Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
30


__ADS_3

Rendra dan Dita menikmati makanan mereka dalam diam, tetapi sesekali Rendra mencuri pandang pada Dita yang sedang makan sambil mengamati suasana sekitar. Rendra menyelesaikan makannya lebih dahulu, setelah minum dan menempatkan piringnya ke pinggir, dia memandangi Dita yang masih belum selesai makan.


Merasa ada yang terus melihatnya membuat Dita menjadi salah tingkah sendiri.


“Apa ada yang salah dengan cara makanku atau ada nasi di wajahku?” Dita memberanikan diri bertanya meski dia merasa gugup.


“Enggak ada kok.” Rendra menjawab sambil mengulum senyum.


“Terus kenapa ngeliatin aku terus?”


“Apa aku enggak boleh memandangimu?”


“Eh ... enggak ... bukan begitu.” Dita menjadi salah tingkah.


Rendra tersenyum simpul melihat Dita yang salah tingkah, dia lalu mengalihkan pandangannya ke luar kedai melihat lalu lalang kendaraan yang lewat. Bosan dengan hal itu, dia lalu membuka ransel dan mengeluarkan notebook-nya. Setelah menyalakan notebook dia melipatnya 360 derajat, lalu mengambil stylus pen dan mulai menggoreskannya di layar.


Rendra tampak serius dengan yang dia lakukan, sesekali dia melihat Dita yang masih asyik makan sambil terus melakukan sesuatu di layar notebook-nya.


"Kenapa dia kelihatan keren kalau sedang serius begitu?" Dita menepis pikirannya yang mulai memuji pria yang duduk di depannya itu.


Tak lama kemudian Dita sudah menyelesaikan makannya, dia lalu menyesap jeruk panas yang tadi dipesannya. Setelah itu Dita mulai memerhatikan Rendra yang masih serius mengerjakan sesuatu di notebook-nya. Saat Rendra mendongak, tanpa sengaja mereka bertatapan. Dita yang jadi salah tingkah langsung mengalihkan pandangannya sementara Rendra tetap menatapnya sambil tersenyum manis.


"Sudah selesai makannya?" Tanya Rendra memecah kesunyian.


"I ... iya sudah. Sedang mengerjakan tugas ya? Kayanya serius banget."


"Bukan tugas, iseng aja bikin sketsa sambil nunggu kamu makan. Habisnya enggak boleh ngelihatin kamu."


"Eh ... sketsa apa? Apa aku boleh lihat?" Tanya Dita mengalihkan pembicaraan untuk menghilangkan rasa gugupnya karena kalimat terakhir Rendra.


"Boleh, tunggu sebentar, sedikit lagi selesai." Jawab Rendra seraya tetap menggoreskan stylus pen di layar notebook.


Sambil menunggu Rendra selesai, Dita mengambil gawainya dan mengecek pesan yang masuk. Dia menggulirkan layar gawainya mencari kalau ada pesan penting terutama dari bunda atau Mas Adi tetapi ternyata tidak ada. Lalu dia memasukkan lagi gawainya dan mulai memerhatikan Rendra lagi.


"Nah, udah selesai sketsa kasarnya." Ucap Rendra, lalu dia menunjukkan layar notebook pada Dita.

__ADS_1


Dita terhenyak melihat gambar sketsa itu. Meski masih belum selesai tapi dia tahu kalau sosok yang Rendra gambar itu dirinya.


"Ini ... ini ... aku?" Tanya Dita memastikan.


Rendra menganggukan kepalanya. "Masih belum jadi, masih jelek, besok kalau sudah jadi aku kirim ya ke kamu."


"Eh ... ini biarpun masih sketsa kasar tapi bagus, bagus banget malahan. Makasih ya." Ucap Dita tulus karena mengagumi karya Rendra.


"Kamu suka menggambar ya?" Tanya Dita antusias.


"Cuma suka iseng corat coret aja." Jawab Rendra merendah.


"Iseng tapi bagus hasilnya. Wah kapan-kapan bisa minta diajarin gambar nih kalau ada tugas bikin sketsa." Sahut Dita.


"Boleh dan bisa banget kalau buat kamu. Anything for you." Rendra kembali tersenyum manis.


"Alamak ... apa-apaan ini orang pakai omongan dan senyum manis kaya gitu. Dita keep focus."


"Ini kalau sudah jadi mau dicetak atau dikirim aja gambarnya?" Tanya Rendra yang membuyarkan lamunan Dita.


"Kirim aja, biar nanti aku cetak sendiri." Jawab Dita.


Dita menerima gawai Rendra, kemudian dia mencari aplikasi Line, setelah ketemu dia mengetik line id-nya lalu menambahkan sebagai teman. Sesudah itu dia mengetikkan nomor WA-nya lalu menyerahkan kembali gawai itu pada pemiliknya.


"Kenapa tidak disimpan sekalian nomornya?" Protes Rendra begitu menerima gawainya.


"Aku kan enggak tahu mau disimpan pakai nama apa." Dita beralasan.


"Kamu maunya disimpan pakai nama apa?" Rendra mengerling padanya sambil tersenyum miring.


"Terserah."


"Ya udah aku simpan ya pakai nama My lovely neighbour." Rendra lalu menekan tombol simpan di gawainya.


"Eh ... enggak salah itu namanya. Namaku kan Dita, Anindita ... disimpan kaya gitu aja deh." Protes Dita.

__ADS_1


Tapi Rendra tak menghiraukan Dita, dia lalu menyimpan kembali gawainya di saku dalam jaket.


"Kita pulang sekarang ya, sudah setengah 8 malam. Kamu kan harus beristirahat setelah seharian di kampus" Ucap Rendra kemudian sambil mematikan notebook-nya. Tak terasa sudah pukul 19.30 WIB saat tadi dia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Oke," Dita juga mulai memasukkan barangnya ke dalam ransel.


"Aku bayar ke dalam dulu, tunggu sebentar." Rendra mencangklong ranselnya lalu masuk ke kedai.


Dita menunggu Rendra di meja mereka, dia juga sudah menggendong ransel siap untuk pulang. Tak lama Rendra keluar dan menghampiri Dita.


"Ayo pulang." Rendra berjalan menuju ke motornya yang terparkir dan Dita mengikuti di belakangnya.


Rendra menyerahkan helm pada Dita lalu memakai helmnya sendiri. Saat dia melihat Dita kesulitan mengancingkan helm, tangannya refleks membantu hingga tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan. "Maaf," ucapnya.


"Mau ke arah mana, Mas?" Tanya tukang parkir yang menggeser motor lain di samping motornya agar dia lebih mudah mengambil motornya.


"Timur, Pak." Jawab Rendra sambil menyerahkan uang sepuluh ribu pada tukang parkir itu. "Kembaliannya disimpan saja Pak," lanjutnya.


"Maturnuwun loh Mas, mugi-mugi tansah diparingi lancar rezeki, langgeng kaleh mbak e (Terima kasih Mas, semoga selalu lancar rezekinya, awet sama mbaknya)." Ucap tukang parkir itu.


"Aamiin." Ucap Rendra dan Dita bersamaan.


Setelah mereka berdua naik ke atas motor, Rendra melajukan kendaraannya menyusuri jalanan menuju ke rumah. Tak ada pembicaraan selama dalam perjalanan, mereka asyik dengan pikirannya masing-masing.


Malam ini Rendra mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, dan Dita diam saja tidak protes seperti sebelumnya yang meminta dipercepat agar cepat sampai di rumah. Apakah Dita takut dia mengebut lagi? Atau Dita sudah mulai nyaman dengannya?


Sepuluh menit kemudian mereka tiba di depan rumah Dita. Di dalam rumah masih gelap berarti Adi belum pulang, hanya lampu di depan rumah dan teras yang menyala karena dipasangi sensor otomatis yang akan menyala saat hari mulai gelap.


Dita lalu turun dari atas motor diikuti oleh Rendra yang sebelumnya mematikan mesin motornya.


"Terima kasih traktiran dan tebengannya." Ucap Dita setelah turun dari motor.


"My pleasure." Balas Rendra dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya hari ini.


Tanpa diminta Rendra lalu melepas pengait helm Dita, lalu melepaskan helmnya. "Masuklah."

__ADS_1


Dita menganggukan kepala. "Makasih," ucapnya kemudian berlari kecil menuju pintu.


Rendra masih berdiri di samping motornya sambil menunggu Dita masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. Setelah memastikan Dita sudah di dalam rumah, dia memutar motor lalu menuntun motor ke rumahnya.


__ADS_2