Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
14


__ADS_3

Bara mengusap gusar wajahnya mendapati kenyataan Dita yang saat ini dijemput seseorang. Meskipun dia tidak tahu siapa yang menjemput Dita, pacar ataukah keluarganya. “Gue harus cari tahu sebelum gue melangkah lebih jauh.”


Bara hendak kembali bergabung dengan teman-teman band-nya saat Adelia dan Rendra berjalan ke arahnya.


“Jadi urusan laki-laki yang kalian bicarakan tempo hari itu soal cewek ber-hoodie tadi ya?” Selidik Adelia sambil menatap kedua sahabatnya bergantian.


“Namanya Dita,” sahut Bara tanpa menjawab pertanyaan Adelia.


“Kamu suka sama dia?” Tanya Adelia pada Bara.


“Mungkin ... dia gadis yang sangat menarik.” Jawab Bara sambil menatap Rendra yang terlihat sedikit gelisah.


“Mungkin??? Tadi aja kamu lihat dia terus kok. Habis nyanyi juga langsung nemuin dia.” Adelia tersenyum mengejek.


Bara tersenyum malu sambil memegang tengkuknya, “kelihatan banget ya.”


“Kalau kamu serius sama dia, kami dukung Bar. Ya kan, Rend?” Adelia menyenggol lengan Rendra.


“Eh ... iya.” Sahut Rendra gagap.


“Anak arsi kan, aku punya banyak kenalan anak arsi, tenang aja nanti aku bantu.” Adelia menepuk punggung Bara memberi dukungan.


“Kok kamu tahu dia anak arsi?” Bara mengernyit pada Adelia.


“Rendra yang bilang.” Adelia melirik Rendra yang sedang sibuk mengetik di ponselnya.


Bara menatap Rendra dengan pandangan menyelidik, “sejauh mana sebenarnya hubungan kalian.”


“Gue balik dulu ya,” pamit Rendra setelah selesai mengetik di ponselnya.


“Kayak anak perawan aja jam segini balik.” Cibir Bara.


“Gue emang masih perawan.” Rendra mengikik, “nyokap nitip sesuatu ke gue,” lanjutnya dengan nada serius.


“Salam ya buat tante,” pesan Adelia yang dibalas Rendra dengan anggukan.


“Hati-hati, Bro.” Bara melambaikan tangan lalu Rendra membalas dengan mengacungkan ibu jarinya.


Rendra mengambil jaket yang tadi dititipkan di stan lalu bergegas ke tempat parkir sambil memakai jaketnya.


Begitu keluar dari tempat parkir dia melajukan motor sport-nya ke selatan Bundaran di Jalan Cik Di Tiro lalu memutar arah ke utara lagi, baru kemudian berhenti dan memarkirkan motor di sebuah warung sop kaki kambing yang melegenda di Jogja dan selalu ramai pengunjung. Dia melepas helm kemudian beranjak masuk ke warung tenda itu.


“Rendra.”


Dia menoleh ke arah suara yang memanggilnya.


“Eh ... Mas Adi,” dia lalu menghampiri Adi yang sudah duduk di sana.


“Kok sampai sini Mas, sendirian aja?” Sapanya dengan ramah.

__ADS_1


“Sama dia nih,” Adi menunjuk seseorang yang duduk di depannya, membelakangi Rendra.


“Mas kenapa sih mesti manggil orang itu?” Protes Dita yang menjadi bete sejak kakaknya memanggil Rendra, tetapi Adi tak menghiraukan protesnya.


“Oh ....” Rendra melirik Dita sekilas.


“Kamu sendirian aja Ren, enggak malam Minggu-an sama pacar?”


“Aku enggak punya pacar Mas, lah Mas Adi juga enggak sama pacarnya kan.” Seloroh Rendra.


“Iya juga ya hahaha,” Adi tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Duduk sini aja Ren, gabung biar ada teman ngobrol.”


Dita mendelik pada Adi saat kakaknya itu malah mengajak Rendra duduk bersama mereka.


“Ya Mas,” Rendra merasa sungkan menolak ajakan Adi, jadi sekarang mau tidak mau dia duduk di samping Dita dan berhadapan dengan Adi.


Dita sedikit menggeser duduknya dan hanya bisa pasrah, karena percuma saja menolak pasti kakaknya tidak akan mengacuhkannya. Dia hanya diam dan menyibukkan diri dengan gawainya.


“Oh ya sudah pesan belum, Ren?”


“Belum Mas, kan aku baru datang pas tadi Mas Adi manggil.”


“Oh iya aku lupa. Mau makan di sini kan?”


Rendra mengangguk, walau sebenarnya tadi dia tidak berniat makan di sana karena hanya ingin membelikan pesanan mamanya untuk dibawa pulang.


“Aku pesan sendiri saja Mas, aku ke sana dulu.” Rendra berdiri dari duduknya lalu mendatangi meja untuk memilih isian sop.


Warung itu menyajikan aneka variasi sop kambing mulai dari kaki kambing, paru, babat, lidah, usus, otak, sumsum, iga, hingga tulang muda. Meski dari olahan kambing tetapi sopnya tidak amis dan berbau kambing. Cara memesan menunya cukup unik yaitu dengan memilih sendiri bagian dari kambing yang diinginkan ke dalam mangkok. Setelah daging dipilih juru masak akan meracik pesanan. Sop itu menggunakan kuah susu bercampur santan dengan kandungan rempah-rempah di dalamnya, kremesan emping, potongan tomat dan taburan daun bawang.


Setelah memesan, Rendra kembali ke meja Adi.


“Dari mana tadi Mas?” Rendra membuka obrolan.


“Dari proyek, terus jemput nih adek tersayang.” Adi melirik Dita yang sok sibuk dengan gawainya.


“Oh .... Aku kira memang sengaja makan di sini.” Rendra tertawa kecil.


“Kamu sendiri dari mana?”


“Dari Gelanggang, Mas.”


“Wah tahu begitu tadi aku nitip Dita pulang sama kamu.”


“Apaan sih Mas Adi, emangnya aku barang dititipin segala.” Gerutu Dita sambil melirik kesal pada Adi. “Tadi aku mau naik ojol enggak boleh, sekarang kok kayak nyesel jemput aku.”


“Mas enggak berani lah lepas kamu naik ojol jam segini, kalau Adek pulang sama Rendra kan mas lebih tenang.” Jelas Adi.


Dita merengut mendengar jawaban Adi lalu kembali fokus ke gawainya lagi.

__ADS_1


“Boleh aku minta nomormu, Rend? Kalau lain waktu Dita datang ke acara yang sama lagi denganmu biar aku lebih tenang.” Adi menyerahkan gawainya pada Rendra lalu Rendra mengetikkan nomornya di sana.


Setelah itu Adi menelepon nomor Rendra, “itu nomorku.”


“Baik Mas, aku simpan ya.”


"Tadi di dalam kalian ketemu enggak?" Tanya Adi penasaran.


"Enggak Mas," jawab Dita dan Rendra bersamaan.


“Ini pesanan sopnya, yang ini komplit, yang dua ini kaki kambing.” Seorang pegawai warung tenda membawa pesanan ke meja mereka. Setelah semua pesanan mereka di atas meja, mereka segera menyantapnya tak lupa berdoa dulu sebelum makan.


“Dek, sambalnya jangan banyak-banyak loh.” Tegur Adi pada Dita yang sedang menyendok sambal.


“Iya Mas, bawel banget sih.”


“Harap maklum ya Ren sama Dita, sukanya merajuk kaya gini kalau lagi kambuh manjanya.” Dita melirik kesal pada Adi.


Rendra mengangguk sambil tersenyum tipis.


“Uhukkk ... uhukk ....” Tiba-tiba Dita tersedak saat menyesap kuah sop yang pedas.


Rendra refleks mengambil gelas minuman Dita lalu mengangsurkan padanya.


“Minum dulu, pelan-pelan makannya.” Ucap Rendra lembut.


Dita pun menerima gelas yang diberikan Rendra lalu meminumnya perlahan. “Terima kasih,” sahutnya lirih.


Rendra menganggukkan kepalanya.


“Nah kan bandel sudah mas bilang jangan kebanyakan sambal.” Tegur Adi sambil menatap Dita khawatir.


“Iya Mas maaf.” Dita melanjutkan makannya lebih hati-hati sekarang.


“Rencana mau KKN di mana Ren?” Tanya Adi setelah Dita sudah tenang.


“Kalau bisa di Jogja aja Mas, biar tidak terlalu jauh dari rumah. Di rumah kan perempuan semua, tidak tenang kalau terlalu lama ninggalin rumah.”


“Kalau begitu besok magangnya di tempatku aja, nanti aku rekomendasikan jadi kamu enggak perlu keluar kota. Ya meski nanti mungkin sering pulang malam kaya aku tapi setiap hari bisa pulang ke rumah.” Usul Adi.


“Boleh Mas, aku jadi tidak perlu susah cari tempat magang.” Rendra menyambut gembira usulan Adi.


“Gawat nih, Mas Adi kenapa jadi akrab sama cowok berengsek ini sih, sampai aku dicuekin” gerutu Dita dalam hati.


...※※※※※...


Terima kasih yang sudah meluangkan waktu untuk membaca, memfavorit, menyukai, memberi komentar dan juga vote cerita receh ini, semua dukungan itu membuat saya menjadi lebih bersemangat menulis cerita. 😍😍😍


Neomu neomu gomawoyo 🙇🙏

__ADS_1


__ADS_2