Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
109


__ADS_3

"Dita pintar masak ya," puji Adelia setelah mencicipi masakan Dita.


"Istri siapa dulu," sahut Rendra sambil melirik bangga pada Dita.


"Istrimu kan juga adikku," balas Adi tak mau kalah.


Dita tersenyum malu. "Aku masih belajar kok, Kak Adel."


"Belajar masak tuh sama Dita buat menyenangkan perut suamimu nanti." Bara ikut memuji Dita.


"Kamu memangnya udah sering makan di sini, Bar?" tanya Adelia pada Bara.


"Beberapa kali. Dan selalu dimasakin sama Dita kalau ke sini. Enggak ada yang enggak enak rasanya, semuanya enak." Bara mengacungkan jempolnya.


"Kak Bara terlalu berlebihan memujinya." Dita merendah seperti biasa.


"Ehemmm ...." Rendra berdeham agar Bara tak kembali memuji istrinya. Meski dia bangga istrinya dipuji tetapi dia tetap merasa cemburu. Apalagi sahabatnya itu pernah mencintai Dita.


"Gimana tadi sudah ada pandangan belum soal skripsi yang akan dibuat?" tanya Adi pada Bara dan Adelia, untuk mengalihkan pembicaraan.


"Alhamdulillah, sudah mulai ada bayangan, Mas. Meski masih samar-samar," jawab Bara sambil terkekeh sendiri.


"Kalau Adelia?" Adi beralih menatap Adelia.


"Lumayan sudah membuka pandangan, Mas. Meski ya sama seperti Bara, masih agak samar," ujar Adelia.


"Kalau begitu nanti kita lanjutkan setelah makan dan istirahat sebentar. Biar kalian pulang dari sini tidak sia-sia."


"Baik, Mas." Bara dan Adelia menganggukkan kepala mereka.


Obrolan mereka lalu bergulir dengan bahasan ringan.


Selesai makan siang, Adelia membantu Dita membereskan meja makan. Adi dan Bara kembali ke ruang tamu. Sedangkan Rendra mencuci alat masak dan makan yang tadi dipakai.


"Terima kasih. Kak Adel, ke depan saja. Biar aku sama Mas Rendra yang beresin ini." Dita menyuruh Adelia kembali ke ruang tamu.


"Mas, sini aku terusin nyucinya." Dita berdiri di samping Rendra.


"Udah, biar aku saja. Sayang, istirahat saja. Duduk di sana. Dari tadi belum istirahat kan."


"Mas, kan juga belum istirahat dari tadi."


"Aku tadi duduk di depan kan juga udah istirahat, Sayang."


"Ya udah deh, aku bikin salad buah saja." Dita mengambil buah-buahan dari dalam kulkas untuk dijadikan salad buah.


"Wah enak tuh, Sayang. Istriku memang pintar. Gimana aku enggak makin cinta kalau begini."

__ADS_1


"Enggak usah lebai deh, Mas."


Dita mencuci buah apel, pir, dan anggur. Buah jeruk dia kupas kulitnya lalu dibersihkan dan disisihkan. Buah apel, pir dan anggur dipotong sesuai selera. Setelah itu dia menata buah-buahan ke dalam wadah.


Selanjutnya Dita membuat dressing (saos salad). Dia menuang mayones, yoghurt, kental manis, air perasan jeruk nipis, garam dan keju parut ke dalam satu wadah. Setelah itu semua bahan diaduk rata, kemudian disiramkan di atas buah-buahan yang tadi sudah ditata di dalam wadah.


"Mas, icip deh." Dita menyuapkan sepotong buah yang sudah dicampur dressing.


"Enak, Sayang. Segar."


"Mau ditambah parutan keju enggak, Mas?"


"Enggak usah. Takutnya yang lain enggak suka."


"Ya udah. Aku siapin wadah kecil dulu buat tempat makannya." Dita mencuci tangannya lalu mencari cawan atau mangkuk kecil di lemari dapur.


"Mas, tolong ambilkan mangkuknya. Itu di rak paling atas." Dita meminta bantuan suaminya karena dia tidak dapat menjangkau.


Rendra yang sudah selesai mencuci, langsung bergerak mengambil mangkuk di rak lemari paling atas dan menyerahkan pada istrinya.


"Makasih, Mas Rendra Sayang," ucap Dita saat menerima mangkuk dari Rendra.


"Imbalannya mana?" goda Rendra.


"Enggak ikhlas banget sih bantuin istrinya," protes Dita.


"Itu tadi minta imbalan." Dita mencebik.


"Itu bercanda, Sayang. Gitu aja dianggap serius sih." Kali ini Rendra mencubit pipi Dita karena gemas.


"Kalian ini loh ditunggu di depan, dikira masih belum selesai malah mesra-mesraan di sini." Adi masuk ke dapur untuk menambah air minum yang habis.


"Ini Mas, habis ambil mangkuk buat makan salad. Barusan Dita bikin salad buah. Sebentar lagi kita ke depan. Air minumnya nanti sekalian aku bawa saja, Mas." Rendra meminta wadah minum pada Adi.


"Jangan lama-lama," titah Adi.


"Siap, Mas." Rendra segera mengisi wadah minum dengan sirup dan air es. Di siang yang terik ini minum yang dingin pasti terasa segar.


"Ayo ke depan, Sayang. Aku bawa salad sama minum. Sayang, bawa mangkuknya saja ya." Rendra berjalan ke ruang tamu lebih dahulu, baru disusul Dita.


"Wah ada makanan lagi ini," ucap Bara dengan mata berbinar begitu melihat Rendra membawa salad buah.


"Bar, pantes kamu senang ke sini ternyata ... ckckck." Adelia menggelengkan kepala melihat tingkah Bara.


"Cuma salad buah kok, Kak. Ayo diicip sambil ngobrol." Dita membagikan mangkuk pada semua orang.


Mereka bergantian mengambil salad buah dari wadahnya.

__ADS_1


"Del, kamu belajar jadi istri dari Dita nih." Bara menyenggol lengan Adelia.


"Calon suami aja enggak punya, mau jadi istrinya siapa," sahut Adelia.


"Lho ... bukannya Kak Adel mau nikah setelah wisuda ya?" tanya Dita yang belum tahu apa yang terjadi dengan Adelia.


"Enggak jadi. Ternyata kami enggak berjodoh," jawab Adelia dengan wajah sendu.


"Maaf ya, Kak Adel. Aku enggak tahu." Dita merasa bersalah karena sudah mengorek luka hati Adelia.


Adelia tersenyum pada Dita. "Enggak apa-apa. Lagian aku juga harus cepat move on dan fokus kuliah lagi. Aku harus kembali mengejar target yang pernah kubuat dulu."


"Tetap semangat ya, Kak. Aku akan selalu mendukung dan mendoakan Kak Adel."


"Terima kasih, Dita. Enggak nyangka, ternyata kamu orangnya enggak sekaku yang aku kira. Dulu kita kan hanya ngobrol sekedarnya saja. Ren, boleh ya aku sahabatan sama istrimu?" Adelia memohon pada Rendra.


"Silakan saja, asal Dita juga mau," sahut Rendra.


"Enggak izin juga sama kakaknya Dita?" Adi ikut menyahut sambil tersenyum.


"Eh, Mas Adi. Boleh kan Mas, Dita jadi sahabat saya?" tanya Adelia dengan senyum malu.


"Kalau sama suaminya boleh ya, pasti aku juga boleh," jawab Mas Adi sambil tertawa kecil.


"Mas Adi ih, tumben ngajakin bercanda," ejek Dita.


"Biar enggak terlalu serius. Dari tadi bahas skripsi terus, biar enggak keluar asap nanti dari kepala," seloroh Adi.


Mereka semua tertawa mendengar kelakar Adi.


Setelah menghabiskan salad buah, mereka kembali berbicara serius. Dita undur diri karena dia tidak mengerti bahasan mereka. Dia memilih beristirahat di kamar sambil menunggu azan Asar.


Bakda Asar, Bara dan Adelia pamit pulang. Minggu depan rencananya mereka akan datang lagi.


Adi merebahkan dirinya di sofa panjang ruang keluarga setelah Bara dan Adelia pulang.


"Mas Adi, capek ya. Maaf ya Mas, karena bawa teman-temanku ke sini." Rendra duduk di karpet ruang keluarga.


"Enggak apa-apa. Aku malah senang kalau bisa bantu mereka, meski enggak banyak."


"Terima kasih. Mas Adi istirahat saja, biar aku yang beresin semuanya sama Dita."


"Makasih ya, Rend."


Jogja, 300421 14.40


Untuk semua yang selalu mendukung saya dari awal sampai saat ini, ai lafff yu pullll 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2