
“Sayang, bangun salat Subuh dulu.” Rendra mencium kening Dita yang masih tertidur pulas.
Dita pelan-pelan membuka matanya. “Jam berapa, Mas?”
“Jam 5,” Rendra membelai rambut Dita.
Dita langsung membelalakkan mata dan bangun dari tidurnya. “Kok enggak bangunin aku dari tadi sih, Mas.”
“Habis kamu kayanya kecapekan dan nyenyak banget tidurnya. Semalam aja aku tinggal terima telepon dari mama sebentar, kamu ternyata udah ketiduran. Aku enggak tega bangunin, Sayang.”
“Maaf, Mas.” Ucap Dita malu-malu karena ingat apa yang mereka lakukan semalam.
Rendra tersenyum sambil membelai kepala Dita. “Sudah sana bangun, keburu Subuh-nya habis.”
Dita turun dari ranjang dan langsung berjalan menuju pintu.
“Sayang, pakai dulu hijabnya. Di luar banyak orang.” Rendra menyerahkan hijab yang dipakai Dita semalam.
“Eh, iya lupa. Makasih, Mas.” Dita berjinjit lalu mencium pipi Rendra, setelah itu dia segera keluar dari kamar.
Rendra tersenyum, lalu memegang pipinya. Semakin lama Dita semakin ekspresif, dan dia menyukainya. Dia melepas baju koko dan sarungnya dan berganti dengan baju rumahan, lalu merapikan tempat tidur mereka. Dia singkirkan kelopak-kelopaknmawar yang ada di atas kasur. Kemudian mengambil sapu dan serokan untuk membersihkan kamar Dita.
Pukul 07.00 pagi, Dita dengan diantar Rendra pergi ke rumah saudara yang rumahnya berseberangan dengan rumah Pak Wijaya. Di sana Dita akan dirias untuk acara resepsi siang nanti. Selain keluarga inti Rendra dan Dita, para penjaga buku tamu dan among tamu juga ikut dirias di sana.
Pukul 10.30, acara resepsi akan dimulai. Dita dan Rendra berjalan berdampingan. Dita merangkul lengan kanan Rendra saat memasuki halaman rumah Pak Wijaya, tempat resepsi pernikahan mereka. Setelah mereka duduk di pelaminan dengan kedua orang tua mereka, pembawa acara memulai acara resepsi.
Acara dimulai dengan pembukaan, lalu pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Kemudian sambutan selamat datang dari pihak keluarga untuk para tamu undangan. Setelah itu para tamu dipersilakan untuk memberi selamat kepada kedua mempelai dan menikmati hidangan yang telah disediakan.
Kebanyakan tamu yang datang adalah teman-teman dan kenalan Pak Wijaya dan Bu Hasna. Dita tidak banyak mengundang teman sekolahnya, hanya beberapa yang dekat saja. Selain itu tamunya kerabat dekat dan jauh serta para tetangga.
“Sayang, buat apa dia datang?” Bisik Rendra sembari menunjuk seseorang dengan dagunya.
“Siapa sih, Mas?” Tanya Dita penasaran sambil berbisik.
“Itu si Reza.” Jawab Rendra.
“Oh ....”
“Kok oh sih, kamu ya yang ngundang dia?” Rendra melirik Dita dengan pandangan kesal.
“Enggak, Mas. Mungkin ayah atau Mas Adi. Mereka kan kenal baik juga.”
“Kamu enggak usah senyum-senyum sama dia. Jangan juga bersalaman, cukup menangkupkan tangan di depan dada.” Perintah Rendra dengan raut wajah kesal.
“Iya Mas, tapi enggak mungkin kalau aku enggak senyum. Mas tahu kan senyum itu sedekah.”
“Tapi dia enggak butuh sedekahmu, Sayang.”
Dita tertawa geli, sampai membuatnya menutup mulut.
__ADS_1
“Kenapa ketawa? Apa yang lucu?”
“Mas, yang lucu.” Dita masih berusaha menahan tawanya.
“Ketawa lagi aku langsung cium bibir kamu di depan semua orang.”
Dita langsung merapatkan bibirnya, berusaha untuk tidak tertawa. Jangan pernah main-main sama ancaman Rendra, kalau tetap nekat dia tidak akan segan-segan melakukannya.
Reza mulai menyalami kedua orang tua Dita, mereka terlihat mengobrol dengan akrab. Setelah itu, dia mulai mendekat ke arah Rendra dan Dita. Rendra sama sekali tidak menunjukkan sikap yang ramah, dia menatap dingin dan tajam. Begitu pun Reza melakukan hal yang sama, bahkan seolah-olah Rendra tidak ada di samping Dita. Mereka berdua sama sekali tidak bersalaman, hanya saling menatap tajam.
Begitu berdiri di depan Dita, Reza tersenyum sangat manis. Dia mengulurkan tangan untuk bersalaman, tetapi Dita hanya menangkupkan kedua tangan di depan dada. Kemudian Rendra merangkul pinggang Dita dengan posesif.
“Terima kasih Mas Reza sudah datang,” ucap Dita sebagai tanda sopan santun.
“Iya,” Reza tersenyum kecut begitu Dita tidak mau bersalaman dengannya. Dia melirik Rendra yang tersenyum mengejek padanya. Lalu dia melangkah kembali meninggalkan pelaminan dengan perasaan kesal.
Rendra tersenyum penuh kemenangan meski hatinya merasa panas.
“I love you, My Lovely Wife. Kamu memang istri yang salihah dan menurut pada suami.” Bisik Rendra sambil mencuri ciuman di pipi Dita.
“Mas, ih. Malu dilihat banyak orang.” Dita memukul pelan lengan Rendra dengan wajah tersipu.
Beberapa tamu yang melihat hal itu menyoraki mereka. Rendra malah tertawa mendapat sorakan, sementara wajah Dita jadi memerah karena malu. Rendra malah semakin menunjukkan kemesraan di depan semua orang.
Saat sedang menyalami para tamu, tiba-tiba terdengar suara seorang pria menyanyikan sebuah lagu yang cukup mengejutkan semua orang.
...Ku tak bahagia melihat kau bahagia dengannya...
...Aku terluka tak bisa dapatkan kau sepenuhnya...
...Aku terluka melihat kau bermesraan dengannya...
...Harusnya aku yang di sana, dampingimu dan bukan dia...
...Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia...
...Harusnya kau tahu bahwa cintaku lebih darinya...
...Harusnya yang kau pilih bukan dia...
“Siapa sih yang nyanyi lagu ini? Masa homeband nyanyi lagu kaya gini?” Tanya Rendra pada Dita saat mereka duduk karena tidak ada tamu yang akan memberi selamat pada mereka.
“Aku juga enggak tahu, Mas.” Dita mencoba mencari tahu sosok yang sedang menyanyi.
“Shit!!!!” Maki Rendra setelah tahu siapa yang menyanyi.
“Astaghfirulah, kok kasar gitu ngomongnya Mas?” Dita mengernyit tidak suka dengan makian Rendra.
“Lihat itu siapa yang sedang memegang mikrofon?” Rendra menatap ke satu arah dengan wajah mengeras menahan amarah.
__ADS_1
Dita mengikuti arah pandang Rendra, dia terkesiap ternyata Reza yang menyanyi sambil terus memandang ke arahnya. Dita lalu menunjukkan tatapan tidak suka dan kecewa pada Reza.
...Ku tak bahagia melihat kau bahagia dengannya...
...Aku terluka tak bisa dapatkan kau sepenuhnya...
...Aku terluka melihat kau bermesraan dengannya...
Rendra mengepalkan kedua tangannya dengan kencang. Dia berusaha menahan amarahnya. Reza benar-benar membuatnya nyaris kehilangan kesabaran. Kalau dia tidak ingat ini resepsi pernikahannya dan harus menjaga nama baik mertuanya, pasti dia akan langsung menghampiri Reza dan membuat perhitungan dengannya.
...Harusnya aku yang di sana, dampingimu dan bukan dia...
...Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia...
...Harusnya kau tahu bahwa cintaku lebih darinya...
...Harusnya yang kau pilih bukan dia...
Dita berusaha memenangkan Rendra. Dia tahu suaminya pasti sedang menahan amarah karena wajahnya memerah. Dita duduk menghadap Rendra dan mengelus dada suaminya berulang kali.
"Mas, sini lihat aku." Dita menangkup wajah Rendra agar menghadapnya. Meski awalnya Rendra menolak, tetapi setelah Dita memberanikan diri mencium pipinya, Rendra langsung menolehkan wajah. Mereka saling bertatapan.
"Mas, jangan dengarkan yang orang lain katakan. Aku bahagia hidup sama, Mas. Aku suka semua yang ada pada diri, Mas. Aku suka cara Mas mencintaiku. Aku cinta sama Mas Rendra. Mas, percaya kan sama aku?"
Rendra tersenyum, wajahnya sudah tidak sekaku tadi. Dia menangkup wajah Dita lalu mencium keningnya. "You're mine and always be mine."
...Ooooh harusnya aku yang di sana, dampingimu dan bukan dia...
...Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia...
...Harusnya kau tahu bahwa cintaku lebih darinya...
...Harusnya yang kau pilih bukan dia...
...(Harusnya Aku – Armada)...
Reza tersenyum kecut melihat kemesraan yang ditampakkan Dita. Dia seperti mendapat pukulan telak hingga tak bisa membalas. Dia tahu Dita kecewa dengan tindakannya, tapi mau bagaimana lagi. Dia pikir harus mengungkapkan perasaannya yang sudah dia pendam selama ini. Setelah menyelesaikan nyanyiannya, Reza segera meninggalkan rumah Dita dengan hati yang hancur.
Dita menghela napas lega begitu Reza sudah pergi. Dia sekarang merasa lebih tenang karena emosi Rendra sudah tidak setinggi tadi.
Malam harinya, mereka mengundang para panitia pernikahan dalam acara pembubaran panitia. Selain untuk membubarkan panitia, acara ini juga bermaksud untuk melakukan evaluasi jalannya acara pernikahan. Pak Wijaya mewakili semua keluarga berterimakasih atas bantuan para panitia. Mereka juga saling meminta maaf bila ada kesalahan selama persiapan sampai berjalannya acara pernikahan.
Dalam acara itu disajikan jenang atau bubur sumsum yang terbuat dari tepung beras yang dimasak dengan santan serta tambahan lainnya. Rasanya gurih, teksturnya lembek. Biasanya disajikan dengan juruh atau kuah dari gula jawa yang manis.
Konon, setelah memakan bubur sumsum bisa menghilangkan semua rasa lelah sehabis terlibat dalam acara pernikahan.
Selesai acara, Rendra dan Dita lalu masuk ke kamar. Mereka berdua merasa lelah, dan besok siang mereka masih harus menjalani resepsi pernikahan lagi. Jadi, malam ini mereka memutuskan untuk segera tidur karena besok setelah Subuh akan langsung menuju rumah Rendra, sebelum ke gedung tempat resepsi.
Jogja, 110321 23.35
__ADS_1