Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
31


__ADS_3

Begitu Dita masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu, dia menyandarkan punggungnya di balik pintu sambil memegang dada. Sungguh saat ini jantungnya berdetak sangat kencang. Perlakuan terakhir Rendra membuat debaran jantungnya menjadi tidak normal.


Dita menarik napas panjang berkali-kali agar jantungnya kembali berdetak normal. Ada apa dengan jantungnya? “Sepertinya aku harus menjauh dari dia, ini enggak bagus buat jantungku.”


Setelah Dita merasa lebih tenang dia berjalan mencari sakelar lalu menyalakan lampu ruang tamu dan ruang tengah. Kemudian dia melangkah ke ruang makan yang menyatu dengan dapur untuk menyalakan lampu dan juga mengambil minum. Dia meneguk langsung segelas penuh air putih setelah mengambil gelas dan mengisinya dengan air dari galon.


“Alhamdulillah,” ucapnya. Diletakkannya gelas itu di atas meja makan lalu dia masuk ke kamarnya. Dengan langkah lunglai dia menuju meja belajar dan menaruh ransel di atasnya. Dia sempat melirik ke meja kerjanya, masih ada tugas yang belum dia selesaikan dan harus dikumpulkan besok. Alamat dia harus lembur malam ini. Dia memutuskan untuk mandi dulu agar badannya lebih segar dan bisa mengerjakan tugasnya dengan lancar.


Sementara itu di luar saat Rendra menuntun motor di depan rumahnya, ada sorot lampu mobil yang mengarah padanya. Rendra yang silau menghalaunya dengan tangan, tak lama mobil itu mematikan lampu depan dan mesin lalu berhenti sampingnya.


“Kenapa Rend motornya kok dituntun?” Tanya Adi dari dalam mobil setelah menurunkan kaca jendelanya.


Rendra melepas helm full face-nya sebelum menjawab. “Enggak apa-apa Mas. Tanggung aja kalau mau nyalain lagi cuma dekat.”


“Baru pulang tadi sama Dita?” Tanya Adi lagi.


“He ... iya mas, maaf terlalu malam. Tadi keasyikan ngobrol.” Terang Rendra.


Adi melihat jam di pergelangan tangannya. “Masih jam 8, masih bisa ditoleransi. Makasih ya Rend sudah ngerepotin kamu lagi, kapan-kapan kita makan bareng lagi buat ganti yang tadi."


"Enggak repot kok Mas, kebetulan tadi enggak sengaja ketemu Dita pas mau pulang, ya sekalian saja bareng daripada harus naik ojol."


"Ya sudah aku balik dulu."


"Eh ... Mas ... maaf sebelumnya ... apa kita ... bisa bicara?" Tanya Rendra gugup.


"Bisa, kapan? Tapi jangan di jalan kaya gini."


"Ya ... kapan Mas Adi ada waktu?"


"Penting enggak?"


"Dibilang penting ya enggak terlalu penting, dibilang enggak penting ya penting, Mas." Rendra mengusap belakang lehernya untuk mengurangi gugupnya.


"Apa nanti 30 menit lagi kamu ke rumah? Kayanya kok enggak boleh ditunda ini." Adi mengerling menggoda Rendra.


"Mas Adi enggak capek?"


"Cuma ngobrol kan?"


"I ... iya, Mas."


"Enggak lah kalau cuma ngobrol, asal jangan terlalu malam aja selesainya." Seloroh Adi.


Rendra ikut tertawa kecil. "Kalau begitu 30 menit lagi aku ke rumah ya, Mas."


"Oke. Aku masukkin mobil sama mandi dulu."


"Siap, Mas."


Adi menyalakan kembali mesin mobilnya lalu melajukan pelan menuju garasi. Dia turun dari mobil untuk membuka garasi setelah itu memasukkan mobil dan mengunci kembali garasi. Dia masuk ke dalam rumah lewat pintu masuk dari garasi.


"Assalamu'alaikum." Salamnya saat masuk rumah, tapi tidak ada jawaban. Dia lalu menuju kamar Dita dan mengetuk pintunya.


"Dek." Panggilnya sambil mengetuk pintu kamar Dita. Tidak ada jawaban dari dalam, lalu dia membuka pintu kamar Dita tetapi adiknya tidak tampak di sana. Terdengar gemericik air dari kamar mandi. "Oh baru mandi."

__ADS_1


Dia lalu keluar dari kamar Dita dan menutup pintunya. Kemudian dia melangkahkan kaki ke kamarnya untuk membersihkan diri sebelum nanti ketemu Rendra.


Dua puluh menit kemudian Adi keluar dari kamar menggunakan oblong putih dan celana pendek hitam di bawah lutut. Rencananya dia mau mengecek ke kamar Dita lagi, tetapi dia melihat Dita sedang salat di ruang salat. Akhirnya Adi ke dapur untuk memasak air, menyiapkan air panas untuk membuat kopi.


Sambil menunggu air mendidih, dia duduk di ruang makan dan membuka gawainya, mengecek email dan pesan yang masuk. Tak lama kemudian terdengar bel dari pintu depan, dia bergegas berdiri lalu berjalan ke ruang tamu untuk membuka pintu.


"Assalamu'alaikum, Mas," sapa Rendra begitu Adi membuka pintu.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, masuk Ren." Balas Adi. "Aku pakai kaos dan celana pendek enggak apa-apa ya."


"Iya, Mas, enggak apa-apa. Santai, Mas." Rendra yang memakai kaos putih berkerah dan celana jin panjang masuk ke ruang tamu.


"Duduk dulu Ren, sebentar ya aku bikinkan minum."


"Enggak usah repot-repot Mas, nanti malah kemalaman kalau pakai suguhan."


"Cuma minum aja kok, kopi mau ya tapi adanya yang instan."


"Iya enggak apa-apa Mas, air putih juga enggak masalah."


"Oke, tunggu sebentar ya." Adi lalu masuk ke dalam menuju dapur.


"Siapa Mas yang bertamu jam segini?" Tanya Dita yang baru keluar dari ruang salat. Dia menghampiri Adi lalu mencium punggung tangan dan pipi Adi yang dibalas Adi dengan mencium kening Dita.


"Rendra." Jawab Adi pendek.


"Mau ngapain malam-malam ke sini?" Dita mengernyit heran.


"Mau tahu apa mau tahu banget, Dek?" Goda Adi.


"Gitu aja ngambek, Dek. Mau ikut ngobrol apa?"


"Enggak, mau ngerjain tugas besok harus dikumpul. Eh ... Mas mau bikin kopi ya, aku minta dibikinkan sekalian ya, Mas." Rayu Dita sambil memasang wajah imut.


"Adek aja ya bikin 3 sekalian, nanti yang 2 diantar ke depan oke." Perintah Adi yang tanpa menunggu jawaban Dita, langsung melenggang kembali ke ruang tamu.


Meski kesal Dita tetap melaksanakan perintah Adi. Begitu air mendidih dia mematikan kompor. Dia menyiapkan 3 cangkir dan memasukkan kopi instan dengan rasa gula aren ke masing-masing cangkir. Lalu menuangkan air panas ke dalam cangkir. Dia tunggu beberapa saat sampai gelembung udaranya hilang baru dia aduk kopinya.


Diambilnya nampan, dia meletakkan 2 cangkir kopi di atasnya lalu membawanya ke ruang tamu. Dita meletakkan cangkir kopi di atas meja ruang tamu di depan Adi dan Rendra, lalu dia pamit ke belakang tanpa berani menatap wajah Rendra karena jantungnya sekarang berdegup kencang. Dia buru-buru ke dapur meletakkan nampan dan mengambil kopinya untuk dibawa ke kamar sebagai teman mengerjakan tugasnya.


Sementara di ruang tamu Adi mempersilakan Rendra untuk meminum kopinya. "Minum dulu Rend, maaf adanya itu."


Rendra mengangguk lalu menyesap sedikit kopinya yang masih terasa panas.


"Maaf ya sikap Dita tadi, dia mungkin ingin segera menyelesaikan tugas yang harus dikumpul besok."


"Iya, enggak apa-apa, Mas."


"Oh ya ... apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Adi tanpa basa basi.


Rendra mulai gugup, dia mengaitkan kedua tangannya di depan perut. "Begini Mas, sebenarnya akhir-akhir ini saya itu selalu memikirkan Dita terus. Saya merasa tertarik dengan Dita dan ingin lebih dekat dengannya. Apa Mas Adi mengizinkan saya untuk lebih dekat dengan Dita?"


Adi cukup terkejut dengan keberanian Rendra yang meminta izin padanya untuk mendekati Dita. Meski dia tahu Rendra tertarik pada Dita tetapi dia tidak menyangka Rendra akan melakukan hal ini.


Adi mengambil cangkir kopinya, menyesap sebentar lalu meletakkan kembali ke atas meja sambil melihat Rendra yang terlihat gelisah.

__ADS_1


"Kok jadi formal ngomongnya, enggak usah tegang, santai aja, Rend." Adi menyunggingkan senyum sementara Rendra berusaha tetap tersenyum meski kaku.


"Pada dasarnya aku setuju saja kamu sama Dita. Tetapi semua keputusan kembali pada Dita dan juga ayah. Kalau Dita mau dan ayah mengizinkan, go ahead. Aku mungkin cuma bisa bantu meyakinkan saja. Tetap keputusan akhir di tangan mereka, terutama ayah."


"Bagaimanapun Dita masih menjadi tanggung jawab ayah dan bunda, aku masih belum sebagai penentu keputusan akhir. Yang jelas kamu harus tahu dulu gimana perasaan Dita sama kamu, berbalas atau enggak. Kalau berbalas baru kamu maju ke ayah, gimana nanti ya kamu harus siap dengan segala kemungkinan."


Rendra menghela napas lega begitu mendengar jawaban Adi, satu beban sudah terlepas tinggal nanti melanjutkan usahanya untuk mendapatkan hati Dita dan restu ayahnya.


"Terima kasih Mas atas dukungannya." Ucap Rendra sembari tersenyum lebar, sudah tidak tampak kegelisahan yang tadi menghiasi wajahnya.


"Kamu benar-benar serius sama Dita?" Tanya Adi memastikan.


"Iya, Mas. Saya sudah memastikan perasaan saya dengan salat Istikharah. Insya Allah saya ingin terus bersamanya. Meski rencana untuk menikah masih lama." Jawab Rendra.


"Jadi rencana mau nikah umur berapa?"


"Paling tidak sampai saya selesai kuliah."


"Mmhhh ... sekitar 2 tahun lagi ya."


"Insya Allah, Mas."


"Memangnya begitu kamu selesai kuliah, kamu sudah pasti langsung bekerja? Mau dikasih makan apa adikku kalau kamu belum kerja?"


"Alhamdulillah sejak saya SMA sudah punya penghasilan sendiri sebagai freelancer desain grafis, hasilnya lumayan bisa untuk kebutuhan saya pribadi dan tabungan. Selain itu saya juga sedang mengembangkan kafe yang saya buka begitu lulus SMA. Jadi insya Allah meski lulus kuliah saya belum bekerja di kantor, saya sudah punya penghasilan dari usaha saya, Mas."


Adi menganggukkan kepala, dalam hatinya dia memuji Rendra yang sudah berani berwirausaha meski dengan usia yang masih muda. "Kafemu di mana?"


Rendra menyebutkan alamat kafenya.


"Kapan-kapan boleh ya aku main ke sana?"


"Monggo, silakan Mas. Kapan saja Mas ada waktu saya tunggu di sana."


"Jadi misal sekarang pun kamu menikah kamu sudah bisa ya menafkahi istrimu."


"Insya Allah Mas, untuk nafkah sudah ada, tetapi saya belum ada rumah." Rendra mengusap kembali tengkuknya.


"Kamu merokok? Minum?" Selidik Adi.


"Saya pernah mencoba rokok sekali saat SMP karena penasaran dan diajak teman, sejak itu saya tidak pernah merokok lagi sampai sekarang. Kalau minuman keras, alhamdulillah saya belum pernah sekali pun mencobanya, Mas."


"Salat lima waktu? Bisa baca Al-Qur'an?


"Insya Allah tidak pernah tertinggal salat lima waktu, insya Allah juga membaca Al-Qur'an setiap habis Subuh atau setelah Tahajud."


"Secara general kamu masuk kualifikasi calon suami untuk Dita. Tetapi seperti yang aku katakan tadi semua kembali pada Dita dan terutama ayah."


Rendra menganggukan kepala tanda mengerti.


"Yang jelas jangan sampai kamu menyakiti Dita, terutama secara fisik. Aku enggak akan segan-segan untuk menghajarmu kalau kamu sampai melakukannya."


"Iya Mas, saya mengerti." Rendra menundukkan kepalanya.


"Sekarang coba ceritakan tentang kamu dari kecil sampai sekarang, tapi diminum dulu kopinya biar tidak terlanjur dingin nanti tidak enak."

__ADS_1


Rendra menganggukkan kepala lalu meminum kopinya lagi dan mulai menceritakan tentang dirinya dengan suasana yang lebih santai, tidak setegang tadi.


__ADS_2