
“Dek, nanti sore enggak usah masak buat makan malam kalau Adek capek. Hari ini kalian mau pergi ke banyak tempat kan,” pesan Adi sebelum dia berangkat kerja.
“Iya, Mas. Ada beberapa tempat yang dikasih tahu sama bunda.”
“Mungkin nanti mas juga lembur, sekalian makan di luar. Atau Adek mau pesan apa nanti mas belikan?” tawar Adi.
“Aku lagi enggak ingin beli apa-apa, Mas. Lagian udah ada Mas Rendra, aku bisa minta Mas Rendra buat beli kalau aku ingin sesuatu.”
“Ah ... iya, Mas lupa. Adek udah punya suami yang bisa diandalkan,” seloroh Adi.
“Mas Adi, ih.” Dita melirik kesal pada Adi.
“Mas berangkat dulu ya, yang rukun kalian.” Adi mencium kening adiknya. Dita balas mencium punggung tangan dan kedua pipi Adi.
“Assalamu’alaikum.”
"Wa’alaikumsalam.”
Dita masuk ke kamar setelah Adi berangkat. Dia merebahkan diri di atas ranjang sambil menunggu Rendra. Niatnya hanya berbaring dan mengecek pesan di gawainya, tapi tak lama dia malah terlelap.
Rendra kaget saat masuk ke dalam rumah, karena pintu depan tidak terkunci, tetapi Dita tidak ada di ruang tamu atau di ruang tengah. Dia memanggil-manggil Dita, tetapi tidak ada sahutan. Dia mencari ke tempat cuci, tapi istrinya tidak ada. Lalu dia bergegas masuk ke kamar, ternyata Dita sedang tidur.
Rendra tersenyum lega, dia berjalan mendekati istrinya. Akhir-akhir ini Dita sering dan gampang tertidur. Biasanya Dita selalu aktif melakukan apa saja di rumah, entah mencoba resep baru, beberes atau melakukan pekerjaan rumah lainnya. Kadang-kadang Dita juga iseng mendesain sesuatu di meja kerjanya.
Rendra menyingkirkan anak rambut di kening Dita, lalu menciumnya. Dia ikut berbaring di samping Dita dan memeluk pinggang ramping istrinya.
Dita mulai bergerak, dia merasa terusik saat Rendra memeluk erat pinggangnya. “Mas Rendra,” panggilnya dengan suara serak khas bangun tidur.
“Iya, Sayang. Aku di sini.”
“Aku ketiduran lagi, ya.”
“Kayanya sih.”
“Mas kok enggak bangunin aku, malah ikut tiduran,” protes Dita.
“Habis, kayanya kamu nyenyak banget tidurnya. Aku enggak tega bangunin, Sayang,” Rendra beralasan.
“Tapi kan nanti kita jadi kesiangan perginya.”
“Enggak apa-apa. Kita kan enggak terburu waktu, Sayang.”
“Ya, udah kita pergi sekarang. Aku cuci muka sama ganti baju dulu.” Dita bangun dari tidurnya lalu ke kamar mandi.
Rendra juga ikut bangun. Dia pergi ke dapur menyiapkan botol minum untuk mereka bawa. Sudah menjadi kebiasaan, mereka selalu membawa botol minum ke mana pun mereka pergi. Jadi saat haus mereka tak perlu repot membeli minuman, lagian banyak minum air putih juga lebih sehat.
Rendra masuk lagi ke kamar dengan membawa botol minum yang sudah terisi penuh. Dia masukkan ke dalam tas ransel yang akan dibawa. Dita sudah keluar dari kamar mandi, dia sedang memilih baju yang akan mereka pakai.
“Mas, mau pakai baju yang mana?” tanya Dita.
“Terserah kamu, Sayang. Mau pakai warna yang sama juga boleh,” jawab Rendra.
“Oke, Mas cuci muka dulu. Biar aku siapkan bajunya.”
“Siap, Cintaku.”
Rendra memakaikan Dita helm sebelum naik ke atas motor. Sesudah mereka berdua siap, Rendra melajukan motornya pelan.
Mereka mendatangi produsen dan penjual alat-alat bakery. Alat-alat yang mereka cari planetary mixer (1), oven deck (2), loyang, rak untuk loyang, dan meja produksi.
Hari ini mereka baru mencari informasi produk dan harga dari produsen atau pun penjual. Untuk keputusan membeli atau memesan nanti akan mereka diskusikan dengan yang lebih ahli dan berkecimpung lama di dunia bakery.
"Mas, aku kok ingin makan bebek ya," curhat Dita setelah mereka selesai salat Zuhur di masjid.
"Ayo kita cari bebek kalau begitu," ajak Rendra.
"Benar, Mas?" mata Dita berbinar-binar saking senangnya.
Rendra menganggukan kepala.
"Iya, sini pakai helmnya dulu." Rendra kembali memakaikan Dita helm. Memakaikan dan melepaskan Dita helm menjadi rutinitasnya setiap kali mereka pergi naik motor berdua. Meski Dita sempat menolak, tetapi lama-kelamaan menjadi kebiasaan.
Rendra melajukan motornya ke sebuah warung makan yang menjual olahan daging bebek yang dimasak dengan bumbu asli Madura.
"Sayang, mau pesan yang mana?" Rendra menyodorkan buku menu pada Dita.
"Mmmhhh ... yang khasnya sini apa?"
__ADS_1
"Ya bebek bumbu Madura."
"Sambalnya mangga ya, Mas?" Dita menunjuk ke gambar yang ditempel di salah satu dinding.
"Iya."
"Aku mau yang pakai sambal mangga itu," ucap Dita antusias.
"Oke, paket komplit ya berarti?" tanya Rendra memastikan.
"Terserah Mas, yang penting ada sambal mangganya," jawab Dita yang seperti anak kecil menginginkan sesuatu.
"Minumnya mau pakai es atau panas?"
"Esnya dikit aja."
Rendra menulis pesanan mereka lalu menyerahkan pada pegawai di kasir.
"Mas, pernah ya ke sini? Kok tahu tempat ini," tanya Dita penasaran.
"Iya, pernah. Diajak teman," jawab Rendra.
"Cewek pasti ya?" Dita memicingkan matanya.
"Enggak, mana pernah aku jalan berdua dengan perempuan selain mama, Kak Shasha, Nisa dan kamu, Sayang."
"Bohong."
"Demi Allah, aku enggak bohong. Sayang, bisa tanya sama Bara atau teman-temanku lainnya. Apa pernah aku pergi berdua dengan perempuan selain kalian?"
"Benar, Mas enggak bohong?"
"Enggak, Sayang." Rendra mengelus kepala Dita. "Cuma kamu Sayang, satu-satunya perempuan yang pernah pergi berdua denganku."
"Awas ya kalau Mas bohong."
"Astaghfirulah, aku harus melakukan apa agar kamu percaya, Sayang?" Rendra tak habis pikir dengan sikap Dita yang tiba-tiba menjadi curiga dan mungkin cemburu?
Pesanan mereka akhirnya datang. Wajah Dita terlihat bahagia sekali. Mereka mencuci tangan sebelum mulai makan.
"Mas, pakai sambal yang ini, sambal mangganya buat aku semua." Dita memberikan mangkuk sambal bawang pada Rendra.
"Enggak asam. Ini segar Mas rasanya, coba deh," Dita menyuapkan seiris sambal mangga pada Rendra.
"Ini asam, Sayang," kata Rendra setelah menerima suapan Dita.
"Udah dibilang enggak asam. Lidah Mas itu yang aneh," Dita bersikeras dengan pendapatnya.
Rendra mengernyit heran, tidak biasanya Dita ngotot seperti sekarang. Kalau dilarang biasanya menurut meski dengan menggerutu, tapi sekarang sama sekali tidak mau menurut. Akhirnya dia hanya pasrah begitu melihat Dita yang makan dengan lahap dan sama sekali tidak merasakan asam.
"Alhamdulillah," ucap Dita yang selesai lebih cepat dari Rendra.
"Mas," panggil Dita sesudah meminum es tehnya.
"Apa, Sayang?" Rendra menatap Dita.
"Kita beli buat dibawa pulang ya. Kita belikan mama, Kak Shasha, Nisa sama Mas Adi juga buat kita berdua."
"Sayang, mau makan ini lagi nanti malam?"
Dita mengangguk penuh semangat. Senyum Dita melebar membuat Rendra tak bisa menolak keinginan istrinya.
"Mas," panggil Rendra pada pegawai di kasir.
"Iya, Mas. Ada yang bisa kami bantu?"
"Pesan 8 porsi bebek untuk dibawa pulang ya."
"Sambal mangganya dikasih yang banyak ya Mas, nanti nambah bayar juga enggak apa-apa." Pesan Dita pada pegawai itu.
"Iya, baik. Akan kami buatkan. Mohon ditunggu." Pegawai tadi meninggalkan mereka.
"Sayang, kenapa pesan sambal mangganya banyak? Aku khawatir loh Sayang nanti sakit perut."
"Enggak, percaya deh sama aku. Kalau Mas enggak mau bayarin nanti aku bayar sendiri."
"Astaghfirulah, bukan masalah uang, Sayang. Tapi aku enggak mau nanti Sayang sakit perutnya kebanyakan makan mangga."
__ADS_1
"Pokoknya aku mau sambal mangga yang banyak," Dita tetap ngotot.
Rendra semakin tidak mengerti dengan kelakuan Dita yang sangat berbeda hari ini. Tapi, dari pada nanti Dita malah ngambek, dia turuti saja semua keinginan istrinya. Sepertinya nanti dia harus curhat pada mamanya mengenai perubahan Dita akhir-akhir ini.
"Mas, habis ini kita ke mana?"
"Ke kafe, mau?"
Dita menggelengkan kepala.
"Kenapa? Capek?" tanya Rendra lembut.
"Mau rebahan aku, Mas," jawab Dita.
"Bisa kan rebahan di atas."
"Enggak mau, aku maunya di kamarku. Mas, antar aku pulang dulu, habis itu Mas baru ke kafe."
"Aku temani kamu rebahan saja, Sayang." Rendra mengedipkan sebelah matanya.
"Pasti Mas ada maunya."
Rendra tak menjawab, hanya tersenyum miring.
"Ini Mas, pesanannya untuk dibawa pulang." Pegawai itu membawa 8 kotak makan ke meja mereka.
"Terima kasih, Mas," ucap Rendra.
"Sayang, aku cuci tangan dulu terus bayar. Nanti Sayang bisa bawa enggak 8 kotak ini?"
"Bisa, bisa," sahut Dita yakin.
"Kalau enggak bisa kita gosend aja."
"Bisa, Mas. Udah sana Mas cuci tangan terus bayar ke kasir."
Rendra mencuci tangannya, lalu pergi ke kasir.
"Berapa Mas, semuanya?" tanya Rendra sambil mengambil dompet di saku belakangnya.
Pegawai itu menyebutkan nominalnya.
Rendra mengambil 3 lembar uang ratusan dari dompet lalu menyerahkan pada pegawai itu.
"Maaf ya Mas sama permintaan aneh istri saya," ucap Rendra tak enak hati.
"Oh itu istrinya Mas?" tanya pegawai itu.
Rendra menganggukkan kepala.
"Mungkin istrinya hamil, Mas. Jadi doyan sama mangga muda."
Rendra terkejut dengan ucapan pegawai itu. Dia pikir benar juga, kenapa dia tidak berpikiran ke sana? Apalagi banyak perubahan sikap dan sifat Dita belakangan ini.
"Iya mungkin, Mas. Terima kasih Mas." Rendra menerima kembalian dari pegawai itu lalu mendekat pada Dita.
"Sayang, ini di-gosend aja ya. Berat loh bawa 8 gini."
"Enggak berat, Mas." Dita kembali bersikeras.
"Oke, tapi nanti kalau capek bilang ya. Kita pesan gosend."
"Iya, Mas."
...※※※※※...
Catatan:
(1) Planetary mixer adalah mixer yang bekerja seperti teori perputaran planet, di mana pengocok (beater) berputar mengitari mangkuk (bowl) dan mangkok tidak berputar, sehingga menghasilkan adonan yang rata dan lembut.
Mixer ini biasanya berkapasitas besar. Umumnya mempunyai 3 macam pengocok, yaitu dough hook (berbentuk seperti spiral) untuk mengocok adonan roti, pizza, mixing paddle (berbentuk seperti kipas) untuk mengaduk/mencampur adonan tepung, mentega, whisk untuk mengaduk adonan kue, buttercream, meringue, dan lainnya.
(2) Oven deck adalah oven yang menggunakan tenaga listrik untuk pengaturan suhu dan waktu memanggang, dan menggunakan gas untuk proses pemanggangan. Oven ini berkapasitas besar, biasanya menggunakan daya listrik yang lebih kecil daripada oven listrik.
__ADS_1
Jogja, 240321 01.35