
Satu minggu sudah berlalu. Seperti biasa, setiap Sabtu pagi, Adelia datang ke rumah Adi untuk belajar mengaji dengan Dita. Kebetulan hari ini, Adi tidak ada acara atau pekerjaan di luar.
Saat Adelia datang, Adi yang membukakan pintu untuknya karena Dita masih menyiapkan camilan. Adi terkejut saat melihat penampilan baru Adelia yang memakai hijab. Dia sempat terpaku beberapa saat hingga membuat Adelia menundukkan pandangannya karena malu.
"Mas Adi, ingat jaga pandangan. Belum mahram," goda Dita saat dia ke ruang tamu.
Adi langsung mengalihkan pandangannya. "Mmhh ... ayo masuk. Silakan duduk," ucap Adi berusaha mengatasi rasa gugupnya.
"Terima kasih, Mas," sahut Adelia masih dengan menundukkan kepala.
"Maaf ya, Kak Adel, malah ditahan Mas Adi di depan pintu." Dita bersalaman dengan Adelia lalu mereka saling cipika cipiki.
"Masya Allah, Kak Adel cantik sekali pakai hijab. Kakak sudah memutuskan untuk berhijab?"
Adelia mengangguk sambil tersenyum malu.
"Alhamdulillah. Semoga tetap istikamah ya, Kak." Dita memeluk erat Adelia.
"Dek, tamunya disuruh duduk jangan berdiri terus," tegur Adi yang masih berdiri di belakang Dita.
"Oh iya. Maaf ya, Kak Adel. Ayo kita duduk, Kak." Dita mengurai pelukannya lalu mengajak Adelia untuk duduk.
"Kak Adel mulai kapan pakai hijabnya?" tanya Dita penuh antusias.
"Jumat kemarin," jawab Adelia.
"Aku sempat pangling loh tadi. Pantas saja Mas Adi sampai terpukau. Ternyata ada bidadari di depan matanya." Dita melirik Adi yang juga ikut duduk di seberang mereka.
Adi tak membalas sindiran adik semata wayangnya itu. Dia hanya tersenyum sambil memegang tengkuknya.
"Kamu bisa saja, Dita." Adelia tersipu malu. "Tapi, aku belum pakai gamis kaya kamu. Aku belum punya. Ini aku sudah berusaha pilih baju dan bawahan yang tidak ketat."
"Enggak apa-apa, Kak. Semuanya berproses. Pakai yang ada saja dahulu, yang penting Kakak sudah berniat untuk menutup aurat. Insya Allah pelan-pelan nanti aku bantu untuk mencari gamis. Atau nanti aku bilang ke mama untuk endorse gamis anak muda ke Kakak."
"Terima kasih, Dita. Aku enggak tahu mesti membalas dengan apa semua kebaikanmu."
"Sama-sama, Kak. Enggak usah dibalas, aku juga tidak melakukan apa-apa. Kakak yang harusnya dapat hadiah karena sudah berani berhijrah."
"Kamu berlebihan. Aku masih jauh dari sempurna."
"Enggak ada manusia yang sempurna, Kak. Yang ada kita terus berusaha jadi lebih baik. Dan, Kak Adel jadi jauh lebih baik dari sebelumnya." Dita mengacungkan jempolnya.
"Jangan terlalu memuji. Aku takut jadi takabur."
"Enggak, Kak. Aku memuji sesuai porsinya kok. Duh, malah jadi kelamaan ngobrol. Aku ambil minum sama camilan dulu ya, Kak. Ngobrol dulu aja sama Mas Adi." Dita pamit ke dapur meninggalkan Adi dan Adelia berdua di ruang tamu. Meski hanya berdua tetapi posisi duduk mereka berjauhan.
"Apa kabar?" tanya Adi pada Adelia.
"Alhamdulillah, baik. Mas Adi bagaimana kabarnya?"
"Seperti yang kamu lihat, aku juga baik. Gimana skripsinya?"
"Alhamdulillah sudah maju proposal, sambil menyusun bab 2 dan 3."
"Tidak ada masalah kan?"
"Alhamdulillah, insya Allah tidak ada, Mas."
Adi menganggukkan kepala. "Ehmmm ... gimana belajar ngajinya?"
"Kata Dita sih sudah lebih baik, Mas."
__ADS_1
"Alhamdulillah. Ehhmmm ... kamu serius mau hijrah?"
"Insya Allah, Mas. Saya ingin memperbaiki diri." Adelia menundukkan kepalanya, merasa malu dan minder.
"Apa Dita sudah cukup membimbingnya?"
"Dita sangat membantu saya, Mas. Sejauh ini cukup. Karena saya juga masih belajar dasar-dasarnya."
"Bolehkah kalau aku ikut membantu?" tawar Adi.
Adelia mengangkat kepalanya, menatap Adi sekilas, kemudian mengalihkan pandangannya.
"Boleh, kalau tidak merepotkan Mas Adi." Adelia meremas kedua tangannya untuk mengurangi kegugupannya.
"Kalau begitu nanti aku ikut menyimak kamu sama Dita."
"Silakan, Mas. Mohon koreksinya kalau saya salah."
"Ngobrolin apa nih, kayanya asyik banget." Dita datang dengan membawa 3 gelas sirup dan juga camilan. Adelia membantu Dita menatanya di atas meja.
"Terima kasih, Kak Adel," ucap Dita saat semua sudah tersaji di atas meja. Dia lalu duduk di samping Adelia.
"Ayo diminum dulu, Kak. Baru kita mulai ngajinya."
Adelia mengambil gelas lalu menyesapnya. "Rendra ke mana kok enggak kelihatan?"
"Baru mengantar mama ke butik, sekalian mau ngecek kafe katanya."
Setelah berbasi-basi sebentar, Adelia mulai mengaji. Perkembangan Adelia sangat signifikan karena dia memang semangat sekali untuk belajar. Dia tidak malu bertanya dan selalu berusaha melakukan yang terbaik. Dia pribadi yang pantang menyerah. Meski berulang kali salah, dia akan terus berusaha sampai benar.
Diam-diam Adi mengagumi kerja keras Adelia yang mau belajar dan benar-benar ingin berubah jadi lebih baik. Tawarannya tadi untuk membantu Adelia hanyalah strateginya untuk tahu sejauh mana perkembangan Adelia dan kesungguhannya untuk berhijrah. Tak disangka ternyata jauh melebihi ekspektasinya.
Semakin hari Adelia terlihat semakin baik dan santun. Dia mulai menjaga pandangannya, meski masih tetap bersikap ramah. Semakin terlihat banyak kebaikan di mata Adi. Apa ini sebuah petunjuk atas doa-doanya? Entahlah, dia sendiri masih belum tahu.
"Awalnya kaget. Tapi mereka tidak ada masalah sih," jawab Adelia.
"Alhamdulillah. Aku benar-benar berdoa Kak Adel bisa istikamah. Karena berhijrah itu tidak mudah, Kak. Pasti akan banyak tantangan dan rintangan di depan. Asal Kakak punya niat dan tekad yang kuat untuk berubah, insya Allah semua akan bisa dilewati dengan mudah."
"Aamiin. Tetap bantu dan dampingi aku ya, Dita. Aku enggak akan bisa sendiri melakukannya."
"Insya Allah, Kak. Kita sesama muslim kan bersaudara, sudah seharusnya kita saling membantu dalam kebaikan dan takwa."
"Terima kasih, Dita."
"Aku juga berdoa, semoga Kak Adel segera dipertemukan jodoh dengan pria saleh yang akan selalu mendampingi dan membimbing Kakak," ucap Dita sambil kembali melirik Adi yang dari tadi terus mendengarkan dia dan Adelia bicara.
Adi tampak salah tingkah setelah mendengar ucapan Dita.
"Aamiin. Semoga memang aku pantas mendapatkan pria yang saleh." Adelia mengusap wajah dengan kedua tangannya usai berdoa.
"Aamiin, insya Allah."
"Assalamu'alaikum. Wah ternyata ada tamu," sapa Rendra ketika masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," sahut mereka bertiga.
"Sudah pulang, Mas." Dita menghampiri suaminya lalu mencium punggung tangan Rendra yang dibalas dengan kecupan di keningnya. Setelah itu Rendra menyalami Adi.
"Eh, ini Adelia?" tanya Rendra tak percaya saat melihat perempuan berhijab yang duduk di sana.
"Iya, Ren. Masa kamu enggak ngenalin aku sih," jawab Adelia.
__ADS_1
"Beda aja, pangling aku."
"Makin cantik ya, Mas." Dita memuji Adelia.
"Tetap kamu yang tercantik di mataku, Sayang." Rendra mengecup tangan Dita yang digenggamnya.
Adi mencebik. "Ingat tempat," sindirnya.
"Kalau iri bilang, Mas. Makanya cepat cari istri. Ada yang di depan mata aja dianggurin." Dita balas menyindir kakaknya.
"Nanti kalau sudah ada jodoh, mas juga bakal menikah, Dek."
"Iya kan, Del." Adi beralih pada Adelia.
"Oh ... eh ... iya, Mas." Adelia terkesiap, Adi tiba-tiba bicara padanya. Membuatnya salah tingkah.
"Ehem ... Mas, kita ke dalam yuk. Kayanya ada yang mau pedekate nih," ajak Dita pada suaminya.
"Adek, apa-apaan sih. Di sini aja, Rend." Adi menahan mereka yang akan meninggalkannya dengan Adelia.
"Iya. Kalian di sini aja. Kita ngobrol bareng." Adelia ikut menahan mereka.
Dita tertawa karena berhasil mengerjai kakaknya dan Adelia.
"Enggak mungkin juga kami meninggalkan yang belum mahram berduaan, nanti takut ketiganya ada setan." Dita kembali tertawa geli.
"Kamu tuh mulai kambuh usilnya, Dek." Adi menghela napasnya.
"Ya udah gih kalau Mas Adi sama Kak Adel mau ngobrol. Aku sama Mas Rendra di sini ikut menyimak." Dita memberi kesempatan pada Adi dan Adelia. Tetapi sampai lima menit tak ada satu pun yang bersuara.
"Ini gimana sih, malah diam-diaman kaya orang musuhan. Tadi aku tinggal ke dalam aja ngobrol kok. Apa perlu nih kami tinggal berdua?"
"Ja ... jangan, Dita." Adelia menahannya.
"Kamu kenapa sih, Del? Enggak biasanya kaya gini." Rendra heran dengan sikap Adelia yang jadi lebih pendiam.
"Aku juga enggak tahu, Ren. Memang sekarang aku seperti ini."
"Kamu kaya bukan Adelia yang dulu, yang cerewet, ceria. Sekarang jadi lebih kalem, pendiam."
"Apa jadi lebih buruk ya perubahanku?" Raut wajah Adelia terlihat cemas.
"Enggak, Kak. Malah lebih baik kok. Mas Rendra masih belum terbiasa saja dengan perubahan Kakak. Mungkin nanti Kak Bara juga akan kaget kalau ketemu." Dita menenangkan Adelia.
"Ah iya, aku telepon Bara saja. Minta dia ke sini." Rendra mengambil gawainya, mencari kontak Bara.
"Bara baru sibuk latihan karena nanti malam dia mau manggung," ujar Adelia.
"Kamu masih sering kontak sama Bara?" tanya Rendra.
Adelia mengangguk. "Hampir setiap hari. Dia juga sering membantuku cari referensi buku untuk skripsi dan juga belajar agama."
Adi tampak gelisah mendengar kedekatan Bara dan Adelia, ada rasa tak nyaman di hatinya.
...---oOo---...
Jogja, 110521 06.35
Gimana lanjut enggak nih Adi dan Adelia? š¤§š¤§š¤§
Kalau ada masukan, kritik atau saran bisa di komentar, PC atau DM di instagram @kokoro.no.tomo.82
__ADS_1
Maturnuwun, terima kasih šš¤