
"Adi kapan ini nikahnya? Apa yang mau dicari lagi kalau bukan istri?" tanya Bude Lastri di acara pertemuan keluarga besar Pak Wijaya.
"Belum ketemu jodohnya, Bude. Mohon doanya," jawab Adi dengan sopan.
"Apa mau bude kenalkan sama anak teman-teman bude? Banyak loh yang cantik-cantik," tawar Bude Lastri.
"Terima kasih tawarannya, Bude. Tapi tidak perlu, sudah ada beberapa kandidat kok, Bude," tolak Adi meski dengan sedikit berbohong.
"Mau cari istri yang seperti apa to? Jangan terlalu pemilih nanti malah susah dapat jodohnya," nasihat Bude Lastri.
"Enggeh (iya), Bude."
"Tuh kan Mas, pasti ditanyain terus kalau ada acara kaya gini," bisik Dita yang ada di samping Adi.
"Paling sebentar lagi Adek juga ditanya," kata Adi pelan sambil mengambil kacang tanah rebus yang ada di depannya.
"Jangan sok tahu, Mas," cibir Dita.
"Eh ... Dita kapan hamil lagi?" Bude Lastri kini beralih pada Dita.
Adi tertawa mengejek Dita, begitu tahu adik semata wayangnya itu jadi sasaran Bude Lastri selanjutnya.
"Belum boleh hamil lagi sama dokter, Bude." Dita menjawab dengan sopan.
"Jangan terlalu didengar kata dokter. Kalau mau hamil ya hamil saja. Banyak yang habis caesar langsung boleh hamil kok. Mumpung masih muda jangan ditunda, nanti malah susah kalau mau hamil lagi."
"Iya, Bude. Mohon doanya biar kami diberi kepercayaan lagi, Bude." Rendra ikut menyahut.
"Wah ini. Dita, kamu harus jaga suamimu yang ngganteng ini biar enggak direbut sama orang lain."
"Enggeh (iya), Bude. Nanti dikunci di rumah aja enggak boleh keluar-keluar, biar enggak dilirik wanita lain," jawab Dita sambil bercanda.
"Ealah ... bocah saiki nek dikandani malah guyon. Bude ki ngandani tenanan loh ojo dianggap guyon. Kae saiki neng tipi akeh berita soal pelakor. Opo meneh bojomu ki ngganteng, kudu sing ati-ati." (Anak sekarang kalau dikasih tahu malah bercanda. Bude ini serius memberi tahu jangan dianggap bercanda. Itu sekarang di TV banyak berita tentang pelakor. Apalagi suamimu ini ganteng, harus hati-hati.)
"Enggeh, Bude."
"Tuh kan, Adek juga kena," ejek Adi setelah Bude Lastri meninggalkan mereka.
"Mas Adi kayanya puas banget deh." Dita menatap Adi dengan raut jengkel.
"Kita impas," kata Adi sambil tertawa kecil.
"Ada apa, Sayang?" tanya Rendra yang tidak tahu apa yang dibicarakan istri dan juga kakak iparnya itu.
"Mas Adi tuh, bahagia banget kita juga jadi sasaran Bude Lastri," terang Dita.
"Oh, soal itu. Jangan terlalu dipikirkan soal tadi ya, Sayang." Rendra mengelus kepala istrinya yang tertutup hijab warna coklat tua, yang serasi dengan gamisnya.
"Siapa juga Mas yang kepikiran. Bude Lastri sudah biasa seperti itu."
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu. Aku khawatir lho sama kamu, Sayang."
"Makasih sudah mengkhawatirkan aku, Mas. Aku baik-baik saja kok." Dita menangkup wajah Rendra dengan kedua tangannya.
Rendra tersenyum, lalu meraih satu tangan Dita dan menciumnya. "I love you, Sayang."
"Love you too, Mas." Dita tersipu malu setelah mengatakannya dengan sangat pelan, tepat di samping telinga Rendra.
"Ehem ... ini di tempat umum, Dek. Jangan mesra-mesraan di sini." Adi berdeham agar sejoli yang duduk di sampingnya segera sadar di mana mereka berada.
Dita menoleh pada Adi dengan tatapan mengejek. "Iri bilang aja, Mas. Makanya cepat cari istri biar enggak panas kalau lihat kita berdua."
"Siapa yang iri, Dek? Aku tuh sebagai kakak hanya mengingatkan kalian di mana kita sekarang sedang berada. Jangan sampai lupa diri kalian."
"Iya, iya. Makasih Mas Adi yang bawel."
...---oOo---...
"Mas," panggil Bu Hasna pada Adi yang baru pulang dari masjid setelah menjalankan salat Asar.
"Iya, Bun. Ada apa?" Adi menghampiri bundanya yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Duduk sini, bunda mau bicara." Bu Hasna menepuk sofa di sampingnya.
"Ya, Bun. Tapi apa boleh aku ganti baju dulu?" tanya Adi.
"Siap, Bun." Adi segera beranjak ke kamarnya untuk berganti baju rumahan. Tak sampai lima menit, dia sekarang sudah duduk di samping bundanya.
"Ada apa, Bun?" tanya Adi dengan kening berkerut. Tak biasanya bunda mengajak dia bicara berdua kalau bukan hal yang cukup serius.
"Apa Mas sekarang sedang dekat dengan seorang wanita?" tanya Bu Hasna memulai percakapan mereka sore itu.
"Adek ngomong apa aja sih, Bun?" Bukannya menjawab, Adi malah balik bertanya.
"Pertanyaan bunda aja belum Mas jawab, kok malah bertanya sama bunda."
"Karena jawaban pertanyaan Bunda, tergantung dari jawaban Bunda," terang Adi.
"Kok bunda jadi bingung ya, Mas." Bu Hasna mengerutkan keningnya.
"Sudah, jangan bingung. Bunda jawab saja dulu pertanyaanku tadi." Adi merangkul bahu wanita yang telah melahirkannya itu.
"Adek cuma bilang, Mas mencari tahu soal Adelia."
"Namanya baru kenal kan wajar, Bun. Itu juga cuma sekali aja setelah kami kenalan. Setelahnya kami ya cuma ngobrol biasa. Tidak pernah membahas hal yang pribadi."
"Jujur sama bunda, apa Mas tertarik sama dia?"
"Pria mana yang tidak tertarik sama Adelia, Bun. Wajah cantik, tubuh proporsional, ramah dan juga baik hati."
__ADS_1
"Jadi Mas hanya tertarik sebatas fisik?"
"Eh ... enggak begitu juga, Bun. Aduh, gimana ya ngomongnya. Mmm ... itu maksudnya tertarik secara umum, Bun. Belum benar-benar sampai ke hati."
"Apa ada yang jadi ganjalan, Mas?"
"Iya sih sebenarnya, Bun." Adi mengusap tengkuknya karena rasa gugup yang tiba-tiba menjalari tubuhnya.
"Apa? Kalau boleh bunda tahu."
"Kalau dengan Adelia berarti harus mau menerima masa lalunya. Sekarang dia sedang proses hijrah, Bun. Adek yang membantunya." Adi menatap lekat sang bunda, ingin tahu bagaimana reaksinya.
Tak disangka Bu Hasna tersenyum, dia lalu menggenggam tangan putranya.
"Bukankah kita semua manusia selalu punya masa lalu, entah itu baik, entah itu buruk? Mas, kita tidak boleh memandang rendah orang lain karena masa lalunya yang buruk. Apalagi kalau orang itu sudah bertobat. Bukankah lebih mulia mantan preman atau pelacur yang bertobat, dari pada mantan ustaz yang akhirnya melakukan maksiat?"
"Iya, Bun."
"Adek bilang kalau Adelia sedang memantaskan diri biar bisa dapat suami saleh. Kalau Mas memang ada hati, kenapa enggak salat Istikharah? Itu bisa jadi ladang amal Mas dengan membimbing dia jadi lebih baik."
"Memangnya Bunda tidak masalah dengan masa lalunya?"
Bu Hasna menggeleng. "Seburuk apa pun masa lalunya, dia sekarang sudah tobat dan berubah kan, Mas. Tidak ada manusia yang sempurna karena kesempurnaan itu hanya milik Allah. Mas, juga bukan orang yang sempurna jadi jangan mencari yang sempurna."
"Suami istri itu bukan dua orang yang sempurna menjadi satu. Tetapi dua orang yang saling melengkapi kekurangan dan kelebihan pasangannya. Mas, bisa lihat sendiri kan Adek dan Nak Rendra, ayah dan juga bunda. Kami bukan orang yang sempurna."
Adi menghela napasnya. "Apa bunda dan ayah ingin aku segera menikah?"
Bu Hasna tersenyum. "Tidak. Tapi kami akan lebih tenang dan bahagia kalau Mas sudah menikah. Jodoh itu kan rahasia Allah. Mau kita berusaha sekeras apa pun, kalau belum berjodoh juga tidak akan bersatu. Sebaliknya juga, mau kita menghindar seperti apa pun, kalau berjodoh pasti akan bersatu. Lihat Adekmu itu Mas. Dia tidak pernah punya niat menikah muda, tetapi ternyata jodohnya datang lebih cepat."
Adi menganggukkan kepala. "Doakan aku segera bertemu jodoh, Bun."
"Pasti itu. Tanpa Mas meminta pun, kami selalu berdoa untuk Mas, Adek dan juga Nak Rendra. Kalian semua anak-anak bunda dan ayah."
"Terima kasih, Bun." Adi memeluk bundanya.
"Sebenarnya, aku sudah salat Istikharah, Bun. Tapi, aku masih belum dapat petunjuk dan kemantapan hati," kata Adi setelah mengurai pelukannya.
Bu Hasna menatap lekat putranya. "Dengan siapa, Mas?"
"Ehmmm ... Adelia," jawab Adi.
...---oOo---...
Jogja, 080521 05.50
Jreng ... jreng ... jreng š¤§š¤§š¤§
Kalau ada masukan, kritik atau saran bisa disampaikan di komentar, PC atau DM di instagram @kokoro.no.tomo.82 š
__ADS_1