Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
92


__ADS_3

Hari berlalu usia kehamilan Dita semakin bertambah, perutnya pun semakin membuncit. Dia juga semakin cepat lelah. Aktivitasnya hanya ke kampus lalu pulang ke rumah. Dia pergi ke kafe saat akhir pekan saja, itu pun hanya beberapa jam, tidak seharian seperti dulu.


Berdasarkan hasil USG, calon bayi Rendra dan Dita berjenis kelamin laki-laki. Semua anggota keluarga tentu saja menyambut gembira berita ini, meski mereka tidak pernah mempermasalahkan jenis kelamin bayi yang masih di dalam kandungan itu. Buat mereka yang penting bayi dan ibunya tetap sehat.


Mendekati Ujian Akhir Semester Ganjil, Dita semakin disibukkan dengan berbagai tugas dan membuat maket yang harus dikumpulkan sebelum ujian. Untuk tugas kelompok pastinya dikerjakan di kampus atau di studio, yang sering mengharuskan dia pulang sampai sore. Untung saja teman-teman sekelompoknya pengertian dengan keadaannya yang sedang hamil besar, jadi Dita biasanya pulang lebih cepat dibanding yang lain. Tapi dia juga cukup tahu diri dengan sering membawakan makanan atau camilan bila sedang mengerjakan tugas kelompok.


Rendra yang sedang PKL sekaligus kuliah, sebisa mungkin selalu berusaha mengantar dan menjemput Dita. Apalagi kalau Dita harus pulang sore karena mengerjakan tugas kelompok. Biasanya dia akan membelikan makan malam untuk teman-teman sekelompok istrinya. Hitung-hitung sebagai rasa terima kasih karena sudah mengerti dengan keadaan Dita.


Bila sedang mengerjakan tugas menggambar di rumah, Dita sering tertidur di meja kerjanya. Rendra kadang merasa kasihan pada istrinya, sudah hamil besar tetapi masih harus kuliah dan mengerjakan berbagai macam tugas yang sering menghabiskan waktu. Untung saja Dita tetap bersemangat kuliah meski perutnya semakin membuncit.


Meskipun Rendra lelah setelah pulang dari PKL, dia tetap berusaha menuruti semua keinginan Dita. Dia memijit kaki Dita yang sering terasa pegal. Membuatkan atau membelikan Dita makanan bila istrinya itu terbangun di tengah malam karena lapar. Atau menggendong Dita yang tertidur di meja kerja.


Meski Dita sangat doyan makan tetapi badannya masih terlihat langsing, hanya pipi yang bertambah tembam dan perut yang makin membuncit, selebihnya tidak banyak perubahan yang berarti.


Gerakan calon anak mereka yang sekarang dipanggil Boy itu, sejak diketahui jenis kelaminnya laki-laki, menjadi semakin aktif. Apalagi kalau Rendra sedang mengajak bicara, Boy sering menendang atau bergerak seolah merespon apa yang dikatakan ayahnya.


Selama menjalani Ujian Akhir Semester, Dita benar-benar fokus belajar. Sebelum belajar atau pun ujian biasanya dia bicara dulu dengan Boy agar lebih tenang dan tak banyak bergerak. Gerakan Boy sangat aktif sekali, hingga kadang membuat Dita kaget karena tendangannya yang kencang. Boy akan tenang bila mendengar ayahnya membaca Al-Qur'an atau saat Dita memutar musik klasik.


Dua hari sebelum ujian berakhir, gerakan Boy tidak seaktif biasanya. Dita pikir itu hal yang wajar, apalagi dia minta Boy lebih tenang selama dia masih ujian. Tetapi sampai ujian berakhir Dita tidak merasakan Boy bergerak seperti biasa. Akhirnya dia menghubungi dokter Lita untuk berkonsultasi. Atas saran dokter Lita, dia harus segera memeriksakan kehamilannya.


Dita langsung menelepon Rendra dan memintanya pulang lebih cepat. Dita merasa cemas dengan keadaan Boy. Berulang kali dia mengajak Boy bicara tetapi tidak ada respon seperti biasanya. Dia bersiap di kamar sambil menunggu Rendra pulang. Hatinya merasa resah, jadi dia terus berzikir agar membuat hatinya lebih tenang.


Rendra bergegas pulang setelah mendapat telepon dari Dita. Dia minta izin pulang lebih cepat pada Adi sebagai manajer proyek. Adi pun merasa khawatir setelah Rendra pergi, tetapi dia tidak mungkin ikut pulang juga. Setidaknya dia harus menunggu sampai jam pulang kerja.


Rendra pulang mengendarai mobil Adi dengan kecepatan tinggi. Tidak peduli harus sering membunyikan klakson dan mendapat cacian dari banyak orang yang kesal karena ulahnya. Yang ada di pikirannya hanya cepat sampai di rumah dan mengantar Dita ke dokter.


Begitu sampai di rumah, Dita sudah menunggunya di teras. Wajahnya terlihat pucat, mungkin karena merasa cemas. Rendra turun dari mobil lalu membantu Dita naik ke mobil. Saat memegang Dita, dia tadi merasakan tangan istrinya begitu dingin. Sejujurnya dia juga cemas, tapi dia berusaha tetap tenang.


Sepanjang perjalanan dari rumah sampai ke RSKIA (Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak), Rendra selalu memegang tangan Dita. Dia juga berusaha terus menenangkan istrinya, mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja.


"Tenang Sayang, banyak zikir. Insya Allah Boy tidak apa-apa. Dia anak yang kuat."


Sampai di RSKIA, mereka langsung menuju ke ruang praktek dokter Lita karena sudah ditunggu. Dita langsung di USG begitu masuk ke ruang periksa.


Begitu di USG terlihat kalau Boy terlilit tali pusar sebanyak 2 kali. Detak jantungnya juga tidak terdeteksi. Bagai tersambar petir saat Rendra dan Dita mendengar penjelasan dokter Lita.


"Mas, Boy enggak apa-apa kan? Dia cuma sedang tidur kan?" tanya Dita lirih sambil terisak. Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Sabar, Sayang. Istigfar." Rendra mengelus kepala Dita penuh cinta. Rasanya dia juga tidak mau percaya. Tapi, dia harus bisa menerima semuanya. Dia harus tetap kuat demi Dita. Istrinya jelas yang paling terluka dan sedih.


Operasi caesar darurat harus segera dilakukan. Dokter Lita meminta Rendra segera menandatangani surat persetujuan operasi caesar Dita.


"Sayang, aku tinggal sebentar ya," pamit Rendra.


"Enggak mau, Mas harus tetap di sini. Jangan tinggalin aku." Dita menahan tangan Rendra, tangisnya semakin menjadi.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Aku tetap di sini. Aku enggak akan pergi." Rendra menggenggam erat tangan Dita, memberi kekuatan pada istrinya dan mungkin dirinya sendiri.


"Sus, apa boleh saya minta tolong surat persetujuan operasi dibawa ke sini? Istri saya tidak mau ditinggal sendiri." Rendra memohon pada perawat yang berada di sana.


"Baik, Pak. Mohon tunggu sebentar." Perawat itu berjalan keluar dari ruang praktek dokter Lita.


"Sayang, aku telepon Mama, Bunda dan Mas Adi sebentar ya. Aku belum memberi tahu mereka."


Dita mengangguk. "Tapi Mas tetap di sini, jangan tinggalin aku."


"Enggak, Sayang. Aku enggak akan ke mana-mana."


Rendra mengambil gawai yang dia simpan di saku celananya. Dia berdiri menjauh dari Dita. Dia akan menelepon mamanya, bunda dan juga Adi, mengabari kalau Dita akan segera dioperasi.


"Ibu Dita, tetap tenang ya. Kita akan mengusahakan yang terbaik untuk putra ibu. Semoga akan ada keajaiban yang terjadi." Dokter Lita berusaha menenangkan Dita.


"Setelah bapak nanti menandatangi surat persetujuan operasi, ibu harus bersiap-siap untuk mengikuti prosedur operasi," lanjut doker Lita.


"Su ... suami saya boleh menemani saya kan, Dok?" tanya Dita dengan tatapan memohon.


"Kalau bapak kuat mental, tidak takut dengan ruang operasi dan alat-alat bedah, dan ingin menemani ibu, boleh saja. Tetapi kalau bapak takut, kami tidak akan mengizinkan," jawab dokter Lita dengan lembut.


"Mas," panggil Dita yang melihat Rendra masih berbicara di telepon.


"Ada apa, Sayang? Ini aku masih telepon Mas Adi." Rendra mendekati Dita.


"Tentu, Sayang. Aku akan selalu di sampingmu. Jangan khawatir. Kita bisa melewati ini bersama." Rendra mengecup kening Dita meski ada dokter Lita di sana.


"Pak, ini surat persetujuan operasinya." Perawat menyerahkan beberapa lembar kertas pada Rendra.


Rendra menerima, lalu mengisi data dan menandatangani surat itu.


"Ibu nanti akan rawat inap di ruang apa, Pak?" tanya perawat itu.


"VIP, Sus," jawab Rendra.


"Baik, ini nanti Bapak ke bagian administrasi untuk mengurus ruang rawat ibu. Kami akan segera menyiapkan operasi untuk ibu."


"Baik, Sus."


"Ibu, di sini sebentar dengan saya ya. Bapak harus mengurus administrasi dulu. Sementara itu ibu juga harus bersiap untuk operasi," ucap perawat itu dengan senyum ramah.


"Aku pergi sebentar ya, Sayang. Aku segera kembali," pamit Rendra.


"Iya, Mas. Jangan lama-lama."

__ADS_1


Rendra menganggukkan kepala. Sebelum pergi dia kembali mengecup kening Dita.


"Sus, titip istri saya sebentar."


"Iya, Pak. Tenang saja."


Rendra lalu keluar dari ruangan itu menuju ke bagian administrasi. Sambil berjalan dia juga menghubungi Bella, mengabari tentang keadaan Dita dan memintanya memberi dukungan pada Dita. Dia mengizinkan Bella tidak bekerja bila ingin menemani Dita. Saat ini Dita memang sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekatnya.


"Ibu mohon maaf, saya harus membersihkan bulu yang ada di perut bagian bawah. Ini salah satu prosedur untuk memudahkan proses pembedahan. Boleh ya Bu, minta tolong untuk membuka dala mannya," ucap perawat itu setelah Rendra keluar.


"Baik, Sus." Dita menuruti apa yang dikatakan perawat itu, selanjutnya dia hanya bisa pasrah sambil terus istigfar dan berzikir memohon ketenangan dan kekuatan.


"Nanti Ibu lepas semua baju ya dan memakai pakaian untuk operasi. Kalau ibu tidak kuat dengan AC yang dingin nanti akan kami beri selimut di bagian atas tubuh Ibu."


"Iya, Sus."


"Nanti bapak juga harus memakai pakaian medis dan masker kalau mau masuk ke ruang operasi. Bapak pasti sangat mencintai Ibu, mau menemani Ibu operasi. Tidak banyak loh Bu yang mau dan kuat." Perawat itu mencoba mencairkan suasana agar Dita tidak terlalu tegang.


"Iya, Sus. Dia selalu ada di samping saya dalam keadaan apa pun. Meski saya tahu dia lelah, tapi dia selalu ada dan menuruti apa pun yang saya mau." Dita tersenyum saat membayangkan suaminya.


"Alhamdulillah. Ibu sangat beruntung sekali menjadi istri bapak."


"Iya, Sus."


Rendra masuk kembali ke ruangan setelah mengurus administrasi.


"Operasinya setengah jam lagi. Mereka masih menunggu dokter anestesi (1)," ujar Rendra setelah mendekat ke ranjang Dita.


"Iya, Mas."


"Ibu, Bapak, saya permisi dulu untuk menyiapkan operasi. Nanti kalau sudah siap, saya akan kemari lagi menjemput Ibu," pamit perawat itu dengan sopan.


"Baik, Sus. Terima kasih sudah menemani istri saya," sahut Rendra.


Perawat itu tersenyum lalu menganggukkan kepala sebelum meninggalkan mereka berdua.


"Mama dan Nisa sebentar lagi ke sini sekalian membawakan bajumu. Mas Adi mau jemput bunda katanya, karena ayah masih belum bisa pulang. Nanti ayah akan menyusul ke sini. Bella juga katanya mau ke sini."


"Makasih, Mas," tangis Dita kembali pecah.


"Sssttt ... jangan nangis, Sayang. Aku tahu kamu sedih, aku juga sedih. Tapi, kita harus kuat dan sabar. Allah tidak akan menguji kita di luar batas kemampuan kita, jadi kita pasti bisa melewati ini semua." Rendra menghapus air mata yang keluar dari sudut mata Dita.


...※※※※※...


Catatan:

__ADS_1


(1) Dokter anestesi adalah dokter spesialis yang memiliki tanggung jawab memberikan anestesi (pembiusan) sebelum pasien menjalani operasi atau prosedur medis lainnya.


Jogja, 030421 14.10


__ADS_2