Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
114


__ADS_3

"Bun, jangan dulu bilang soal ini sama ayah, terutama sama adek," pinta Adi.


"Kenapa, Mas?" tanya Bu Hasna dengan kening berkerut.


"Kaya Bunda enggak tahu aja adek gimana. Dia itu berusaha banget dekatin aku sama Adelia. Aku enggak mau memberi Adelia harapan palsu, Bun. Kasihan Adelia kalau harus kecewa lagi," terang Adi.


"Biar aku mantapkan dulu hatiku, Bun. Kalau sudah ada petunjuk, aku pasti akan bilang pada semuanya. Karena hatiku masih bimbang sampai sekarang."


"Apa Mas juga salat Tahajud?"


Adi mengangguk. "Insya Allah aku selalu salat Tahajud dan Istikharah di sepertiga malam, Bun."


"Alhamdulillah. Kita memang harus selalu melibatkan Allah setiap mengambil keputusan yang penting. Semoga Mas segera mendapat jawaban."


"Aamiin," ucap Adi.


"Bun, seandainya aku tidak berjodoh dengan Adelia, tidak apa-apa kan?" tanyanya kemudian.


"Iya, tidak apa-apa. Kan bunda juga sudah bilang jodoh itu rahasia Allah, kita tidak pernah tahu kapan akan datang."


"Aku takut bunda kecewa."


Bu Hasna tersenyum sembari menggelengkan kepala.


"Maaf ya Bun, belum bisa membahagiakan bunda dan ayah sepenuhnya."


"Siapa bilang Mas belum membahagiakan ayah dan bunda? Dengan Mas tetap berpegang teguh pada agama. Mas sehat, bisa beribadah dan bekerja, itu sudah membahagiakan kami. Kebanggaan dan kebahagiaan kami sebagai orang tua kalau anak-anak kami jadi anak yang saleh. Di mata kami, Mas itu anak yang saleh." Bu Hasna menggenggam erat tangan anak sulungnya itu.


"Meski aku belum menikah, Bun?"


Bu Hasna menganggukkan kepala. "Menikah jangan dijadikan beban, Mas. Meski dengan menikah berarti menyempurnakan separuh agama. Ayah dan bunda tidak akan pernah menuntut Mas untuk cepat menikah."


"Makasih, Bun. Aku akan menikah saat aku benar-benar sudah memantapkan hati dengan jodoh yang dipilih Allah untukku. Ayah dan bunda harus ada di sana saat itu."


"Insya Allah. Semoga ayah dan bunda diberi kesehatan dan umur yang panjang agar bisa melihat dan menimang cucu dari Mas dan juga adek."


"Aamiin," sahut Adi.


"Mas sama Bunda lagi ngapain sih? Kok mojok berdua, aku enggak diajak." Dita yang baru keluar dari kamar menghampiri mereka berdua.


"Mas lagi kangen-kangenan lah sama bunda. Masa Adek aja yang boleh kangen-kangenan."


Dita mencebik.


"Bun, aku sama Mas Rendra mau jalan ke pantai. Mau lihat sunset. Pinjam motor ya, Bun."


"Kenapa enggak bawa mobil, Dek?" tanya Adi.

__ADS_1


"Enggak ah, lebih romantis boncengan naik motor," jawab Dita sambil tersenyum mengejek pada Adi.


"Tuh, Bun. Kelakuan Adek sekarang, mentang-mentang sudah punya suami sukanya meledek mas." Adi mengadu pada bundanya.


"Adek, enggak boleh gitu sama mas."


"Iya, Bun." Dita mengangguk sambil melirik sinis pada Adi.


Adi tersenyum penuh kemenangan karena dia dibela sang bunda.


"Kita berangkat sekarang?" tanya Rendra yang sudah siap dengan jaket kulitnya pada Dita.


"Iya, Mas. Nanti keburu kesorean. Bun, kunci motor di mana?"


"Di tempat biasa. Hati-hati ya kalian di jalan," pesan Ibu Hasna.


"Iya, Bun," sahut Dita dan Rendra bersamaan.


Mereka berdua lalu hanya berpamitan pada Ibu Hasna dan Adi, karena Pak Wijaya sedang ada rapat pertemuan pengurus organisasi setelah pulang dari acara keluarga besar tadi.


"Lama ya Sayang, kita enggak pergi berdua refreshing kaya gini," kata Rendra saat mereka melaju di atas motor menuju ke pantai.


Daerah rumah Pak Wijaya memang dekat dengan pantai, karena hanya berjarak sekitar 2 sampai 3 km saja. Setiap pulang, bila sempat, mereka pasti jalan-jalan ke pantai. Entah di waktu pagi atau sore hari.


"Iya. Mas, kan sibuk mengerjakan skripsi." Dita menyandarkan kepalanya di punggung lebar Rendra. Punggung yang selalu membuatnya nyaman untuk bersandar.


"Maaf ya kalau waktuku jadi berkurang, Sayang."


"Makasih pengertiannya, Sayang. Jadi makin cinta aku." Rendra mengelus tangan Dita yang melingkar di pinggangnya.


"Ya udah, kita santai sekarang. Jangan pikirkan kuliah dan pekerjaan. Kita bersenang-senang meski waktu kita tidak banyak."


Tak lama mereka sampai di pantai yang dituju. Setelah memarkirkan motor, mereka berjalan dengan bergandengan tangan mendekati pantai. Mencari tempat yang nyaman untuk mereka menikmati semilir angin dan deburan ombak, sambil menanti matahari yang akan terbenam.


Dita merentangkan tangan sambil memejamkan mata dan menghirup udara pantai dalam-dalam. Bibirnya pelan-pelan membentuk bulat sabit, tersenyum bahagia. Hijab lebarnya melambai-lambai tertiup angin pantai.


Rendra yang berdiri di samping Dita tersenyum melihat kebahagiaan istrinya itu. Dia lalu berdiri di belakang sosok yang dicintainya itu. Dipeluknya pemilik hatinya itu dengan penuh cinta.


"Bahagia banget, Sayang." Rendra meletakkan dagunya di bahu Dita.


"Eh, Mas." Dita menurunkan kedua tangannya, lalu memegang lengan Rendra yang melingkar di perutnya. "Kita di sini untuk bersantai dan melepas penat, Mas. Ayo kita nikmati suasananya."


"Mmmhhh ... aku kangen suasana kaya gini, Sayang."


"Iya, Mas. Aku juga."


"Nanti habis aku selesai skripsi, kita liburan ya."

__ADS_1


"Ke mana, Mas?" Dita menolehkan kepalanya ke samping.


"Terserah kamu, Sayang. Aku kemarin kepikiran mau ajak kamu ke Jepang menikmati musim semi, lihat sakura bermekaran. Tapi, kalau tahun ini enggak mungkin, skripsiku belum selesai. Semoga kita bisa pergi tahun depan."


"Aamiin. Ke mana kita liburan dipikir nanti lah, Mas. Sekarang kita jalani saja apa yang ada. Dan, stop bahas skripsi. Kita mau senang-senang di sini."


"Hummmm ...," gumam Rendra.


"Jalan ke pinggir pantai yuk, Mas. Sekali-sekali kita basah-basahan di pantai."


"Kita enggak bawa baju ganti loh, Sayang."


"Siapa juga yang mau mandi di pantai, Mas? Maksudku kita jalan di sana, nanti yang basah biar kaki kita aja karena kena ombak. Masa kita main di pantai enggak pernah kena air laut."


"Mau jalan sampai ke mana?"


"Ya seputaran sana aja, Mas. Jangan jauh-jauh."


"Tapi aku lebih senang meluk kamu kaya gini dari pada jalan-jalan, Sayang."


"Mas, ih. Peluk-peluk kan masih bisa di rumah. Kita jarang loh sekarang bisa santai begini." Dita mulai mengerucutkan bibirnya, tanda protes pada suaminya.


"Iya, iya, Sayang. Kita jalan ke pinggir pantai." Rendra mengurai pelukannya, tapi sebelumnya dia sempat mencuri ciuman di pipi Dita yang sukses membuat wajah istrinya memerah.


Akhirnya mereka berjalan menyusuri pantai hingga matahari terbenam di cakrawala. Mereka kembali pulang ke rumah Pak Wijaya dengan suasana hati dan pikiran yang lebih santai serta bahagia.


"Bunda, Ayah, kami pulang dulu. Jangan lupa jaga kesehatan," pamit Dita yang akan kembali ke kota bersama Rendra dan Adi, usai salat Isya. Dia mencium punggung tangan kedua orang tuanya dengan takzim dan juga memeluk mereka. Hal yang sama juga dilakukan kakak dan juga suaminya.


"Kalian jaga diri, jaga kesehatan. Hati-hati di jalan. Jangan lupa kasih kabar kalau sudah sampai," pesan Ibu Hasna saat mengantar mereka sampai di samping mobil Adi.


"Siap, Bun," kata Dita sambil mengacungkan jempolnya.


"Ayah, jangan keseringan rapat terus. Kasihan bunda sering di rumah sendirian," pesan Dita pada ayahnya.


"Iya, nanti ayah ajak bunda rapat sekalian biar bunda enggak kesepian di rumah," seloroh Pak Wijaya.


"Ayah, ih malah bercanda." Dita pura-pura cemberut.


"Pokoknya Ayah sama Bunda sehat-sehat dan rukun selalu ya. Adek sama Mas Adi dan Mas Rendra pulang dulu. Assalamu'alaikum." Dita kembali memeluk kedua orang tuanya sebelum masuk ke dalam mobil.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Pak Wijaya dan Ibu Hasna melambaikan tangan sampai mobil yang dikendarai Rendra keluar dari halaman rumah dan tidak terlihat lagi.


...---oOo---...


Jogja, 090521 06.30


Masih lanjut enggak nih kisah Adi dan Adelia? ✌️✌️✌️

__ADS_1


Mana nih tim Adi-Adelia?


Kalau ada masukan, kritik atau saran, bisa via komentar, PC atau DM di instagram @kokoro.no.tomo.82 ya, terima kasih, maturnuwun 🙏🤗


__ADS_2