Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
19


__ADS_3

“Ta, cepat sini!” Panggil Bella antusias saat Dita baru memasuki ruang kuliah.


“Ada apa sih Bel, pagi-pagi sudah heboh banget?” Tanyanya sambil duduk di samping kursi Bella.


“Ada gosip hangat soal Kak Rendra.” Terang Bella yang membuatnya menoleh ke arah Bella dan menghentikan kegiatannya mengeluarkan alat tulis dari tas.


“Gosip apa?”


“Kemarin Kak Rendra pulang kuliah berboncengan sama cewek, dia sampai pinjam helm segala.”


“Uhukk ... uhukkk ....” Dita terkejut sampai terbatuk, dia langsung mengambil botol minumnya lalu minum untuk membasahi tenggorokan, mencoba menutupi rasa terkejutnya.


“Kamu enggak apa-apa kan, Ta?” Tanya Bella khawatir.


“Enggak apa-apa, cuma tiba-tiba gatal aja tenggorokan.” Jawabnya beralasan.


“Syukurlah kalau begitu. Eh ... tadi sampai mana cerita soal Kak Rendra?” Bella coba mengingat apa yang tadi sudah dia katakan.


“Oh iya, terus ya cewek yang kita lihat di Gelex itu ternyata sahabatnya Kak Rendra bukan pacarnya. Katanya Kak Rendra enggak pernah pacaran dan dekat sama cewek mana pun selain sahabatnya Kak Adelia itu.”


“Terus, kamu enggak jadi patah hati dong.” Cibir Dita.


Bella menggangguk. “Paling tidak aku masih punya harapan Ta, tapi anak-anak sampai ribut gara-gara cewek yang dibonceng sama Kak Rendra itu. Kan belum tentu juga itu pacarnya, iya kan Dit?”


“Eh ... iya ... iya. Boncengan belum tentu pacaran.” Dita berusaha bersikap wajar menjawab pertanyaan Bella. Dia tidak tahu bagaimana reaksi Bella kalau sampai tahu dia yang dibonceng sama Rendra.


“Anak-anak tuh penasaran sama cewek itu, katanya mahasiswi sini juga. Eh, kemarin kan kamu sama Kak Bara sampai sore kan di sini?”


“Iya, sampai jam 4 atau setengah 5 gitu aku baru pulang.”


“Kamu enggak lihat Kak Rendra sama cewek itu?”


Dita menggeleng pelan, rasanya dia ingin menghilang dari depan Bella saja karena tidak ingin terus bohong, tetapi dia juga tidak mungkin jujur. Ada barisan gadis penggemar Rendra yang pasti akan mengincarnya kalau sampai tahu dia-lah yang menjadi objek pembicaraan mereka.


“Oya Ta, gimana kemarin sama Kak Bara?”


“Enggak gimana gimana.”


“Ih Dita nih nyebelin, Kak Bara kemarin ngomong apa sama kamu?” Desak Bella.


“Ya bilang kalau mau dekat gitu.”


“Maksudnya mau pedekate sama kamu?”


“Mmmhhhh.”

__ADS_1


“Terus kamu jawab apa?” Bella makin penasaran.


“Cieee kepo, mau tahu apa mau tahu banget?” Goda Dita yang membuat Bella mengerucutkan bibir.


“Dita ih kebiasaan, kan aku ingin tahu.” Gerutu Bella yang makin mengerucutkan bibirnya.


“Hihihi ... aku bilang ya kita berteman saja.”


“Ya ampun Ta, kamu nolak Kak Bara.” Teriak Bella tanpa sadar.


“Husssshhh, enggak perlu teriak-teriak begitu.” Dita mendelik pada Bella yang masih terkejut.


“Sori ... sori ... refleks. Untung belum banyak anak yang di dalam.” Bella mengelus-elus dadanya lega.


“Ya ampun Ta, Kak Bara itu sama high quality-nya sama Kak Rendra, dia vokalis band juga. Pasti kalau jadi pacarnya kamu bakal sering dinyanyiin lagu sama dia. Kenapa enggak kamu kasih kesempatan Kak Bara? Kalau aku pasti langsung bilang iya tanpa harus Kak Bara pendekatan dulu.” Ujar Bella kali ini dengan suara pelan.


“Ya udah sana kamu pacaran sama Kak Bara.”


“Ckck ... kan Kak Bara sukanya sama kamu masak aku yang pacaran sama dia. Lagian aku kan sukanya sama Kak Rendra.”


“Bukannya pas patah hati kemarin, kamu juga ingin dekat sama Kak Bara?” Sindir Dita yang membuat Bella meringis malu.


“Ya ... itu kan sebelum ada kejelasan soal Kak Rendra hehehe,” cengir Bella.


...---oOo---...


“Muka lo kucel banget Bro, kayak baju enggak dicuci seminggu.” Ejek Rendra pada Bara yang sedang menopang dagu .


“Sialan lo! Hibur gue napa jangan malah ngejek gitu.”


“Baru kali ini gue lihat seorang Bara Pradipta Aryaguna terlihat tidak ceria, lo baru ditolak cewek ya?” Goda Rendra.


“Berengsek lo!” Bara tersenyum kecut.


“Jadi benar lo ditolak sama cewek?” Tanya Rendra tak percaya.


“Iya, puas lo sekarang!” Sahut Bara kesal.


“Cewek mana Bro yang berani nolak lo? Biasanya juga lo yang nolak mereka.”


“Dita.”


Deg!!!!


“Dita anak arsi?” Tanya Rendra memastikan.

__ADS_1


“Memang gue kenal Dita mana lagi.”


“Lo ... serius deketin dia?” Ada sedikit gelenyar aneh di hati saat Rendra mengatakannya.


“Apa gue kelihatan bercanda?” Bara menoleh ke arah Rendra.


“Gue pikir lo cuma main-main kemarin.”


“Gue enggak pernah main-main soal Dita. Dia cewek yang unik dan menarik.”


“Sabar, Bro! Masih banyak cewek lain yang mau sama lo.” Rendra merangkul Bara memberi dukungan.


“Thanks Bro for your support, tapi gue belum menyerah meski dia udah nolak gue.” Ucap Bara.


“Salah gue juga sih, baru tiga kali ketemu langsung nembak dia. Tapi sebenarnya gue juga enggak nembak langsung Bro, gue bilang mau pendekatan buat jadi pacarnya, eh dianya langsung nolak.” Bara tertawa sumbang.


“Katanya kita berteman saja Kak.” Bara kembali tertawa getir.


“Tapi gue juga bahagia Bro, gue udah pernah jadi imam salatnya Dita. Jadi ngebayangin gue ngimamin salat istri gue,” kali ini Bara tersenyum bangga.


Rendra terkejut mendengar ucapan Bara. “Ka ... kapan lo jadi imam dia?” Tanyanya penasaran.


“Kemarin, gue kan nyamperin dia ke kelasnya. Sebagai cowok, gue gentle dong jemput cewek ke kelasnya. Karena udah Asar dia bilang mau salat dulu sebelum bicara sama gue katanya takut kesorean sampai di rumah, ya jadilah kami salat berjemaah. Gue sih yang nanya mau salat sendiri atau jemaah, eh dia bilang jemaah aja biar pahalanya lebih banyak. Ya, gue jelas mau lah jadi imam salat dia, apalagi kalau jadi imam hidupnya.” Terang Bara dengan senyum bahagia.


Rendra menganggukkan kepalanya berulang kali sambil tersenyum tipis, “hhmmm ... jadi kemarin dia habis nolak Bara.”


“Heh, kenapa lo senyum-senyum sendiri Bro?” Tanya Bara yang melihat Rendra tersenyum terus.


“Eh ... kan gue ikut bahagia kalau lo bahagia, Bro.” Jawab Rendra sambil memainkan alisnya naik turun.


“Gue kira lo kesambet apa tiba-tiba senyum-senyum sendiri.” Seloroh Bara yang diikuti tawa Rendra.


“Lo mau bantu gue, Bro?” Bara tiba-tiba menjadi serius.


“Bantu apa?” Rendra mengernyit.


“Bantu gue sama Dita.” Jawab Bara sambil menatap Rendra.


“Bercanda lo, masa seorang Bara minta bantuan gue yang enggak pernah pacaran buat deketin cewek.”


“Gue serius Bro, Dita itu enggak kayak cewek lain yang mudah didekati. Jadi gue minta tolong sama lo.”


“Sori Bro, bukannya gue enggak mau nolong. Gue enggak mau ikut campur kalau urusan hati. Nanti kalau gue nolongin lo terus dia malah maunya sama gue gimana?”


“Ya ... ya berarti dia bukan jodoh gue. Tapi nanti bakal gue tikung lo di sepertiga malam hahaha.” Mereka berdua tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


__ADS_2