
Sejak kejadian terakhir di kantin beberapa waktu yang lalu, Rendra menjadi lebih protektif pada Dita. Hampir setiap ada kesempatan dia pasti mengirim pesan atau menelepon Dita. Bila Dita tidak segera membalas pesan, Rendra akan menghubungi Bella atau pun Baim menanyakan keadaan Dita. Rendra juga acap kali mengantar Dita sampai ke depan ruang kuliah atau sampai Dita bertemu Bella, makan siang pun mereka usahakan untuk selalu bersama.
Sebenarnya Dita sudah meminta Rendra untuk bersikap seperti biasa saja, tetapi dasar Rendra kalau sudah punya pendirian tidak bisa digoyahkan, dia mengindahkan permintaan Dita. Alhasil Dita hanya bisa pasrah dengan segala sikap protektif Rendra.
Sabtu pagi ini seusai salat Subuh dan membaca Al-Qur’an, Rendra mengajak Dita tiduran lagi karena mereka libur kuliah. Awalnya Dita menolak, karena tidak enak dengan anggota keluarga lain, terutama mama mertuanya. Tetapi Rendra bersikeras masih ingin bersama Dita, kalau Dita menolak dia akan mengajak istrinya itu menginap di hotel agar bebas berduaan tanpa harus merasa sungkan pada yang lain.
Sebenarnya mereka tidak melakukan apa pun hanya berpelukan sambil tiduran atau istilah kerennya cuddling, konon hal itu bisa meringankan stres selain menambah kemesraan dengan pasangan. Mereka melakukan itu selama beberapa saat sampai Dita mendengar napas teratur Rendra, suaminya ternyata tertidur. Pelan-pelan dia menyingkirkan lengan Rendra dari pinggangnya, lalu dia bangun dari tidur. Dia mencuci wajah dulu di kamar mandi, baru merapikan penampilannya sebelum keluar dari kamar.
Dita langsung menuju ke dapur, membantu Ibu Dewi menyiapkan sarapan.
“Rendra masih tidur?” Tanya Ibu Dewi pada Dita.
“Iya Ma, Mas Rendra ketiduran tadi. Kayanya dia capek banget.” Jawab Dita.
“Akhir-akhir ini kayanya dia sering begadang, entah mengerjakan tugas atau bekerja. Coba kamu kasih tahu dia biar enggak sering tidur larut malam.”
“Iya Ma. Makanya tumben tadi Mas Rendra ngajak tiduran setelah Subuh biasanya kan langsung bangun beraktivitas.”
“Nanti kamu bangunkan saja kalau sarapan sudah siap. Biar dia istirahat dulu.”
“Iya, Ma. Hari ini kita mau masak apa Ma?”
“Tumis daun pepaya dicampur teri, lauknya nanti telur dadar gulung ya. Kamu doyan kan daun pepaya?”
“Doyan Ma, bunda juga sering kok masak.”
“Kamu siapain telur dadarnya ya.”
“Siap Ma.”
Mereka berdua mulai sibuk dengan kegiatan masak masing-masing. Nisa masih bersiap di kamarnya sebelum berangkat ke sekolah, sementara Shasha pergi dinas ke luar kota lagi.
Pukul 06.15 sarapan sudah siap di meja makan. Setelah mencuci dan membereskan alat masak, Dita ke kamar untuk membangunkan Rendra.
Dita duduk di atas ranjang, dia menghadap Rendra yang sedang tertidur pulas. Dia mengamati lekat-lekat wajah Rendra, memang terlihat gurat kelelahan di wajahnya. Seketika dia merasa bersalah karena kurang memperhatikan kegiatan suaminya. Mungkin suaminya memang butuh waktu untuk berlibur keluar dari rutinitasnya. Apa sebaiknya dia menuruti Rendra untuk menginap di hotel agar mereka lebih santai menikmati hari libur mereka? Pikirnya.
“Mas, bangun. Sarapan sudah siap.” Dita mengusap-usap pipi Rendra, tetapi Rendra tetap diam tak bergerak.
“Bangun dong Mas, sudah siang ini.” Dita mulai mengguncang pelan tubuh Rendra.
Tanpa diduga, Rendra justru menarik Dita hingga membuat istrinya itu jatuh di atas tubuhnya.
“Sebentar lagi ya,” sahut Rendra dengan suara serak khas bangun tidur.
“Ini sudah mau sarapan loh, Mas.” Dita berusaha bangun dari atas tubuh Rendra.
“Biar, kita nanti sarapan berdua saja. Ssttt ... jangan bergerak, kamu enggak mau aku peluk?"
"Tapi posisiku enggak enak ini Mas."
"Ya udah cari posisi yang enak gih." Rendra melepaskan pelukannya, Dita lalu bangun dari atas tubuh Rendra dan berbaring di sampingnya. Mereka berbaring berhadapan dan saling memandang.
Tok ... tok ....
__ADS_1
"Kak Rendra, sudah ditunggu Mama sarapan." Teriak Nisa dari luar kamar.
"Duluan aja, aku nanti sarapannya." Sahut Rendra.
"Oke," balas Nisa.
"Kenapa enggak bareng aja sih, Mas?" protes Dita.
"Aku ingin makan berdua aja sama kamu." Rendra tersenyum sambil mengusap pipi Dita.
"Mas," panggil Dita.
"Hhmmm, ada apa Sayang?"
"Jalan yuk ke mana gitu, biar Mas bisa lebih rileks."
"Benar kamu mau ngajak jalan?" Tanya Rendra dengan mata berbinar.
"Iya, kita nginep sekalian, pulangnya besok."
"Serius?" Rendra tak percaya Dita punya inisiatif seperti itu.
"Aku serius Mas, apa Mas enggak mau?" Dita menatap mata Rendra.
"Ya jelas mau dong, Sayang. Anggap saja ini pra bulan madu kita." Rendra mencubit pipi Dita dengan gemas.
"Tapi, kalau kita nginep bareng nanti digerebek enggak ya Mas?"
Rendra mengerutkan keningnya. "Kenapa digerebek?"
"Ah gampang kalau soal itu, tinggal tunjukkan foto kita saat ijab kabul. Kalau mereka masih enggak percaya kita bisa telepon ayah kan."
"Benar, enggak apa-apa Mas?"
"Biar itu jadi urusanku nanti. Memangnya kamu mau ke mana, Sayang?"
"Tadi katanya Mas mau ngajak nginep di hotel. Atau Mas ingin pergi ke pantai? Terserah Mas mau ke mana, aku ikut aja. Yang penting bisa bikin Mas rileks enggak mikirin kuliah dan kerjaan."
"Kenapa tiba-tiba kamu berubah pikiran hummm?"
"Aku lihatin Mas pas tidur tadi, kayanya lagi capek banget. Kata Mama, Mas akhir-akhir ini sering begadang ya?"
"Iya, ngerjain tugas, laporan, desain." Kata Rendra sambil meringis.
"Kalau memang baru banyak tugas dan laporan enggak usah terima kerjaan dulu lah, Mas. Sayangi badannya."
"Nanti pendapatanku berkurang kalau enggak terima kerjaan dong."
"Duit kan bisa masih bisa dicari selama badan kita sehat, Mas. Aku juga enggak nuntut Mas punya pendapatan besar. Selama ini uang yang Mas kasih aja sudah lebih dari cukup. Aku masih bisa menabung."
"Itu karena kamu mau berhemat, enggak suka lapar mata. Enggak salah kan aku milih kamu jadi istriku. Makasih ya, Cintaku." Rendra mengecup kening Dita.
"Nanti enggak boleh bawa notebook. Cukup bawa ponsel, badan sama baju aja."
__ADS_1
"Iya ... iya. Istriku lama-lama bawel juga ya."
"Mas enggak mau diperhatikan? Ya sudah terserah Mas mau ngapain aja aku enggak peduli." Kesal Dita, dia hendak bangun tetapi ditahan Rendra.
"Maaf Sayang, aku cuma bercanda. Jangan marah ya. Siapa bilang aku enggak mau diperhatikan? Aku malah senang banget. Jadi benar-benar merasa punya istri." Rendra memeluk Dita erat.
"Jadi selama ini Mas enggak merasa punya istri?" Dita masih merasa kesal pada Rendra.
"Astaghfirullah, salah ngomong ya aku. Maksudku bukan begitu, Sayang. Sejak aku menikahimu ya aku merasa punya istri lah. Hanya saja baru kali ini aku benar-benar merasa diperhatikan, bukan berarti selama ini kamu enggak memperhatikan aku ya."
"Aku merasa kok diperhatikan, hanya kamu kan jarang melarang aku ini dan itu. Baru kali ini kamu benar-benar melarang aku enggak boleh melakukan sesuatu. Maafin aku ya kalau menyinggung perasaanmu." Rendra melepas pelukannya, dia memandang wajah Dita sambil tersenyum.
"Aku memang belum bisa jadi istri yang baik, Mas. Aku sadar itu, akhir-akhir ini aku juga sibuk dengan tugas kuliah jadi kurang memperhatikan Mas. Aku juga minta maaf, Mas."
"Kamu enggak salah, Sayang. Kita kan juga sama-sama sibuk kuliah. Makanya sekarang kita nikmati waktu berdua tanpa memikirkan apa pun."
"Iya, Mas."
"Ya udah habis ini mandi, sarapan, bersiap-siap lalu berangkat. Mau pakai motor apa mobil?"
"Motor aja Mas, kasihan Mama kalau butuh mobil."
"Mama bisa naik gocar kalau mau pergi, tapi kalau kamu mau naik motor aku ikut aja. Ingin peluk aku sepanjang jalan ya." Goda Rendra.
"Apaan sih, Mas." Pipi Dita merona.
"Nanti sama besok pake hijab ya, Sayang."
"Kalau begitu aku ambil dulu di Mas Adi."
"Oke, nanti aku temani. Kita berangkat dari sana aja. Oh ya kenapa sebagian bajumu belum dipindah ke sini, kan sudah aku belikan lemari buat kamu?"
"Ya pelan-pelan Mas, kalau aku pindah ke sini semua nanti aku enggak punya baju di Mas Adi. Lagian aku tidur sini cuma 3 malam jadi belum butuh banyak baju." Dita beralasan.
"Besok pindahkan sedikit ke sini, terutama yang panjang dan bisa dipakai kalau berhijab." Perintah Rendra.
"Iya, Mas."
"Morning kiss dulu dong sebelum mandi." Rendra memonyongkan bibirnya.
"Ini udah siang Mas, udah enggak pagi lagi."
"Kan aku baru bangun, jadi masih pagi buatku."
"Sa ae nih, Mas." Dita mencubit gemas pipi suaminya.
Rendra meraih tangan Dita yang tadi mencubit pipinya, diciumnya punggung tangan Dita sambil menatap mata istrinya penuh cinta. Dengan pelan dan pasti Rendra mendekatkan wajah mereka, dia menangkup wajah istrinya lalu mencium kening, mata, pipi dan terakhir bibir Dita.
Bibir manis Dita sekarang menjadi candu baginya. Dia merasa tak pernah puas menjelajahi seluruh sudutnya. Apalagi sekarang Dita juga sudah mulai membalas setiap perlakuan manisnya. Kalau tidak ingat hari ini Dita mengajaknya keluar, dia tidak akan menyudahi pergulatan bibir mereka.
Rendra kemudian mencium kening Dita.
"Aku mandi dulu. Atau kita mandi bersama biar lebih menyingkat waktu?" Goda Rendra.
__ADS_1
"Apaan sih, Mas. Sudah sana mandi dulu. Aku akan bereskan tempat tidur dan menyiapkan baju Mas." Dita mendorong badan Rendra agar segera bangkit dari tidurnya.