Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
43


__ADS_3

"Dek, kapan kamu heregestrasi?" Tanya Bunda pada Dita saat mereka sedang bersantai sambil menonton televisi.


"Minggu depan terakhir, Bun." Jawab Dita sambil mengambil keripik tempe dari toples.


"Terus mau balik ke rumah Mas Adi kapan?"


"Besok Minggu bareng Mas Adi. Aku pasti enggak dibolehin pergi sendiri, Bun."


"Terus sudah ada jawaban belum untuk Nak Rendra?" Tanya Bunda sambil menyelipkan rambut Dita ke belakang telinganya.


Dita menoleh pada bundanya, "harus secepat ini kah Bun?"


"Memangnya Adek belum bisa memutuskan? Masih ragu-ragu?"


"Enggak juga sih Bun, aku mau tapi aku punya syarat. Kira-kira dia mau enggak memenuhi syaratku ya, Bun?"


"Kenapa pakai syarat Dek?"


"Ya biar aku juga tetap bisa selesai kuliah tepat waktu Bun."


"Memangnya syaratnya apa Dek?"


"Aku maunya tinggal terpisah dan menunda untuk punya anak."


Bunda terhenyak mendengar kata-kata Dita. "Kenapa harus tinggal terpisah? Enggak baik suami istri tinggal terpisah."


"Dia kemarin sudah bilang Bun tinggal terpisah enggak apa-apa, yang penting kita sudah sah. Katanya kita kaya pacaran aja dulu tapi sudah halal."


"Lagian kan kita juga tinggal sebelahan rumah Bun, enggak yang jauh."


Bunda menghela napasnya. "Benar Nak Rendra bilang begitu?"


Dita mengangguk, "Bunda bisa tanya ke Mas Adi, waktu itu Mas Adi juga ada di sana."


"Kalau Nak Rendra mau ya tidak masalah, tetapi semua harus dibicarakan dulu dengan baik. Jangan ambil keputusan sendiri."


"Kalau bunda terus terang keberatan kalau kalian tinggal terpisah. Bagaimana Adek akan melayani suami kalau tinggal terpisah? Kalau soal menunda anak, ya oke bunda bisa menerima, asal jangan terlalu lama."


"Tapi aku juga butuh waktu Bun untuk mengenalnya lebih jauh. Izinkan ya Bun kami pacaran halal dulu dengan tinggal terpisah?"


"Justru dengan tinggal bareng itu kalian akan lebih saling mengenal Dek."


"Tapi aku belum siap Bun kalau harus tinggal bareng." Dita mulai merajuk.


"Adek bicarakan sendiri sama Nak Rendra, kalau dia oke ya bunda izinkan. Tetapi kalau Nak Rendra tidak mau, kalian harus tinggal bersama."


"Kalau begitu menikahnya nanti saja kalau aku sudah siap lahir batin."


"Ya terserah Adek kalau begitu. Berarti kalian tidak boleh berhubungan sama sekali sebelum Adek memutuskan mau menikah dengan Nak Rendra."

__ADS_1


"Kok begitu Bun?" Protes Dita.


"Adek lupa apa yang dibilang sama ayah?"


"Enggak Bun."


"Nah kan Adek enggak lupa tuh. Selama nunggu Adek siap ya berarti setop berhubungan. Kalau tetap berhubungan tetapi tanpa status menikah kan itu sama saja pacaran, ingat Dek enggak ada kata pacaran dalam Islam."


"Pilihan ada di tangan Adek, pikirkan baik-baik. Jangan sampai Adek menyesal dengan keputusan yang Adek ambil. Bunda hanya bisa menasihati dan mendoakan semoga Adek bisa mengambil keputusan yang tepat."


"Iya Bun. Ini Mbak Shasha juga bilang kalau mamanya mau ketemu sama aku."


"Mbak Shasha itu siapa?" Tanya Bunda yang baru pertama kali mendengar namanya.


"Kakaknya Rendra, Bun." Jawab Dita.


Bunda menganggukkan kepalanya. "Adek sudah akrab ya sama keluarganya Nak Rendra?"


"Akrab banget sih belum Bun, tapi sudah kenal lumayan baik. Mamanya Rendra juga suka tanaman loh Bun, pasti Bunda langsung klop deh kalau ketemu Tante Dewi."


"Tante Dewi itu siapa?" Bunda mengernyit.


"Tante Dewi itu mamanya Rendra, Bun." Dita tertawa kecil.


"Oalah ... Bunda tadi gagal paham, Dek." Seloroh Bunda yang diikuti tawa Dita.


Dita akhirnya kembali ke rumah Adi setelah sebulan lebih tinggal di rumah orang tuanya. Hari ini dia akan pergi ke kampus karena sudah berjanji dengan Bella untuk heregestrasi.


Selesai heregestrasi mereka berdua nongkrong di kantin. Tidak banyak mahasiswa di sana karena memang perkuliahan belum dimulai. Setelah memesan, mereka mencari tempat duduk yang agak jauh dari yang lain.


"Bagaimana kabar hubunganmu dengan Kak Rendra,Ta?" Tanya Bella begitu mereka duduk.


"Hubungan apa? Kami tidak punya hubungan apa pun." Jawab Dita.


"Memang Kak Rendra belum nembak kamu?"


"Sudah."


"Terus kamu jawab apa?"


"Aku enggak jawab apa-apa yang menjawab ayah. Dan ayah enggak mengizinkan kami pacaran."


"Wah ... yang sabar ya Ta." Bella mengelus lengan Dita memberi dukungan.


"Kenapa harus sabar, yang ada aku makin pusing."


"Hah ... pusing kenapa?" Bella mengerutkan keningnya.


"Ayah minta dia lamar aku."

__ADS_1


"Wah kamu dilamar Kak Rendra, Ta." Teriak Bella tanpa sadar.


"Ssttt ... jangan teriak-teriak. Jangan bikin gosip yang enggak benar." Tegur Dita.


"Upsss ... maaf, kebiasaan ini mulut susah direm." Bella memukuli mulutnya dengan pelan.


"Eh ... sebentar. Kok enggak benar gimana? Kak Rendra belum lamar kamu?" Tanya Bella.


Dita menggelengkan kepala. "Belum."


"Kenapa? Apa Kak Rendra enggak serius sama kamu?"


"Dia serius, aku yang belum siap."


"Apalagi yang kamu pikirkan Ta, Kak Rendra itu high quality. Sayang banget kalau ditolak."


"Aku harus segera menikah Bel setelah dilamar. Menikah saat kuliah itu sama sekali enggak pernah terbayang di hidupku. Pasti akan ribet sekali mengurus suami, mengerjakan tugas, belum nanti kalau punya anak. Membayangkannya saja kepalaku rasanya mau pecah."


"Enggak usah dibayangkan Ta, jalani saja. Kamu ini kebiasaan terlalu lama berpikir. Kalau aku sih terima saja. Soal anak kan bisa dibicarakan lagi. Kalau Kak Rendra benar-benar mencintai kamu pasti dia terima-terima saja kok."


"Ngomong sih gampang Bel, tapi aku kan yang akan menjalani."


"Kalau ada yang melamar aku dan aku cinta dia pasti langsung aku terima Ta, ngapain lama-lama mikir. Nikah muda seru kali, kaya pacaran tapi sudah halal."


Dita menghela napas panjang, dia menyeruput jus alpokat yang tadi dipesannya.


"Kamu cinta juga kan sama Kak Rendra?" Tanya Bella kemudian.


"Hhmmm." Gumam Dita sambil mengaduk-aduk jusnya.


"Kalau begitu tunggu apalagi, udahlah say yes aja. Kalian saling cinta mau ngapain kalau tujuannya enggak untuk menikah. Hanya perkara waktu saja, kalian menikah lebih cepat."


"Kamu sudah istikharah kan? Tanya Bella.


"Iya, kami sama-sama istikharah." Jawab Dita.


"Terus gimana? Belum merasa mantap? Belum dapat jawaban?"


"Sudah sih, tapi ya itu tadi, aku mau mengajukan beberapa syarat dan kesepakatan sebelum ada lamaran."


"Ya Allah Ta, apa lagi itu pakai syarat dan kesepakatan. Kamu ini terlalu banyak berpikir yang enggak jelas deh, Ta." Bella menggelengkan kepalanya berulang kali.


"Aku kan juga mau kuliah tepat waktu Bel, aku mau fokus kuliah dulu. Aku mau kami tinggal terpisah sampai aku siap tinggal bareng."


"Astaghfirullah Ta, mana ada suami istri udah nikah tinggal terpisah kecuali yang satu kuliah di Jogja, satu kuliah di Jakarta. Ini kalian sama-sama di Jogja mana rumah sebelahan lagi mau pakai acara tinggal terpisah." Bella kembali menggelengkan kepalanya berkali-kali.


"Tapi dia dulu kok yang membahas pertama kali soal tinggal terpisah, jadi aku hanya menagih janjinya." Dita tetap bersikukuh dengan pendiriannya.


"Ya sudah kamu bicarakan saja sendiri sama Kak Rendra, dia bisa menerima syarat dan kesepakatanmu enggak. Aku udah angkat tangan deh menghadapi keras kepalamu itu." Bella mengangkat kedua tangannnya tanda menyerah.

__ADS_1


__ADS_2