Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
36


__ADS_3

Pagi ini Dita menemani Adi sarapan meskipun dia tidak pergi ke kampus. Memang sudah kebiasaan di keluarga mereka untuk sarapan bersama setiap hari meski tidak ada kegiatan di luar rumah.


“Mas, aku mau pulang.” Ucap Dita memecah kesunyian.


“Kapan Dek?” Tanya Adi.


“Nanti setelah Mas berangkat,” jawab Dita.


“Kenapa terburu-buru?” Adi mengernyit heran.


“Aku kangen bunda sama ayah.”


“Benar Adek cuma karena kangen bunda sama ayah, mmhhhh.” Pancing Adi.


“Memangnya harus ada alasan lain,” sahut Dita sewot.


“Apa enggak ada yang mau Adek ceritakan sama mas?” Adi menatap Dita penuh sayang.


“Dia cerita apa saja sama Mas?” Dita menatap Adi curiga.


“Dia? Siapa?” Goda Adi.


“Yang tadi malam Mas ajak ngobrol di teras.”


“Rendra maksudnya Adek?”


“Hhhmm ....”


“Mbok ya bilang aja Rendra kok pake dia ... dia ... dia kan namanya Rendra, Dek.” Adi terkekeh.


“Ih Mas ngeselin.” Dita mengerucutkan bibirnya.


“Jadi jawaban Adek apa?”


Dita mengangkat bahunya.


“Adek belum bisa memutuskan?” Tanya Adi, kali ini dengan lembut dan serius.


“Belum ....” Dita menunduk lesu dan malah memainkan makanan di piringnya.


“Kenapa? Tumben banget, biasanya Adek langsung nolak tanpa harus pakai acara bingung segala.”


“Enggak tahu Mas, aku juga enggak tahu kenapa kaya gini.” Dita tersenyum miris.

__ADS_1


"Adek suka sama Rendra? Atau cinta sama Rendra?"


Dita menggelengkan kepala, "enggak tahu."


"Terus yang Adek rasain apa?"


"Enggak tahu ... hikssss." Dita tiba-tiba menangis.


Adi terkejut, dia bangkit dari duduknya lalu menghampiri Dita. Dipeluknya adik kesayangannya itu.


"Sssttt ... kenapa nangis?" Adi mengelus rambut Dita sambil tetap memeluknya. Dia membiarkan Dita menangis di pelukannya sampai tangisnya reda.


Setelah Dita tidak menangis lagi, Adi melepaskan pelukannya. Dia usap sudut mata Dita yang masih mengeluarkan air mata, dan juga kedua pipinya yang basah.


"Apa mas izin saja hari ini menemani Adek pulang?"


Dita menggelengkan kepalanya, "enggak usah."


"Tapi mas enggak izinkan Adek pulang sendiri dalam keadaan seperti ini."


"Ya udah, aku pulang nungguin Mas aja."


"Good girl. Mas janji nanti pulang cepat, nanti Mas langsung antar Adek pulang ya."


Dita menganggukkan kepalanya.


"Aku bisa makan sendiri Mas," Dita mulai menyunggingkan senyum meski kaku.


Adi mengacungkan jempolnya pada Dita, lalu dia kembali ke kursinya dan melanjutkan kembali makannya.


Mereka makan sambil sesekali bercanda, tetapi Adi tidak mengungkit kembali soal Rendra. Mungkin adiknya itu masih shock dan bingung dengan perasaannya sendiri sampai menangis seperti tadi. Adi cukup mengerti karena ini mungkin pertama kalinya bagi Dita merasakan sesuatu pada seorang pria.


Selesai makan, Adi bersiap berangkat ke kantor, sementara Dita membereskan meja makan dan mencuci alat makan yang mereka pakai tadi. Setelah itu dia duduk di sofa ruang tengah dan menyalakan televisi.


Adi keluar dari kamar dengan kemeja dan celana kantornya, tak lupa ransel andalan yang selalu dia bawa. Sering berada di lapangan membuatnya lebih senang memakai ransel daripada tas kantor saat bekerja.


Adi menghampiri Dita lalu duduk di sampingnya. "Adek sekarang istirahat dulu ya, enggak usah mikir yang macam-macam. Kalau Adek memang belum bisa memutuskan atau bercerita tidak usah dipaksakan. Let it flow okay."


Dita menganggukan kepalanya tanpa bersuara. Adi lalu memeluk adiknya itu dan mengecup puncak kepalanya memberikan ketenangan. "Mas berangkat dulu, kalau ada apa-apa langsung telepon mas ya."


"Iya, Mas juga hati-hati di jalan." Dita lalu melakukan ritual seperti biasa mencium punggung tangan dan pipi Adi, yang akan dibalas Adi dengan mencium keningnya.


"Adek duduk di sini saja enggak usah antar mas ke depan. Mas lewat garasi kok keluarnya, nanti mas kunci dari luar ya."

__ADS_1


"Iya Mas."


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Setelah Adi berangkat ke kantor, Dita otomatis di rumah sendirian. Meski dari tadi menyalakan televisi tapi dia sama sekali tidak tahu apa yang ditampilkan di layar datar itu. Hatinya masih gundah dan dia sama sekali tidak bisa berpikir jernih. Semuanya masih terasa seperti mimpi.


Saat hati merasa gundah bukankah seharusnya mengadukannya pada Sang Pemilik Hati. Dita akhirnya memutuskan mengambil wudu, lalu menjalankan salat duha setelah sebelumnya mematikan televisi.


Dita larut dalam sujud panjangnya, diadukan semua yang dirasakannya, memohon petunjuk apa yang harus dia lakukan, dan berserah diri dengan semua ketentuan-Nya. Selesai salat dan berdoa lalu dia membuka dan membaca Al-Qur'an hingga membuatnya lebih merasa tenang sekarang.


Dia lalu masuk ke kamar, merebahkan dirinya di atas kasur, berusaha memejamkan mata mengganti tidurnya tadi malam. Semalam dia hanya tidur sekitar 2 jam, meski sudah berusaha memejamkan mata sejak pukul 10.00 malam tetapi otaknya terus saja memikirkan kejadian di alun-alun kidul.


Selama ini dia masih bisa menerima segala tindakan dan ucapan manis Rendra, tetapi mendapat pernyataan cinta Rendra secara mendadak benar-benar di luar pemikirannya. Dia akui, dia merasa nyaman berada di dekat Rendra meski jantungnya sering berdetak tidak normal saat bersama Rendra. Tetapi menerima Rendra sebagai pacar atau suami sama sekali tidak terbayang di benaknya.


Tunggu!!! Suami? Pacar saja tidak terpikirkan di otaknya apalagi suami. Kalau dia ingat lagi semalam itu Rendra nembak dia untuk dijadikan pacar atau melamarnya sebagai istri ya??? Dita menggelengkan kepalanya berulang kali karena sama sekali tidak punya petunjuk.


Apa dia mau melanggar prinsipnya sendiri yang tidak ingin berpacaran? Tetapi kalau untuk menikah dia juga sama sekali tidak pernah terbayang apalagi menikah saat masih kuliah.


Kalau memang dia tidak mau melanggar prinsipnya sendiri seharusnya semalam dia bisa langsung menolak Rendra kan? Seperti yang selalu dia lakukan pada pria lain yang berusaha mendekati dan ingin menjadikannya pacar.


Tetapi hati kecilnya tidak ingin menolak Rendra, membuat akal sehat dan hatinya bertolak belakang. Mungkin itu yang membuatnya benar-benar gundah, saat hati dan pikiran tidak bisa sejalan. Hingga dia merasakan sesak dan membuatnya menangis tadi.


Mungkin keputusannya untuk pulang dan bertemu dengan bundanya bisa membuatnya mengambil keputusan yang tepat. Ya bunda adalah tempatnya untuk selalu berkeluh kesah, bertukar cerita, dan selalu memberikan nasihat bijaknya. Hanya bunda-lah yang menurutnya bisa membantunya keluar dari masalah hatinya saat ini.


Dita mengambil gawainya yang bergetar di atas bantal. Dia melihat ada sebuah pesan yang baru saja masuk dari Rendra.


Buka ... tidak ... buka ... tidak ... kembali dia bimbang, meski akhirnya dia tetap membuka pesan dari Rendra.


"Assalamu'alaikum. Hai Dita, apa kabar? Semoga kamu dalam keadaan sehat dan baik. Aku minta maaf kalau pernyataanku semalam mengejutkanmu. Aku sungguh-sungguh dengan kata-kataku. Kalau kamu memang belum bisa menjawabnya tak apa, aku akan selalu sabar menanti jawabanmu.


Dita, kalau boleh aku meminta bisakah kita sama-sama menjalankan salat istikharah? Mari kita bersama meminta petunjuk dari Allah, jadi apa pun yang terjadi nanti insya Allah kita bisa menerimanya dengan ikhlas.


Kamu tidak perlu membalas pesan ini bila memang tidak mau, balaslah saat kamu sudah mempunyai jawaban atas penyataanku. I always here waiting for you (aku selalu di sini menunggumu).


Wassalamu'alaikum."


Dita menghela napasnya begitu selesai membuka dan membaca pesan Rendra. Dia memutuskan tidak membalas pesan Rendra karena dia memang belum punya jawaban. Mungkin usulan Rendra untuk salat istikharah akan mulai dia jalankan hari ini. Bukankah untuk memutuskan segala sesuatu kita harus selalu meminta petunjuk kepada Allah.


...💕💕💕💕💕...


Hai hai hai ... up 3 kali sehari ini serasa minum obat 😂😂😂. Ini karena saya baru khilaf ya, besok-besok mungkin tidak akan terjadi lagi ✌️✌️✌️

__ADS_1


Terima kasih yang sudah meluangkan waktu untuk membaca, memfavorit, menyukai, mengomentari, memberikan vote, tips, hadiah, semangat, doa dan sebagainya. Kalian ruarrrrr biasahhhhhh 👍👍👍. Tanpa teman-teman semua apalah saya hanya butiran debu yang akan mudah terbang tertiup angin.


Terima kasih, matur nuwun, arigato, gomawoyo 🙏🙏🙏


__ADS_2