
Begitu Pak Wijaya, Adi dan Rendra pulang dari masjid, mereka langsung menuju ke meja makan. Di atas meja makan sudah tersaji aneka masakan yang tadi dimasak oleh Bu Hasna dan Dita. Ada nila bakar, cumi asam manis, ca kangkung, capcai goreng, tahu dan tempe goreng, sambal terasi dan juga kerupuk.
“Ayo makan dulu Nak Rendra, seadanya ya, maklum di kampung.” Ucap Bu Hasna sambil mengambilkan nasi untuk Pak Wijaya dan Adi.
“Terima kasih Bu, jadi malah merepotkan. Ini sudah kelas masakan di rumah makan bukan di kampung lagi.” Puji Rendra tulus.
“Dek, ambilkan nasi untuk Nak Rendra.” Bu Hasna menyodorkan piring pada Dita.
“Biar saya ambil sendiri Bu,” sela Rendra.
“Jangan, biar Dita sekalian belajar melayani suaminya nanti.” Bu Hasna memberi kode mata pada Dita agar segera mengambilkan nasi untuk Rendra.
Dengan sedikit enggan Dita akhirnya mengambilkan Rendra nasi. “Segini cukup?” tanya Dita sembari menunjukkan jumlah nasi yang diambilnya.
“Cukup, terima kasih.” Rendra mengulurkan tangan untuk mengambil piring nasinya.
“Ayo Nak Rendra, tidak usah malu. Nek isin ora wareg mengko (kalau malu nanti tidak kenyang).” Seloroh Pak Wijaya yang membuat suasana menjadi lebih mencair.
“Iya Pak,” Rendra menambahkan cumi asam manis, capcai goreng, tempe goreng dan juga sambal terasi ke atas piringnya.
“Enggak mau nyicip nila bakarnya Rend?” Tanya Adi.
“Ini piringnya sudah penuh Mas, nanti malah mubazir kalau tidak habis.” Jawab Rendra.
“Gimana Nak Rendra rasanya?” Tanya Bu Hasna penasaran setelah Rendra memakan cumi asam manis.
“Alhamdulillah enak Bu,” jawab Rendra malu-malu.
“Itu yang masak Dita loh,” terang Bu Hasna.
Rendra melebarkan matanya, ada rasa tak percaya tapi juga ada rasa bangga, ternyata bakal calon istrinya itu bisa memasak makanan kesukaannya dengan sangat baik.
“Enak kok,” ucapnya sambil mengerling pada Dita.
“Ehem ....” Adi berdeham membuat Rendra segera mengalihkan pandangannya pada Dita.
“Makanya segera menikah biar bisa puas memandangi yang sudah halal, kalau belum menikah nanti jatuhnya zina mata lho.” Goda Adi sambil melirik Dita. (1)
__ADS_1
“Uhuk ... uhuk ...,” Dita terbatuk-batuk.
“Pelan-pelan Dek makannya,” Bu Hasna menyerahkan gelas lalu mengelus punggung Dita.
Mereka melanjutkan makan bersama sambil berbincang ringan dan bercanda penuh keakraban.
Setelah makan, Adi dan Rendra kembali ke ruang tamu, sementara Pak Wijaya masuk ke dalam kamar. Dita dan bundanya merapikan meja makan. Dita lalu membawa alat makan yang kotor ke dalam wastafel dan langsung mencucinya.
Di sisi lain, Bu Hasna sedang membuat es timun serut sebagai pencuci mulut. Pertama-tama timun dikupas, dibuang isinya, dicuci lalu diserut kecil dengan parutan keju. Timun yang sudah diserut dimasukkan dalam satu wadah dengan biji selasih, larutan gula pasir, air, daun mint, air jeruk lemon dan es batu lalu diaduk rata. Setelah dicicip sudah pas rasanya lalu dimasukkan ke dalam gelas-gelas.
“Dek, ini es timun dibawa ke depan sama puding buahnya. Terus Adek juga bicara sama Nak Rendra sekalian ya.” Perintah Bu Hasna sembari menyiapkan 3 gelas es timun serut dan potongan puding buah di piring kecil yang diletakkan di atas nampan.
“Iya Bun,” Dita lalu membawa nampan itu ke ruang tamu.
"Nah ini dia yang ditunggu akhirnya datang juga," kata Adi begitu Dita masuk ke ruang tamu.
Dita meletakkan gelas dan piring kecil di atas meja, setelah itu dia duduk di samping Adi.
"Jadi siapa yang mau bicara dulu?" Tanya Adi sambil melihat Rendra dan Dita bergantian.
"Saya dulu saja Mas," jawab Rendra setelah beberapa saat Dita masih diam.
"Saya ingin melanjutkan Mas, saya sudah sejauh ini jadi saya tidak mungkin mundur. Meskipun saya belum tahu bagaimana tanggapan mama atau pun kakak saya."
"Jadi kamu mau menikah?" Tanya Adi memastikan.
Rendra mengangguk. "Iya Mas, semoga saja Dita juga mau."
"Adek gimana?" Adi menoleh pada Dita.
"Aku bingung, ini pilihan yang sulit. Menikah itu ibadah, tetapi aku juga masih kuliah. Aku tidak tahu apa bisa menjalani kuliah setelah menikah." Dita mengutarakan isi hatinya.
"Kenapa enggak bisa?" Tanya Adi.
"Kalau menikah kan berarti sudah ada tanggung jawab mengurus suami, dan mungkin nanti anak. Sementara Mas tahu sendiri seperti apa tugas kuliahku." Jawab Dita.
"Itu nanti bisa kita kompromikan lagi, anggap saja kita masih berpacaran tapi pacaran yang halal. Kalau tinggal terpisah pun aku tidak masalah sampai kamu benar-benar siap. Yang penting kita sudah sah dan aku tetap sama kamu." Ujar Rendra.
__ADS_1
"Nah ini Rendra sudah memberi solusi. Gimana pernikahan kalian nanti itu bisa dibicarakan lagi. Intinya kan kalian tinggal pilih mau melanjutkan untuk menikah atau tidak berhubungan sama sekali. Hanya itu pilihan yang ayah berikan."
"Apa harus dijawab sekarang? Boleh aku minta waktu untuk berpikir lagi seperti kemarin?" Dita melihat Adi dan Rendra bergantian.
"Oke, kalau Adek maunya seperti itu, Rendra bagaimana?"
"Saya ikut Dita saja, Mas. Memang sebaiknya kami harus istikharah dan tahajud lagi memohon petunjuk agar lebih dimantapkan dan bisa membuat keputusan terbaik."
"Terus kira-kira berapa lama waktu untuk berpikir Dek?"
"Sampai aku merasa yakin dan bisa mengambil keputusan, waktunya tidak bisa ditentukan." Jelas Dita
"Kemarin saja dua minggu ya Dek, kalau yang ini mungkin bisa lebih lama lagi. Sabar ya Rend nunggu keputusan Dita. Suka kelamaan mikir ini anak." Adi menepuk bahu Rendra memberi dukungan.
Rendra mengangguk sambil tersenyum. "Dari awal saya juga sudah bilang akan sabar menunggu, Mas."
"Nih Dek, untung saja Rendra sabar orangnya, mau menunggu dan mau dengar pendapatmu, coba kalau dia ambil keputusan tanpa diskusi sama kamu. Bisa langsung menikah hari ini kamu, Dek."
"Apaan sih Mas," Dita mulai kesal dengan Adi yang selalu menggodanya.
"Kamu nanti harus punya stok sabar banyak Rend, ini anak gampang ambekan."
"Iya Mas," Rendra tersenyum sambil menatap Dita.
"Eitssss ... enggak boleh tatap-tatapan lama ya, belum halal." Goda Adi.
"Mas Adi nyebelin banget sih." Dita mengerucutkan bibirnya.
"Uluh ... uluh ... enggak malu tuh merajuk gitu di depan Rendra." Goda Adi lagi yang memuat Dita mencubit lengan Adi.
"Ouchhh, sakit Dek." Adi mengelus-elus lengannya yang baru dicubit Dita.
Sementara Rendra menikmati drama kedua kakak beradik itu.
...※※※※※...
Catatan :
__ADS_1
(1) “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kema luanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)
Sumber https://rumaysho.com/165-cinta-bukanlah-disalurkan-lewat-pacaran.html