Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
44


__ADS_3

Dita baru selesai membaca Al-Qur'an saat Adi pulang usai menjalankan salat Isya berjemaah di masjid. Dia menutup Al-Qur'an lalu meletakkannya di rak. Setelah itu dia melepas mukena lalu menyimpan di tempatnya.


"Dek, ada Rendra tuh di depan. Ditemui sana." Perintah Adi.


"Mau ngapain Mas? Aku enggak ada janji sama dia." Dita mengernyit.


"Ya pasti ada yang mau diomongin lah, mana Mas tahu."


"Mas nanti nemenin ya."


"Iya, tapi mas ganti baju dulu. Buatin minum dulu sana."


"Ngapain buat minum segala Mas."


Adi menjentik kening Dita, "itu namanya memuliakan tamu Dek."


"Ughhh ... sakit Mas." Dita mengelus-elus keningnya.


"Sudah sana bikin minum," Adi mendorong badan Dita ke dapur, lalu dia segera masuk ke kamar.


Dita lalu membuat teh manis panas untuk mereka. Setelah itu dia membawanya ke ruang tamu.


Begitu Dita memasuki ruang tamu, Rendra langsung menyunggingkan senyum. Dia memandang Dita yang sedang meletakkan cangkir teh di atas meja.


"Ayo diminum, maaf seadanya." Ucap Dita setelah duduk di sofa.


"Makasih sudah dibuatkan minum. Kamu apa kabar?" Rendra menatap Dita intens.


"Alhamdulillah baik, kamu sendiri gimana?" Dita menunduk malu karena tatapan Rendra.


"Alhamdulillah kabarku lebih baik setelah melihat kamu."


Blush ....


Pipi Dita memerah, dia semakin menunduk untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.


Membuat Dita tersipu menjadi kesenangan tersendiri bagi Rendra. Jadi ingin cepat-cepat menghalalkan Dita saja, pikirnya.


"Kamu tadi sudah heregestrasi di kampus?" Tanya Rendra untuk membuat Dita tidak menunduk lagi.


"Iya, sudah. Kok tahu?" Dita mengangkat kepalanya.


"Tadi aku lihat kamu sama Bella di kantin."


"Oh ...."


"Oh ya, mama ingin ketemu sama kamu."


"Ada apa ya Tante Dewi mau ketemu?"


"Aku juga enggak tahu, mama cuma pesan begitu. Kapan kamu ada waktu?"

__ADS_1


"Tante Dewi jam berapa berangkat ke butik?"


"Biasanya sekitar jam 9."


"Kalau begitu besok jam 8 aku ke rumah."


"Oke nanti aku sampaikan ke mama. Perlu aku jemput enggak?"


"Kaya yang jauh aja rumahnya. Enggak usah aneh-aneh deh."


"Kita jaraknya ini dekat tapi rasanya jauh loh." Celetuk Rendra.


"Maksudnya apa?" Dita mengernyit tak mengerti.


"Biasanya kan orangnya jauh di mata tapi dekat di hati. Tapi kita ini dekat di mata tapi hati rasanya jauh. Apalagi kamu masih belum memberiku jawaban." Rendra kembali menatap Dita dengan intens.


"Ka ... kamu ... mau dengar ... jawabanku ... sekarang?"


"Ya kalau kamu sudah punya jawaban, aku siap."


"Aku ... aku mau ... tapi ... aku punya syarat."


"Apa ini yang pakai syarat?" Tanya Adi yang tiba-tiba muncul di ruang tamu. Dia lalu duduk di antara Rendra dan Dita.


"Ini Mas tadi Dita mau memberikan jawaban katanya." Jawab Rendra.


"Benar Dek?" Tanya Adi sembari menoleh pada Dita.


"Terus apa tadi kok ada syarat segala?" Tanya Adi lagi.


"Itu ... syarat aku mau menerima lamarannya." Jawab Dita.


Adi semakin mengernyit. "Memangnya apa syaratnya Rend?"


"Dita belum bilang Mas, mari kita dengar apa syaratnya."


"Aku ... aku mau kita tinggal terpisah sampai aku siap dan juga menunda punya anak sampai aku skripsi."


"Yang benar aja Dek syaratnya, mana ada suami istri tinggal terpisah." Protes Adi begitu Dita selesai bicara.


"Aku cuma menagih janjinya waktu di rumah waktu itu Mas, tinggal terpisah enggak apa-apa, kita kaya orang pacaran tapi sudah halal." Dita bersikukuh dengan pendiriannya.


"Syaratmu enggak masuk akal Dek, tinggal terpisah juga enggak bakal punya anak. Gimana proses bikin anaknya coba kalau tidak pernah bersama. Lewat WA? Apa Line?" Sindir Adi.


"Apaan sih Mas Adi pakai bahas proses bikin anak segala." Dita mulai kesal pada Adi.


"Sudah Mas," Rendra menghentikan Adi yang akan bicara lagi. Perdebatan mereka pasti tak akan selesai bila tidak dihentikan.


"Oke, aku terima syaratmu. Lalu kapan aku bisa datang untuk melamarmu?" Ucap Rendra tegas.


"Rend ...," Adi hendak protes tapi Rendra memberi kode dengan matanya agar Adi tidak meneruskan ucapannya.

__ADS_1


"Minggu depan mungkin, aku bilang dulu sama bunda. Besok aku kabari lagi. Atau kamu bisa membahasnya dengan Mas Adi," ucap Dita.


"Kalian mulai kuliah kapan?" Tanya Adi yang mulai menormalkan suaranya.


"Senin depannya lagi," jawab Rendra.


"Ya berarti Minggu depan enggak masalah, Minggu lamaran, Senin kuliah. Nanti kusampaikan ke bunda sama ayah."


"Iya Mas, nanti juga saya sampaikan ke mama dan keluarga besar."


"Kalau sudah selesai, aku masuk dulu. Mau telepon bunda," kata Dita bersiap untuk berdiri.


"Oke, jangan lupa besok ketemu sama mama ya." Ujar Rendra sebelum Dita pergi.


"Iya," Dita lalu berdiri dan meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.


Begitu Dita pergi, Adi langsung menginterogasi Rendra.


"Rend, serius kamu menerima syarat tidak masuk akal dari Dita?"


"Iya, saya serius Mas."


"Kalau kamu tidak mau, biar nanti aku bilang ke ayah biar ayah yang memberitahu Dita." Tawar Adi.


"Tidak perlu Mas, nanti malah Dita jadi tertekan." Tolak Rendra.


"Kamu jangan terlalu mengalah dan memanjakan Dita, Rend." Tegur Adi.


"Tenang saja Mas, semua masih bisa dikontrol. Yang penting buat saya sekarang Dita mau dilamar dulu. Nanti sambil pelan-pelan memberi dia pengertian."


"Dita itu kan keras sifatnya Mas, kalau kita lawan dengan keras juga nanti dia malah semakin keras. Insya Allah saya sudah sedikit paham bagaimana cara mengatasi kerasnya Dita." Terang Rendra percaya diri.


"Wah, kayanya Dita sudah ketemu pawangnya ini hahaha." Seloroh Adi sambil menepuk punggung Rendra.


"Aku minta nanti kamu lebih sabar lagi menghadapi Dita kalau kalian sudah menikah. Aku bersyukur kamu sudah tahu sisi buruknya yang keras kepala dan bagaimana cara menghadapinya."


"Mungkin faktor Dita sebagai anak bungsu yang sering aku dan bunda manjakan membuat dia jadi seperti itu. Tetapi sebenarnya dia anak yang polos dan baik, mandiri, juga pekerja keras."


"Di saat teman-teman sebayanya asyik berpacaran, dia memegang prinsip tidak mau pacaran sampai akhirnya ketemu kamu. Ternyata sama ayah malah kalian disuruh untuk menikah, jadi cukup membuatnya shock."


"Aku titip Dita ya, jaga dia dengan baik. Jadilah imam yang bisa membimbingnya ke surga. Jangan sekali-sekali kamu ringan tangan sama Dita karena aku enggak akan tinggal diam kalau sampai itu terjadi. Aku percaya kamu bisa melakukannya." Adi kembali menepuk bahu Rendra setelah memberi nasihat panjang.


"Iya Mas, Insya Allah saya akan menjaganya dengan segenap hati dan raga saya." Ucap Rendra penuh keyakinan.


"Oh ya Mas, maaf sebelumnya apa Mas Adi benar-benar tidak masalah kalau Dita menikah lebih dulu?"


"Aku kan sudah pernah bilang tidak masalah. Walau sejujurnya aku berat melepasnya untuk dimiliki suaminya karena aku belum puas memanjakan dia." Adi tersenyum samar.


"Mas Adi belum ikhlas melepas Dita?"


"Aku sedang mencoba ikhlas Rend, apalagi aku sudah kenal kamu. Aku yakin Dita sudah di tangan yang tepat."

__ADS_1


"Terima kasih Mas sudah percaya sama saya. Insya Allah saya tidak akan mengkhianati kepercayaan Mas Adi sekeluarga."


__ADS_2