Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
103


__ADS_3

Seorang pria berjalan dengan senyum lebar mendekati meja kasir di mana Dita berada. Dia terlihat cuek meski banyak yang memandangnya dengan tatapan penuh penasaran.


“Selamat malam, Pak Ervin,” sapa Dita ramah begitu pria itu berdiri di dekatnya.


“Malam, Dita. Apa kamu kerja di sini?” balas pria yang dipanggil Pak Ervin itu.


“Tidak, Pak. Saya hanya membantu suami saya di sini. Dia pemilik kafe ini. Sebentar Pak, saya panggilkan suami saya.” Dita menghampiri Rendra yang ekspresi wajahnya sudah sangat tidak enak dilihat.


“Ayo Mas, kenalan dulu sama Pak Ervin. Wajahnya tolong dikondisikan dulu, Mas. Jangan cemburu buta seperti ini.” Dita mengelus lengan Rendra untuk meredakan emosinya.


Pak Ervin adalah asisten dosen yang mengajar Dita di semester 3 kemarin. Dia sangat memperhatikan Dita karena kondisinya yang hamil tetapi masih tetap kuliah, dan hal itu membuat Rendra cemburu. Siapa pun pria yang tidak Rendra kenal baik, dan bersikap akrab dengan istrinya selalu memancing emosinya. Dia selalu cemburu dan memasang wajah tak bersahabat.


Rendra menurut saja saat digandeng Dita meninggalkan area barista untuk menghampiri asisten dosennya di dekat meja kasir.


“Oh ini, suaminya Dita. Kenalkan saya Ervin, asisten dosennya.” Dengan ramah Pak Ervin menyapa dan mengulurkan tangan pada Rendra. Meski dengan sedikit berat hati, Rendra membalas uluran tangan dan mereka pun berjabatan tangan.


“Saya Rendra, suaminya Dita.” Tangan kiri Rendra memeluk pinggang Dita dengan posesif saat berjabat tangan dengan Pak Ervin.


“Hebat ya suamimu, Dita. Masih muda tapi punya kafe keren seperti ini,” puji Pak Ervin.


“Alhamdulillah, ini masih merintis Pak,” sahut Dita.


“Saya dengar dari teman-temanmu, anak kalian meninggal di dalam kandungan. Saya turut berduka cita, semoga bisa menjadi tabungan kalian di akhirat nanti,” ucap Pak Ervin dengan tulus.


“Aamiin. Terima kasih, Pak,” ucap Dita dan Rendra bersamaan.


“Pak Ervin datang dengan siapa?” tanya Dita mengalihkan pembicaraan agar dia tidak jadi sedih karena teringat Akhtar.


“Sama istri, itu dia di sana.” Pak Ervin menunjuk ke salah satu sudut meja. “Ayo, saya kenalkan dengan istri saya.”


Dita dan Rendra mengikuti Pak Ervin menuju meja di mana istrinya berada.


“Ma, kenalkan ini Dita. Mahasiswiku yang aku ceritakan sedang hamil tapi tetap semangat kuliah. Dita, ini istri saya, namanya Sita. Dan ini suaminya Dita, Rendra.” Pak Ervin memperkenalkan mereka bertiga. Mereka kemudian saling bersalaman.


“Ma, kafe ini ternyata punyanya Rendra, suaminya Dita,” terang Pak Ervin pada istrinya.


“Benarkah? Kami beberapa kali loh ke sini. Tetapi sepertinya tidak pernah melihat kalian.”


“Iya, Bu Sita. Terima kasih sudah menjadi pelanggan kami. Memang kami jarang kemari, apalagi setelah Dita hamil besar dan kemarin harus dioperasi. Sekarang alhamdulillah sudah mulai pulih, jadi bisa pergi keluar." Rendra mulai bersikap ramah setelah berkenalan dengan istri Pak Ervin.


"Saya salut sekali sama Dita meski hamil tapi tak pernah mengeluh dengan tugas yang banyak. Makanya kemarin saya sangat memperhatikan dia, mengingat istri saya dulu juga pernah di situasi yang sama. Pasti sangat kepayahan kuliah dengan kondisi hamil."


"Terima kasih atas perhatiannya pada Dita, Pak. Mohon maaf karena saya sempat cemburu dengan Pak Ervin. Saya tidak tahu kalau Bapak sudah punya istri."


Pak Ervin tersenyum, dia menepuk bahu Rendra. "Tidak apa-apa. Sekarang tidak ada kesalahpahaman lagi kan."


"Tidak, Pak Ervin." Wajah Rendra sudah berubah cerah dan ramah. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya.


"Pak Ervin dan Ibu Sita sudah memesan makanan dan minuman?" tanya Dita kemudian.


"Sudah, ini sudah mau habis," jawab Pak Ervin sambil tertawa kecil.


"Kalau ada pelayanan atau hidangan kami yang kurang memuaskan, kami mohon kritik dan sarannya, Pak, Bu." Kali ini Rendra bertindak sebagai pemilik kafe.


"Tidak ada yang tidak memuaskan. Istri dan anak saya paling suka dengan roti meksiko dengan aroma kopi itu. Jauh lebih murah dan enak dari pada yang di mal."

__ADS_1


"Alhamdulillah, terima kasih. Putra atau putrinya di mana Pak, kok hanya berdua dengan ibu?"


"Ada di rumah dengan nenek dan saudara-saudara sepupunya. Ceritanya kami sedang pacaran lagi ini," ujar Pak Ervin sambil tertawa kecil.


"Silakan Pak Ervin, Bu Sita menikmati makanan dan minumannya. Kami pamit dulu mau bantu melayani pelanggan," pamit Rendra.


"Oh ya, silakan. Maaf ya, saya malah jadi mengganggu kerja kalian."


"Tidak, Pak. Sebenarnya sudah ada karyawan yang bertanggung jawab. Kami hanya sedikit membantu mereka."


"Bos yang baik. Silakan kalau mau melanjutkan pekerjaan."


"Mari Pak, Bu. Kami permisi dulu." Rendra dan Dita sedikit membungkuk memberi hormat pada Pak Ervin dan istrinya. Setelah itu mereka kembali ke posisi mereka tadi.


Dita sempat meminta Bella untuk membungkuskan beberapa roti meksiko yang menjadi favorit keluarga Pak Ervin. Dia memberikannya sebelum Pak Ervin meninggalkan kafe. Meski sempat menolak menerima, tetapi Dita tetap memaksa. Dia mengatakan kalau itu oleh-oleh untuk putra mereka dan sepupu-sepupunya di rumah.


Kafe tutup seperti biasa meski malam ini adalah malam pergantian tahun. Setelah kafe ditutup, para karyawan membereskan meja, kursi, dan alat makan dan minum yang tadi terpakai sampai semuanya bersih.


Satu per satu karyawan yang masuk shift pertama mulai berdatangan. Karena cuaca malam itu cerah, mereka melakukan barbeque di area samping kafe yang terbuka.


Candra sudah membelikan daging sapi, daging ayam, sosis, jagung, dan beberapa sayuran yang nanti akan dipanggang. Tak lupa juga menyiapkan camilan dan minuman untuk mereka. Martabak manis dan martabak telur yang tadi dibeli Dita pun ikut disajikan.


Seluruh karyawan berbagi tugas, ada yang menyiapkan api dan bertanggung jawab memanggang. Ada yang memotong bahan-bahan yang akan dipanggang. Ada yang menyiapkan bumbu olesan dan juga cocolan. Dan ada yang bertugas menusuk bahan yang akan dipanggang.


Sementara itu, Dita tidak boleh melakukan apa pun selain menyiapkan meja untuk mereka nanti makan bersama dengan ditemani Bella. Rendra? Dia sibuk sendiri di ruangannya memeriksa laporan dan menyiapkan bonus akhir tahun untuk para karyawannya.


"Ta, aku tinggal ya. Enggak enak sama teman-teman kalau aku cuma duduk di sini enggak bantu mereka," ujar Bella.


"Udah di sini aja. Ini perintah bos, jangan membantah," seloroh Dita. "Di sini kita melayani yang butuh minum dan camilan selama bekerja. Tenang aja."


"Kata Mas Candra, kamu nunda mudik ya biar bisa ikut acara ini ya, Bel?"


"Iya, kapan lagi aku bisa pulang malam kalau enggak sekarang."


"Memang gerbang kos enggak dikunci jam 10?"


"Enggak, bebas pas malam tahun baru."


"Terus nanti kamu pulang sama siapa? Udah malam loh, eh pagi malah." Dita menatap Bella dengan kening berkerut.


"Jangan khawatir, Bu Bos. Kosku searah sama rumahnya Mas Candra. Lagian tahun baru gini pasti jalanan juga ramai."


"Syukurlah kalau bareng Mas Candra. Bagaimanapun kamu itu cewek, kalau keluar malam kan risikonya tinggi. Aku sih untungnya ada suami yang jagain, nah kalau kamu siapa?"


"Ada Allah, Ta. Jangan lupa itu."


"I know (aku tahu). Tapi kalau ada temannya kan jadi lebih tenang. Kamu dekat ya sama Mas Candra?" tanya Dita penuh selidik.


"Iya dekat banget juga enggak. Biasa aja. Kan Mas Candra yang atur jam kerjaku," jawab Bella.


"Ada yang enggak biasa juga enggak apa-apa, Bel. Mas Candra baik kok. Dia tangan kanannya Mas Rendra di sini."


Bella menoleh ke arah Dita. "Maksudmu apa, Ta? Kamu mau jodohin aku sama Mas Candra?"


"Ya, kalau kalian saling cinta dan cocok ya silakan. Atau sama Mas Fariz juga boleh?"

__ADS_1


Bella tertawa. "Sejak kapan kamu peduli sama perasaan dan kisah cinta orang lain?"


"Baru aja." Dita meringis memperlihatkan barisan giginya yang rapi dan putih.


"Kondisimu gimana, Ta? Sudah pulih total?"


"Belum. Kalau sudah pulih, aku pasti enggak duduk manis begini sama kamu, Bel. Tahu sendiri kan gimana protektifnya suamiku. Kata Mas Fariz, para karyawan malah sempat di-briefing juga sama Mas Rendra biar enggak bikin aku capek."


"Kak Rendra sayang dan cinta banget sama kamu Ta, makanya dia protektif begitu. Kalau soal briefing, aku enggak tahu. Aku enggak pernah ketemu Kak Rendra setelah kamu pulang dari rumah sakit. Baru hari ini ketemu kalian berdua."


"Sayang, jaketnya dipakai. Udara sudah mulai dingin sekarang." Tiba-tiba Rendra datang dari arah belakang mereka. Dia memasangkan jaket di atas bahu istrinya.


"Eh, ada Kak Rendra. Kamu udah ada temannya kan, Ta. Aku bantu teman-teman dulu ya biar cepat selesai," pamit Bella setelah kedatangan Rendra.


Dita menganggukan kepala sebagai persetujuan. Rendra lalu duduk di samping istrinya.


"Sayang, kalau ngantuk tidur aja dulu di kantor. Aku bangunin nanti kalau sudah siap semua."


"Enggak, Mas. Acaraku jadi pindah tidur dong kalau begitu. Lagian aku tadi juga lumayan lama tidur siangnya," tolak Dita. Dia lalu menyandarkan kepalanya di bahu Rendra.


"Mas," panggilnya pelan.


"Apa, Sayang?" sahut Rendra sambil menggenggam tangan istrinya.


"Bisa enggak sih ngurangin rasa cemburunya?"


"Enggak."


"Terus kalau ada setiap laki-laki yang akrab sama aku, Mas bakal bersikap seperti tadi lagi?" Kali ini Dita mendongak, menatap wajah suaminya.


"Aku cemburu pada siapa pun laki-laki yang dekat denganmu. Apa enggak boleh?" Rendra menatap mata Dita.


"Cemburu boleh lah, Mas. Katanya kan itu tanda cinta. Yang enggak boleh cemburu buta. Ingat kan tadi Mas sudah salah paham sama Pak Ervin gara-gara cemburu buta."


"Cemburu sewajarnya saja. Lagian Pak Ervin juga tidak pernah menggodaku dan selalu bersikap baik sama aku."


"Iya, aku minta maaf soal tadi. Aku kan juga sudah minta maaf sama Pak Ervin. Sayang, mau kan maafin aku." Rendra menangkup wajah Dita. Rasanya dia ingin mencium bibir manis istrinya, tapi dia harus menahannya karena mereka ada di area terbuka dan para karyawan pasti bisa melihat dengan jelas.


"Iya, aku maafkan. Tapi jangan diulangi lagi, Mas."


"I promise, i'll try (aku janji, aku akan mencobanya)."


"Jadi makin sayang dan cinta deh sama Mas Rendra," ucap Dita sambil tersenyum.


"Ke kantor yuk," ajak Rendra dengan senyum menggoda.


"Ngapain? Ini udah dimulai tuh bakar-bakarnya." Dita menunjuk ke tempat pemanggang yang sudah terlihat terisi.


"I wanna kiss you (aku ingin menciummu)," bisiknya yang sukses membuat Dita tersipu. Rendra bangkit dari duduknya lalu mengulurkan tangan, mengajak Dita berdiri. Dia menggandeng tangan Dita.


"Mas Candra, aku ke kantor dulu ya. Istriku kedinginan. Nanti kalau sudah siap, aku dikabari," pesannya sebelum meninggalkan halaman samping kafe dan masuk ke ruangannya.


Jogja, 180421 00.55


Hayo siapa yang kemarin menebak kalau itu Reza 🤧🤧🤧

__ADS_1


__ADS_2