Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
117


__ADS_3

"Kak Bara memang baik ya." Dita memuji Bara sambil melirik Rendra, takut kalau suaminya cemburu pada sahabatnya sendiri.


"Iya, Sayang. Dan setia kawan. Dia rela berkorban demi teman dan orang yang dia sayang. Dia juga bukan orang yang pendendam. Apa kamu tahu dia sudah banyak berkorban untuk kita?" tanya Rendra pada istrinya.


Dita mengernyit tak mengerti. "Memangnya apa, Mas?"


"Dia sudah mengorbankan perasaannya saat aku bilang aku punya perasaan padamu."


"Serius, Mas?"


Rendra mengangguk. "Padahal waktu itu dia sedang mendekati kamu. Dia sempat marah, kecewa, tapi akhirnya malah mendukungku untuk mendekatimu. Waktu itu aku sudah pasrah kalau dia mau menghajarku, tapi ternyata tidak."


Dita terkejut dengan penjelasan Rendra. Selama ini dia tidak tahu soal itu karena suaminya tidak pernah cerita.


"Oh, jadi begitu ceritanya. Tapi Kak Bara sepertinya terlihat santai saja."


"Itulah dia, pandai menutupi perasaannya. Di luar terlihat ceria, tapi dalam hati pasti sakit sekali."


"Ternyata banyak rahasia ya Ren, antara kamu sama Bara. Dia sama sekali enggak pernah cerita soal ini." Adelia ikut menanggapi.


"Tapi memang benar, Bara itu baik, sangat baik. Saat aku terpuruk kemarin dia selalu setia mendengar dan menemaniku. Bahkan saat aku mengeluh apa ada pria yang akan menerimaku jadi istrinya, dia malah bilang akan menikahiku kalau ternyata tidak ada pria yang mau menerimaku apa adanya."


"Serius, Kak Adel?"


"Iya. Tapi aku bilang dia tidak boleh mengorbankan dirinya demi aku. Eh, malah dia menjawab, siapa yang mau berkorban. Kalau pada akhirnya kami menikah berarti kami memang berjodoh. Dan dia janji tidak akan menikah sampai aku menikah, katanya."


"Ehem ... maaf aku ke belakang dulu mau siap-siap ke masjid, sebentar lagi azan Zuhur." Adi menyela percakapan mereka dengan alasan mau ke masjid. Padahal dia tidak tahan mendengar pujian yang dilayangkan pada Bara, terutama oleh Adelia. Perasaannya sangat tidak nyaman sekali. Mungkin dengan mengambil wudu pastinya akan mendinginkan hatinya.


Rendra melihat jadwal waktu salat di gawainya, memang benar 10 menit lagi azan Zuhur akan berkumandang. Dia pun ikut pamit untuk bersiap pergi ke masjid. Tinggallah Dita dan Adelia berdua di ruang tamu.


"Kak Adel salat atau sedang berhalangan?" tanya Dita ketika mereka hanya berdua.


"Salat, kamu?"


"Aku lagi berhalangan, Kak. Nanti Kak Adel salat, aku nyiapin makan siang."


"Kenapa enggak tunggu aku? Aku kan ingin belajar masak."


"Sebagian udah aku masak tadi pagi, Kak. Habis dari pasar langsung masak. Nanti tinggal masak sebentar aja, Kak."


"Ya udah, enggak apa-apa. Tapi, jangan tinggalin aku masak ya."


Dita mengangguk. "Siap, Kak. Nanti aku siapin dulu sambil nunggu Kakak salat. Jadi selesai Kak Adel salat, kita langsung eksekusi."


Adelia mengacungkan dua jempolnya.


"Adek, Adel, kami ke masjid dulu ya. Assalamu'alaikum," pamit Adi yang diikuti Rendra di belakangnya.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."


Dita menutup pintu ruang tamu. "Ayo, Kak, kita ke belakang."


Adelia bangkit dari duduknya. Dia langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum mengambil wudu. Sedangkan Dita langsung ke dapur.


Setelah semuanya siap dan duduk di ruang makan, mereka makan siang bersama. Hari ini Dita memasak mangut nila dan tumis kangkung. Aroma mangut nila yang dimasak dengan daun kemangi sungguh menggugah selera.


"Enak ya ternyata mangut nila, segar rasanya," komentar Adelia.


"Kamu belum pernah makan?" tanya Adi pada Adelia.


"Belum, Mas. Aku tahunya mangut lele aja," jawab Adelia.

__ADS_1


"Adel sih tahu makanan hanya yang di kantin kampus sama restoran aja, Mas," ledek Rendra.


"Kamu tuh kalau ngomong kok suka benar sih, Ren." Adelia menanggapi ejekan Rendra, membuat mereka semua tertawa.


"Mas, nanti kita nonton Kak Bara manggung ya," mohon Dita pada suaminya.


Rendra mengangkat sebelah alisnya. "Memang di mana dia manggung, Del?"


"Aku enggak nanya, Ren. Tapi kayanya di satu acara festival musik gitu sih. Kamu tanya sendiri aja sama dia."


"Kak Adel, ikut kan?"


"Kalau ada temannya sih aku mau aja."


"Asyik. Mas Adi ikut juga ya, biar rame. Mas Adi kan udah lama enggak jalan."


"Oke." Adi menuruti adiknya.


"Kak Adel nanti pulang dulu aja. Kita jemput Kak Adel ke rumah. Ya kan, Mas Ren?"


"Iya. Apa sing yang enggak buat kamu, Sayang." Rendra melirik mesra istrinya.


"Kamu harus siapkan mental kalau di depan mereka, Del. Suka enggak tahu tempat mereka berdua tuh," kata Adi pada Adelia.


"Awas ya besok kalau Mas Adi udah nikah mesra-mesraan di depan kita," ancam Dita dengan nada bercanda.


Adelia tersenyum melihat interaksi Adi dan Dita. Terlihat mereka sama-sama saling menyayangi meski saling meledek.


...---oOo---...


"Bro, apa kabar?" sapa Bara ceria saat Rendra dan rombongan mendatangi ruangan band-nya di belakang panggung.


"Assalamu'alaikum. Alhamdulillah kabar gue baik. Lo sendiri gimana?" Rendra dan Bara melakukan salam khas mereka.


"Dita pengen lihat Lo manggung. Terus semua diajak sama dia," terang Rendra.


"Wah, kehormatan ini Dita yang mau nonton. Mimpi apa gue semalam," canda Bara.


"Dita, Mas Adi, apa kabar? Lama enggak ketemu." Bara menyapa Dita dan Adi.


"Alhamdulillah, kabar kami baik, Kak. Maaf ya Kak, bawa rombongan. Habis aku kasihan kalau Mas Adi di rumah sendiri."


"Aku malah seneng tahu banyak yang nonton. Aku jadi tambah semangat." Bara terlihat antusias sekali.


"Eh, ini siapa? Adel bukan sih?" Bara memicingkan matanya memandang Adelia dengan intens.


"Iya. Aku Adelia. Masa kamu enggak kenal sih, Bar." Adelia terlihat cemberut.


"Sori, Del. Habis kamu beda banget sih." Bara refleks merangkul Adelia seperti biasanya.


Adelia merasa tidak nyaman, apalagi Adi memandangnya dengan tatapan yang tidak bisa dia artikan.


"Bro, jaga sikap, Lo. Adel udah berhijab sekarang. Jangan sembarangan menyentuhnya seperti biasa," tegur Rendra.


"Upsss, sori, Del. Gue refleks aja." Bara langsung melepas rangkulannya.


"Iya, enggak apa-apa. Jangan diulangi lagi. Aku udah niat untuk hijrah, Bar," ujar Adelia.


"Gue benar-benar minta maaf ya, Del. Gue ikut bahagia. Semoga doamu minta suami yang saleh segera dikabulkan Allah," doa Bara tulus.


"Aamiin. Makasih, Bar."

__ADS_1


Bara dipanggil teman sesama band-nya. Ternyata sebentar lagi waktu mereka untuk naik ke atas panggung. Setelah itu Bara pamit pada Rendra dan rombongan. Dia janji akan menemui mereka setelah manggung nanti.


Rendra, Dita, Adi dan Adelia beranjak ke depan panggung. Mereka mencari area yang tidak terlalu padat dan berdesakan. Agak jauh dari panggung, tetapi masih bisa melihat dan mendengar dengar jelas.


Rendra selalu menggandeng tangan dan terkadang merangkul Dita bila melewati kerumunan orang. Adelia mengikuti langkah Dita, sedangkan Adi menjaganya dari belakang. Dia menjaga Adelia meski mereka tidak berpegangan tangan. Layaknya seorang bodyguard yang menjaga kliennya.


Dita begitu menikmati setiap lagu yang dinyanyikan oleh Bara. Terkadang Dita pun ikut menyanyikan liriknya. Meski merasa sedikit cemburu, tapi dia bahagia melihat istrinya sangat gembira. Posisi Dita yang berdiri di depannya, membuatnya bisa melingkarkan tangan di pinggang istrinya. Menjaga Dita agar tidak diganggu orang lain.


Adelia berdiri di sisi Rendra dan Dita, sedangkan Adi berdiri di sisi lainnya. Adelia pun terlihat bahagia. Mungkin hanya Adi yang tidak begitu menikmati pertunjukan musik di sana. Karena hatinya merasa resah sejak tadi.


"Adel," panggil Adi sambil mendekat ke telinga Adelia.


"Iya, Mas. Ada apa?" tanya Adelia yang juga mendekat ke Adi.


"Kamu suka sama Bara?" tanya Adi.


Adelia mengernyit. Dari mana Adi dapat pemikiran seperti itu, pikirnya.


"Maksud Mas Adi apa?"


"Kamu suka dia lebih dari teman?" jelas Adi.


"Oh, enggak." Adelia menggeleng. "Aku hanya menganggapnya sebagai sahabat."


"Kalau aku mau menerima kamu apa adanya, bagaimana?" tanya Adi dengan mimik serius.


Adelia terkejut. Dia tidak yakin dengan apa yang didengarnya karena suara musik yang begitu keras.


"Aku enggak begitu dengar, Mas," teriak Adelia beralasan.


"Aku mau taaruf sama kamu dan keluargamu," teriak Adi.


...---oOo---...


Jogja 130521 00.25


Assalamu'alaikum


Halo apa kabar semua. Tak terasa bulan Ramadan sudah berlalu, tiba saatnya kita meraih hari kemenangan. Dengan segala kerendahan hati, izinkan saya mengucapkan,


...Selamat Hari Raya Idul Fitri...


...1 Syawal 1442 H...


...Taqabbalallahu minna waminkum...


...wa ahalahullahu β€˜alaik...


..."Semoga Allah menerima (amalan) dari kami dan darimu sekalian dan semoga Allah menyempurnakannya atasmu"Β ...


...Mohon maaf lahir dan batin atas segala salah dan khilaf baik yang disengaja atau tidak disengaja. Semoga kita dapat bertemu dengan Ramadan lagi di tahun depan. Aamiin...


Terima kasih untuk teman-teman yang masih setia mengikuti cerita receh ini. Bersedia meluangkan waktu untuk membaca, memberi like dan juga berkomentar. Terima kasih yang sudah ikhlas memberi hadiah atau pun vote. Hanya Allah yang bisa membalas kebaikan teman-teman semua. πŸ™


Untuk yang mudik, selamat mudik. Jangan lupa tetap jaga protokol kesehatan. Untuk yang tidak mudik, semoga masih bisa bersilaturahim dengan video call atau telepon.


Tetap jaga kesehatan ya, teman-teman. Jaga hati dan pikiran tetap bahagia agar imun tetap bagus.


Selamat menikmati nastar dan teman-temannya. Tak lupa opor dengan ketupat atau lontong dan juga sambal gorengnya 😁. Selamat menikmati kebersamaan dengan keluarga tercinta πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Wassalamu'alaikum

__ADS_1


Kokoro No Tomo (Ayaka Kirei)


__ADS_2