
“Bun, dingin.” Tiba-tiba badan Dita menggigil dan giginya bergemeletuk.
Ibu Hasna lalu menyelimuti badan Dita dengan rapat.
“Masih dingin, Bun,” keluh Dita dengan bibir bergetar.
“Bella, bisa minta tolong dipanggilkan perawat,” pinta Ibu Hasna pada Bella.
“Siap, Bun.” Bella bergegas keluar dari ruang rawat inap Dita mencari perawat.
Tak lama seorang perawat datang diikuti Bella.
“Ada apa ya, Bu?” tanya perawat itu sopan.
“Ini anak saya menggigil kedinginan,” jawab Ibu Hasna.
“Oh tidak apa-apa, Bu. Itu hanya efek dari operasi. Nanti saya ambilkan selimut lagi. Coba saya cek dulu Ibu Dita demam atau tidak.” Perawat itu mengecek suhu tubuh Dita.
“Ibu Dita sedikit demam, saya ambilkan dulu obat penurun panas dan selimut lagi. Tunggu sebentar ya, Bu.” Perawat itu keluar dari ruang rawat Dita.
“Bun, dingin. Peluk aku, Bun.” Dita kembali mengeluh dengan tubuh yang masih menggigil.
Ibu Hasna lalu berdiri, dia memeluk anak bungsunya itu. “Gimana, sudah lebih hangat?” tanya Bu Hasna.
“Iya, tapi masih agak dingin,” jawab Dita.
“Adek, sabar ya.” Ibu Hasna makin mengeratkan pelukannya.
Perawat kembali masuk ke ruang rawat Dita, dia menyuntikkan obat penurun panas ke dalam infus. Dia juga membawa satu bedcover untuk menyelimuti tubuh Dita.
Ibu Hasna melepas pelukannya setelah perawat datang. Dia membantu perawat menyelimuti lagi tubuh Dita dengan bedcover.
“Bagaimana Bu Dita, apa sudah lebih hangat?” tanya perawat pada Dita.
“Sudah agak mendingan, Sus,” jawab Dita.
“Ditunggu obatnya bereaksi ya, Bu. Satu jam lagi saya cek kembali. Semoga demamnya sudah turun.”
“Baik, Sus. Terima kasih.”
“Saya permisi dulu ya, Bu. Kalau ada apa-apa bisa panggil saya kembali.”
“Silakan, Sus.”
Ibu Hasna kembali duduk di kursi, di samping tempat tidur Dita.
“Bunda, istirahat saja kalau capek.”
“Bunda enggak capek.” Ibu Hasna mengelus kepala Dita penuh sayang.
"Bunda nanti pulang dijemput sama ayah?" tanya Dita.
"Enggak, bunda nanti tidur di sini. Ayah biar tidur di rumah Mas," jawab Ibu Hasna.
"Bunda tidur di Mas Adi saja, biar Mas Rendra saja yang di sini."
"Kasihan Nak Rendra kalau sendiri, Dek. Suami Adek badannya pasti capek dari tadi belum istirahat. Biar nanti Nak Rendra istirahat, bunda yang jaga Adek."
__ADS_1
"Oh iya, baru ingat. Mas Rendra sudah makan belum ya, Bun. Dari tadi ngurusin aku terus."
"Mungkin belum, biar bunda telepon Adi ajak dia makan."
"Makasih, Bun. Bunda juga jangan lupa makan, Bella juga."
"Iya, nanti bunda makan bareng sama Bella kalau Nak Rendra sudah datang."
"Bel," panggil Dita.
"Iya, Ta. Ada apa?" sahut Bella yang langsung mendekati Dita.
"Tolong order makanan buat kamu sama bunda. Nanti aku bayarin," pinta Dita pada Bella.
"Bunda mau makan apa? Biar dipesan sama Bella." Dita beralih pada bundanya.
"Apa saja, bunda ikut."
"Ya udah kalau begitu, Bun." Dita menoleh pada Bella. "Bel, segera order gih. Kamu pasti juga belum makan kan. Terserah kamu mau pesan apa."
Bella mengangguk. Dia segera membuka gawai dan membuka aplikasi pesan makanan. Setelah menawarkan beberapa menu pada Ibu Hasna, dia lalu memesan makanan.
...-----oOo-----...
Rendra datang lagi ke rumah sakit bersama Pak Wijaya dan Adi setelah Isya. Dia sudah berganti baju dan membawa tas berisi bajunya sendiri. Sebelum ke rumah sakit, Adi memaksanya untuk makan dahulu. Dia memang sudah tidak memikirkan dirinya sendiri, di pikirannya hanya ada Dita dan juga anaknya. Hingga dia tidak merasakan lapar dan lelah.
"Assalamu'alaikum," salam Rendra begitu membuka pintu ruangan Dita.
"Wa'alaikumsalam," jawab Ibu Hasna dan Bella. Dita tidak menjawab karena dia tertidur setelah obat penurun panasnya bereaksi dan tidak menggigil lagi.
"Dita tidur, Bun?" tanya Rendra pelan, takut membangunkan istrinya.
"Bunda dan Bella sudah makan?" tanya Rendra lagi.
"Sudah, Kak. Tadi kami pesan makanan," jawab Bella.
"Syukurlah kalau sudah. Makasih Bel, sudah menemani Dita dan Bunda. Sudah jam 9 malam, sebaiknya kamu pulang sekarang, nanti kemalaman sampai kos."
"Iya, Kak. Besok aku boleh ke sini lagi kan?"
Rendra mengangguk, "boleh."
Sebelum Bella akhirnya pulang, dia berpamitan pada semua yang ada di ruangan itu, kecuali Dita yang masih terlelap.
"Bunda nanti pulang saja dengan Mas Adi, biar Rendra yang jaga Dita."
"Justru Nak Rendra yang harus istirahat. Kalau bunda dari tadi hanya duduk saja. Nak Rendra jangan mengabaikan istirahat. Jangan sampai Nak Rendra juga sakit karena mengurusi Dita. Apa Nak Rendra juga sudah makan?"
"Sudah, Bun. Tadi sama Mas Adi dan ayah."
"Itu aja pakai acara dipaksa sama Adi, Bun," ucap Adi sambil melirik Rendra.
"Nak Rendra harus tetap makan teratur dan istirahat, biar tetap sehat."
"Iyo, kudu bakoh (iya, harus kuat/kokoh)." Pak Wijaya ikut menyahut.
"Maksud Ayah apa?" tanya Adi yang bingung dengan kata-kata Pak Wijaya.
__ADS_1
"Karena Nak Rendra pasti jadi tempat Dita bersandar, jadi dia harus kuat. Kuat fisik dan juga mentalnya. Harus mampu menopang istri apa pun yang terjadi," jawab Pak Wijaya.
"Berat ini bahasannya," seloroh Adi.
"Mohon doa dan bimbingannya, Yah," pinta Rendra pada ayah mertuanya.
Pak Wijaya mengangguk lalu menepuk bahu Rendra.
"Nak Rendra sudah menunjukkan hal itu hari ini. Ayah bangga punya menantu Nak Rendra. Ayah tidak salah melepaskan tanggung jawab Dita pada Nak Rendra," puji Pak Wijaya pada menantunya.
"Terima kasih, Yah." Rendra tiba-tiba memeluk Pak Wijaya. "Tolong tegur dan ingatkan Rendra kalau Rendra salah."
Pak Wijaya mengangguk dan menepuk punggung menantunya itu.
Rendra mengurai pelukannya, Pak Wijaya tersenyum pada menantunya itu.
"Bun," panggil Dita pelan dengan mata masih terpejam. Dia masih belum menyadari kalau di sana sudah ada Rendra, ayahnya dan juga Adi.
"Apa, Dek?" tanya Ibu Hasna lembut.
"Kakiku kok pegal banget ya, Bund," jawab Dita.
"Sini aku pijitin kalau pegal." Rendra sudah berdiri di samping tempat tidur Dita.
"Eh, Mas udah datang." Dita membuka mata dan tersenyum lebar melihat sosok suaminya. "Mas, kapan datang? Sama siapa?" tanyanya.
"Belum lama, Sayang. Ke sini sama Ayah dan Mas Adi," jawab Rendra sambil menunjuk ke arah Pak Wijaya dan Adi.
"Ayah," panggil Dita dengan wajah sendu sambil merentangkan tangan, ingin dipeluk.
"Ayah, di sini." Pak Wijaya mendekati Dita. Dia memeluk putri bungsunya itu, sebelum akhirnya duduk di kursi yang tadi dipakai istrinya.
"Ayah, tadi ikut ke makam?" tanya Dita.
Pak Wijaya menggeleng. "Ayah baru datang Magrib, ternyata cucu ayah sudah dimakamkan."
"Doakan Boy, eh Akhtar ya, Yah."
"Pasti, kalian semua selalu ada di doa ayah." Pak Wijaya menggenggam tangan Dita. "Ayah bangga sama Adek. Sangat bangga. Adek sudah berhasil melewati ujian berat dari Allah."
"Ayah jangan buat aku nangis." Dita menyeka sudut matanya.
Pak Wijaya tersenyum. "Ya sudah, ayah pulang saja kalau buat Adek menangis."
"Jangan, Yah. Aku masih kangen, Ayah."
"Kan sudah ada Nak Rendra yang selalu siap sedia untuk Adek. Suami idaman ini yang ikhlas memijit kaki istrinya yang pegal." Pak Wijaya melirik Rendra yang sedang memijit kaki Dita dengan penuh kasih sayang.
"Beda lah kedudukannya Ayah dan Mas Rendra di hatiku. Ayah itu cinta pertamaku, Mas Rendra itu cinta sejatiku." Dita tersenyum malu.
"Sok romantis kamu, Dek," ledek Adi.
"Mas Adi, diem ih." Dita menatap kesal kakak satu-satunya itu.
Adi tertawa bahagia karena sudah berhasil menggoda adiknya.
Mereka berlima terus mengobrol dan bercanda sampai pukul 10.00 malam. Kebersamaan mereka, sejenak bisa melupakan kesedihan yang ada di hati mereka.
__ADS_1
Jogja, 060421 14.00