Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
86


__ADS_3

“Mas, semester tiga nanti aku ambil 24 SKS (Satuan Kredit Semester) ya.”


Cittttt ....


Rendra yang sedang menyetir, mengerem mendadak. Mereka beruntung keadaan lalu lintas sedang sepi hingga tidak menimbulkan kemacetan atau kecelakaan.


“Mas, ada apa?” tanya Dita kaget. Untung saja mereka memakai sabuk pengaman jadi tidak terpental ke depan karena mobil berhenti mendadak.


“Maaf. Sayang, tadi bilang apa?” Rendra duduk menghadap Dita setelah meminggirkan mobil dan mematikan mesinnya.


“Yang mana?” tanya Dita tak mengerti.


“Yang soal SKS tadi,” jawab Rendra.


“Oh yang itu. Aku mau ambil 24 SKS semester ini.”


“Sayang, mau ambil 24 SKS? Aku enggak salah dengar kan?” Rendra memastikan apa yang dia dengar.


“Iya. Mas, enggak salah dengar.” Dita menganggukkan kepala.


“Sayang, jangan bercanda. Enggak lucu,” ucap Rendra dengan kening mengkerut.


“Aku enggak bercanda, Mas.”


“Sayang, kan sedang hamil muda, jangan ambil banyak SKS, yang standar saja. Nanti kamu kecapekan, Sayang. Kalau sedang tidak hamil, aku enggak masalah kamu mau ambil 24 SKS.” Rendra mencoba memberi pengertian pada Dita.


Dita langsung cemberut mendengar ucapan suaminya. Dia memalingkan wajahnya ke samping sambil tangannya bersedekap di depan dada.


“Nanti kita bicarakan ini di rumah,” ucap Rendra setelah melihat reaksi Dita. Dia tidak mau berdebat di jalan, dan mengambil risiko karena dia harus menyetir mobil.


Sepanjang jalan mereka saling diam tanpa bicara dan bercanda seperti biasa. Saat Rendra bertanya Dita ingin makan apa sebelum pulang, Dita hanya menjawab seperlunya.


Mereka tadi melakukan heregistrasi di kampus, karena itu Dita membahas soal kuliah. Rendra sebenarnya tidak ingin mempermasalahkan kuliah Dita bila istrinya itu tidak dalam keadaan hamil. Dia akan selalu mendukung apa pun yang Dita lakukan. Karena dia sudah berkomitmen mereka tetap kuliah seperti biasa meski sudah menikah.


Sesampai di rumah, Dita langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam kamar. Dia tidak menunggu Rendra seperti biasanya.


Rendra hanya bisa menghela napas panjang melihat Dita yang masih cemberut. Dia memarkirkan mobil di garasi lalu menyusul Dita masuk ke dalam rumah. Hari ini dia memakai mobil Adi karena Adi sama protektifnya seperti Rendra sejak Dita hamil. Adi tidak mengizinkan Dita membonceng motor, karena itu dia sekarang sering pergi kerja memakai motor sport Rendra. Dan Rendra selalu memakai mobil Adi bila pergi dengan Dita.


Saat masuk ke kamar, Rendra melihat istrinya sudah berbaring di atas ranjang tanpa mengganti bajunya.


“Sayang, ganti baju dulu, bersih-bersih baru tidur.” Rendra mendekati Dita, mengelus kepala istrinya.


Dita bergeming, tidak menjawab atau pun membuka matanya meski Rendra sudah beberapa kali membujuknya. Akhirnya Rendra mengalah. Dia meninggalkan Dita untuk ganti baju dan membersihkan diri.


Sampai malam hari, Dita masih mendiamkan Rendra. Dia hanya menjawab seperlunya bila ditanya. Meski begitu dia tetap memasak dan melayani Rendra makan.


Adi menangkap perubahan sikap Dita yang dingin.


"Adikku kenapa Rend?" tanya Adi sambil berbisik pada Rendra saat Dita berada jauh dari mereka.


"Aku enggak kasih izin dia ambil 24 SKS, Mas," jawab Rendra dengan berbisik juga.

__ADS_1


Adi menganggukkan kepala. Adiknya itu memang keras kepala kalau sudah punya keinginan. Seringkali tidak memikirkan dulu baik dan buruknya.


"Nanti aku mau coba bicara lagi, Mas. Semoga saja dia bisa menerima dan mengerti kenapa aku melarangnya," lanjut Rendra.


"Kalau nanti dia masih bersikeras, aku akan bantu kamu," dukung Adi.


"Makasih, Mas."


Rendra mengajak Dita bicara di kamar selesai makan malam. Meskipun terlihat enggan, tapi Dita tetap mengikuti Rendra masuk ke kamar.


Rendra meminta Dita duduk di atas ranjang, sementara dia duduk di kursi belajar.


"Sayang, coba jelaskan alasan kenapa mau ambil 24 SKS?" Rendra menggenggam tangan Dita sambil menatap matanya.


"Biar maksimal, semester akhir enggak banyak ambil mata kuliah. Bella juga rencananya mau ambil 24 SKS." Dita beralasan.


"Coba aku mau lihat daftar mata kuliah standarnya semester ini."


Dita berdiri dan mengambil sesuatu dari mejanya. Dia lalu memberikannya pada Rendra.


Rendra membaca yang tadi diberikan Dita.


"Sayang, semester ini 20 SKS aja sudah 8 mata kuliah loh. Kalau kamu ambil 24 SKS nanti bisa 9 atau 10 mata kuliah. Belum lagi nanti kalau ada praktikum atau tugas. Sayang, dulu saja sering lembur kalau ada tugas."


"Aku enggak mau kamu kecapekan, Sayang. Di sini," Rendra mengelus perut Dita, "ada calon anak kita. Ingat pesan dokter Lita, kamu enggak boleh kecapekan dan banyak pikiran, Sayang."


"Tapi aku merasa sanggup, Mas. Aku juga bareng Bella kok enggak sendirian. Bella juga pasti akan menjaga dan menemaniku." Dita tetap pada keinginannya.


"Enggak ... enggak. Biarpun ada Bella, aku enggak kasih izin. Sayang, ingat loh kamu sedang hamil. Kalau kamu enggak hamil, kalau boleh ambil 30 SKS pun aku izinkan. Ingat, pikirkan juga calon anak kita, jangan hanya memikirkan diri sendiri."


"Mas, jahat. Mas bilang aku egois, tapi Mas lebih egois. Mas bisa melakukan apa saja, sedangkan aku apa-apa selalu dilarang. Makanya aku dulu bilang enggak mau hamil dulu biar bisa tetap kuliah normal dan selesai tepat waktu."


"Astaghfirullah. Istigfar, Sayang. Aku enggak bermaksud bilang kamu egois. Aku minta maaf kalau aku salah omong, oke."


"Aku melarang juga demi kebaikan, Sayang. Aku melarang bukan tanpa dasar. Aku cinta dan sayang kamu, juga calon anak kita. Aku enggak mau terjadi apa-apa pada kalian berdua."


"Oke, biar aku enggak kamu bilang egois, aku harus apa? Menunda KKN? Magang? Atau aku juga harus cuti kuliah bareng sama kamu? Oke, fine. Aku akan turuti semuanya. Asal kamu dan calon anak kita baik-baik saja."


Dita diam saja tak bergerak atau pun membuka mulutnya.


Rendra mendekati Dita, dia mengusap wajah istrinya.


"Sayang, apa kamu menyesal sudah hamil calon anak kita?" tanya Rendra dengan mata berkaca-kaca.


Dita menggelengkan kepala. Air mata satu per satu jatuh di pipinya.


"Ssstttt ... jangan nangis, kalau kamu sedih nanti calon anak kita juga sedih, Sayang." Rendra mengusap air mata yang jatuh di kedua pipi Dita. Dia sendiri berusaha menahan air matanya agar tidak keluar.


"Sayang, aku minta maaf kalau menurutmu aku egois. Tapi, biarpun begitu aku tetap tidak mengizinkan kamu mengambil kuliah 24 SKS. Mengikuti standar yang dari kampus, kamu masih bisa kok selesai kuliah 8 semester dengan masa cuti tidak dihitung."


Tiba-tiba Dita memukuli dada bidang Rendra yang keras. "Mas, jahat," ucapnya dengan terisak.

__ADS_1


"Iya, aku jahat. Pukul aku sampai kamu puas, Sayang. Lepaskan semuanya yang kamu rasakan." Rendra berdiri tegak di depan Dita. Dia diam menerima semua pukulan istrinya. Untungnya Dita tidak memukulnya dengan sekuat tenaga, apalagi menggunakan jurus pukulan dalam karate. Bisa-bisa dia pingsan kalau sampai dipukul ulu hatinya.


Setelah tangisnya mereda, Dita juga berhenti memukuli Rendra.


"Sudah puas?" tanya Rendra memastikan.


Dita menjawab dengan anggukan kepala.


"Masih marah? Masih ambek?"


Dita menggelengkan kepalanya.


"Aku masih jahat?"


Dita menggelengkan kepalanya lagi.


"Aku masih egois?"


Sekali lagi Dita menggelengkan kepalanya.


"Kok dari tadi geleng-geleng sih, kaya boneka apa itu yang kepalanya suka geleng-geleng," goda Rendra.


Dita kembali memukul Rendra, tapi kali ini lengannya yang jadi korban.


"Mas, aku lapar," celetuk Dita pelan.


"Mau makan apa?" tanya Rendra yang merasa lega sekaligus geli karena mood istrinya yang cepat berubah.


"Aku mau takoyaki (1)," jawab Dita.


"Oke, aku orderin." Rendra hendak mengambil gawainya tetapi ditahan Dita.


"Aku maunya makan di sana," rengek Dita.


"Tapi ini udah malam, Sayang."


"Pokoknya aku maunya makan di sana. Enggak mau dibawa pulang atau order online."


"Oke, aku order dulu nanti kita ambil, terus makan di sana. Daripada sampai sana kita nanti kehabisan. Sayang mau yang apa?"


"Takoyaki original yang pakai gurita."


"Oke. Pesan 1 atau 2 atau berapa?" tanya Rendra memastikan. Karena biasanya Dita suka memesan lebih dari satu meskipun tidak dihabiskan sendiri. Dia selalu berbagi dengan anggota keluarga yang lain.


"Tiga."


"Oke, aku order tiga ya takoyaki original. Sayang, cuci muka dan ganti baju dulu ya biar tambah cantik. Setelah itu kita berangkat."


...※※※※※...


Catatan:

__ADS_1


(1) Takoyaki adalah nama makanan asal daerah Kansai, Jepang, berbentuk bola-bola kecil dengan diameter 3 sampai 5 cm yang dibuat dari adonan tepung terigu diisi potongan gurita di dalamnya. Di Indonesia penyajiannya menggunakan toping saus khusus takoyaki, mayones dan katsuobushi (ikan cakalang yang diserut seperti serutan kayu).


Jogja, 28031 01.10


__ADS_2