Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
33


__ADS_3

“Dek, malam ini kita nongkrong di kafe yuk,” ajak Adi yang hari Sabtu ini bisa pulang tepat waktu jadi bisa mengajak Dita pergi keluar.


“Tumben ngajak nongkrong, memang kafenya di mana, Mas?”


Adi menyebutkan nama dan alamat kafenya.


“Kayanya baru dengar, tumben Mas tahu tempat anak muda nongkrong.” Ejek Dita.


“Mas kan juga masih muda, Dek. Mau ya?”


“Memang kafenya bagus, Mas?” Tanya Dita penasaran.


“Mas juga belum pernah ke sana, itu kafe punya kenalan mas.” Jawab Adi.


“Oke ... oke.” Dita menganggukkan kepala.


“Tapi kayanya di sana enggak ada makanan berat cuma roti bakar gitu, enggak apa-apa kan Dek?”


“Aku juga enggak terlalu lapar kok Mas, tadi makan siangnya sudah agak sore.”


“Sip deh, kalau gitu nanti habis Isya kita ke sana ya. Nanti Mas ke masjid, Adek salat Isya juga di rumah lalu siap-siap.”


“Siap, Bos.” Dita memberi hormat pada Adi.


Begitu azan Isya berkumandang Adi langsung berangkat ke masjid, sementara Dita langsung mengambil wudu lalu salat Isya di rumah. Selesai salat dan berdoa, Dita pergi ke kamar untuk berganti baju dan bersiap sambil menunggu kepulangan Adi dari masjid.


Setelah Adi dan Dita selesai bersiap, mereka keluar rumah. Adi mengunci pintu rumah sebelum masuk ke mobil sementara Dita sudah lebih dulu masuk ke mobil.


“Jangan lupa sabuk pengamannya, Dek,” Adi mengingatkan Dita sebelum menjalankan mobilnya.


“Oh iya,” Dita lalu memasang sabuk pengamannya. “Let’s go!”


Adi mulai melajukan mobilnya keluar dari cluster perumahannya lalu menyusuri jalanan Jogja yang cukup padat setiap Sabtu malam. Baru sekitar 30 menit kemudian mereka tiba di depan sebuah kafe karena padatnya jalanan. Lalu Adi memarkirkan mobil di depan kafe di sisi kiri jalan.


Dita melepas sabuk pengamannya, lalu membuka pintu mobil. Dia keluar mengamati keadaan kafe, di depan ada neon box bulat bertuliskan Osu Cafe. "Apa pemiliknya seorang karateka ya?"


Kafe itu tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil, di bagian depan ada beberapa meja bulat dan bangku panjang, juga beberapa kursi. Area depan dipakai untuk mereka yang merokok karena di area dalam pastinya area bebas rokok.


Dita mengikuti langkah Adi yang berjalan masuk ke dalam kafe. Dia terpukau dengan dekorasi dan suasana kafe, banyak pernak pernik dan juga gambar-gambar yang berkaitan dengan karate di sana. "Unik juga konsepnya."


"Dek, sini." Panggil Adi yang membuatnya tersadar karena sibuk melihat-lihat dekorasi kafe. Dia lalu berjalan menghampiri Adi yang sudah duduk di salah satu sudut kafe. Di malam Minggu seperti ini pasti suasana ramai, untung saja mereka masih mendapatkan tempat duduk.


"Mau pesan apa?" Tanya Adi sambil menyerahkan lembar menu pada Dita.


Dita melihat-lihat menu yang ada di sana, banyak variasi minuman kopi dan juga susu serta beberapa kudapan. "Aku hot green matcha latte, garlic bread sama kacang mete ya Mas."


"Oke," Adi lalu berjalan ke meja kasir untuk memesan.


Dita mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kafe, tiba-tiba dia melihat seseorang yang cukup dia kenal berdiri di area barista, sedang meracik minuman. Tanpa disengaja pria itu pun melihat ke arahnya, membuat mereka sejenak bertatapan.


Deg ... deg ... deg ....


Dita buru-buru mengalihkan pandangan matanya ke arah luar kafe, memutus kontak mata mereka. Jantungnya kembali berdetak kencang saat ini. "Kenapa dia ada di sini?"


Adi kembali duduk di depan Dita setelah memesan dan membayar pesanannya.


"Mas, ini kafe punya siapa sebenarnya?" Tanya Dita sedikit sewot.


"Kenalan mas, nanti mas kenalin sama dia." Jawab Adi santai.

__ADS_1


"Benar kenalannya, Mas?"


Adi menganggukkan kepala. "Memangnya kenapa, Dek?"


"Enggak apa-apa, penasaran aja."


"Beneran enggak ada apa-apa?" Tanya Adi dengan nada menggoda.


"Mulai deh ... nyebelin Mas ih." Dita mengerucutkan bibirnya kesal.


"Adek kok sekarang jadi ambekan sih. Kenapa?"


"Biasa aja, perasaan Mas aja kayanya."


"Ya udah deh kalau enggak mau ngaku."


"Mas Adi akhirnya sampai sini juga. Maaf tadi enggak tahu pas masuk." Sapa sesosok pria yang tiba-tiba berdiri di samping meja mereka sambil tersenyum ramah.


"Santai aja Rend, kamu juga lagi sibuk tadi."


Rendra malam itu mengenakan kaos oblong hitam yang dilapisi apron barista berwarna cokelat tua yang bertuliskan Osu Cafe.


"Sudah pesan tadi, Mas?" Tanya Rendra.


"Sudah."


"Oke, segera aku buatkan, Mas." Rendra lalu menoleh pada Dita. "Hai Dita, gimana tugas sketsanya, udah beres?"


"Su ... sudah, tinggal dikumpulkan saja."


"Syukurlah kalau begitu, aku ke sana dulu ya." Rendra menunjuk ke area barista.


"I ... iya."


"Itu tadi kenalan mas yang punya kafe." Ucap Adi yang membuat Dita melebarkan matanya.


"Dia ... yang punya ... kafe ini?" Tanya Dita tak percaya.


"Iya, keren ya Dek, masih muda sudah punya usaha sendiri." Puji Adi sambil melirik Dita.


"Iya ... aku kira tadi dia bekerja sebagai barista di sini." Gumam Dita.


"Kalau tiap akhir pekan dia memang sering turun tangan sendiri, Dek. Makanya mas ngajak Adek ke sini hari Sabtu biar bisa lihat aksinya jadi barista."


"Kok Mas tahu banyak soal ini?" Kening Dita berkerut karena penasaran.


"Pas dia ke rumah tempo hari kan dia cerita semuanya, Dek."


"Oh ...." Dita melayangkan pandangan ke area barista untuk melihat aksi Rendra. Meski bukan aksi akrobatik tetapi aksi dalam meracik kopi. Karena meracik kopi yang benar itu tidak sembarangan, ada ilmu dan tekniknya.


"Rendra itu sudah punya sertifikat profesi barista loh, Dek. Jadi kamu bisa belajar sama dia gimana bikin kopi yang benar." Ujar Adi.


Dita mengalihkan pandangan pada Adi, "maksud Mas, apa aku disuruh belajar bikin kopi?"


"Ya biar enggak bikin kopi instan terus, Dek. Enggak bagus buat lambung. Makanya Adek belajar bikin kopi sama ahlinya."


Dita mencibir Adi, entah mengapa dia merasa kakaknya itu seperti sedang mempromosikan Rendra padanya.


"Ini hot espresso untuk Mas Adi, ini hot green matcha latte untuk Dita." Rendra meletakkan satu cangkir kopi di depan Adi dan satu gelas di depan Dita.

__ADS_1


"Ini garlic bread, kacang mede dan roti bakar cokelat dan stroberi. Silakan dinikmati." Rendra meletakkan semua kudapan di atas meja lalu dia pergi meletakkan nampan di meja kasir, tapi kemudian kembali ke meja mereka.


"Apa boleh duduk di sini?" Tanya Rendra.


"Duduk aja Rend biar kita bisa ngobrol, tapi apa kamu enggak lagi sibuk sekarang?"


"Enggak Mas, masih bisa di-handle sama karyawan. Ini sudah melewati jam ramai Mas, paling tinggal satu dua yang pesan." Terang Rendra.


"Keren juga interior dan dekorasinya."


"Makasih Mas, ini juga dibantu teman dulu."


"Lantai atas enggak dipakai ya?"


"Belum Mas, masih mengumpulkan modal buat ngembangin."


"Oh rencana mau buat apa?"


"Mau dibuat konsep cafe, resto, bakery gitu, Mas. Biar orang selain membeli minuman juga bisa menikmati roti, kue dan makanan berat dalam satu tempat. Keluarga juga bisa makan di sini tidak hanya anak muda."


"Kebetulan kan di sebelah butik mama, jadi kadang para pelanggannya datang ke sini memesan minuman. Mereka sering mengeluh kenapa enggak ada roti atau makanan lainnya. Jadi muncul ide tadi."


"Bagus, menggaet semua kalangan usia." Adi mengacungkan jempolnya.


"Nanti minta Dita aja buat bikin desainnya, sekalian buat tugas kuliahnya." Ucap Adi sambil melirik Dita.


"Boleh juga, Mas," sahut Rendra antusias.


"Kenapa bawa-bawa aku?" protes Dita.


"Loh Dek, ini kesempatan bagus loh. Besok pasti kamu dapat tugas juga untuk membuat desain sekaligus membuatnya dalam bentuk nyata, walau mas enggak tahu itu tugas semester berapa."


"Nanti deh dipertimbangkan," ucap Dita kemudian.


"Sudah dapat jadwal UAS?" Tanya Rendra pada Dita.


"Sudah, minggu depan mulai sampai tanggal 17," jawab Dita.


"Tugas sudah beres semua apa masih ada yang belum selesai?" Tanya Rendra lagi.


"Masih satu dua yang belum selesai tugas kelompok, makanya minggu ini dikebut."


"Jadi pulang sore terus dong."


"Iya, semoga enggak perlu lembur sampai malam di kampus."


"Kalau sampai malam bilang saja, nanti aku temani."


"Hah ... eh iya, makasih tawarannya."


"Kalau ada yang bisa aku bantu jangan sungkan-sungkan ya bilang."


"Iya, makasih. Tugas sketsa hari ini terakhir, mudah-mudahan enggak disuruh ulang lagi."


"Sudah tambah bagus kok sketsamu sekarang." Puji Rendra sambil tersenyum manis.


"Ehemmm ... aku masih di sini loh." Celetuk Adi yang merasa jadi obat nyamuk karena Rendra dan Dita malah mengobrol sendiri.


"Maaf, Mas," Rendra meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Santai aja, aku cuma bercanda kok." Adi merangkul pundak Rendra sambil tertawa.


Mereka bertiga mengobrol sampai pukul 22.00 WIB hingga kafe tutup, meski sesekali Rendra meninggalkan mereka untuk membantu karyawannya membuat pesanan pelanggan.


__ADS_2