Bel.” Jawab Baim.
“Oke, gimana Ta, kamu bisa kan minta izin sama kakakmu?” Tanya Bella pada Dita.
“Ya nanti aku bilang sama Mas Adi dulu, semoga dikasih izin pulang malam.” Jawab Dita, meskipun sudah dewasa tetapi Dita memang jarang keluar malam kecuali dengan Adi atau pun ayah bundanya. Sebenarnya keluarganya juga tidak menerapkan jam malam karena memang Dita terbiasa pulang sebelum hari gelap dan dia tipe gadis rumahan yang jarang hang out dengan teman-temannya terutama di malam hari.
“Apa perlu aku jemput dan antar kamu Dit? Atau aku minta izin langsung sama kakakmu?” Tanya Baim.
“Enggak perlu Im, nanti malah masku berpikir kalau kamu itu pacarku.” Jawab Dita sambil tergelak.
“Ya enggak apa-apa kan Dit, lagian kamu juga enggak punya pacar, aku juga enggak punya, jadi kita bebas bisa pacaran.” Ujar Baim sambil memainkan alisnya naik turun.
“Kira-kira dong Im kalau bercanda.” Dita memukul bahu Baim dengan diktatnya.
“Hahaha ... aduh, keras juga cuy pukulanmu, Dit.” Baim memegang bahunya yang dipukul Dita.
“Heloooo ... aku masih di sini ya.” Sela Bella sambil melambaikan tangan di depan Dita dan Baim.
“Iya siapa yang bilang kamu sudah pergi.” Sahut Dita tanpa rasa berdosa.
“Iya emang aku masih di sini, tapi tingkah kalian ini seolah aku jadi makhluk transparan di sini yang enggak terlihat.” Gerutu Bella.
“Uluh ... uluh Bella tayang, cini-cini peyuk dulu.” Dita merangkul Bella yang mulai merajuk sementara Baim tertawa melihat geli melihat mereka berdua.
“Aku kok merasa jadi punya dua istri ya, yang satu lagi merajuk minta perhatian, yang satu coba menenangkan.” Baim makin tergelak dengan ucapannya sendiri.
Seketika Dita dan Bella melepas pelukan mereka dan kompak memukul kepala Baim dengan diktat mereka.
__ADS_1
Bukksss.
“Aduhhhh!!!! Gila ya kalian berdua kalau marah, sadis banget mainnya mukul orang.” Ucap Baim sambil memegangi kepalanya yang jadi pusing karena dipukul Dita dan Bella.
“Makanya kalau ngomong itu yang bener jangan suka asal.” Ketus Bella.
“Iya kan aku cuma bercanda kali, enggak serius.” Ujar Baim membela diri.
“Becandamu enggak lucu tapi Im.” Sahut Dita datar.
“Oke, aku minta maaf ya, Girls. Kita damai oke.” Baim mengangkat kedua tangannya membentuk huruf V sambil memberikan senyum termanisnya.
...---oOo---...
Rendra sedang melihat agenda Gelex (Gelanggang Expo) di ponselnya saat Bara datang menghampirinya.
“Bro, lo mau ikut tampil di Gelex?” Tanya Bara penasaran.
“Mungkin, tergantung gimana keputusan pertemuan besok.” Rendra mengangkat bahunya.
“Emang lo enggak ikut latihan?” Tanya Bara lagi.
“Iya, gue tahu. Kayaknya udah saatnya lo cari orang buat ngurus kafe lo jadi lo enggak harus terjun langsung, apalagi tahun depan kita sudah KKN.” Saran Bara.
“Gue juga udah memikirkan hal itu, tapi lo tahu sendiri nyari orang yang bisa dipercaya itu susah. Gue tetap enggak bisa lepas tangan juga kalau nanti sudah ada yang ngurus. Sekarang gue juga udah enggak tiap hari ke sana paling dua atau tiga hari sekali, tetapi kalau weekend gue usahain stay di sana tiap sore.” Terang Rendra sambil menerawang ke masa lalu.
Sejak papanya meninggal, Rendra yang merupakan satu-satunya pria di keluarganya merasa harus bertanggung jawab pada keluarga. Meski bukan sebagai tulang punggung keluarga tetapi dia ingin membantu mamanya yang menggantikan papanya sebagai tulang punggung keluarga, setidaknya dia ingin meringankan beban mamanya bisa mempunyai uang saku sendiri tanpa harus meminta.
Dia ingat sekali perjuangan mamanya dulu saat merintis usaha butiknya, dari seorang ibu rumah tangga menjadi sosok ayah dan ibu sekaligus mencari nafkah untuk ketiga anaknya yang saat itu semua masih sekolah dan kuliah sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Mamanya berangkat pagi-pagi sekali dan pulang larut malam, hampir semuanya beliau handle sendiri saat itu meski sudah ada dua orang pegawai yang membantu mama.
Untung saja papanya meninggalkan aset dua ruko sehingga mamanya tidak perlu menyewa ruko untuk membuka butik. Dengan modal dari uang tunjangan papa, mamanya membeli peralatan menjahit seperti mesin jahit, mesin obras, mesin wolsum, mesin bordir dan segala pernak pernik jahit lainnya, tidak lupa etalase, maneken, serta peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk membuka butik.
Tahun pertama merupakan tahun perjuangan mamanya, alhamdulillah di tahun kedua butik mamanya sudah mulai dikenal orang dan mulai banyak pelanggan. Karena para pelanggan puas dengan pelayanan dan hasil jahitan butik mamanya, mereka merekomendasikan butik mamanya pada keluarga, teman atau pun relasi mereka membuat jumlah pelanggan semakin banyak dan menjadi sebesar sekarang. Dan, mamanya sudah bisa bersantai sekarang karena beliau hanya mengerjakan desain saja tidak meng-handle semuanya sendiri lagi.
Sejak kecil Rendra suka menggambar dan mendesain, karena itu sejak SMA dia bekerja sebagai freelancer online sebagai desainer grafis. Uang yang dia dapatkan ditabung atau untuk keperluan yang mendesak dan dia tidak ingin memintanya pada orang tua.
Setelah papanya meninggal, dia berpikir untuk membuka usaha sendiri. Karena dia menyukai kopi dan saat itu memang sedang tren kopi dia berniat membuka kafe. Saat liburan semester kenaikan kelas 3 SMA dengan uang tabungannya dia mengikuti kursus barista kopi mulai dari tingkat dasar mengenal kopi, roasting kopi, manual brewing, menggunakan mesin espreso sampai belajar manajemen coffee shop dan juga sudah mengikuti uji kompetensi barista, jadi dia merupakan barista yang mempunyai sertifikasi profesi barista. Selanjutnya dia bekerja part time sebagai barista kopi di salah satu kafe di Jogja, belajar langsung sekaligus praktek di sana selama kurang lebih setahun.
Begitu selesai UN (Ujian Nasional) dia minta restu pada mamanya untuk membuka kafe sendiri di sebelah butik mamanya. Mamanya mengizinkan asal dia tetap kuliah dan bisa membagi waktunya. Akhirnya dengan modal uang tabungannya dan tambahan uang dari mamanya dia membuka kafenya sendiri.
Dia memberi nama kafenya Osu Kafe. Osu (dilafalkan oss atau osh) merupakan kata yang biasa diucapkan oleh para karateka. Osu berasal dari dua kata OSHI dan SHINOBU. Oshi berarti tekanan dan Shinobu berarti bersabar/bertahan. Kombinasi dari dua kata ini berarti bertahan/bersabar dalam tekanan atau sering juga diartikan pantang menyerah. Jadi dia mengambil filosofi dari kata itu untuk selalu bekerja keras dan berjuang sampai akhir dalam membangun usaha kafenya.
__ADS_1
“Woi Bro, kok malah melamun, nanti kesambet bidadari jurusan arsitektur loh.” Goda Bara sambil menepuk bahu Rendra yang melihat dia sedang asyik melamun.
Rendra sedikit tersentak karena tepukan Bara di bahunya. “Eh, sori. Lo bilang apa tadi?”
“Lo dicari tuh ama Dita.” Bara menunjuk ke arah pintu dengan dagunya, yang seketika membuat Rendra menoleh ke pintu ruang kuliah.
“Sialan lo nipu gue,” geram Rendra saat tidak menemukan siapa pun di sana, apalagi Dita.
“Ecieeee ngarep neh disamperin sama Dita.” Bara tersenyum menggoda sambil menaik turunkan alisnya.
“Rese lo.”
Bara tergelak sambil memegangi perutnya, dia senang sekali melihat ekspresi wajah Rendra yang memerah karena kesal.
“Bro, gue mau ngajak Dita ke Gelex, gue kan nyanyi di closing ceremony. Gue mau persembahkan lagu buat dia. Siapa tahu dia mau jadi pacar gue setelah gue nyanyiin lagu buat dia.” Pancing Bara.
“Terserah lo,” sahut Rendra pendek.
“Bener ya, lo enggak boleh cemburu besok.”
“Buat apa gue cemburu, emang dia siapa gue?”
“Dia, cewek yang udah narik pikiran lo.”
“Mulai ngaco nih anak, males gue ngomong ama lo.” Rendra beranjak dari kursinya dan meninggalkan Bara yang masih berusaha menggodanya.
...※※※※※※※...
Catatan :
Gelanggang Expo (Gelex) merupakan acara rutin tahunan yang bertujuan untuk memperkenalkan unit kegiatan mahasiswa (UKM) dan beberapa komunitas yang ada di UGM. Bukan hanya sekedar memperkenalkan melalui pertunjukan dari masing-masing UKM, namun akan ada stan UKM yang menyediakan informasi mengenai UKM mereka serta akan ada open recruitment (pendaftaran anggota baru) di stan tersebut.
Closing ceremony \= acara penutupan
Freelancer online adalah pekerja lepas di situs freelance (Situs freelance adalah platform, dimana pencari kerja dan pencari jasa mengunggah tawaran mereka).
Roasting kopi merupakan proses memasak biji kopi mentah dengan cara disangrai atau dipanggang, pada dasarnya roasting adalah proses mengeluarkan air dalam kopi, mengeringkan dan mengembangkan bijinya, mengurangi beratnya memberikan aroma pada kopi tersebut.
Manual brewing merupakan salah satu cara menyajikan kopi yang diseduh dengan cara manual, tanpa menggunakan mesin espreso dan sebagainya tapi memerlukan kertas penyaring khusus.
Mesin espreso adalah tonggak awal lahirnya sajian minuman kopi espreso. Minuman ini dihasilkan dengan cara mengekstraksi bubuk kopi dengan menyemburkan air panas di bawah tekanan yang tinggi. Mesin kopi ini berasal dari Italia. Nama espreso pun berasal dari bahasa Italia yang berarti express atau cepat karena dibuat untuk disajikan sesegera mungkin kepada pelanggan.
__ADS_1