Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
94


__ADS_3

“Mari, silakan duduk Pak Rendra dan maaf dengan Ibu siapa?” tanya dokter Lita saat Rendra menemuinya bersama Ibu Hasna setelah proses operasi Dita selesai.


“Ibu Hasna, mertua saya, bundanya Dita,” jawab Rendra.


“Ibu Hasna, perkenalkan saya Herlita. Saya yang memeriksa kehamilan Ibu Dita sejak awal,” ucap dokter Lita dengan senyum ramah.


“Iya, Dok.” Ibu Hasna juga membalas dengan ramah.


“Baik, saya memanggil Pak Rendra dan juga Ibu Hasna untuk menjelaskan tentang keadaan Ibu Dita dan juga bayinya. Keadaan yang dialami Ibu Dita itu disebut Intrauterine fetal death atau IUFD, atau juga disebut stillbirth. IUFD adalah kematian janin di dalam kandungan setelah kehamilan berusia 20 minggu. Sesuai hasil pemeriksaan, kehamilan Ibu Dita sudah mencapai 30 minggu jadi disebut IUFD.”


“IUFD ini berbeda dengan keguguran ya, Pak, Bu. Karena kalau keguguran itu kematian janin terjadi saat kandungan kurang dari 20 minggu atau berat janin di bawah 500 gram.”


“Apa Dok yang menyebabkan kematian anak saya?” tanya Rendra.


“Berdasar pemeriksaan USG dan tadi kondisi saat operasi karena terlilit tali pusar sebanyak 2 kali. Akibat lilitannya kencang menyebabkan janin tidak bisa mendapatkan pasokan oksigen yang cukup sehingga mengganggu pernapasannya. Putra bapak kan sangat aktif bergerak jadi mungkin karena itu membuat dia terlilit tali pusar,” jelas dokter Lita.


"Iya, Dok. Dia sangat aktif sampai istri saya sering kaget karena tendangan dan gerakannya yang kencang."


Dokter Lita tersenyum. “Tadi sebenarnya kami masih berharap putra Bapak dan cucu Ibu bisa tertolong. Kami mengupayakan operasi secepatnya setelah tahu detak jantungnya tidak terdeteksi. Untung saja semua dokter dan perawat bisa semua, jadi bisa langsung kami lakukan."


"Kami sudah berupaya secara medis. Kami juga berharap setelah putra Bapak skin to skin contact (bersentuhan kulit langsung) dengan ibu dan juga ayahnya tadi bisa membuat dia kembali. Karena di beberapa kasus, keajaiban seperti itu terjadi. Tetapi kita tidak bisa melawan takdir Allah, meski kita sudah berupaya semaksimal mungkin.”


“Sekali lagi kami turut berduka cita, semoga putra Pak Rendra bisa menjadi penolong Bapak dan Ibu di akhirat nanti.”


“Aamiin,” ucap Rendra dan Bu Hasna bersama.


“Untuk keadaan Ibu Dita, stabil dan baik. Beliau cukup sabar dan tabah meski sempat tidak bisa menerima. Kami harap Pak Rendra dan keluarga selalu memberi Ibu Dita semangat dan dukungan moril, karena itu yang sangat dibutuhkan saat ini. Mungkin Ibu Dita masih akan bersedih selama beberapa waktu. Saya berdoa dan berharap semoga Ibu Dita tidak trauma untuk hamil lagi. Karena biasanya ketakutan itu pasti ada,” jelas dokter Lita.


“Iya, Dok. Saya akan selalu di sampingnya selama masa pemulihan. Saya juga pasti akan terus memberinya semangat,” ucap Rendra.


“Oh ya, bekas luka operasi caesar Ibu Dita dijahit dengan benang yang nanti akan menyatu dengan kulit. Semoga tidak ada reaksi alergi. Ibu Dita juga harus banyak makan yang mengandung protein dan sayur agar bekas jahitan cepat kering selain nanti juga obat yang harus diminum. Mungkin nanti 3 atau 4 hari di sini baru bisa pulang.”


“Baik, terima kasih, Dok.”


“Apa ada yang mau ditanyakan?” tanya dokter Lita sambil memandang Rendra dan Ibu Hasna bergantian.


"Apa istri saya boleh mandi, Dok?"


"Boleh, tapi tolong dibantu ya kalau masih belum pulih. Bekas luka operasi memakai plester anti air, meski begitu harus tetap hati-hati agar tidak terkena air."


"Apa istri saya juga mengalami nifas, Dok?"


"Iya, tentu saja, Pak. Jadi bapak juga harus puasa dulu ya." Dokter Lita tersenyum.


"Iya, Dok." Rendra mengusap belakang kepalanya, merasa tak enak hati dengan mertuanya.


"Apa ada lagi yang akan ditanyakan?"


“Bunda, ada yang mau ditanyakan?” tanya Rendra pada mertuanya.


“Enggak,” jawab Bu Hasna sambil menggelengkan kepala.


“Baik, kalau tidak ada yang ditanyakan. Besok pagi saya akan mengecek lagi kondisi Ibu Dita. Setelah ini Ibu Dita bisa beristirahat. Untuk putra Bapak nanti bisa ditanyakan di bagian administrasi prosedur untuk membawa pulang bagaimana.”


“Baik, Dok. Kami permisi dulu,” pamit Rendra yang diikuti oleh Ibu Hasna.


"Bun, nanti Rendra titip Dita ya. Rendra mau mengurus jenazah anak kami dulu," mohon Rendra saat mereka menuju ruang rawat inap Dita.


"Tanpa Nak Rendra minta, bunda juga pasti menjaga Dita. Terima kasih ya, Nak Rendra selalu menemani Dita dan tetap kuat demi Dita."

__ADS_1


"Itu sudah kewajiban Rendra sebagai suami, Bun. Dita sudah menjadi tanggung jawab Rendra sejak ijab kabul 11 bulan yang lalu."


"Apa Nak Rendra sudah menyiapkan nama untuk anak kalian? Maksud bunda bukan hanya panggilan Boy saja."


"Sudah, Bun. Akhtar Elramdan Daneswara. Akhtar artinya bintang, Elramdan artinya penerang. Semoga dia bisa menjadi bintang penerang bagi kami meski tidak bersama kami."


"Nama yang bagus. Apa Dita sudah tahu?"


"Belum, Bun. Rencananya baru nanti Rendra beri tahu."


"Kalian yang sabar ya, Allah sedang menguji kalian. Kalau bunda yang mengalami belum tentu bunda akan sanggup."


"Mohon selalu doakan kami ya, Bun."


"Bunda selalu mendoakan kebaikan untuk kalian."


Rendra menghela napas panjang saat tiba di depan pintu ruang rawat Dita. Dia harus tetap kuat meski hatinya sedih setiap kali melihat Dita.


Ibu Hasna mengusap punggung Rendra, memberi kekuatan padanya.


"Makasih, Bun. Mari kita masuk."


Rendra membuka pintu ruang rawat Dita, dia mempersilakan mertuanya untuk masuk dulu. Di dalam ruangan sudah ada Mama Dewi, Nisa, Bella dan juga Adi. Dita terbaring di ranjang dengan mata tertutup. Mungkin dia lelah karena menangis tadi.


Rendra memanggil mamanya yang duduk di samping ranjang Dita dengan isyarat, takut mengganggu Dita. Setelah Ibu Dewi beranjak dari duduknya, Ibu Hasna menggantikan duduk di sana.


"Mas Adi, bisa ikut aku sebentar?" tanya Rendra pada Adi.


Adi mengangguk tanpa menjawab. Dia mengikuti Rendra yang ke luar ruang rawat bersama mamanya.


"Ma, Rendra mau makamkan anak kami di samping papa. Boleh kan?"


"Makasih, Ma."


"Kamu mau menerima pelayat enggak di rumah?" tanya Ibu Dewi.


"Entahlah, Ma. Rendra yang jelas tetap di sini menemani Dita sampai dia boleh pulang. Kalau Mama mau menerima pelayat, Rendra mohon Mama yang atur. Palingan nanti Rendra pulang buat ambil baju saja."


"Iya, mama akan atur semuanya. Kamu di sini saja menemani Dita."


"Terima kasih, Ma." Rendra lalu beralih ke Adi. "Mas, bisa minta tolong nanti untuk minta izin ke takmir masjid Al-Kautsar untuk melakukan salat jenazah di sana. Meski tidak wajib, tapi aku ingin menyalatkan anakku."


"Oke, apa lagi yang bisa aku bantu?"


"Aku izin PKL dulu Mas sampai Dita pulih, mungkin sekitar seminggu."


"Udah, gampang soal PKL enggak usah dipikirkan. Sekarang ini utamakan dulu istrimu."


"Makasih, Mas. Setelah ini aku mau ke administrasi, terus mengurus jenazah anakku."


"Aku ikut Ren," ucap Adi.


"Mama juga mau ikut. Nanti mama sekalian pulang sama Nisa untuk mengurus rumah."


"Rendra mau pamit dulu sama Dita sebelum pergi."


"Kalau gitu aku bantu urus administrasi untuk pengurusan jenazah ya, sambil kamu pamit sama Dita."


"Makasih, Mas." Rendra mengambil dompetnya, lalu mengambil ATM dan kartu asuransinya. Dia menyerahkan ATM dan kartu asuransi pada Adi. "Pakai ini, Mas."

__ADS_1


"Sudah, enggak usah," tolak Adi.


"Ini tanggung jawabku, Mas. Kalau Mas Adi tidak mau menerima, aku saja yang akan mengurusnya sendiri."


"Oke, aku terima. Sekarang kamu pamit dulu sama Dita." Adi akhirnya menyerah, menerima ATM dan kartu asuransi Rendra.


"Pin-nya tanggal lahir Dita, Mas."


Adi menganggukkan kepala lalu beranjak meninggalkan Rendra dan mamanya menuju ruang administrasi. Rendra kembali masuk ke ruang inap Dita.


Rendra mendekati ranjang Dita, dia mengusap wajah Dita lalu mengecup keningnya. "Sayang, capek ya."


Dita membuka matanya pelan. "Ada apa, Mas?"


"Aku mau pulang dulu, mau mengurus pemakaman anak kita Akhtar Elramdan Daneswara. Bintang penerang keluarga Daneswara. Sayang, suka enggak nama itu?"


Dita menggangguk, ada air mata yang keluar dari sudut matanya. "Nama Boy bagus," ucapnya lirih sambil berusaha tersenyum.


Rendra mengusap air mata Dita. Dia tersenyum pada istrinya. "Boy sudah punya nama sekarang, tapi kita tetap bisa memanggilnya Boy. Aku mau makamkan dia di samping papa, boleh kan?"


Dita mengangguk lagi. "Aku enggak bisa ikut anterin Akhtar, Mas."


"Enggak apa-apa. Besok kalau Sayang pulang, kita mampir ke sana, ya." Rendra kembali mengusap pipi Dita.


"Sayang, sekarang istirahat dulu. Ada bunda dan Bella di sini yang temani. Nanti setelah semua selesai aku kembali ke sini."


"Iya, Mas. Boleh aku bawa hp-nya Mas?"


"Boleh, bawa aja. Nanti kalau ada apa-apa hubungi Mas Adi ya, atau aku bawa hp-mu, Sayang."


"Mas, bawa hp-ku aja. Ada di tas tadi. Tapi aku enggak tahu tasku di mana."


"Ada di laci meja, tadi dimasukkan sama perawat," sahut Nisa yang sejak awal menyimak percakapan mereka.


Rendra lalu membuka laci meja di samping tempat tidur Dita. Dia mengambil gawai istrinya.


"Aku pergi dulu ya, Sayang. Istirahat ya." Rendra kembali mengecup kening Dita.


"Bunda, Bella, titip Dita ya selama Rendra pergi."


"Iya, Kak tenang saja. Seperti biasa tidak akan lecet sedikitpun," seloroh Bella yang membuat semua orang menyunggingkan senyum.


Rendra keluar ruangan setelah mengucapkan salam. Dia bertanya pada Adi apa semua admisitrasi sudah beres. Setelah semua beres, mereka bertiga, Rendra, Ibu Dewi dan Adi ke bagian pemulasaraan jenazah.


Di sana Rendra memandikan dan mengafani Akhtar. Untungnya tadi Ibu Dewi membawa kain jarik, berjaga-jaga kalau Dita membutuhkannya. Jarik tadi digunakan untuk menutup jenazah Akhtar yang sudah dikafani agar tidak menarik perhatian orang.


Rendra pulang sebentar untuk berganti baju koko dan juga celana kain yang baru, karena dia akan menyalatkan Akhtar di masjid. Sampai di masjid, dia menjadi imam salat jenazah anaknya.


Setelah dari masjid, mereka berempat menuju ke kompleks makam di mana papanya Rendra dimakamkan. Rendra sendiri juga yang memakamkan Akhtar.


Rendra tak kuasa menahan tangisnya saat melihat gundukan tanah merah kecil di depannya. Setelah kehilangan papanya, kini dia harus kehilangan anaknya. Calon anak mereka, yang dikandung Dita selama 30 minggu.


Cukup lama dia menangis di depan makam Akhtar dan papanya, hingga terdengar suara azan Magrib berkumandang.


"Ayo Rend, kita pulang," ajak Adi.


"Iya, Mas." Rendra bangkit dari posisi jongkoknya, kemudian beranjak meninggalkan kompleks makam dan dua orang yang dia cintai, Papa dan Akhtar.


Jogja 050421 01.15

__ADS_1


__ADS_2