Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
102


__ADS_3

Tok ... tok ... tok ....


Rendra tersenyum kecut. “Kita lanjutkan nanti,” bisiknya. Dia lalu menjauhkan diri dari Dita.


“Ya, masuk.” Rendra duduk tegak di samping Dita, seolah-olah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.


Pintu terbuka, lalu muncul sosok Candra yang masuk ke dalam ruangan.


“Maaf Mas Rendra, Mbak Dita, kalau mengganggu. Ini mau menyerahkan laporan yang tadi Mas Rendra minta. Daftar absen dan kinerja karyawan.” Candra menyerahkan beberapa lembar kertas pada Rendra.


“Duduk sini dulu, Mas Candra.” Rendra menerima laporan dari Candra. “Di depan sudah ada yang mengganti posisinya Mas Candra kan?"


“Sampun (sudah), Mas.” Candra duduk di sofa berhadapan dengan Rendra dan Dita.


“Ya sudah, ngobrol dulu di sini. Aku mau tanya bagaimana pegawai baru dan part time, bagus tidak kerjanya?"


“Nggeh (ya), Mas.” Candra lalu menjelaskan pada Rendra dan Dita kinerja para karyawan selama mereka tidak bisa memantau kafe secara langsung. Candra merupakan karyawan yang dari awal bersama Rendra merintis kafe. Dia menjadi tangan kanan dan kepercayaan Rendra untuk mengelola kafe, meski posisinya tetap sebagai barista.


“Mas Candra, katanya sama teman-teman mau kumpul-kumpul di sini malam tahun baru ya?” tanya Dita pada Candra setelah urusan dengan Rendra selesai.


“Enggeh (iya), Mbak Dita. Apa mau ikut bergabung dengan kami?”


Dita mengangguk. “Iya, Mas Candra. Boleh kan?”


“Ya, pasti boleh Mbak. Kalau enggak boleh nanti Pak Bos bisa memecat kami semua,” seloroh Candra.


“Hahaha, njur nek kabeh dipecat sek kerjo sopo, Mas? Ono-ono wae.” (Kalau semua dipecat terus yang kerja siapa, Mas. Ada-ada saja.) Rendra menggelengkan kepalanya.


“Rencananya mau bikin acara apa, Mas?” tanya Rendra kemudian.


“Ya kumpul-kumpul saja, Mas. Tim kita kan sekarang jadi banyak, buat lebih akrab juga satu sama lain. Dari pada kami keluyuran enggak jelas dan malah menambah macet jalanan mending kami kumpul di sini,” jawab Candra.


“Nah tuh dengar Mas, bisa jadi gathering kan meski enggak ke mana-mana. Semacam makrab (malam keakraban) meski enggak pakai acara menginap.”


Rendra menganggukkan kepala. “Apa semuanya bakal datang?”


“Insya Allah, Mas. Bahkan yang kerja part time juga mau ikut.”


“Bella berarti juga ikut ya, Mas?” sela Dita.


“Insya Allah, Mbak. Dia nunda mudik demi mau ikut acara besok itu.”


“Udah Mas, sponsorin aja mereka buat kumpul-kumpul. Gathering kita piknik bisa kapan-kapan,” usul Dita pada Rendra.


“Iki Mas, bojoku malah sing semangat. Ya wes tak sponsori, iki mergo bojoku sek jaluk,” kekeh Rendra. (Ini Mas, istriku malah yang semangat. Ya sudah aku sponsori, ini karena istriku yang minta.)


“Bu Bos, pancen ngeten.” Candra mengacungkan kedua jempolnya pada Dita. (Bu Bos, memang jempolan.)


Dita tersenyum kecil mendapat acungan jempol Candra. “Ya udah Mas Candra, siapkan anggarannya biar Mas Rendra yang sponsori.”


“Semua Mas Rendra kan yang sponsori?” Dita menatap Rendra dengan tatapan memohon.


“Ya, semua aku yang bayar. Aku enggak bisa nolak kalau istriku yang minta."

__ADS_1


“Pak Bos kaleh Bu Bos, panten jos tenan. Maturnuwun sanget. Teman-teman pasti jadi lebih semangat.” (Pak Bos dan Bu Bos, memang baik sekali. Terima kasih banyak.)


“Tapi aku enggak mau ya Mas ada terompet, kembang api atau petasan. Aku bayarin untuk makan sama minumnya saja,” pesan Rendra.


“Siap, Pak Bos.”


“Besok sekalian aku bagi bonus akhir tahun. Tapi jangan bilang anak-anak dulu soal ini, Mas. Biar jadi kejutan buat mereka.”


“Nggeh (ya), siap.”


“Nanti anggaran buat acara besok kasih ke aku. Jangan mentang-mentang aku bayari terus minta yang mahal-mahal ya,” canda Rendra.


“Nggeh mboten (ya enggak), Mas. Saya juga enggak berani minta macam-macam. Sudah dikasih hati masa minta jantung.”


“Aku guyon (bercanda), Mas.” Rendra tertawa kecil. “Bojoku iso nesu nek aku petungan (istriku bisa marah kalau aku perhitungan).”


Candra tertawa mendengar gurauan Rendra. Dia betah bekerja dengan Rendra karena bosnya itu selalu loyal pada karyawan, apalagi kalau kerjanya bagus. Rendra juga bukan bos yang sombong dan arogan, dia selalu menyempatkan untuk menyapa dan ngobrol dengan para karyawannya bahkan berbaur dengan mereka. Meski untuk hal-hal yang prinsip dia akan bersikap tegas.


Setelah obrolan mereka selesai, Candra pamit mau bekerja lagi.


“Mas, kenapa Mas Candra enggak diangkat jadi manajer kafe saja?” usul Dita saat Candra sudah tidak bersama mereka.


“Terus nanti posisi barista kosong satu dong.” Rendra mengerutkan keningnya.


“Ya kan bisa cari lagi, Mas. Kasihan loh Mas Candra, sudah jadi barista mesti ngurusin kafe juga kalau kita enggak di sini.”


“Betul juga, Sayang. Tapi selama ini aku juga kasih dia gaji tertinggi di antara yang lain. Karena memang tanggung jawabnya lebih besar dari yang lain. Selain itu dia juga karyawan senior di sini.”


“Nah kan, sebagai bentuk penghargaan atas loyalitasnya mendingan Mas angkat dia jadi manajer. Kalau dia lagi lowong bisa bantu jadi barista. Nanti barista yang baru biar di-training langsung sama Mas Candra.”


“Besok sekalian saja Mas diumumkan kalau Mas Candra diangkat jadi manajer.”


"Siap, Bu Bos." Rendra menggoda Dita dengan mengecup pipinya.


"Jangan mulai lagi deh, Mas. Kita masih di kantor."


"Aku kan hanya memberi hadiah pada istriku yang keren ini." Rendra membalikkan kata-kata Dita beberapa waktu sebelumnya. Mereka berdua lalu tertawa.


...---oOo---...


"Sayang, jangan lupa bawa jaket," pesan Rendra sebelum mereka pergi ke kafe untuk berkumpul dengan para karyawan kafe.


"Gerah, Mas," tolak Dita.


"Bawa jaket atau kita di rumah saja?" tegas Rendra.


Akhirnya meski dengan sedikit cemberut, Dita mengambil jaket couple mereka.


"Nah, gitu dong. Istriku memang salehah. Jadi makin cinta deh." Rendra mengelus kepala Dita.


Dita seketika tersipu mendengar ucapan Rendra. Lemah banget memang hatinya, setiap Rendra berkata manis, secara otomatis rona merah akan menghiasi pipinya.


"Sini, aku bawakan jaket sama minumnya." Rendra meraih jaket dan botol minum yang dibawa Dita.

__ADS_1


"Sudah siap semua kan, kita pamit sama mama sebelum berangkat."


Setelah berpamitan pada Ibu Dewi, mereka kemudian berangkat ke kafe.


"Mas, perlu bawa camilan enggak buat tambahan?" tanya Dita begitu mereka keluar dari cluster.


"Memang masih kurang ya?" Rendra mengernyit heran.


"Dari pada nanti kurang. Kebanyakan mereka kan juga anak kos, Mas. Kalau ada sisa biar dibawa mereka pulang."


"Aku ikut saja lah sama Ibu Negara," sahut Rendra.


"Apaan sih bilang ibu negara segala," protes Dita.


Rendra terkekeh. "Aku ikut teman-temanku yang sudah menikah, Sayang. Mereka biasa menyebut istrinya Ibu Negara. Kalau lagi antar istrinya bilang gini 'baru ada tugas mengantar Ibu Negara' katanya gitu."


"Jayus, ah."


Rendra semakin tertawa kencang.


"Sayang, mau beli camilan apa buat dibawa?" tanya Rendra setelah dia berhenti tertawa.


"Martabak manis sama martabak telur gimana Mas?"


"Kan aku sudah bilang, ikut saja apa yang kamu mau."


"Mas tahu kan tempat di mana yang jual dan rasanya enak?"


"Tentu saja."


Rendra lalu melajukan mobilnya menuju ke tempat penjual martabak langganannya. Dita membeli dua martabak manis dan dua martabak telur.


Jalanan sudah mulai padat dengan kendaraan padahal waktu baru menunjukkan pukul 08.00 malam. Beberapa ruas jalan juga sudah ada yang ditutup untuk menyelenggarakan acara menyambut tahun baru.


"Mas," panggil Dita.


"Hummm, apa Sayang," sahut Rendra sambil tetap fokus memegang kemudi.


"Kak Bara nanti datang enggak?"


"Kenapa tanya soal Bara? Kangen sama dia?" Sarkas Rendra.


"Eh, bukan begitu. Tapi kan Mas sama Kak Bara bersahabat, mungkin Mas mau ngundang dia."


"Enggak lah. Ini acara intern kafe. Lagian dia pasti lagi ngamen. Acara tahun baru kan jadi ajang panen duit buat para penyanyi."


Dita menganggukkan kepalanya.


Tiga puluh menit kemudian, mereka baru tiba di kafe karena padatnya jalanan oleh orang-orang yang akan merayakan pergantian tahun. Rendra memarkir mobil di depan butik mamanya. Setelah membukakan pintu penumpang untuk Dita, dia mengambil barang bawaan mereka tadi.


Suasana kafe sangat ramai, semua kursi terisi penuh. Rendra dan Dita langsung masuk ke ruangan Rendra untuk menaruh barang-barang mereka. Setelah itu mereka keluar untuk membantu para karyawan. Rendra mengambil alih menjadi barista dan Dita membantu sebagai kasir, pekerjaan yang cukup mudah tapi menuntut ketelitian.


"Dita ...," panggil seorang pengunjung kafe dengan keras.

__ADS_1


Seketika semua kepala menoleh ke arah sumber suara. Dita terkejut saat melihat siapa yang memanggilnya. Dia langsung menoleh ke arah Rendra yang terlihat sedang menahan emosinya.


Jogja, 170421 00.10


__ADS_2