Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
48


__ADS_3

Setelah acara makan siang dan ramah tamah selesai, pembawa acara menutup acara lamaran. Kemudian rombongan keluarga Rendra pun berpamitan untuk pulang.


“Rend, baliknya nanti bareng aku saja. Kayanya ayah mau ada acara lagi nanti bakda Asar, sekalian ngenalin kamu ke tetangga.” Kata Adi saat Rendra juga berniat ikut pulang bersama keluarganya.


“Oh oke, aku bilang sama mama dulu ya, Mas. Emm ... aku nanti harus pakai setelan jas seperti ini atau cukup pakai kemeja saja, Mas?” Tanya Rendra sebelum menyusul mamanya.


“Kemeja aja enggak apa-apa, yang penting rapi dan sopan.” Jawab Adi.


Rendra menganggukkan kepala lalu dia menyusul mamanya yang menggandeng Dita menuju ke tempat mobil diparkir.


“Ma, aku pulangnya nanti bareng Dita dan Mas Adi ya.” Pamit Rendra begitu dia sudah berhadapan dengan Ibu Dewi.


“Enggak pulang juga enggak apa-apa Ren, ini kan malam pertama kalian.” Goda Shasha.


“Kak Shasha, enggak usah mulai ya,” potong Rendra sebelum Shasha makin menggodanya dan Dita.


“Iya, hati-hati nanti kalian pulangnya,” kata Ibu Dewi pada Rendra dan Dita.


“Iya, Ma.” Jawab Rendra dan Dita bersama. Rendra lalu mencium punggung tangan dan kedua pipi mamanya, Dita pun mengikuti apa yang dilakukan Rendra.


“Bro, titip mama dan yang lain ya. Sori jadi ngerepotin,” ucap Rendra pada Bara sembari menyerahkan kunci mobil.


“Kaya sama siapa aja Bro, tenang saja pasti selamat sampai rumah.” Bara menerima kunci mobil dari Rendra.


“Thanks, Bro.” Rendra merangkul Bara.


Rendra melepas jasnya lalu menyerahkan pada Nisa. “Nisa, ini tolong ditaruh di hanger, di belakang tadi.”


“Iya, Kak.” Nisa menerima jas Rendra lalu masuk ke mobil setelah berpamitan pada Rendra dan Dita.


“Lho kok dilepas jasnya?” Tanya Ibu Dewi.


“Gerah Ma, pakai kemeja aja. Tadi juga enggak bawa baju ganti.” Jawab Rendra.


"Oh ya Nis, tolong ambilkan sarung sama sandal sekalian ya." Rendra melongok ke dalam mobil.


Setelah menerima sarung dan sandalnya, Rendra segera menutup pintu mobil. Begitu semua sudah masuk ke mobil, rombongan keluarga Rendra pun pergi meninggakan halaman rumah Pak Wijaya.


"Ta, aku sama Baim pulang sekarang ya." Pamit Bella.


Dita menganggukan kepala. "Makasih ya Bel, Im. Tas sama baju enggak ada yang ketinggal kan."


"Sudah semua kok."


"Oke, Im kawal Bella sampai kos ya, jangan ngebut bawa motornya."


"Siap Nyonya," Baim memberi hormat pada Dita.


"Hati-hati ya, kabari kalau sudah sampai kos ya."


Bella dan Baim mengacungkan jempol mereka sebagai jawaban.


Setelah melepas kepergian keluarga Rendra dan kedua sahabatnya, Dita berjalan masuk ke rumah dengan Rendra di belakangnya.


"Sini aku bawakan sarungnya, ini buat salat kan?" Dita meminta sarung yang dibawa Rendra.


"Iya," Rendra menyerahkan sarungnya.


"Aku ke kamar sebentar ya, kamu ... eh Mas Rendra duduk di sini saja enggak usah ikut beres-beres." Pamit Dita pada Rendra di ruang tamu.

__ADS_1


"Iya, mau lepas sepatu juga." Ujar Rendra.


Dita lalu meninggalkan Rendra sendiri di ruang tamu dan masuk ke kamarnya. Rendra duduk di sofa dan menyandarkan punggungnya setelah melepas sepatu dan kaos kaki. Dia memejamkan matanya untuk sedikit melepaskan lelahnya.


"Nak Rendra kok di sini sendiri, Dita mana?" Tanya Bu Hasna yang baru masuk ke ruang tamu.


Rendra membuka mata lalu tersenyum pada Bu Hasna. "Dita di kamar, Bu."


"Ya ampun Dita itu, enggak ngajak suaminya istirahat di kamar. Nak Rendra istirahat di kamar saja ya, nanti di sini terganggu sama orang yang wira-wiri. Oh ya panggil bunda saja biar sama kaya Adi dan Dita."


"Iya Bun."


"Ayo masuk sini, itu kamarnya Dita. Ketuk saja pintunya."


Rendra membawa sepatunya lalu mengikuti Bu Hasna, dia kemudian mengetuk pintu yang ada tulisan 'Dita's room'.


"Ya, sebentar," sahut Dita dari balik pintu. Tak lama pintu kamar terbuka, menampakkan Dita yang sudah melepas kerudung dan sepertinya sedang membersihkan riasan wajahnya.


"Bunda nyuruh aku istirahat di kamar." Terang Rendra sebelum Dita bertanya.


"Oh, masuk saja." Dita membuka pintunya lebih lebar agar Rendra bisa masuk. "Sepatunya ditaruh di situ saja," Dita menunjuk tempat di samping pintu.


Rendra mengikuti anjuran Dita, lalu dia duduk di kursi belajar.


"Mau ganti kaos sama celana pendek?" Tanya Dita.


"Kalau ada ya enggak apa-apa," jawab Rendra.


"Coba aku carikan dulu kaosku kayanya ada yang besar. Atau aku pinjamkan Mas Adi?"


"Pakai kaosmu aja kalau ada."


"Ini kaosnya, tapi kalau celana adanya kecil-kecil. Aku pinjamkan Mas Adi ya."


"Aku pakai sarung aja kalau begitu."


"Oh ... ya sudah kalau begitu. Kalau mau ganti di kamar mandi ada di luar dekat dapur. Ini hanger buat kemejanya."


"Aku ganti di sini saja ya, enggak enak melewati banyak orang di luar." Rendra tersenyum miring.


"Eh ... kalau begitu aku saja yang ganti di kamar mandi." Dita mengambil baju gantinya di lemari.


"Kenapa enggak di sini aja sekalian?" Goda Rendra.


"Ih ... apaan sih." Dita menundukkan wajahnya. Lalu dia bergegas keluar kamar dengan baju gantinya.


Rendra tertawa melihat Dita yang malu dan salah tingkah. Dia lalu mengganti kemeja dengan kaos Dita dan celana panjangnya dengan sarung. Setelah itu dia kembali duduk dan mengamati kamar Dita.


Kamar Dita sangat tidak bernuansa girly, cenderung polos seperti kamarnya. Selain tempat tidur ukuran queen, ada meja belajar, meja rias, gantungan baju dan lemari dengan 3 pintu. Tidak ada satu pun boneka di sana, benar-benar tomboi seperti penampilannya. Perlengkapan make up pun hanya beberapa biji, tidak seperti Shasha atau pun mamanya yang banyak jenisnya.


Sudah 10 menit berlalu tapi Dita tak kunjung masuk kamar, Rendra pun memutuskan untuk membaringkan tubuhnya. Dia memejamkan mata, tak lama kemudian dia sudah terlelap.


"Mas, bangun. Sebentar lagi Asar." Samar-samar dia mendengar seseorang membangunkannya. Rendra lalu membuka mata pelan, mengumpulkan kesadarannya.


"Eh ... jam berapa sekarang? Aku ketiduran tadi nunggu kamu." Ungkap Rendra setelah sepenuhnya sadar.


"Lima belas menit lagi Asar, mandi dulu biar segar. Tadi aku mandi makanya lama. Maaf sudah buat menunggu."


"Enggak apa-apa. Boleh pinjam handuk?"

__ADS_1


"Ini handuknya," Dita menyerahkan handuk pada Rendra.


Rendra menerima handuk lalu beranjak dari atas kasur, melangkahkan kakinya ke luar kamar untuk mandi. Selesai mandi, Rendra pergi ke masjid dengan Adi dan Pak Wijaya untuk melaksanakan salat Asar berjemaah.


Bakda Asar, Pak Wijaya mengundang kenduri tetangga satu RW. Tujuan kenduri itu sebagai ucapan rasa syukur karena Dita sudah menikah, sekaligus memperkenalkan Rendra pada tetangga agar tidak ada kesalahpahaman di kemudian hari bila Rendra datang dan menginap di rumah Pak Wijaya sebelum pernikahan resmi mereka.


Selesai acara kenduri sambil menunggu azan Magrib, Pak Wijaya mengajak Rendra bicara, ditemani oleh Adi.


"Nak Rendra, meski Dita sekarang sudah menjadi tanggung jawab Nak Rendra, tetapi ayah akan tetap melaksanakan kewajiban sebagai orang tua untuk membiayai kuliah Dita sampai selesai." Ujar Pak Wijaya.


"Dengan tidak mengurangi rasa hormat, saya Insya Allah sanggup untuk membiayai kuliah Dita sampai selesai." Tolak Rendra dengan sopan.


"Jangan Rend, kamu masih kuliah dan biaya kuliah juga tidak sedikit lebih baik uangmu ditabung untuk mengembangkan kafe. Biar kami yang membiayai kuliah Dita sampai dia lulus sarjana."


"Tapi Yah, Mas, lalu bagaimana tanggung jawab saya sebagai suami untuk memberi nafkah?"


"Nak Rendra bisa memberi nafkah untuk keseharian Dita. Ayah tahu Nak Rendra mampu tetapi lebih baik uangnya disimpan untuk masa depan kalian. Ayah mohon Nak, biarkan ayah menyelesaikan kewajiban menyekolahkan Dita sampai sarjana." Pinta Pak Wijaya dengan tatapan memohon.


Rendra pun tak kuasa menolak keinginan Pak Wijaya meski hatinya menentang. "Baiklah, kalau Ayah dan Mas Adi memaksa."


Pembicaraan mereka berlangsung sampai tiba waktu Magrib. Selesai Magrib mereka makan malam bersama. Adi, Rendra dan Dita baru kembali ke kota setelah Isya.


"Rend, kamu ya yang nyetir." Adi memberikan kunci mobil pada Rendra setelah mereka bertiga berpamitan pada Pak Wijaya dan Bu Hasna.


"Siap, Mas." Rendra membuka kunci mobil lalu duduk di kursi pengemudi. Adi duduk di samping Rendra sementara Dita duduk sendiri di kursi tengah.


Rendra melajukan mobil keluar dari halaman rumah Pak Wijaya. Sepanjang perjalanan mereka mengobrol ringan. Rendra menghentikan mobilnya di gerai ATM.


"Sebentar ya, mau ambil uang dulu." Kata Rendra sebelum keluar mobil. Setelah menarik uang dari ATM, Rendra kembali ke mobil lalu melajukan kembali menuju rumah.


"Langsung dimasukkan ke garasi saja, aku bukakan pintunya dulu." Ucap Adi begitu mereka sampai di depan rumahnya.


"Iya Mas."


Dita ikut turun bersama Adi, lalu masuk ke dalam rumah lewat garasi.


Usai memasukkan mobil ke garasi, Rendra mau pamit pulang tetapi ditahan Adi.


"Enggak nginep sini?" Tanya Adi.


"Enggak Mas, belum pamit mama juga." Jawab Rendra.


"Ini ya kunci cadangan pintu depan, kalau sewaktu-waktu kamu mau ke sini tapi aku belum pulang atau Dita lagi ngambek, kamu bisa langsung masuk."


"Iya, makasih Mas." Rendra menerima kunci dari Adi lalu memasukkan ke saku celananya.


"Dek, Rendra mau pulang ini."


Dita keluar dari kamarnya menemui Rendra, Adi lalu meninggalkan mereka berdua.


"Jangan lupa nanti pintunya dikunci," pesan Adi sebelum beranjak pergi.


"Iya Mas."


"Aku pulang dulu, habis ini kamu langsung istirahat jangan mainan hp. Besok kita berangkat kuliah bareng, aku jemput jam 7." Tutur Rendra lembut.


"Iya," Dita lalu mencium punggung tangan Rendra yang dibalas Rendra dengan mencium kening Dita.


"Aku pulang, assalamu'alaikum," Rendra membuka pintu rumah lalu melangkah ke luar.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam," Dita menutup pintu lalu menguncinya.


__ADS_2