Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
89


__ADS_3

“Wah, ternyata benar kamu, Dita.” Wajah Reza berubah ceria setelah Dita menoleh padanya.


“Apa kabar? Kamu semakin cantik saja sekarang.” Reza mengulurkan tangan ingin bersalaman dengan Dita.


“Alhamdulillah baik, Mas.” Dita menangkupkan kedua tangannya di dada, tidak menyambut uluran tangan Reza.


Dengan sedikit rasa kecewa dan senyum kecut, Reza menarik lagi tangannya yang tidak mendapat balasan dari Dita.


“Kok bisa di sini? Sama siapa ke sini?” tanya Reza tanpa memedulikan kehadiran Bella.


“Sama Mas Rendra, sekalian ketemu sama temanku ini,” jawab Dita sambil menunjuk Bella. “Mas Reza kok bisa ada di sini?”


“Ada temanku dari luar kota yang menginap di sini. Aku mau menemui dia. Pas lewat tadi kok kayanya aku lihat kamu, terus aku ke sini, ternyata benar.”


Dita mengangguk dan tersenyum canggung. Otaknya mulai memikirkan cara agar Reza segera pergi dari hadapannya. Bisa gawat kalau suaminya sampai melihat Reza ada di sini. Apalagi melihat dia bicara dengan Reza.


“Suamimu enggak nungguin kamu ketemu sama temanmu?” tanya Reza dengan nada sinis.


“Mas Rendra ada kok di atas. Dia baru memberi materi pelatihan kewirausahaan. Mungkin sebentar lagi selesai,” jawab Dita sambil melihat jam di pergelangan tangan kirinya.


“Oh, hebat juga ya suamimu sampai diminta mengisi pelatihan. Pantas kamu lebih memilih dia yang lebih banyak uang daripada aku,” sindir Reza.


“Alhamdulillah Mas Rendra dipercaya dari Dinas, Mas. Dan, Allah yang memilihkan jodohku, Mas, bukan aku yang memilih.” Dita berusaha tetap bersikap ramah meski dia juga kesal karena Reza selalu menyindir Rendra.


“Mas Reza bukannya mau ketemu temannya ya, mungkin sudah ditunggu sama dia.” Dita mengingatkan tujuan Reza datang ke hotel ini.


“Kenapa? Kamu enggak senang ketemu sama aku? Padahal aku senang banget bisa ketemu dan ngobrol sama kamu.” Reza menyunggingkan senyum manisnya.


Dita tersenyum kikuk, sepertinya cara dia mengusir Reza secara halus tidak berhasil. “Bukan begitu, tapi kasihan teman Mas Reza kalau menunggu lama.”


“Enggak apa-apa, lagian dia nunggu di kamarnya. Aku enggak terburu-buru juga.” Reza bersikeras tetap di sana.


“Kamu enggak mau mengajakku duduk di sini?” tanya Reza sambil menunjuk salah satu kursi kosong di meja Dita.


“Kami sudah mau pulang, sebentar lagi pasti Mas Rendra juga datang,” Dita beralasan.


“Ada apa, Sayang? Apa dia mengganggumu?” Tiba-tiba Rendra datang dan memeluk posesif pinggang Dita.


“Maaf ya baru selesai,” Rendra mengecup kening Dita. Dia lalu menunduk dan mencium perut istrinya. “Baby, ayah datang.”


Rendra sengaja menunjukkan kemesraan di depan Reza. Dia ingin Reza sadar kalau Dita miliknya dan mereka akan segera punya anak.


Reza dan Dita terkejut melihat Rendra yang datang tiba-tiba, sedangkan Bella terlihat santai. Rupanya Bella diam-diam mengirim pesan pada Rendra memberi tahu soal Reza. Untung saja Rendra sudah selesai mengisi materi. Dia sedang bersiap pergi sambil mengobrol dengan panitia saat pesan Bella masuk. Setelah membaca pesan Bella, dia segera pamit dan bergegas ke restoran dengan setengah berlari.


Hatinya yang memanas begitu membaca pesan Bella, semakin menjadi begitu dia melihat Reza masih berdiri di dekat Dita. Karena itu tadi Rendra langsung memeluk dan mencium Dita dan juga calon anaknya.

__ADS_1


“Mau pamer kemesraan? Kekanak-kanakan sekali,” sindir Reza.


“Apa salah aku mesra dengan istriku? Daripada kamu sibuk mengganggu istri orang.” Rendra balik menyindir Reza.


Reza tersenyum mengejek. “Punya istri itu ya dijaga, ditungguin. Bukannya diajak tapi ditinggal kerja.”


Rendra melepaskan pelukannya pada Dita. Dia mendekati Reza dan langsung mencengkeram kerah baju Reza, yang membuat Dita dan Bella panik.


“Maksudmu apa? Mau nantangin aku hah?” hardik Rendra sambil menatap tajam Reza.


Reza kembali tersenyum mengejek, sengaja memprovokasi Rendra. “Kenapa? Kamu takut aku merebut Dita? Suami macam apa yang tidak percaya sama istrinya sendiri.”


“Kamu ....” Tangan kanan Rendra mengepal, siap melayangkan pukulan ke wajah Reza. Sedangkan tangan kirinya masih mencengkeram Reza.


“Mas Rendra, sudah. Jangan diteruskan lagi.” Dita memeluk Rendra dari belakang.


Rendra langsung menurunkan tangannya yang sudah terkepal. Dia juga melepaskan cengkeraman di kerah baju Reza.


“Kamu beruntung kali ini. Lain kali kalau aku lihat kamu mengganggu istriku lagi, aku tidak akan segan menghajarmu,” ancam Rendra dengan jari telunjuk menunjuk wajah Reza.


Reza merapikan kerah bajunya yang kusut karena dicengkeram Rendra. Dia tersenyum kecut saat melihat Dita memeluk Rendra dari belakang, mencegah suaminya memukul dia. Bagaimana Dita menjaga suaminya agar tidak mempermalukan dirinya sendiri, padahal dia sudah berhasil memprovokasi Rendra, membuatnya sadar kalau Dita benar-benar mencintai suaminya.


"Sayang, sudah selesai kan makannya?" tanya Rendra pada Dita, setelah membalikkan badan menghadap istrinya.


"Ya udah, yuk pulang sekalian bayar." Rendra kembali merangkul pinggang Dita.


"Bella, makasih ya sudah menemani dan menjaga Dita. Kami pulang dulu. Kapan-kapan kita hangout bareng lagi," ucap Rendra pada Bella.


"Sama-sama, Kak. Makasih ya Kak traktirannya," balas Bella.


"Bel, aku pulang dulu ya. Kabari kalau udah nyampe kos." Dita mencium kedua pipi Bella sebelum pergi.


Rendra dan Dita pergi meninggalkan Reza dan Bella, mereka membayar ke kasir sebelum keluar dari restoran.


Reza menatap nanar kepergian Dita dan Rendra. Meski dia tahu cintanya salah, tetapi dia juga masih belum rela melupakan cintanya pada Dita. Bagaimana pun Dita sudah mengisi hatinya sejak dia mengenal cinta di bangku SMP. Sekian lama dia menahan perasaannya, berniat mengungkapkan sekaligus melamar Dita saat dia lulus kuliah. Tapi, ternyata takdir tidak berpihak padanya.


"Maaf Kak, kalau saya lancang dan ikut campur urusan Kakak. Sebaiknya Kakak menyerah saja mengejar Dita. Dia sudah menikah dan sedang hamil sekarang. Selain Kak Rendra, saya juga enggak akan tinggal diam kalau melihat Kakak mengganggu Dita lagi." Bella memberi saran pada Reza sebelum dia pergi meninggalkan restoran.


Reza masih berdiri termangu di tempatnya dan sempat menjadi tontonan orang-orang di restoran. Dia baru tersadar saat gawainya bergetar menandakan ada pesan masuk. Setelah membaca pesan, dia berjalan meninggalkan restoran menuju ke kamar temannya.


...---oOo---...


Dalam perjalanan pulang dari hotel ke rumah, Rendra sama sekali tidak mengajak Dita bicara. Dia masih merasa kesal dan marah, tetapi dia harus menahan diri karena masih menyetir mobil. Semarah apa pun, dia masih tetap menjaga Dita dan calon anaknya. Dia tidak mau terjadi apa-apa di jalan karena tindakan emosionalnya.


Dita pun tak berani mengajak Rendra bicara. Meski sikapnya tetap baik, tapi dia tahu suaminya masih menyimpan amarah. Selama 6 bulan dia menjadi istri Rendra, tentu saja sudah mengenal sifat Rendra. Lebih baik diam menunggu sampai amarah Rendra reda.

__ADS_1


Sampai di rumah, Rendra langsung memasukkan mobil ke garasi. Tak lupa mengunci garasi sebelum masuk ke rumah menyusul Dita. Begitu masuk ke kamar, dia langsung mengunci pintu.


Dia menghentikan langkah Dita yang akan menuju ke meja rias. Dia membalikkan badan Dita lalu menangkup wajahnya. Dengan kasar dia mencium bibir Dita yang membuat Dita memberontak. Tetapi semakin Dita memberontak, justru semakin gencar serangannya pada Dita.


Saat mengambil napas, Rendra melepas kasar hijab Dita dan membuangnya sembarangan, sebelum kembali mencium bibir istrinya yang menjadi candu. Dita sudah tidak memberontak, tetapi dia hanya diam tak membalas ciuman Rendra seperti biasanya. Aksi protesnya atas ciuman kasar Rendra.


"Kenapa enggak membalas, Sayang," bisik Rendra geram sambil menggigit bibir Dita.


"Sakit, Mas."


"Hatiku juga sakit melihatmu bersama pria itu." Rendra kembali membungkam bibir Dita. Tangannya mulai bergerilya melepas gamis istrinya. Lalu dia menggendong Dita ke atas ranjang tanpa melepas ciumannya.


Setelah membaringkan Dita, Rendra melepas ciumannya. Dia menatap tajam mata Dita. Tangannya mengungkung tubuh istrinya.


"Ingat, Sayang. Kamu milikku. Enggak ada yang boleh merebut apalagi mengganggu milikku. Kamu milikku, cuma milikku."


"Jangan pernah lagi mencegah aku memukul pria kurang ajar itu. Dia sudah menantang aku. Sudah menginjak harga diriku sebagai suamimu. Pria seperti itu tidak pantas untuk dikasihani."


Dita menggelengkan kepala, tidak setuju dengan ucapan suaminya.


"Kenapa menggeleng? Kamu lebih membela dia daripada aku?" Terlihat kilatan amarah di mata Rendra.


"Aku enggak membela dan mengasihani dia, Mas. Aku enggak ingin Mas Rendra memukul orang. Menjadi tontonan dan gunjingan orang-orang. Aku enggak mau Mas Rendra sampai berurusan sama polisi karena memukul orang," terang Dita sambil terisak.


"Tapi dia sudah menghina aku, Sayang."


"Penghinaan tidak harus dibalas dengan adu fisik. Mas bisa buktikan dengan prestasi dan tindakan positif yang Mas lakukan."


"Aku ini istri, Mas. Sudah jadi milik, Mas. Selamanya milik, Mas. Apa Mas enggak percaya aku cuma mencintai Mas Rendra? Tidak pernah ada pria lain yang aku cintai selain Mas Rendra." Dita menangkup wajah suaminya saat menenangkan dan meyakinkan Rendra.


"Mas Rendra butuh bukti apa lagi kalau aku ini cuma milik Mas. Di perutku juga sudah ada bukti cinta kita. Apa aku perlu bawa tulisan ke mana-mana kalau aku ini milik, Mas?"


Rendra tersenyum mendengar canda Dita. Perlahan amarahnya mulai mereda mendengar curahan hati istrinya. Rendra mendekatkan kembali wajahnya.


"Jangan pernah tinggalkan aku, Sayang. Aku akan melakukan apa pun agar kamu tetap di sampingku. Aku juga cuma mencintaimu, Sayang. Cuma kamu, Cintaku. Maaf tadi aku cemburu buta, tapi itu karena aku sangat cinta kamu dan enggak mau kehilanganmu, Sayang."


Dita menganggukkan kepala sambil tersenyum. "I love you, Mas. And I always love you."


"I love you more. I really love you and the baby more than you know. May I?"


Dita mengangguk lagi dengan senyum tersipu.


Rendra menarik wajahnya, menuju ke perut Dita. Dia mencium dan mengelus perut istrinya seraya berkata, "Baby, jangan ganggu ya. Ayah dan Ibu mau sayang-sayangan dulu."


Jogja, 310321 00.45

__ADS_1


__ADS_2