Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
110


__ADS_3

Malam ini Adi, Rendra dan Dita makan malam bertiga di luar karena Rendra tidak mengizinkan istrinya memasak. Dia takut Dita kelelahan karena dari pagi sudah beraktivitas sampai sore dan hanya beristirahat sebentar.


Mereka pergi ke warung makan yang menyajikan bakmi jawa dan minuman bajigur. Warung bakmi jawa legendaris yang terletak di Jalan Bintaran Kulon ini selalu ramai pembeli. Konon merupakan favorit Presiden RI ke-2 setiap kali berkunjung ke Jogja. Para wisatawan dari luar kota pun banyak yang datang ke mari.


Proses memasak di sini masih menggunakan cara tradisional yaitu dengan arang yang dibakar di atas anglo, sehingga cita rasa khas dan aromanya selalu terjaga. Menu makanan yang dijual ada bakmi goreng, bakmi godok (bakmi rebus dengan banyak kuah) dan bakmi nyemek (bakmi godok dengan sedikit kuah). Bakmi dimasak dengan ditambah bahan-bahan seperti kol, telur, tomat, daun bawang, bawang goreng, dan kekian. Pelanggan juga bisa meminta tambahan ati, ampela, sayap dan kepala untuk menambah cita rasa bakminya.


Selain itu, warung ini juga menyajikan wedang bajigur. Minuman yang terbuat dari kopi, santan, dan gula aren ini rasanya mantap, dan paling nikmat diminum saat udara sedang dingin karena akan langsung menghangatkan badan.


Mereka bertiga memesan bakmi godok dan juga wedang bajigur. Di saat badan terasa lelah pasti akan lebih terasa segar saat menyantap hidangan yang panas dan berkuah.


Sambil menunggu pesanan dibuat, mereka menikmati live music sambil mengobrol.


"Rend, Adelia tuh benar sahabatmu?" tanya Adi pada Rendra.


"Iya, bisa dibilang begitu Mas. Memangnya kenapa?" Rendra mengernyit heran.


"Aneh aja kamu punya teman cewek. Seingatku dulu berdasarkan cerita Dita, kamu selalu judes sama cewek-cewek."


Rendra menoleh pada Dita yang duduk di sampingnya. "Memang kamu cerita apa saja, Sayang?"


"Mas Adi lebai itu. Aku cuma cerita soal Bella aja, enggak ada yang lain." Dita membela diri.


"Tapi berdasar cerita itu, Mas kan bisa ambil kesimpulan, Dek," sahut Adi.


"Tuh dengerin apa yang dikatakan Mas Adi." Dita mengerucutkan bibirnya merasa sedikit kesal.


Rendra tersenyum melihat istrinya yang sewot. "Iya, Sayang. Aku percaya sama kamu kok," ucapnya sambil membelai kepala istrinya yang tertutup hijab.


"Kak Adel itu satu-satunya teman cewek yang dekat sama Mas Rendra," celetuk Dita.


"Adek, enggak cemburu sama dia?" tanya Adi dengan nada menggoda.


"Enggak usah mancing keributan deh, Mas." Dita kembali sewot.


Adi dan Rendra tertawa melihat Dita. Mereka selalu kompak menggoda Dita kalau sedang bersama.


"Aku dekat sama Adel juga enggak sedekat sama Bara sih, Mas. Dulu Bara yang pertama dekat sama Adel, terus akhirnya dia dikenalkan sama aku. Lalu kita bertiga jadi dekat sampai sekarang, meski Adel lebih dekat dengan Bara." Rendra menceritakan awal kedekatannya dengan Adelia.


Adi menganggukkan kepala. "Apa benar Adelia gagal menikah setelah wisuda?" tanyanya kemudian.


"Iya, benar, Mas."


"Kenapa sampai gagal?"


"Kata Bara, tunangannya selingkuh dan menghamili gadis lain, Mas."


"Astaghfirulah," ucap Dita dan Adi bersamaan.


"Yang benar, Mas?" tanya Dita tak percaya.


Rendra menganggukkan kepala. "Iya, untuk apa aku bohong."


"Pantas tadi pas salat Zuhur, Kak Adel sampai menangis," gumam Dita.


"Kenapa memangnya, Dek?" tanya Adi penasaran.


"Katanya ujian yang menimpanya sekarang karena dosa-dosanya. Aku enggak ngerti kalau ternyata ujiannya itu," jawab Dita.


"Kak Adel tadi juga minta tolong sama aku bantu dia belajar agama lagi," lanjut Dita.

__ADS_1


"Bukannya dia muslim dari lahir?" Adi mengerutkan keningnya.


"Namanya manusia, Mas. Kadar keimanan kita kan fluktuatif, kadang naik kadang turun. Mungkin Kak Adel lagi turun sekarang. Bisa karena lingkungan atau faktor pergaulan." Dita mengedikkan bahunya.


Adi menatap Rendra meminta penjelasan.


"Selama kenal Adel, memang aku enggak pernah melihat dia salat. Aku pikir ya namanya cewek pasti ada masa dia berhalangan. Aku enggak berpikir terlalu jauh sih," jelas Rendra.


Pesanan mereka akhirnya datang. Sebelum makan mereka berdoa terlebih dahulu.


Dita mengambil 5 buah cabai rawit untuk dimakan bersama mie godoknya.


"Adek."


"Sayang."


Tegur Adi dan Rendra bersamaan, sambil menarik mangkuk berisi cabai rawit dari depan Dita.


Dita memutar bola matanya, dua lelaki yang dia sayangi itu pasti melarangnya memakan banyak cabai agar perutnya tidak sakit.


Rendra mengambil 3 cabai yang diambil Dita hingga tinggal menyisakan dua.


"Mas, kenapa diambil?" rajuk Dita.


"Dua sudah cukup. Ini cabai pedas, Sayang." Rendra tetap tidak mengembalikan cabai yang diambilnya.


"Dek, dengar dan turuti suamimu," titah Adi.


"Iya, iya." Dita akhirnya menuruti Rendra dan Adi meski dengan wajah cemberut.


"Rend, terus kapan tepatnya dia memutuskan tunangannya itu?" tanya Adi yang masih penasaran dengan Adelia.


"Makanya aku kemarin minta Bara ajak Adel sekalian. Biar dia juga enggak berlarut sedihnya," lanjut Rendra.


"Dia memang agak kurang fokus sih aku lihat."


"Mas Adi kok kepo Kak Adel sih, naksir ya?" goda Dita.


"Apaan sih, Dek. Jangan sembarangan kalau ngomong."


"Udah, Mas. Dekatin aja mumpung masih lowong. Mas kan bisa mengobati patah hatinya Kak Adel. Iya kan, Mas Ren?" Dita meminta dukungan suaminya.


"Eh ... iya." Rendra mengangguk.


"Kalian berdua nih kenapa sih? Memangnya salah kalau aku tanya soal Adelia? Karena kalian tadi bahas soal dia jadi aku penasaran aja."


"Tapi Mas Adi tuh jarang kepo sama urusan orang lain loh. Kenapa kepo Kak Adel? Pasti Mas udah terpesona sama kecantikannya ya?" goda Dita lagi.


"Namanya cewek pasti cantik, Dek. Adek juga cantik kok di mataku." Adi tersenyum genit pada Dita.


Dita mencebik. "Ngeles terus aja kaya bajaj, Mas."


"Tapi mungkin enggak mudah juga Mas kalau mau mendekati Adel. Karena dia pernah dikhianati pastinya jadi lebih hati-hati. Yang penting Mas Adi maju terus pantang mundur." Rendra ikut mengompori Adi.


"Kalian berdua ngomong apa sih?" Adi berusaha mengelak dari godaan pasangan suami istri itu.


"Enggak usah pura-pura, Mas. Kalau Mas Adi takut nanti aku bilang ayah deh biar dilamarin dan dinikahkan sekalian." Dita semakin gencar menggoda kakaknya itu.


"Dek, jangan macam-macam ya. Menikah itu bukan perkara sepele."

__ADS_1


"Mas Adi apa lagi sih yang dipikirin? Masih trauma ditolak lagi?" Dita berubah lebih serius.


"Ditolak?" tanya Rendra tak mengerti.


"Iya, Mas Adi dulu pernah ditolak lamarannya karena belum punya apa-apa. Lulus kuliah, terus kerja, ngelamar anak orang, eh ditolak," jelas Dita.


"Benar, Mas?" tanya Rendra memastikan.


Adi mengangguk. "Aku masih kere waktu itu. Baru beberapa bulan kerja. Masih ngekos. Motor juga masih dibelikan orang tua. Mereka takut aku enggak bisa membahagiakan anak mereka."


"Untung lamaranku kemarin diterima ayah ya," Rendra mengelus dadanya merasa lega.


"Memangnya kenapa Mas?" tanya Dita pada Rendra.


"Kan aku juga masih belum punya apa-apa, apalagi rumah. Tapi ayah mau menerima lamaranku," jawab Rendra.


"Beda kasus, Rend. Kamu sudah punya kafe dan penghasilan tetap. Orang sudah bisa melihat hasil kerjamu. Kalau aku masih belum apa-apa meski gajiku di atas gaji ASN, tetapi orang tuanya tetap tidak bisa menerima lamaranku. Mereka butuh bukti fisik hasil kerjaku." Adi mendesah panjang.


"Berarti aku lebih beruntung ya, Mas. Ayah tidak mempermasalahkan aku punya rumah atau tidak."


"Kalau buat ayah yang penting kamu orangnya bertanggung jawab. Kalaupun kamu belum kerja pasti ayah juga tetap merestui. Buat ayah yang penting kalian tidak melakukan zina."


"Aku harus lebih banyak bersyukur sekarang. Punya mertua yang baiknya masya Allah. Tidak mempermasalahkan soal harta."


"Sekarang Mas Adi kan sudah mapan, punya motor, mobil, rumah hasil kerja sendiri. Aku juga sudah punya suami yang selalu menjagaku. Apalagi yang mau Mas tunggu?"


"Ya jodoh dari Allah dong, Dek. Kalau belum ketemu jodoh mau nikah sama siapa?"


"Nah, itu ada Kak Adel, Mas."


"Enggak segampang itu, Dek. Kalian aja bisa nikah prosesnya panjang kan. Pakai acara berantem di awal. Kabur ke bunda setelah ditembak. Istikharah-nya lama sampai benar-benar merasa mantap."


"Aku cuma ingin kenal Adelia dulu saat ini. Toh, dia juga teman kalian. Enggak salah kan aku juga kenal sama teman kalian. Perkara bagaimana hubungan kami nanti biar waktu dan Allah yang akan menunjukkannya," lanjut Adi.


"Aku setuju sama Mas Adi. Sayang, kan juga sudah berjanji menemani Adel belajar agama lagi. Mungkin dengan begitu, kalian bisa lebih dekat dan Adel pelan-pelan bisa bangkit dari keterpurukannya. Adel itu enggak punya sahabat cewek, semuanya hanya teman bergaul saja. Jadi, Sayang, bisa jadi satu-satunya sahabat Adel. Atau bisa juga sama Bella, kalian bertiga jadi sahabat." Rendra memberi saran pada istrinya.


"Nah, benar tuh apa yang dikatakan Rendra, Dek," dukung Adi.


"Oke, oke. Aku pasti bantu Kak Adel kok. Ya siapa tahu bisa menyelam sambil minum air."


"Kelelep dong, Sayang," seloroh Rendra.


"Mas ih, bercanda terus." Dita melirik Rendra dengan tatapan kesal.


"Aku tuh kasihan sama Mas Adi. Aku takut Mas Adi iri kalau lihat kita lagi mesra-mesraan. Jadi aku ingin Mas Adi cepat punya istri, biar jiwa jomlonya tidak meronta-ronta kalau melihat kita bersama."


"Belagu banget kamu sekarang, Dek. Mentang-mentang punya suami."


"Makanya Mas buruan cari istri gih, terus nikah, punya anak. Jadi nanti anak kami udah ada kakaknya kalau lahir. Mumpung kami masih menunda nih. Masa nanti Mas dipanggil pakde tapi enggak punya pasangan," ejek Dita.


"Kamu tuh ya, Dek. Dikira nikah sama punya anak kaya masak air aja."


Dita mengekek geli. Dia bahagia bisa menggoda kakaknya itu. "Pokoknya ya Mas, aku setuju kalau Mas Adi sama Kak Adel."


"Doakan saja mas cepat bertemu jodoh, entah dengan siapa pun itu."


"Aamiin."


Jogja, 020521 00.10

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya selama ini, kalau ada kritik dan saran bisa lewat komentar, PC atau DM di instagram (@kokoro.no.tomo.82) šŸ™šŸ¤—


__ADS_2