Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
99


__ADS_3

“Selamat pagi, Ibu Dita, Pak Rendra. Bagaimana kabarnya?” sapa dokter Lita dengan ramah seperti biasa.


Hari ini adalah jadwal kontrol terakhir Dita ke dokter Lita. Mereka berangkat langsung dari rumah Pak Wijaya sekalian membawa barang yang akan dibawa pulang ke rumah Ibu Dewi.


"Pagi, Dok. Alhamdulillah kabar kami baik," balas Rendra sambil tersenyum ramah.


"Alhamdulillah. Ibu Dita, bagaimana apa ada keluhan?"


"Kenapa masih kadang suka nyeri ya, Dok. Apalagi kalau banyak gerak, tertawa atau batuk."


"Coba saya periksa dulu ya, Bu. Silakan Ibu Dita berbaring dulu."


Dita lalu berbaring di atas tempat periksa. Dokter Lita melakukan beberapa pemeriksaan termasuk luka jahit operasinya.


"Sudah Bu, silakan duduk kembali." Dokter Lita kembali duduk ke kursinya begitu juga Dita.


"Bagus kok luka jahitannya. Kalau untuk nyeri itu kadang masih bisa dirasakan sampai berbulan-bulan, bahkan ada yang tahunan. Yang jelas Ibu tidak boleh melakukan aktivitas berat atau angkat barang yang berat. Di beberapa kasus ada yang kalau terlalu capek efeknya ke bagian bawah perutnya jadi tidak nyaman. Jadi, Bu Dita kalau sudah merasa capek jangan dipaksakan ya. Kalau capek langsung istirahat," nasihat dokter Lita.


"Baik, Dok. Kira-kira sampai berapa lama pemulihannya ya, Dok?"


"Sekitar 1,5 sampai 2 bulan, Bu. Tapi kembali ke kondisi masing-masing orang, karena tidak semua orang sama. Ibu tetap beraktivitas saja seperti biasa hanya porsinya dikurangi jangan yang berat."


"Berarti saya masih bisa kuliah seperti biasa ya, Dok?"


"Tentu saja bisa, Bu."


"Dok, apa kalau istri saya sudah selesai nifas boleh berhubungan?" tanya Rendra yang membuat Dita melirik padanya.


Dokter Lita tersenyum. "Tentu saja boleh, Pak. Tetapi untuk kehamilan sebaiknya ditunda dulu ya. Jarak aman sekitar 1,5 sampai 2 tahun."


"Kalau misalnya sebelum itu hamil bagaimana, Dok?"


"Tidak apa-apa, Pak. Tetapi harus terus dipantau. Ditakutkan luka yang di rahim masih belum sembuh kalau sebelum 1,5 tahun."


"Ada beberapa cara untuk mencegah kehamilan. Pertama dengan kontrasepsi seperti pil, suntik, spiral, kon dom. Bisa juga dengan menghindari berhubungan saat masa subur. Nah yang ini butuh perhitungan yang cermat. Atau bisa juga dengan seng gama putus, jadi sper ma dikeluarkan di luar. Tapi ketiga cara ini juga tidak bisa menjamin 100% berhasil. Kembali lagi kalau sudah takdir Allah memberi amanah lagi pada Bapak dan Ibu, mau dicegah dengan cara apa pun pasti tetap jadi."


"Terima kasih penjelasannya, Dok."


"Nanti setelah Ibu selesai nifas, bisa diputuskan untuk memakai cara yang mana untuk mencegah kehamilan. Saran saya, untuk kehamilan selanjutnya direncanakan dengan matang."


"Baik, Dok."


"Apa ada lagi yang mau ditanyakan?" tanya dokter Lita.


"Sepertinya tidak ada lagi, Dok," jawab Rendra.


"Baik, kalau begitu. Semoga Ibu Dita segera pulih seperti sedia kala. Kalau ada sesuatu yang terjadi, jangan sungkan untuk bertanya ya, Bu."


"Aamiin. Baik, terima kasih, Dok."


Setelah mengurus administrasi dan mengambil obat serta vitamin yang diberikan dokter Lita, mereka beranjak pergi dari RSKIA.


"Sayang, mau langsung pulang atau mau ke mana dulu?" tanya Rendra saat mereka mulai meninggalkan area rumah sakit.


"Langsung pulang aja, Mas. Tadi Mas sudah bilang sama mama belum kalau kita mau pulang," jawab Dita.


"Sudah dong, Sayang. Mama katanya sudah masak juga makanan kesukaanku." Rendra tersenyum membayangkan cumi asam manis dan capcai yang dimasak mamanya.


Dita tersenyum. "Mama pasti bahagia, putra kesayangannya akhirnya pulang."


"Terima kasih, Sayang." Tiba-tiba Rendra meraih tangan Dita lalu menciumnya.


"Untuk?" tanya Dita penasaran.


"Untuk semuanya," jawab Rendra seraya mengerling ke arahnya.

__ADS_1


"Aku tuh enggak pernah kasih apa-apa sama Mas. Justru Mas, yang selalu memberiku segalanya."


"No, you give me everything, My Love. Maybe you don't know that everything you did, it really meant to me. Don't say again, that you never give me anything. You gave me your love, support and your life to me," ungkap Rendra saat mereka berhenti di lampu merah. Dia kembali mengecup punggung tangan Dita.


(Enggak, kamu sudah memberiku segalanya, Cintaku. Mungkin kamu tidak tahu, kalau semua yang kamu lakukan itu benar-benar berarti untukku. Jangan lagi bilang kalau kamu tidak pernah memberiku apa-apa. Kamu memberiku cintamu, dukungan dan hidupmu padaku.)


Dita tersenyum dan merasa terharu dengan kata-kata suaminya. "I love you, Mas."


"I love you more, My Love."


Mereka saling bertatapan mesra dan baru memutus kontak mata saat mobil di belakang mereka membunyikan klakson berkali-kali karena traffic light sudah berwarna hijau.


...---oOo---...


"Lho Mas katanya mau menapak tilas kok bawanya mobil, enggak motor?" tanya Dita saat mereka akan pergi ke Alun-alun kidul.


"Enggak, kamu kan masih belum pulih. Nanti kena goncangan kalau pake motor," jawab Rendra sambil memasang sabuk pengaman Dita.


"Cih, ya ini namanya enggak menapak tilas Mas," cibir Dita.


"Yang penting kita sampai di alkid, Sayang. Ke sananya pakai apa enggak masalah."


"Iya deh, terserah Mas saja. Aku ikut."


"Kita berdoa dulu ya sebelum berangkat."


“Bismillaahi, tawakkaltu ‘alallaahi laa haula wa laa quwwata illaa billaah.”


(Dengan menyebut nama Allah, aku menyerahkan diriku kepada Allah dan tidak ada daya dan kekuatan selain Allah.)


“Subhaanalladzii sakhkhara lanaa hadzaa wamaa kunnaa lahuu muqriniin, wa innaa ilaa rabbinaa lamunqolibuun.”


(Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami (di hari kiamat).)


"Aamiin. Ayo berangkat." Rendra melajukan mobil meninggalkan cluster rumahnya menuju ke alkid.


"Penting lah, kenapa? Sayang, enggak suka?"


"Enggak, bukan begitu. Aku pergi ke mana pun asal sama Mas suka kok. Cuma kan aku memang bukan tipe yang suka merayakan sesuatu. Bahkan ulang tahunku saja, aku tidak pernah merayakan sendiri. Selalu teman-teman yang kasih kejutan dan juga Mas."


"Jangan-jangan, kamu lupa ya kapan aku melamar sekaligus menikahimu, Sayang?"


"Aku ingat kalau itu, Mas."


"Serius? Coba tanggal berapa?" tantang Rendra.


"Enggak percaya banget sih sama aku. Tiga Februari kan, Mas."


"Pinter deh, Istriku. Kalau pernikahan resmi kita kapan hayo?"


"Mau ngetes daya ingatku ini?" Dita melirik kesal pada Rendra.


"Kan aku tanya, Sayang. Masa hari bersejarah kita bisa kamu lupakan."


"Tujuh Juni, udah puas Mas."


"Nah dua tanggal itu jangan dilupakan. By the way, Sayang. Ingat enggak ada yang mau ulang tahun besok lusa?"


"Siapa Mas?" tanya Dita dengan kening berkerut.


"Cari tahu aja sendiri," jawab Rendra sedikit kesal.


"Mas, kenapa sih jadi gitu nada suaranya? Males ah kita pulang aja."


"Enggak, kita lanjut ke alkid. Aku udah pernah janji dulu ngajak kamu ke alkid lagi. Katanya mau naik sepeda yang ada lampu-lampunya itu. Eh, tapi enggak boleh kalau sekarang. Berat itu ngayuhnya. Nanti kamu masangin aja, katanya penasaran ingin coba."

__ADS_1


"Emang iya Mas pernah janji? Kok aku enggak ingat?"


"Astaghfirullah, Sayang. Benar-benar bikin gemas kamu ini. Terus apa yang kamu ingat saat ke alkid dulu?"


"Minum wedang ronde, sama Mas nembak aku."


"Kata-kataku yang lain, kamu enggak ingat?"


"Enggak, hehe. Maaf, Mas," ucap Dita sambil meringis.


Rendra menggelengkan kepala tak percaya. Istrinya memang sama sekali buka tipe romantis yang suka mengingat hal-hal kecil di antara mereka.


Akhirnya mereka sampai di alkid. Rendra mencari tempat parkir mobil yang masih kosong. Suasana di alkid selalu ramai setiap malam. Menjadi salah satu tempat alternatif nongkrong anak muda atau wisatawan dari luar kota.


"Kita mau ke mana dulu?" Rendra menutup pintu penumpang setelah membantu Dita turun dari mobil.


"Terserah, Mas."


Rendra menggandeng Dita menyeberang jalan menuju alun-alun. Mereka harus hati-hati menyeberang karena lalu lalang kendaraan yang cukup ramai.


"Gimana kalau coba masangin dulu? Setelah itu kita minum bajigur atau wedang ronde?" usul Rendra.


"Boleh," Dita menyetujui usul suaminya.


Mereka menuju ke tengah alun-alun di mana dua pohon beringin kembar berada. Di sana sudah banyak orang yang mencoba melakukan masangin.


Masangin adalah ritual mitos, bagi siapa saja yang berhasil berjalan di antara dua beringin dengan mata tertutup, maka konon keinginan dan hajatnya akan terkabul. Hal ini menjadi salah satu daya tarik orang datang ke Alkid karena adanya mitos dua beringin kembar yang ada di sana.


Rendra dan Dita sebenarnya tidak mempercayai mitos tersebut. Mereka melakukannya hanya untuk seru-seruan sekaligus menuntaskan rasa penasaran apakah mereka akan berhasil melewati pohon beringin kembar atau tidak. Karena banyak orang yang gagal melewatinya.


"Aku atau kamu dulu, Sayang?" tanya Rendra.


"Mas aja dulu," jawab Dita.


"Kamu tunggu aku di sana ya." Rendra menunjuk ke tengah pohon beringin.


"Enggak mau, aku ngikutin Mas aja dari belakang."


"Oke, nanti kasih tahu kalau aku sudah bisa melewati pohon beringin itu," kata Rendra penuh percaya diri.


Rendra mulai menutup mata. Dia berjalan pelan ke arah dua pohon beringin. Tetapi langkahnya ternyata serong ke sebelah kanan. Bukannya menuju ke tengah pohon beringin, tetapi semakin menjauh.


Dita tertawa kecil dan membiarkan suaminya salah arah. Meski begitu dia tetap mengawasi ke mana suaminya melangkah. Setelah beberapa saat, dia akhirnya memanggil Rendra.


"Mas Rendra, sudah, berhenti! Sekarang buka matanya," titah Dita sambil menahan tawa.


Rendra membuka matanya yang disambut dengan tawa Dita.


"Untung aku ikutin Mas dari belakang, enggak nunggu di tengah sana. Bisa enggak ketemu nanti, Mas," ledek Dita.


"Bahagia ya kalau suaminya salah gini hummm." Rendra mencubit pipi Dita dengan gemas.


"Habis Mas pede (percaya diri) banget sih bisa lewat sana. Ingat Mas, jangan takabur."


"Astaghfirullah, makasih Sayang sudah ingatkan aku." Rendra hendak mencium kening Dita tapi dia berhasil mengelak.


"Mas, ini di tempat umum. Enggak boleh cium-cium," bisik Dita.


"Oh, oke. Maaf, aku lupa."


"Ya udah, Mas mau coba lagi apa udah nyerah?"


"Coba lagi dong. Oshishinobu (mendorong diri sampai batas akhir kemampuan)." Rendra bertekad kuat kali ini. Dia mencoba lebih konsentrasi lagi.


Di percobaan kedua, Rendra akhirnya berhasil berjalan melewati tengah pohon beringin kembar. Setelah itu Dita pun mencobanya. Tanpa diduga Dita berhasil melewati pohon beringin kembar dalam sekali percobaan. Karena begitu bahagia, Dita refleks langsung memeluk Rendra. Melupakan kalau mereka sedang ada di tempat umum.

__ADS_1


Usai melakukan masangin, mereka menuju ke penjual minuman bajigur dan jagung bakar. Sambil menikmati bajigur dan jagung bakar dengan lesehan, malam itu mereka bernostalgia. Mengenang kembali pertemuan pertama mereka, sampai akhirnya Rendra mengutarakan perasaannya di tempat ini.


Jogja, 120421 13.30


__ADS_2