Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
106


__ADS_3

Liburan semester ganjil sudah selesai, Rendra dan Dita pun sudah melakukan heregistrasi semester genap. Hari ini mereka akan ke kampus untuk mengisi KRS (Kartu Rencana Studi) dan bertemu dengan dosen pembimbing akademik mereka.


"Mas, hari ini kita naik apa ke kampus?" tanya Dita yang sedang menyiapkan baju ganti untuk Rendra.


"Sayang, maunya naik apa?" tanya Rendra balik.


"Naik motor aja ya, Mas. Udah lama enggak naik motornya Mas."


"Lama enggak naik motorku, tapi kan sering naik di atasku, Sayang," goda Rendra sambil mengedipkan matanya.


"Mas, ih. Nyebelin." Dita mencubit pinggang Rendra dengan wajah tersipu malu.


"Loh kan emang kenyataannya. Sayang, kan sering duduk di pangkuanku kalau aku lagi di depan laptop. Ini sekarang juga duduk di atasku." Rendra menarik Dita yang tadi berdiri untuk duduk di atas pangkuannya.


"Oh, itu kan juga Mas yang minta, bukan keinginanku."


"Pasti kamu mikir yang lain ya, Sayang." Rendra mengelus pipi Dita sambil tersenyum menggoda.


"Apaan sih, Mas." Dita melirik Rendra dengan malu-malu.


"Cieeee malu, padahal Sayang suka tuh." Rendra semakin menggoda Dita.


"Udah, lepasin, Mas. Kita kan harus ke kampus. Mas, ganti baju dulu gih biar enggak kesiangan." Dita coba mengalihkan pembicaraan.


"Enggak mau. Habisnya pagi ini kamu udah gemesin banget, sih. Kan aku jadi pengen kamu."


"Mas, semalam kan udah. Nanti malam lagi ya," bujuk Dita dengan wajah dibuat memelas.


"No, i want you right now." (Enggak, aku mau kamu sekarang)


Tanpa menunggu jawaban Dita, Rendra sudah memulai sentuhannya. Biarlah mereka tidak ikut sarapan bersama yang lain, yang penting dia bisa 'sarapan' dengan istrinya dulu.


Dita yang awalnya menolak, akhirnya terbuai dengan sentuhan lembut suaminya. Rintihan, desahan, deru napas dan tetesan peluh serta hawa panas memenuhi kamar mereka.


Dita terkulai di atas tubuh Rendra setelah mencapai pelepasannya. Sedangkan, Rendra masih belum mencapainya. Dia lalu membalik posisi tanpa melepas penyatuan mereka. Dia mengambil alih kendali sampai mereka berdua bersama mencapai kenikmatan dunia.


Setelah mandi dan berganti baju, mereka ke luar kamar untuk sarapan. Sudah tidak ada yang duduk di meja makan, hanya ada Ibu Dewi yang sedang memotong buah di dapur untuk bekal di butik.


"Semua sudah makan, Ma?" tanya Rendra begitu dia duduk di ruang makan.


"Sudah, tinggal kalian saja. Habiskan ya, kalau ada sisa disimpan di kulkas," jawab Ibu Dewi.


"Iya, Ma."


"Kalian mau ke kampus hari ini?" tanya Ibu Dewi dengan membawa kotak buah ke meja makan.


"Iya. Mau KRS sama ketemu dosen wali," jawab Rendra. "Kak Shasha sama Nisa udah berangkat, Ma?"


"Sudah. Mereka langsung berangkat selesai sarapan. Mama tinggal ke kamar ya, mau siap-siap dulu."


"Mas, nasinya segini?" Dita menyodorkan piring yang sudah terisi nasi di atasnya.

__ADS_1


"Tambah lagi, Sayang. Tadi kan aku habis kerja keras. Jadi, butuh banyak kalori sekarang."


Dita mengambilkan lagi nasi untuk Rendra. "Udah segini dulu, nanti kalau kurang tambah lagi."


"Makasih, Cintaku." Rendra menerima piring yang disodorkan istrinya. Dia lalu mengambil lauk dan sayur yang tersaji di meja makan.


Setelah berdoa, mereka makan bersama.


"Sayang, nanti pakai motor mau pake gamis?"


"Iya, kenapa? Aku kan pakai dala man leging panjang, Mas."


"Enggak apa-apa. Aku kira mau kembali pakai celana jin."


"Aku sekarang lebih nyaman pakai gamis, Mas."


Rendra tersenyum dan mengelus kepala Dita yang tertutup hijab. "Istriku makin salihah sekarang. Jadi makin cinta aku."


"Apa sih, Mas. Enggak usah lebai." Dita tersipu malu.


"Terus celana jin koleksimu dan kemeja-kemaja itu mau disumbangin atau gimana?"


"Kalau jin, ya paling aku kasih ke yang mau, Mas. Bella mungkin juga mau. Kalau kemeja sama kaos yang enggak ketat nanti aku simpan. Aku mau beli rok buat pasangannya."


Rendra mengacungkan jempolnya. "Sip. Apa nanti kita hunting rok buatmu, Sayang?"


"Enggak perlu buru-buru, Mas. Nanti kalau celananya sudah berkurang baru beli rok."


"Oke."


Rendra menghentikan makannya. Keningnya berkerut, tapi kemudian dia tersenyum. "Silakan saja kalau boleh sama dosen wali."


"Makasih, Mas." Dita bangkit dari duduknya lalu berdiri menunduk di belakang Rendra sambil memeluknya.


"Sama-sama. Aku kan sudah janji kalau bisa, silakan ambil berapa pun yang Sayang mau."


"Makasih, Mas. Jadi makin cinta deh." Kali ini Dita sambil mengecup pipi sebelah kanan Rendra.


"Iya, sudah. Jangan membangkitkan yang sedang tertidur. Lanjutkan sarapannya."


Setelah sarapan, mereka berdua pergi ke kampus, berbarengan dengan Ibu Dewi yang akan pergi ke butik.


"Bisa, kan naiknya?" tanya Rendra saat Dita akan naik ke atas motor.


"Bisa. Mas, tenang aja." Dita merapikan bagian bawah gamisnya. Dia lalu naik ke atas motor sambil memegang bahu Rendra sebagai tumpuannya.


"Sudah siap, Sayang?"


"Sudah, Mas."


"Oke. Kita berdoa dulu." Mereka lalu berdoa bersama.

__ADS_1


"Peluk pinggangku, Sayang." Dita kemudian memeluk pinggang Rendra.


Rendra mulai melajukan motor meninggalkan rumahnya.


Sesampai di kampus fakultas teknik, mereka berpisah. Mereka janji akan bertemu nanti di kantin saat urusan mereka masing-masing selesai.


"Gimana Bel? Sudah ketemu sama Bu Tuti?" tanya Dita saat mereka bertemu di kantor akademik.


"Belum, masih antri. Kamu baru datang?"


"Iya." Dita duduk di samping Bella.


"Tumben agak siang. Sama Kak Rendra?"


"Ya, iyalah. Enggak mungkin aku pergi sendiri."


"Kamu sudah pulih kan, Ta?"


"Alhamdulillah, sudah. Tapi masih belum boleh angkat-angkat barang."


"Alhamdulillah, ikut senang aku. Rencana jadi mau ambil 24 SKS?"


Dita menganggukkan kepala. "Iya, Mas Rendra sudah kasih izin kok. Tinggal Bu Tuti kasih izin apa enggak."


"Semoga aja bisa ya, Ta. Tapi nanti kalau kuliah padat, gimana kerjaku di kafe?"


"Ya, kamu harus bisa atur waktu lagi, Bel. Kerja Sabtu, Minggu aja."


"Iya sih, tapi nanti berkurang gajiku kalau kerjaku cuma dua hari."


"Ya, terserah kamu sih, Bel. Mau prioritas kuliah atau kerjamu. Kan kamu yang paling tahu kebutuhanmu."


"Iya, Bu Bos. Tapi tugas kuliah semakin ke sini makin butuh banyak duit, Ta."


Dita terkekeh mendengar Bella yang sedang galau. Bersyukurnya dia tidak harus hidup jauh dari orang tua dan punya suami yang bisa memenuhi semua kebutuhannya. Berbeda dengan anak kos yang jauh dari orang tua dan tidak bisa setiap saat meminta transferan uang. Mereka harus lebih bisa berhemat dan bisa mengatur uang untuk hidup sehari-hari dan juga kuliah.


Tiba saatnya giliran Bella menghadap Bu Tuti, dosen wali mereka. Sementara Dita menunggu gilirannya untuk menghadap Bu Tuti.


"Jadi ambil berapa SKS, Bel?" Dita menghampiri Bella setelah bertemu Bu Tuti.


"Aku ambil 20 SKS aja, Ta. Kamu juga mending ambil 20 aja dari pada keteteran nanti," saran Bella.


"Kenapa?"


"Nanti bakal dijelasin sama Bu Tuti. Aku tunggu ya, Ta. Sebentar lagi giliranmu kan."


"Iya. Jangan tinggalin aku, Bel."


"Siap, Nyonya Rendra."


Jogja, 240421 23.15

__ADS_1


Maaf baru bisa up, ada yang nunggu enggak ya šŸ‘‰šŸ‘ˆ


Up pendek dulu ya, sambil mengumpulkan mood yang berserakan di sela menikmati masa pemulihan yang nyeri-nyeri sedap. Mohon doanya semoga saya bisa kembali sehat seperti semula dan bisa kembali up secara rutin šŸ™šŸ™šŸ™


__ADS_2