Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
68


__ADS_3

Seperti kesepakatan kemarin saat di KUA, akhirnya petugas KUA datang ke rumah Pak Wijaya untuk memberikan Bimbingan Pra Nikah pada Rendra dan Dita. Bimbingan Pra Nikah ini bertujuan membantu calon pengantin mendapatkan bekal yang tepat untuk membangun rumah tangga. Dengan mengikuti Bimbingan Pra Nikah calon pasangan pengantin diharapkan akan lebih siap dalam mengarungi biduk rumah tangga.


Isi materi Bimbingan Pra Nikah yaitu tentang bagaimana mengelola kehidupan rumah tangga, mengelola hubungan, memenuhi kebutuhan bersama, dan tentang prinsip kesetaraan dan saling kerja sama.  Ada juga materi mengenai kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) bisa dihindari dengan komunikasi yang baik. Hal lain yang diajarkan dalam Bimbingan Pra Nikah yaitu tentang kesadaran diri dengan kebutuhan dan karakter diri sendiri, sadar kebutuhan dan karakter pasangan, mampu mengelola dirinya sendiri, dan mengelola hubungannya.


Selain itu materi lain yang disampaikan dalam Bimbingan Pra Nikah adalah mengenai psikologi keluarga, konsep berkeluarga dari kacamata agama, kesehatan keluarga dan kesehatan reproduksi, serta keterampilan komunikasi. Ada lagi mengenai mengelola konflik, mengelola kebutuhan keuangan keluarga, dan persiapan menjadi orangtua.


Bimbingan Pra Nikah itu dilakukan selama kurang lebih 3 jam, mereka selesai saat azan Zuhur berkumandang. Kemudian petugas KUA itu bersama dengan Pak Wijaya, Rendra dan Adi berangkat ke masjid untuk melaksanakan salat Zuhur. Sepulang dari masjid, petugas dari KUA itu masih mengobrol dengan Pak Wijaya karena kebetulan mereka sudah saling kenal.


Rendra dan Adi berada di ruang tengah, mereka menyortir undangan sesuai dengan alamat. Karena bakda Isya nanti akan ada rapat terakhir persiapan panitia pernikahan, jadi undangan akan diserahkan pada panitia yang bertugas untuk mengantar undangan. Sementara itu Dita membantu Bu Hasna menyiapkan hidangan untuk buka puasa dan juga untuk para panitia pernikahan.


Sekitar pukul 08.00 malam, para panitia pernikahan mulai berdatangan. Mereka menempati ruang tamu dan teras, yang sudah dikeluarkan kursi dan mejanya diganti dengan hamparan tikar yang menutup seluruh lantai ruang tamu dan teras.


Rendra berada di depan turut menyambut para panitia dengan Adi dan Pak Wijaya. Sementara Dita di belakang ikut membantu Ibu Hasna dan beberapa ibu-ibu menyiapkan minuman dan makanan untuk para tamu. Di kampung memang rasa kekeluargaan dan gotong royong masih terasa sekali, bila ada tetangga yang punya hajat mereka pasti saling datang membantu.


Setelah banyak panitia yang datang, acara segera dimulai. Pak Wijaya memberi kata sambutan dan ucapan terima kasih pada para panitia yang sudah hadir dan banyak membantu persiapan pernikahan Dita. Pada kesempatan itu Pak Wijaya juga memperkenalkan Rendra sebagai calon pengantin pria, beliau juga menerangkan kalau Rendra dan Dita sebelumnya sudah menikah secara Islam agar tidak ada kesalahpahaman karena Rendra menginap di rumah Pak Wijaya.


Rangkaian acara selanjutnya adalah pengecekan dan koordinasi akhir. Para panitia yang bertanggung jawab, melaporkan apa saja yang sudah dilaksanakan dan kendala yang dihadapi. Pada kesempatan ini pula dibicarakan solusi untuk mengatasi kendala yang ada.


Acara rapat panitia pernikahan selesai sekitar pukul 10.00 malam. Rendra, Adi dan dibantu beberapa pemuda kampung membereskan teras dan ruang tamu. Mereka melipat tikar lalu mengembalikan meja dan kursi ke tempatnya semula.


Satu jam kemudian, mereka sudah membereskan dan membersihkan semua ruangan serta alat makan dan minum yang tadi dipakai. Ibu-ibu yang tadi ikut membantu di belakang pun sudah berpamitan, hingga tinggal mereka berlima di rumah Pak Wijaya.


Rendra mengajak Dita masuk ke kamar karena dia melihat istrinya sudah terlihat lelah dan mengantuk. Sebelum tidur mereka menyikat gigi dan membersihkan diri serta berwudu sebelum masuk ke kamar. Di rumah Pak Wijaya


memang tidak ada kamar mandi di dalam kamar, jadi mereka memakai kamar mandi di belakang yang terletak di dekat dapur.


Dita mengganti bajunya dengan baju tidur, begitupun Rendra memakai kaos tanpa lengan dengan celana kolor pendek. Dita menyalakan lampu tidur, lalu Rendra memadamkan lampu utama, hingga suasana kamar menjadi remang-remang.


Dita merebahkan diri terlebih dahulu, lalu Rendra menyusulnya. Seperti biasa mereka akan melakukan pillow talk sebelum tidur. Mereka berbaring saling berhadapan.


"Capek ya, Sayang?" Tanya Rendra sambil menyelipkan rambut Dita ke belakang telinga.


"Lumayan, Mas?" jawab Dita sambil menatap Rendra.


"Capekku hilang kalau sudah memelukmu seperti ini." Rendra memeluk Dita lalu mencium keningnya.


"Besok kamu mau mahar apa, Sayang?" tanya Rendra setelah melepas pelukannya.

__ADS_1


"Aku mau Mas baca surat Ar-Rahman." (1)


"Itu saja?" tanya Rendra memastikan.


Dita menganggukkan kepala. "Iya, kemarin kan Mas juga sudah kasih mahar uang."


"Beda dong, Sayang. Kemarin kan mendadak, aku tidak ada persiapan apa pun. Kalau besok kan kita masih ada waktu buat cari."


"Ya udah surat Ar-Rahman saja."


"No!!! Aku akan tetap baca surat Ar-Rahman sesuai permintaanmu, tapi aku ingin memberi mahar yang bernilai buat kamu, Cintaku." Rendra mencium kening Dita.


"Mas, ih." Dita tersipu.


"Kenapa? Hummmm ... mau yang lebih dari ciuman di kening?" Rendra mengerling menggoda Dita.


"Mas, yang serius dong. Aku tinggal tidur neh kalau bercanda terus." Kesal Dita sambil mengerucutkan bibirnya.


"Aku serius loh, Sayang. Kalau kamu mau lebih dari ciuman di kening, aku siap melakukannya." Ujar Rendra.


"Terserah Mas, yang penting jangan sampai memberatkan apalagi sampai Mas memaksakan diri."


"Mau perhiasan?" tawar Rendra.


Dita menggeleng. "Aku enggak terlalu suka pakai banyak perhiasan, Mas"


Rendra berpikir keras, karena Dita tidaklah seperti kebanyakan wanita yang suka memakai perhiasan. Dia akan tanya mamanya besok, kira-kira mahar apa yang bisa dia berikan pada Dita saat mereka menikah resmi nanti.


"Kalau begitu aku kasih kejutan buat kamu aja ya maharnya?"


"Boleh, tapi aku enggak mau berlebihan ya Mas. Mendingan uangnya buat ditabung."


"Sssttt ... semua sudah diperhitungkan, Sayang. Kamu jangan khawatir." Rendra membelai rambut Dita sembari menatap mata istrinya.


"Berarti maharnya membaca surat Ar-Rahman dan kejutan dariku ya, Cintaku." Lanjut Rendra.


"Iya, Mas." Dita balas menatap Rendra, membuat mereka saling berpandangan dan tersenyum.

__ADS_1


Pelan-pelan Rendra mendekatkan wajahnya. Bibirnya mulai menyentuh bibir manis milik Dita. Rendra menyesap dan menggigit kecil bibir istrinya agar memberikan akses lebih untuk dia menjelajahi semua sisi dalam mulut Dita.


Dita pun merespon dan membalas ciuman suaminya. Mereka saling memainkan lidah dan tak ada yang mau mengalah, hingga mereka menghentikan kegiatannya karena kehabisan napas.


Rendra mulai menjauhkan wajahnya, dia mengusap lembut bibir Dita.


"Jangan pernah bicara lagi sama Reza, aku cemburu." Ungkap Rendra dengan nada serius.


"Iya, Mas." Dita tersenyum. Baru kali ini Rendra mengaku kalau dia cemburu, biasanya dia hanya akan diam dan terus mengomel tidak jelas.


"Kamu milikku, dan hanya milikku." Bisik Rendra sembari mencium lagi bibir Dita yang membuatnya candu. Dia menciumnya dengan lembut dan pelan hingga lama-lama menjadi cepat dan menuntut. Beberapa kali mereka sempat menghentikan kegiatannya untuk mengambil napas.


Rendra mengakhiri ciuman mereka setelah beberapa saat karena waktu hampir tengah malam dan mereka harus bangun jam setengah 3 pagi untuk menjalankan salat Tarawih di sepertiga malam. Sebelum tidur Rendra melakukan ritualnya. Dia mencium kening, mata dan pipi Dita dengan lembut. Dia mengakhirinya dengan kecupan singkat di bibir Dita. "Selamat tidur, Bidadari Surgaku. I love you."


...※※※※※...


Catatan:


(1) Surat Ar-Rahman dikenal dengan nama Arus Al- Qurán yang berarti pengantin Al-Qur'an. Dalam sebuah riwayat, Nabi bersabda “Segala sesuatu memiliki pengantin, dan pengantinnya Al-Qur'an adalah Ar-Rahman”. Surat ke 55 ini diturunkan di kota Mekkah, terdiri dari 78 ayat dan terdapat pengulangan ayat ‘Fabiayyi âlâi Rabbikumâ tukadzdzibân (maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?)’ sebanyak 31 kali.


Berdasarkan ayat tersebut dapat dilihat bahwa Allah SWT ingin menyampaikan kepada kita rasa syukur yang seharusnya kita miliki, selain itu, menurut Thabathaba’í surat ini berisi isyarat tentang ciptaan Allah dengan banyaknya bagian di langit dan bumi, darat dan laut, manusia dan jin, serta bagaimana Allah mengatur semua itu dalam pengaturan yang bermanfaat bagi manusia dan jin dan bermanfaat bagi kehidupan baik di dunia maupun di akhirat.


sumber : https://seruni.id/mengenal-indahnya-surat-ar-rahman/


...-----oOo-----...


Ini bukan double up, karena sepertinya sistem NT yang eror, saya up cerita bab sebelumnya sudah selama 24 jam tetapi masih proses review. Saya enggak tahu ini kapan akan lolos review.


Semoga teman-teman tetap sabar menunggu mengikuti kisah Rendra dan Dita ya 🤗🤗🤗. Eh ... ada yang nunggu enggak sih, jangan-jangan saya cuma ge-er aja nih😁✌️.


Terima kasih yang sudah menyempatkan untuk membaca, memfavorit, memberi


jempol/like, berkomentar, memberi hadiah dan juga vote. Boleh ya


peluk satu-satu 🤗🤗🤗


Jogja, 070321 01.25

__ADS_1


__ADS_2