
“Assalamu’alaikum, selamat pagi, Ibu Dita. Bagaimana keadaannya?” sapa dokter Lita saat datang memeriksa Dita.
“Wa’alaikumsalam, pagi, Dok. Kemarin saya kedinginan. Kaki juga rasanya pegal-pegal. Bekas jahitan sekarang juga terasa panas dan perih.” Dita mengungkapkan apa yang dia rasakan.
Dokter Lita tersenyum. “Kalau kedinginan itu karena efek operasi, Bu. Karena ruang operasi yang sangat dingin sementara ibu hanya memakai pakaian tipis untuk operasi, lalu Ibu dipindahkan ke suhu ruang, bisa menimbulkan reaksi seperti itu.”
“Kalau kaki terasa pegal, karena efek anestesinya hilang. Untuk bekas operasi nanti diberi obat untuk penghilang nyeri ya, Bu. Nanti Ibu juga akan diinfus dengan cairan antibiotik. Mungkin akan terasa agak sakit saat dimasukkan cairan antibitotik, tapi cuma sebentar.” Dokter Lita memberi penjelasan pada Dita.
“Baik, Dok.”
“Ibu mulai coba tidur miring ke kiri dan kanan ya, pelan-pelan saja. Nanti kalau sudah lancar miringnya, mulai belajar duduk. Pelan-pelan juga, kalau saat bangun kepalanya pusing nanti tiduran sebentar, lalu mulai duduk lagi. Kalau sudah bisa duduk mulai belajar jalan. Pelan-pelan saja dulu.”
“Baik, Dok. Kapan kateternya dilepas ya, Dok?”
“Nanti setelah Ibu bisa duduk, akan kami lepas.”
“Apa kalau saya sudah bisa jalan boleh pulang, Dok?” tanya Dita.
“Kalau proses pengobatan sudah selesai dan kondisi Ibu bagus, boleh pulang. Obat-obatan pasca operasi sekitar 3 hari, Bu.”
“Saya kira asal bisa jalan sudah boleh pulang, Dok.”
“Sabar ya, Bu. Sudah kangen rumah ya, Bu?”
Dita hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dokter Lita.
“Apa ada yang ditanyakan lagi, Bu?” tanya dokter Lita sebelum meninggalkan ruang rawat inap Dita.
“Tidak ada lagi, Dok. Terima kasih,” jawab Dita sambil tersenyum.
“Kalau begitu saya permisi dulu, mau mengecek pasien lainnya. Kalau ada apa-apa bisa hubungi perawat ya. Assalamu’alaikum.” Dokter Lita keluar dari ruangan Dita diikuti seorang perawat di belakangnya.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
“Sayang, mau coba tidur miring?” tanya Rendra yang dari tadi berdiri di samping tempat tidur Dita, ikut mendengarkan penjelasan dokter Lita.
“Iya, Mas,” jawab Dita.
“Pelan-pelan ya, jangan dipaksakan.” Rendra bersiap membantu Dita yang siap memiringkan badannya.
"Bismillah." Dita coba menggeser badannya ke samping. Dengan pelan akhirnya dia bisa tidur dalam posisi miring.
"Good. Pintar istriku," puji Rendra sambil mengelus kepala Dita.
"Aku mau begini dulu, Mas."
"Oke," Rendra lalu duduk menghadap Dita. Ditatapnya wajah istrinya itu dengan penuh cinta.
"Mas, kenapa senyum-senyum sendiri?" Dita heran melihat suaminya yang tersenyum terus sambil menatapnya.
"Aku lagi senang aja."
"Senang kenapa? Apa ada sesuatu di wajahku?" Dita mengerutkan kening.
Rendra tersenyum. Dia menjawab sambil menyenandungkan lirik lagu.
Ada yang lain, di senyummu
yang membuat lidahku
gugup tak bergerak
__ADS_1
Ada pelangi, di bola matamu
Dan memaksa diri, tuk bilang
Aku sayang padamu
(Pelangi di matamu - Jamrud)
Dita tersipu setelah mendengar Rendra bernyanyi. Suaminya itu memang selalu bisa membuatnya tersipu.
"Gemes deh kalau lihat kamu tersipu gitu." Rendra memandang wajah istrinya dengan gemas.
"Apaan sih, Mas." Dita menutup wajah dengan telapak tangannya.
"Kenapa ditutup wajahnya. Buka dong, Sayang," rengek Rendra.
"Enggak, Mas pasti mau godain aku lagi."
"Dari tadi aku enggak godain loh. Aku mengungkapkan isi hatiku, Sayang."
"Gombal." Dita masih menutup wajahnya.
"Mau dibuka atau minta dicium nih?"
Dita akhirnya memperlihatkan wajahnya. Jangan sampai Rendra nekat menciumnya, ada bunda dan ayahnya di sana.
"Mas tidur aja dulu. Semalam kan cuma sebentar tidurnya."
"Kalau kamu tidur, aku baru tidur, Sayang."
"Aku udah banyak tidur kemarin. Mas kan kurang tidurnya. Jangan sampai Mas ikut diopname juga gara-gara kecapekan ngurusin aku. Nanti siapa yang jagain Mas sementara aku masih seperti ini."
Rendra menggeleng. "Nanti kalau aku ngantuk pasti aku tidur, Sayang. Sekarang aku ingin berduaan sama kamu."
Rendra tersenyum, dia meraih tangan Dita yang membelainya tadi lalu mengecup punggung tangan Dita. "Terima kasih sudah menjadi wanita yang kuat dan hebat. Karena cintamu, aku tetap bisa tegak berdiri."
"Mas, yang sudah membuatku kuat. Aku enggak tahu apa yang terjadi kalau Mas enggak ada di sampingku. Mungkin aku akan terus menangis dan tidak bisa menerima kenyataan." Mata Dita sudah berkaca-kaca.
"Sssttt ... jangan menangis lagi. Meski kita sedih tetapi tidak boleh terus larut dalam kesedihan. Akhtar juga pasti sedih kalau kita sedih. Ingat Sayang, Akhtar akan selalu jadi bintang penerang di hati kita." Rendra mengelus pipi Dita.
"Aku kangen Akhtar, Mas. Biasanya dia udah nendang-nendang, apalagi kalau Mas ajak dia bicara." Wajah Dita berubah sendu.
"Aku juga kangen Akhtar. Kita doakan dia sekarang ya."
Dita mengangguk lalu Rendra mulai memimpin doa untuk putranya.
"Mas, besok setelah boleh pulang dari sini, boleh enggak sementara aku di ayah?" tanya Dita setelah mereka selesai berdoa.
"Boleh," jawab Rendra sambil tersenyum.
"Benar, Mas?" tanya Dita antusias.
Rendra mengangguk. "Iya, benar. Selama itu membuat kamu bahagia, aku akan mengizinkannya."
"Makasih, Mas."
"Memangnya Sayang, udah bilang ayah sama bunda?"
Dita menggeleng. "Belum, aku izin dulu sama Mas. Kalau Mas kasih izin baru aku bilang ayah sama bunda."
"Ya nanti bilang ayah sama bunda."
__ADS_1
"Tapi nanti enggak apa-apa Mas di mama, aku di ayah?"
"Kata siapa aku mau di rumah mama. Aku ikut ke mana pun kamu pergi, Sayang. Aku juga akan tinggal di rumah ayah."
"Benar, Mas mau tinggal di ayah?"
"Iya, kan cuma sementara."
🎶 Hatimu tempat berlindungku
Dari kejahatan syah watku
Tuhanku merestui itu
Dijadikan engkau istriku
Engkaulah bidadari surgamu 🎶
Gawai Rendra berdering. Dia melihat nama Candra di layar, segera dia menggeser tombol hijau untuk menerima. Dita diam menyimak saat Rendra bicara di telepon.
"Sayang, ini anak-anak kafe mau jenguk kamu. Gimana?" tanya Rendra pada Dita.
"Jangan dulu, besok aja kalau aku sudah bisa duduk atau kalau udah pulang ke rumah," jawab Dita.
"Oke, aku bilang sama anak-anak dulu kalau maumu begitu." Rendra kembali bicara dengan Candra di telepon.
"Pegal, Mas. Aku mau tidur terlentang lagi." Dita mulai menggerakkan tubuhnya pelan-pelan.
"Aku ngantuk, Mas juga tidur ya kalau aku tidur."
"Iya, Sayang. Nanti kalau kamu sudah tidur, aku akan langsung tidur."
Dita memejamkan mata. Satu tangan Rendra mengelus kening Dita, sementara yang satu menggenggam tangan istrinya. Dia duduk dengan menyandarkan kepala di tempat tidur Dita. Tak lama dia pun ikut terlelap.
Pak Wijaya dan Bu Hasna yang juga ada di ruangan itu, dari tadi hanya melihat interaksi putri bungsu mereka dan menantunya. Mereka sangat bahagia bisa melihat Dita dan Rendra saling menyayangi dan menguatkan satu sama lain.
"Bun, itu Nak Rendra disuruh pindah tidurnya pasti tidak nyaman duduk sambil tidur," ujar Pak Wijaya.
"Biar saja, Yah. Nanti kalau dibangunin dia malah enggak jadi tidur terus ngobrol sama Ayah. Kasihan Nak Rendra, pasti badannya lelah dan kurang tidur. Semalaman dia mijit kakinya Dita, enggak mau digantiin."
"Terus tidur jam berapa?"
"Mungkin jam 12 an, jam 3 dia bangun salat Tahajud, terus baca Al-Qur'an sampai Subuh. Tadi setelah Subuh sempat tidur sebentar terus kebangun pas Dita dimandikan perawat."
"Dita enggak banyak ngeluh kan, Bun?"
"Enggak, dia lebih banyak tidur. Paling tadi pas bekas jahitan terasa perih, dia ngeluh. Tapi, Dita ya tetap Dita, tetap manja. Meski manjanya sekarang sama suaminya enggak sama bunda lagi. Nak Rendra juga kelihatannya senang-senang saja manjain Dita." Ibu Hasna tersenyum.
"Ayah nanti sore pulang ya, Bun. Baru banyak pekerjaan di kantor. Agenda hari ini ayah tunda semua. Kalau Bunda mau di sini dulu sampai Dita pulang, enggak apa-apa."
"Iya, Yah. Bunda juga kasihan kalau Nak Rendra harus menjaga Dita sendiri. Kalau Ayah malas masak, sayurnya beli saja. Atau bunda teleponkan Mbok Darmi biar masak buat Ayah, sekalian bantu bersih-bersih rumah selama bunda di sini."
"Ayah kan cuma makan di rumah pagi sama malam aja. Ayah bisa lah sarapan sama nasi goreng atau goreng telur sendiri. Makan malam gampang. Mbok Darmi diminta bantu bersih-bersih rumah aja. Bilang ke Mbok Darmi kalau kunci rumah, pagi ayah antar, nanti ayah ambil pas pulang kantor."
"Iya, Yah. Bunda telepon anaknya Mbok Darmi dulu."
Hari ini Dita sudah bisa tidur miring dan juga duduk. Meski saat pertama kali belajar duduk, kepalanya terasa berputar hebat. Tapi setelah Rendra dengan sabar dan telaten membantu Dita duduk, akhirnya dia bisa duduk sendiri meski dengan pelan.
Keesokan harinya Dita sudah belajar berjalan dan bisa ke kamar mandi, jadi kateternya bisa dilepas. Karena beberapa hari hanya berbaring, Dita berjalan pelan-pelan mengelilingi kamar dengan didampingi Rendra atau bundanya untuk mengatasi kejenuhan.
Para karyawan kafe dan teman kuliah Dita bergantian datang menjenguk di rumah sakit. Mereka ngobrol dan bercanda hingga membuat suasana kamar menjadi riang, meski kadang Dita kesakitan karena tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon mereka. Setidaknya bisa membuatnya merasa tidak sendiri, ada orang-orang di sekelilingnya yang akan selalu menghiburnya.
__ADS_1
Jogja, 070421 14.00
Boleh minta sedekah jempolnya Kak setelah membaca 🙏🤗