Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
46


__ADS_3

Hari lamaran pun tiba, Dita sudah pulang ke rumah orang tuanya beberapa hari sebelumnya bersama Bella. Ya, Bella menginap di rumah Dita karena perkuliahan belum dimulai. Dia ingin menemani sahabatnya itu di hari bahagianya.


Sejak Sabtu siang kemarin di rumah itu sudah terlihat sibuk. Di depan teras sudah terpasang tenda untuk tamu, sedangkan di samping teras ada tenda untuk menyajikan hidangan bagi para tamu dari katering langganan. Ruangan tamu dan teras pun sudah didekor dengan cantik penuh bunga-bunga.


Kerabat dekat keluarga Pak Wijaya dan Bu Hasna yang dari luar kota juga sudah mulai datang sejak kemarin, membuat suasana rumah Pak Wijaya menjadi lebih ramai.


Dita tidak menduga acara lamaran ini terasa seperti acara pernikahan saja, ada dekorasi dan juga tenda. Dia pikir ini hanya acara lamaran sederhana dan pertemuan dua keluarga terdekat saja. Bahkan pagi ini saat dia mulai dirias sudah ada fotografer yang mengabadikan fotonya. Tapi, dia tidak mau ambil pusing, pasti semua sudah diatur oleh Mas Adi dan juga bundanya jadi dia hanya pasrah saja.


"Ta, sumpah ya kamu cantik banget hari ini. Pasti nanti Kak Rendra pangling dan makin cinta deh sama kamu," ujar Bella yang setia menemani Dita dirias di kamar.


"Apaan sih Bel, enggak usah lebai deh," sahut Dita. "Oh ya, Baim jadi ke sini enggak, Bel?"


"Jadi kok, tadi sudah berangkat katanya. Sudah aku kasih alamat sama share loc kok."


"Ya sudah, yang penting kamu pantau aja. Nanti kalau dia bingung arah jalannya, kamu tanya Mas Adi aja."


"Siap, Nyonya Rendra." Goda Bella sambil terkekeh kecil.


"Hhhmmm ... mulai deh." Dita memutar bola matanya jengah.


Sementara itu di luar rumah, para kerabat yang rumahnya dekat mulai berdatangan, begitu pula para perangkat dusun seperti Pak RT, Pak RW dan juga Pak Kadus (Kepala Dusun) juga turut diundang. Tak lama Baim pun sampai di sana yang langsung ditemui oleh Bella dan diperkenalkan pada Mas Adi, Pak Wijaya dan Bu Hasna sebagai sahabat mereka (Dita dan Bella).

__ADS_1


Pukul 10.00 WIB rombongan mobil keluarga Rendra memasuki halaman rumah Pak Wijaya. Setelah ketiga mobil berhenti, tak lama Rendra dan keluarganya keluar dari mobil. Beberapa dari mereka yang masih muda, termasuk Nisa, Shasha dan Bara, membawa barang seserahan.


Rendra yang memakai setelan jas tanpa dasi, berjalan bergandengan dengan mamanya di depan, diikuti anggota keluarga lainnya. Mereka disambut oleh Pak Wijaya, Bu Hasna, Adi dan kerabat dekat lainnya. Rendra juga memperkenalkan mamanya, Shasha dan Nisa pada mereka. Setelah sekilas berkenalan dan barang seserahan diterima keluarga Dita, keluarga Rendra dipersilakan untuk masuk ke ruang tamu.


Di ruang tamu sekarang sudah duduk keluarga inti Rendra dan Dita, juga para tetua serta saudara kandung orang tua Rendra dan Dita. Sementara Dita masih di dalam kamar, dia akan keluar saat acara inti lamaran.


Seperti biasa acara dimulai dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur'an, sambutan selamat datang dari tuan rumah. Selanjutnya perwakilan Rendra menyatakan maksud dan tujuan kedatangannya.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sebelum berbicara lebih lanjut, perkenalkan saya Dewa Mahardika, kakak dari Dewi Maharani, mamanya Rendra. Saya mewakili almarhum Indra Jayanegara, ayah Rendra, untuk menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kami hari ini. Pertama-tama ...."


"... Maksud dan tujuan kedatangan kami ingin melamar putri Pak Wijaya yang bernama Anindita Kusuma untuk putra kami Narendra Daneswara. Semoga saja niat baik kami ini diterima sehingga bisa mempererat silaturahim di antara keluarga kita. Kiranya itu saja yang dapat saya sampaikan, mohon maaf bila ada kesalahan dalam bertutur kata. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Pak Dewa lalu kembali ke tempat duduknya setelah berbicara mewakili keluarga.


Dita kemudian masuk ke ruang tamu digandeng oleh Bella. Penampilan Dita mengejutkan semua orang yang ada di sana, dia tampak cantik dan anggun dengan balutan gamis brokat berwarna baby pink dengan kerudung berwarna senada juga polesan make up natural yang menambah aura kecantikannya. Biasanya Dita tampil tomboi dengan atasan kemeja atau kaos dan celana jins dengan rambut digerai atau dikucir kuda, jadi penampilannya kali ini sangat jauh berbeda dengan kesehariannya.


"Masya Allah, cantiknya calon istriku." Gumam Rendra yang tak melepaskan pandangannya sedetik pun sejak Dita memasuki ruang tamu.


Dita lalu duduk di antara ayah dan bundanya. Dia menyunggingkan senyum pada semua orang yang ada di sana. Dia agak terkejut saat melihat Bara ada di sana tetapi dia berusaha tetap bersikap wajar.


Setelah Dita duduk, pembaca acara mempersilakan Rendra untuk berbicara.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Anindita Kusuma, meski awal pertemuan kita diawali dengan pertengkaran, tetapi sejak hari itu kamu berhasil mengusik pikiranku. Seiring berjalannya waktu dengan lebih mengenalmu, aku akhirnya sadar kalau aku sudah jatuh hati padamu."

__ADS_1


"Meski tanpa melakukan pendekatan apa pun, aku nekat menyatakan cintaku, sampai akhirnya hari ini aku bisa berdiri di sini. Meski tanpa pacaran dan mengenal lebih jauh, kamu mau menerimaku setelah kita sama-sama memohon petunjuk pada Allah."


"Mari kita lebih saling mengenal, mengerti dan memahami satu sama lain dalam satu ikatan yang halal. Anindita Kusuma, maukah kamu menjadi belahan jiwaku sampai maut memisahkan kita dan Allah mempertemukan kita kembali di jannah-Nya nanti?" Ucap Rendra sambil menatap Dita.


"Bagaimana Dita, apa kamu menerima lamaran Nak Rendra?" Tanya Pak Wijaya.


"Bismillah ... insya Allah saya menerima lamarannya." Jawab Dita sambil menundukkan kepala.


"Alhamdulillah ...," ucapan lega terdengar di sana.


Setelah itu prosesi penyerahan seserahan secara simbolis, Ibu Dewi memberikan mukena yang sudah dibentuk bunga kepada Ibu Hasna. Lalu Ibu Dewi memasangkan cincin pada jari manis kiri Dita.


Acara selanjutnya perkenalan kedua keluarga, ramah tamah sekaligus membahas tanggal pernikahan.


Keluarga Pak Wijaya menginginkan pernikahan dilaksanakan pada hari ketiga Idul Fitri yang jatuh pada hari Jumat, karena setiap Idul Fitri pasti keluarga saling berkumpul, yang jauh pun pasti mudik ke kampung halaman. Jadi daripada nanti keluarga yang jauh harus datang lagi, sekalian saja mereka memanfaatkan momen itu untuk menikahkan Dita. Lalu resepsi diadakan keesokan harinya di rumah mereka.


Bagi keluarga Dita atau pun keluarga Rendra semua hari adalah hari baik, jadi tidak diperlukan hitungan segala macam atau menghindari hari atau bulan tertentu. Dengan bismillah, niat baik dan doa, mereka yakin semuanya akan berjalan lancar.


Setelah melewati pembicaraan dan pertimbangan akhirnya keluarga Rendra menyetujui usul keluarga Dita. Keluarga mereka juga sekalian menentukan acara ngunduh mantu di hari Minggu-nya. Jadi akad nikah pada hari Jumat bakda salat Jumat, resepsi pihak keluarga Dita hari Sabtu, resepsi pihak keluarga Rendra pada hari Minggu.


"Karena kita sudah mencapai kesepakatan hari pernikahan, ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan ...." Ucap Pak Wijaya yang membuat semua orang terkejut.

__ADS_1


__ADS_2