Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
20


__ADS_3

“Ikut aku!!!” Rendra memegang pergelangan tangan Dita saat dia baru keluar dari musala hendak menuju ke kantin, dan menariknya ke sudut kampus yang agak sepi.


Mendapat perlakuan kasar dan mendadak dari Rendra membuat Dita memberontak tak terima. “Apaan sih, lepassss!!!!”


Tetapi Rendra tak menggubrisnya, dia terus saja berjalan sampai ke tempat yang tidak ada orang di sana. Begitu Rendra berhenti, Dita langsung menghentakkan tangannya, melepaskan diri dari Rendra. Dia menatap tajam Rendra penuh emosi.


“Apa-apan sih kamu? Main tarik orang sembarangan.” Dita mengungkapkan kekesalannya sampai wajahnya memerah.


Tetapi Rendra hanya diam dan balik menatapnya tajam. Melihat tak ada reaksi dari Rendra membuat Dita mendengus kesal dan berniat pergi dari sana.


“Kamu kemarin ditembak sama Bara, tapi kamu menolak dia?” Tanya Rendra tiba-tiba saat dia akan melangkahkan kakinya.


“Bukan urusanmu.” Jawab Dita ketus.


“Jadi benar?” Rendra menatapnya intens.


“Mau benar atau salah itu bukan urusanmu, dan kamu enggak punya hak untuk tahu semua urusanku dengan siapa pun.” Sahut Dita masih dengan nada ketus.


“Tapi Bara sahabatku.”


“Lalu apa hubungannya kalau Kak Bara sahabatmu?”


“Ya, wajar kan aku tahu urusannya sahabatku.”


Dita tersenyum sinis, “kaya cewek saja mau tahu urusan orang lain.”


“Jangan pernah beri Bara harapan kalau kamu enggak suka sama dia.”


“Hellloooo ... siapa juga yang memberi harapan sama Kak Bara?”


“Dia bilang mau terus mendekati kamu meski kamu sudah menolaknya.”


“Terus aku harus bagaimana? Aku juga sudah bilang hanya bisa berteman sama Kak Bara.”


“Ya terserah kamu mau melakukan apa, intinya jangan pernah memberi Bara harapan palsu.”

__ADS_1


“Kamu ini baby sitter-nya Kak Bara?” Sindir Dita.


“Maksudmu apa?” Rendra mengernyit.


“Kata-katamu tadi ... ah percuma ngomong sama kamu.” Dita menggelengkan kepala, lalu membalikkan badannya hendak pergi dari tempat itu.


“Tunggu Dita! Aku belum selesai bicara.”


Dita memutar bola matanya jengah, lalu menghadap ke arah Rendra kembali.


“Apa lagi?” Kali ini Dita sambil menyilangkan tangan di depan dada.


“Bara itu sahabatku, aku tidak ingin melihat dia kecewa lagi. Aku lihat dia serius sama kamu, jadi kalau memang kamu tidak suka dengan dia sebaiknya jangan pernah membuka harapan pada Bara.” Terang Rendra.


“Apa ... maksudmu membuka harapan?”


“Dengan kamu membuka hubungan pertemanan itu sama juga membuka harapan Bara untuk lebih dekat denganmu.”


“Maksudmu, aku tidak boleh berteman sama Kak Bara?” Tanya Dita heran.


“Dengar ya, aku punya hak untuk berteman dengan siapa saja, dan kamu enggak berhak mengatur siapa saja yang boleh berteman denganku. Aku rasa Kak Bara juga paham apa yang aku katakan kemarin kalau saat ini aku hanya membuka pertemanan dan tidak lebih dari itu. Kalau pun di kemudian hari kami berjodoh ya itu berarti takdir Allah. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti. Kamu enggak perlu bersikap seperti penjaganya Kak Bara karena aku yakin dia juga tahu kalau berani jatuh cinta berarti dia juga harus siap untuk kecewa dan sedih karena patah hati.” Dita mengeluarkan semua unek-unek yang ada di kepalanya.


“Dan kamu, sebaiknya urus saja para penggemarmu yang sibuk mencari tahu dengan siapa kamu pulang kemarin. Aku tidak mau mereka tahu kalau itu aku. Dan juga, kalau suatu saat Mas Adi menghubungimu lagi, bilang saja kamu tidak bertemu denganku, tidak perlu mencariku. Aku ingin kuliah dengan tenang tidak mau diganggu dengan urusan seperti itu.” Lanjut Dita.


“Mak ... sudmu apa? Penggemar?” Tanya Rendra bingung.


“Enggak usah pura-pura, kamu punya penggemar banyak kan di sini.” Jawab Dita dengan nada sinis.


Rendra menautkan alisnya, “aku bukan artis jadi aku tidak punya penggemar.”


“Cewek-cewek yang mendekatimu itu kalau bukan penggemarmu lalu siapa? Termasuk salah satunya Bella, sahabatku.”


“Ah ... itu. Aku tidak punya urusan dengan mereka, terserah mereka mau melakukan apa saja aku enggak peduli selama itu tidak mengangguku secara langsung.” Sahut Rendra dengan santai.


“Dan soal Mas Adi, sori aku enggak akan bohong. Karena aku juga punya adik perempuan, aku bisa merasakan apa yang Mas Adi rasakan. Jadi, kamu juga tidak berhak menyuruhku untuk bohong pada Mas Adi. Lagi pula yang Mas Adi lakukan itu karena dia sayang dan khawatir sama kamu, adik satu-satunya yang sangat dia jaga.” Lanjut Rendra.

__ADS_1


“Oke!!!” Ucap Dita ketus.


“Ah ... ya, soal temanmu itu. Bilang padanya jangan kecentilan jadi cewek. Jangan pernah memberi barang lagi atau mendekati aku. Jangan buang-buang waktu untuk hal yang sudah jelas tidak akan dia dapatkan.” Tegas Rendra.


“Oke, aku akan bilang pada Bella untuk berhenti menyukai pria seperti kamu.” Sahut Dita datar.


“Kalau sudah tidak ada lagi, aku mau pergi, aku masih ada kelas. Dan, jangan pernah menyeretku lagi seperti tadi, kita bisa bicara baik-baik.” Ujar Dita.


“Oke, maaf karena tadi aku agak kasar.” Kata Rendra dengan wajah menyesal.


Dita menganggukkan kepalanya, lalu dia bergegas berjalan meninggalkan Rendra menuju ke ruangan kuliahnya.


Rendra mengembuskan napas lega begitu Dita pergi, dia terus memandang punggung Dita sampai tidak terlihat lagi.


Sementara di sudut lain, Bara melihat Dita yang sedang berjalan tergesa-gesa, dia berniat menyapa tetapi saat melihat ke arah dari mana datangnya Dita, dia terkesiap karena melihat Rendra ada di sana sedang memandang Dita sambil tersenyum dari tempatnya berdiri.


“Sebenarnya ada hubungan apa di antara mereka berdua? Di depan orang-orang terlihat tidak akur, tetapi di belakang ternyata mereka bertemu diam-diam.” Gumam Bara. Dia menggelengkan kepalanya berkali-kali, menepis pikirannya dari segala kemungkinan yang akan membuatnya kecewa


Tak lama kemudian Rendra terlihat mulai berjalan ke arahnya, dia segera bersembunyi.


“Eh Bro, dari mana aja lo? Gue cari di kantin kok enggak ada.” Tiba-tiba Bara menepuk bahu Rendra saat sahabatnya itu melintas di depannya.


Rendra jelas sangat terkejut saat Bara menyapanya. Dia tersenyum kaku pada Bara sambil mengusap tengkuknya karena gugup. “Kok tiba-tiba Bara ada di sini, apa tadi dia sempat melihat aku sama Dita?”


“Mmmhhh ... dari sana tadi ketemu sama anak-anak.” Balas Rendra gugup.


Bara tersenyum mendengar jawaban Rendra, lalu dia merangkul bahu sahabatnya itu seolah tidak terjadi apa-apa. “Sebenarnya apa saja yang lo sembunyiin dari gue soal Dita?”


“Gue mau ke kantin dulu Bro, lo udah makan?” Tanya Rendra pada Bara untuk mengalihkan pembicaraan.


“Belum, tadi gue nyari lo enggak ada terus gue ke perpustakaan sebentar.” Jawab Bara.


“Ya sudah kalau begitu kita ke kantin dulu sekarang. Habis itu baru ke kelas.” Ajak Rendra.


“Ashiapppp.” balas Bara, lalu mereka berdua beranjak menuju ke kantin.

__ADS_1


__ADS_2