Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
55


__ADS_3

Dita dan Rendra kembali ke rumah Ibu Dewi setelah Dita mengambil perlengkapan hariannya dan beberapa potong baju. Kemudian Rendra mengecek dan mengunci semua pintu rumah sebelum mengajak Dita masuk ke kamar. Setelah memastikan semua aman, Rendra baru menuju ke kamarnya.


Rendra membuka pintu kamar.


“Masuk dulu, aku mau ambil minum sebentar.” Rendra menyuruh Dita untuk masuk, sementara dia ke dapur untuk mengambil gelas dan botol minum. Sudah menjadi kebiasaannya selalu menyediakan minum di kamar, jadi begitu bangun dia langsung minum segelas air putih.


Dita mengamati kamar Rendra yang lebih luas dari kamarnya. Meski simpel tapi terlihat tertata rapi untuk ukuran pria, bahkan mungkin lebih rapi dari kamarnya. Dia melihat ada papan tertempel di dinding yang berisi jadwal dan beberapa daftar pekerjaannya. Tipe orang yang terorganisir sekali suaminya itu.


Tak lama Rendra masuk ke kamar dengan membawa satu gelas bertutup berisi air putih dan satu botol penuh air lalu dia meletakkannya di atas nakas. Rendra kembali menuju ke pintu kamar, dia menutup lalu mengunci pintunya.


“Kok ... dikunci Mas kamarnya.” Dita mulai merasa gugup.


“Sudah kebiasaan, kenapa? Takut berdua sama aku? Apa harus aku buka lebar-lebar pintunya?” Tanya Rendra sambil berjalan ke arah Dita.


“Eng ... enggak,” jawab Dita yang terlihat salah tingkah saat Rendra mendekatinya.


“Kamu kenapa sih jadi gugup begini? Bikin aku jadi gemas.” Rendra tersenyum sambil mengusap pipi Dita.


“Bajumu ditaruh di lemari sana, kayanya masih ada satu rak kosong. Perlengkapanmu ditaruh atas di nakas atau meja kerja dulu. Besok kita cari meja rias dan lemari buat kamu. Aku ke kamar mandi dulu.” Rendra mengambil baju ganti lalu masuk ke kamar mandi.


Dita lalu menuju lemari untuk meletakkan bajunya, kecuali baju tidur yang nanti akan dia pakai. Setelah itu dia meletakkan perlengkapannya di atas meja lalu duduk di kursi sambil menunggu Rendra keluar dari kamar mandi. Dita sedang berusaha menenangkan debaran jantungnya yang sangat kencang sejak masuk ke kamar Rendra.


Rendra keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar dengan memakai kaos tanpa lengan dan celana kolor di atas lutut.


“Ganti baju dan bersih-bersih dulu gih,” suruh Rendra pada Dita.


Dita mengangguk lalu membawa perlengkapan dan baju tidurnya ke kamar mandi.


Sambil menunggu Dita keluar dari kamar mandi, Rendra mengambil notebook-nya lalu duduk di atas tempat tidur. Dia ingat harus segera mengirimkan desain yang deadline-nya besok. Untung saja dia sudah mengerjakan beberapa bagian siang tadi jadi hanya tinggal menyelesaikannya saja. Saking seriusnya bekerja, Rendra tidak sadar kalau Dita sudah duduk di sampingnya.


“Serius banget Mas, baru bikin apa?” Tanya Dita sambil melirik pekerjaan Rendra.


“Eh ... sudah keluar. Ini pesanan desain, harus segera dikirim. Kalau kamu sudah ngantuk tidur saja dulu.” Jawab Rendra sambil menunjukkan notebook-nya pada Dita.


“Aku belum ngantuk, aku temani boleh?” Dita menatap Rendra yang sedang bekerja.


“Wah ... boleh banget. Mau lah kalau setiap kerja ditemani kamu kan jadi makin semangat kerjanya.” Rendra menoleh dan tersenyum pada Dita.


“Mas, sering ya nerima pekerjaan desain kaya gini? Padahal kan Mas sudah punya kafe.” Tanya Dita penasaran.


“Ini justru kerjaan awalku dulu sebelum punya kafe. Di masa sekarang kita enggak bisa mengandalkan pemasukan dari satu tempat. Selama masih mampu mengerjakan ya aku tetap terima pesanan untuk bikin desain. Apalagi sekarang aku punya istri yang harus aku nafkahi, jadi aku harus lebih keras bekerja.” Jawab Rendra tanpa mengalihkan pandangannya dari pekerjaannya.


“Jadi Mas sering ya tidur malam untuk kerja, padahal masih ada tugas kuliah dan bikin laporan praktikum, belum lagi ngurusi kafe.”


“Mmhhh ... kadang-kadang apalagi kalau pas deadline. Doakan saja suamimu ini selalu diberi kesehatan jadi bisa tetap kuliah dan kerja.” Rendra mengusap rambut Dita.

__ADS_1


“Aamiin ... iya Mas,” Dita kembali melihat Rendra bekerja.


“Kok diam, sudah ngantuk ya?” Tanya Rendra setelah beberapa saat Dita hanya diam saja.


“Belum, nanti kalau aku ajak ngobrol terus, Mas enggak konsen kerjanya.” Jawab Dita beralasan.


“Justru aku makin semangat kalau dengar suaramu, jadi benar-benar merasa ditemani dan didukung istri. Ini tinggal sedikit lagi selesai terus bisa langsung aku kirim.” Terang Rendra.


"Berapa desain yang bisa dikerjakan dalam sehari?"


"Tergantung tingkat kesulitan, kalau desain simpel satu jam bisa selesai, kalau rumit bisa berhari-hari. Tapi ya sepadan sama uangnya. Makin rumit makin mahal tarifnya."


"Tiap hari pasti ada ya yang pesan?"


"Alhamdulillah, tetapi juga tidak semua aku terima. Nah, sudah selesai tinggal kirim via email." Rendra menyimpan desainnya lalu mengirimkannya ke pemesan via email. Setelah memastikan email terkirim, Rendra mematikan notebook-nya lalu menyimpannya di atas meja kerjanya.


"Masih mau ngobrol apa langsung tidur?" Tanya Rendra setelah dia kembali duduk di atas tempat tidur.


"Terserah Mas," jawab Dita sambil menunduk.


"Kamu kok suka banget menunduk sih," Rendra mengangkat dagu Dita agar tidak menunduk.


"Aku malu Mas." Pipi Dita terlihat merona.


"Biasanya sih gelap, tapi kalau pakai lampu kecil juga enggak apa-apa."


"Pakai lampu kecil dulu aja ya, kita masih ngobrol kan. Kalau nanti sudah mau tidur baru dimatikkan lampunya."


Dita menganggukkan kepala, Rendra lalu menyalakan lampu tidur di atas nakas dan mematikan lampu utama. Sekarang suasana kamar menjadi temaram.


Rendra kembali mendekat pada Dita yang terlihat gugup meski dengan pencahayaan yang temaram. Sejujurnya Rendra pun merasa gugup dan tegang, karena ini juga pertama kalinya dia berduaan dengan seorang wanita di kamar. Tetapi dia menutupi hal itu dengan terus mengajak Dita bicara.


"Kamu ingin kita bulan madu ke mana setelah resepsi?" Rendra tiba-tiba merangkul bahu Dita hingga membuat Dita menatapnya.


"Apa perlu bulan madu Mas? Mending uangnya ditabung untuk pengembangan kafe."


"Memang kamu enggak mau bulan madu? Soal kafe itu sudah ada anggaran sendiri jangan terlalu dipikirkan. Kita sekarang jangan bahas pekerjaan, oke."


Dita menganggukkan kepala. "Ya mau kalau memang ada rezeki, tetapi enggak juga enggak apa-apa."


"Kita harus pergi bulan madu, itu hadiahku buat kamu. Tapi di dalam negeri dulu ya, insya Allah kalau besok ada rezeki lagi kita jalan ke luar negeri. Dulu aku ingin umroh sambil bulan madu, tapi sepertinya tabunganku masih belum cukup untuk kita pergi berdua, enggak apa-apa kan?"


"Kan tadi aku sudah bilang enggak bulan madu pun enggak apa-apa. Aku ikut Mas saja, yang penting jangan diada-adakan uangnya apalagi harus berutang."


"Insya Allah kalau di dalam negeri sudah ada uangnya. Suamimu ini pantang loh berutang. Ada tempat yang ingin kamu datangi enggak?"

__ADS_1


"Aku ingin melihat pemandangan alam yang indah saja. Terserah Mas di mana."


"Kamu ini polos banget sih, enggak pernah minta yang neko neko. Mengerti banget kalau suaminya ini bukan orang kaya raya." Rendra menyentil pelan hidung Dita.


"Sakit Mas," Dita memegang hidungnya.


"Masa sih sakit, coba lihat sini." Rendra menyingkirkan tangan Dita dari hidungnya. Rendra mendekatkan wajahnya.


Cup ....


Rendra mencium hidung Dita lalu dia tersenyum. "Sudah enggak sakit kan."


Dita mengangguk sambil tersenyum malu.


Rendra lalu duduk tegak, dia kini berhadapan dengan Dita. Matanya menelusuri kecantikan wajah Dita lalu berhenti saat mata mereka saling bertatapan. Tangan Rendra menangkup wajah Dita lalu dia mendekatkan dirinya.


Bibirnya dengan lembut dan pelan mengecup kening Dita lama, membuat Dita akhirnya memejamkan mata. Lalu dia berpindah mengecup kelopak mata kanan, kiri, hidung, pipi kanan, pipi kiri dan berakhir di bibir Dita.


Rendra menggerakkan bibirnya pelan, menikmati setiap sentuhan mereka. Meski pada awalnya Dita hanya diam tak bereaksi, kini dia ikut menggerakkan bibirnya walau masih kaku, mengikuti alur yang Rendra ciptakan. Hingga mereka melepaskan diri saat mereka kehabisan napas.


Rendra menyatukan kening mereka, kini tangannya memegang tengkuk Dita. Tak lama Rendra kembali merasakan lagi manisnya bibir Dita yang basah. Dari yang semula pelan, lama-lama menjadi lebih menuntut. Hingga beberapa kali mereka harus berhenti untuk mengambil napas.


Tanpa Dita sadari kini Rendra sudah mulai menelusuri leher jenjangnya, memberikan kecupan dan gigitan kecil di sana.


"Mas ...," desah Dita tanpa sadar yang membuat Rendra semakin kehilangan kendali.


Saat tangan Rendra mulai menelusuri bagian bawah tubuh istrinya, Dita mulai tersadar.


"Mas, ... aku ... baru ... haid." Ucap Dita dengan napas tersengal karena terlalu terbuai sentuhan Rendra.


Rendra segera menghentikan kegiatannya, kesadarannya pelan-pelan kembali. Dia melihat baju tidur Dita yang sudah acak-acakan karena ulahnya.


"Maaf, aku hilang kendali." Rendra memeluk Dita lalu mengecup keningnya singkat. Dia merapikan kembali baju tidur Dita yang berantakan.


"Ayo kita tidur." Rendra mengajak Dita berbaring di sampingnya. Mereka akhirnya berbaring saling berhadapan.


"Mas marah ya?" Dita menatap mata Rendra.


"Enggak, aku yang salah. Aku sudah kehilangan kendali. Maaf ya." Rendra kembali mencium kening Dita.


"Aku tidak akan meminta hakku sampai kita resmi menikah. Ingatkan aku kalau suatu saat aku kehilangan kendali lagi." Ucap Rendra sambil menatap mata Dita.


"Sudah malam, kita tidur ya." Rendra lalu mematikan lampu tidur.


"Selamat tidur istriku, i love you." Rendra mengecup kening Dita lalu mereka tidur dengan saling berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2