Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
59


__ADS_3

Siang itu Dita dan Bella sedang makan siang berdua di kantin sambil menunggu jam kuliah berikutnya.


“Ta, kemarin pas kamu ulang tahun dikasih hadiah apa sama Kak Rendra?” Tanya Bella ingin tahu.


“Mau tahu apa mau tahu banget?” Goda Dita.


“Dita ih, nyebelin. Aku kan penasaran.” Bella mulai kesal.


Dita tertawa karena berhasil menggoda Bella.


“Mas Rendra ngasih aku hijab, Bel. Kayanya dia ingin aku pakai hijab. Selalu muji aku lebih cantik kalau pakai hijab.” Curhat Dita setelah menghentikan tawanya.


“Ya pakai aja, Ta.” Saran Bella.


“Tapi aku masih belum siap, Bel.” Dita mendesah pelan.


“Kak Rendra memang pernah bilang ingin kamu pakai hijab?”


Dita menggeleng pelan. “Dia cuma bilang senang kalau aku pakai hijab. Kalau pergi bareng kadang aku disuruh pakai, tapi dia juga enggak maksa aku buat pakai setiap hari.”


“Kode itu Ta biar kamu pakai, tapi dengan cara halus.”


Dita mengangkat bahunya. “Mungkin juga.”


"Berarti Kak Rendra itu suami yang baik Ta, ingin mengajakmu dalam kebaikan."


"Iya," Dita menganggukan kepala.


"Kamu harusnya bersyukur Kak Rendra ingin kamu pakai hijab. Banyak loh di luar sana yang justru malah bangga istrinya berpakaian seksi dan terbuka. Tetapi Kak Rendra sebaliknya ingin kamu lebih tertutup untuk menjagamu."


"Iya, aku ngerti Bel. Aku juga ingin belajar pakai hijab, tapi pelan-pelan. Aku ingin pakai karena memang aku ingin bukan karena terpaksa."


"Hak kamu sih Ta mau pakai apa enggak. Keputusan ada di tanganmu. Aku sebagai sahabat hanya bisa mendukungmu."


"Makasih, Bel. Kamu memang sahabatku yang terbaik." Dita tersenyum tulus pada Bella.


“Iya Ta, di mana lagi kamu bakal nemuin sahabat sebaik aku." Canda Bella, lalu mereka berdua tertawa.


"Eh Ta, Kak Rendra kalau lagi berdua sama kamu gimana?” Bella mulai kepo lagi.


“Ya biasa ngobrol.”


“Masa cuma ngobrol aja, enggak ngapa-ngapain gitu.” Bella memicingkan matanya curiga.


“Emang mau ngapain?” Dita mengernyit heran.


“Ya kan kalian sudah suami istri, halal kan buat mesra-mesraan. Apalagi kalian sudah tidur berdua.” Bella menaik turunkan alisnya sambil tersenyum menggoda.


“Apaan sih Bel, enggak jelas banget.” Seketika wajah Dita langsung memerah.


"Pasti sudah asyik-asyik ya, wajahmu merah banget tuh."


"Mau tahu banget sih, Bel. Itu rahasia ya, enggak boleh diceritakan sama siapa pun."


"Enggak asyik kamu, Ta." Bella mengerucutkan bibirnya.


"Kan aku ingin tahu bagaimana sikap Kak Rendra sama kamu. Biasanya Kak Rendra dingin dan cuek, apa kalau sama kamu jadi manis sikapnya?"


"Suamiku memang manis dan ganteng, Bel." Canda Dita.


"Nyebelin ah, Dita." Bella melirik kesal pada Dita.


"Mas Rendra jadi sosok berbeda pokoknya. Dia suami yang baik dan mau ngertiin aku banget." Ucap Dita sambil menerawang membayangkan perlakuan manis Rendra padanya.


"Kamu udah jadi bucinnya Kak Rendra ya sekarang."


"Hahaha ... enggak lah biasa aja."


"Dulu aja kalian bertengkar terus kalau ketemu, eh sekarang jadi asyik-asyik berdua di ranjang." Sindir Bella.

__ADS_1


"Apaan tuh asyik-asyik. Jangan suka asal kalau ngomong, Bel."


"Masa kamu enggak tahu asyik-asyik sih. Itu yang hanya boleh dilakukan suami istri."


"Enggak ada kaya gitu."


"Jadi kamu masih tersegel, Ta?" Tanya Bella tak percaya.


Dita menganggukkan kepalanya.


"Gila ya Kak Rendra, bisa nahan meski kalian sudah tidur berdua."


"Eh ... suamiku enggak gila ya." Protes Dita tidak terima.


"Wah yang punya enggak terima. Maaf ya, Nyonya Rendra. Maksud aku, Kak Rendra hebat gitu bisa menahan diri." Terang Bella.


"Udah jangan bahas itu lagi." Dita mulai tidak nyaman membicarakan masalah keintimannya dengan Rendra.


Saat mereka berdua sedang asyik makan dan ngobrol, tiba-tiba datang dua orang wanita yang tidak mereka kenal.


"Eh ... lo yang namanya Dita?" Tanya salah satu dari mereka dengan nada ketus pada Dita.


"Iya, saya Dita." Jawab Dita datar.


"Lo anak baru jangan belagu ya."


"Ada apa ini Kak? Saya tidak kenal Kakak dan saya merasa tidak pernah membuat masalah dengan siapapun apalagi Kakak."


"Lo tuh emang polos atau pura-pura bego?"


Dita mengernyit heran. "Saya benar-benar enggak tahu apa yang Kakak bicarakan."


"Eh ... gue kasih tahu lo ya. Lo jangan sok kecakepan deketin para senior."


"Hah??? Siapa memang yang saya dekati?"


Dita terkejut saat mendengar ucapan wanita tadi. Rupanya mereka adalah penggemar Bara dan juga Rendra. Dita lalu mengulum senyum.


"Oh ... soal itu. Duduk dulu sini Kak, nanti saya jelaskan. Kakak nanti capek loh kalau berdiri terus." Dita berusaha bersikap ramah.


"Enggak usah sok ramah. Mau jelasin apa lo?"


"Sebagai junior, saya menghormati Kakak berdua loh. Makanya Kakak duduk dulu, nanti saya jelaskan biar Kakak tidak salah paham. Mau saya pesankan minuman dingin sekalian?"


Akhirnya kedua wanita itu duduk berhadapan dengan Dita dan Bella.


"Cepat jelaskan!"


Bella menyenggol lengan Dita, dia merasa khawatir pada sahabatnya itu. Tetapi Dita meyakinkan Bella lewat tatapan mata kalau semuanya akan baik-baik saja.


"Boleh kenalan dulu Kak, biar enak kita ngobrolnya. Saya Dita dan ini teman saya Bella." Dita mengulurkan tangan sambil tersenyum.


"Gue Siska dan dia Maria." Wanita yang bernama Siska itu menyambut uluran tangan Dita, begitu pula Maria.


"Kak Siska dan Kak Maria, saya akan jelaskan kesalahpahaman ini." Ucap Dita dengan santai.


"Saya enggak pernah mendekati Kak Bara ataupun Mas ... eh Kak Rendra."


"Jangan bohong kamu, beberapa kali kamu terlihat sama Kak Bara. Lalu sekarang tiap hari kamu berboncengan sama Kak Rendra. Kurang bukti apa lagi."


Dita tersenyum. "Saya memang beberapa kali bertemu Kak Bara, tapi itu sudah lama Kak beberapa bulan yang lalu. Saya pastikan kami hanya berteman dan tidak ada hubungan apa-apa. Kalau tidak percaya silakan Kakak tanyakan langsung pada Kak Bara." Jelas Dita.


"Lalu Kak Rendra?"


"Dita ini is...." Dita menghentikan Bella yang mau menjelaskan statusnya.


"Kebetulan kami bertetangga Kak, jadi Kak Rendra mengajak saya untuk pergi kuliah bersama daripada saya harus naik ojol tiap pagi."


"Nah kan lo tuh keganjenan mau aja diajak sama Kak Rendra."

__ADS_1


"Saya ganjen? Enggak lah Kak." Kata Dita sambil menyesap jusnya.


"Kan lo bisa nolak ajakan Kak Rendra." Ketus Siska.


"Rezeki katanya enggak boleh ditolak Kak. Kan itu salah satu bentuk rezeki, saya bisa menghemat pengeluaran." Dita masih bicara dengan nada santai.


"Dasar emang lo keganjenan. Mulai besok lo jangan lagi mau dibonceng Kak Rendra. Awas kalau gue lihat lo masih sama Kak Rendra!" Ancam Siska.


"Woh ... apa nih Kak. Saya rasa Kakak tidak punya hak untuk mengatur hidup saya dan Kak Rendra. Memangnya Kakak siapa mau mengatur hidup kami?"


"Gue yang lebih dulu kenal dan mendekati Kak Rendra, lo jangan coba-coba merebutnya dari gue."


Dita tertawa kecil. "Kakak bukan pacarnya apalagi istrinya kan."


"Kurang ajar banget lo, jawab terus dari tadi." Siska terlihat semakin emosi.


"Santai Kak, saya hanya menjawab dan menjelaskan loh."


"Susah memang ngomong sama orang yang belagu."


"Terserah Kakak mau menganggap saya bagaimana. Dari tadi saya sudah menjelaskan apa adanya. Kalau Kakak masih tidak terima ya sudah."


"Pokoknya gue enggak mau tahu, lo enggak boleh dekat-dekat lagi sama Kak Rendra."


"Kalau saya enggak mau."


"Gue bakal ngasih lo pelajaran biar lo tahu diri di mana posisi lo."


Dita tersenyum sinis. "Sebagai junior yang baik, saya beri saran ya Kak. Sebaiknya Kakak tidak usah mengharapkan Kak Rendra lagi daripada nanti patah hati."


"Apa hak lo ngasih gue saran? Lo juga enggak berhak mengatur hidup gue."


"Kalau saya bilang saya istrinya Kak Rendra, apa Kakak percaya?" Dita menatap Siska dan Maria bergantian.


Siska dan Maria tertawa mengejek Dita.


"Lo jangan mimpi jadi istrinya Kak Rendra. Enggak mungkin Kak Rendra seleranya cewek tomboi kaya lo. Lagian Kak Rendra itu masih muda enggak mungkin dia sudah menikah. Perlu gue siram air biar lo bangun dari tidur lo." Sindir Maria.


Dita tertawa kecil. "Saya tidak sedang tidur loh Kak sekarang. Oh ya ... maaf Kak, sepertinya obrolan kita hari ini harus selesai sekarang karena saya harus masuk kelas. Permisi Kak Siska, Kak Maria."


Dita memberi kode pada Bella untuk pergi. Mereka lalu bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan kantin.


"Hei ... ingat ya kata-kata gue tadi!" Teriak Siska saat Dita dan Bella meninggalkan mereka. Tetapi Dita tidak menghiraukannya, dia terus saja berjalan tanpa memberi reaksi apa pun.


"Ta, kamu berani banget sih menghadapi mereka dengan santai." Kata Bella saat mereka berjalan menuju ruang kuliah.


"Kenapa harus takut selama kita enggak salah."


"Harusnya kamu tadi tidak menghentikan aku ngomong kalau kamu istrinya Kak Rendra biar mereka langsung diam."


"Aku aja tadi bilang aku istrinya Mas Rendra tapi mereka enggak percaya kan. Kami masih nikah secara agama Bel, belum bisa memberikan bukti surat nikah kalau mereka minta bukti kami sudah menikah."


"Iya juga ya, tapi sekarang kamu harus hati-hati kalau ketemu mereka Ta."


"Kenapa memangnya?"


"Kamu kan dengar ancaman mereka tadi. Untung bukan aku yang jadi istrinya Kak Rendra. Bisa stres aku menghadapi para penggemar Kak Rendra. Ini baru dua orang Ta, masih banyak lagi yang lain." Bella bergidik ngeri.


"Santai aja kali Bel. Enggak usah dibawa serius. Anggap aja itu dinamika kehidupan di kampus biar enggak terlalu datar."


"Sebaiknya kamu bilang Kak Rendra soal ini, biar dia juga tahu kalau ada yang ngancam lo di kampus."


"Enggak perlu lah Bel. Ini cuma masalah kecil. Dia udah banyak yang dipikirkan. Aku enggak mau nambah beban pikirannya. Kalau dia tahu nanti dia jadi lebih protektif lagi sama aku. Semakin enggak bisa gerak aku. Kamu enggak usah cerita soal ini ke siapapun. Bisa kan?"


Bella menganggukan kepala. "Oke, tapi kalau suatu saat Kak Rendra sampai tahu hal ini dan nanya sama aku, aku akan cerita semuanya."


"Terserah kamu, tapi jangan sekali pun kamu yang bicara duluan."


"Siap, Nyonya Rendra."

__ADS_1


__ADS_2