
Minggu pagi ini berjalan seperti biasa tidak ada yang istimewa. Sudah menjadi kebiasaan setiap Minggu pagi, Bunda diantar Ayah pergi ke pasar berbelanja bahan makanan untuk beberapa hari ke depan. Yang berbeda hanyalah jumlah bahan yang akan dibeli, biasanya untuk berdua saja sekarang bersama dengan kedua buah hati mereka dan seorang tamu yang akan datang nanti.
Sementara di rumah, Adi menyapu halaman rumah yang cukup besar. Sudah jadi hal biasa, rumah-rumah di desa mempunyai pekarangan yang luas. Sedangkan Dita menyelesaikan pekerjaan di dalam rumah.
Begitu Ayah dan Bunda pulang dari pasar, mereka kemudian sarapan bersama menggunakan nasi pecel yang tadi dibeli di pasar. Selain itu Bunda juga membeli aneka jajan pasar tradisional seperti klepon, getuk lindri dan nagasari.
Selesai sarapan dan membereskan belanjaan, Bunda dan Dita mulai menyiapkan bahan masakan untuk makan siang.
"Dek, itu cuminya habis dicuci, dipotong terus dikucuri perasan air lemon ya biar enggak amis." Perintah Bunda.
"Siap Bun. Nanti masaknya dikasih jahe enggak sih Bun?"
"Iya dikasih lebih bagus, nanti digeprek aja jahenya. Kalau sudah nanti cuminya dimasukkan kulkas dulu ya Dek, dimasaknya nanti saja jadi rasanya lebih segar."
"Oke!" Sahut Dita sambil membersihkan cumi-cumi di bawah air mengalir.
"Sekarang kita siapkan dulu bahan-bahannya. Nanti saat mereka salat duhur di masjid baru kita masak. Kalau bahan sudah siap, masaknya bisa cepat. Dan lagi kalau masak cumi itu enggak boleh lama-lama cukup 3 sampai 5 menit saja biar enggak alot."
"Nanti mau masak apa saja sih, Bun?" Tanya Dita yang sedang mengiris cumi dan mengerat cumi menjadi bagian kecil.
"Cumi asam manis, capcai goreng, nila bakar, ca kangkung, tempe dan tahu goreng, sama sambal terasi."
"Ya Allah, Bun. Enak semua sih ini menunya, berasa makan di rumah makan jadinya." Seloroh Dita.
"Adek bisa aja. Kalau cuminya sudah selesai nanti lanjut bersihin nila ya. Jangan lupa diseset bagian perut biar bumbunya meresap. Ini bunda buatin bumbu untuk balurannya. Nanti nilanya digoreng dulu tapi jangan terlalu kering, baru dikasih bumbu olesan bakarnya, jadi nanti tinggal dimasukkan oven aja."
"Oke Bun." Dita dan sang bunda larut dalam pekerjaan mereka masing-masing.
Pukul 10.00 WIB, Rendra sudah memasuki halaman rumah Dita. Dia langsung tahu kalau itu rumah Dita karena melihat mobil Adi yang terparkir di samping rumah. Dia lalu memarkirkan motor di depan mobil Adi.
Terlihat Adi dan ayahnya sedang duduk dan berbincang di kursi teras, Rendra lalu menghampiri mereka sambil membawa tas bingkisan.
"Assalamu'alaikum Pak Wijaya, Mas Adi." Sapanya begitu sampai di depan teras.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Balas Adi dan ayahnya serempak
Adi mendekati Rendra. "Gimana susah enggak cari alamatnya?"
"Lumayan gampang Mas, meski tadi sempat tanya untuk memastikan."
"Jauh ya Nak, maklum di kampung." Sela Ayah Dita.
"Tidak Pak. Sebelumnya kenalkan Pak, nama saya Narendra Daneswara, biasa dipanggil Rendra." Rendra mengulurkan tangan pada Ayah Dita untuk berjabat tangan.
"Saya Wijaya Kusuma, ayahnya Adi dan Dita." Ayah Dita lalu menjabat tangan Rendra, setelah itu Rendra mencium punggung tangan Pak Wijaya.
"Ayo Rend masuk dulu," ajak Adi, lalu mereka bertiga masuk ke ruang tamu.
"Bunda, ini tamunya sudah datang loh." Panggil Pak Wijaya.
Dari dalam keluar sesosok wanita yang mungkin usianya sebaya dengan Mama Dewi, mengenakan gamis warna hijau dengan jilbab senada. Wanita itu tersenyum ramah pada Rendra.
__ADS_1
"Woalah ini tamunya, ganteng dan gagah seperti ini, pantas saja sampai membuat Dita galau." Seloroh Bunda Dita.
"Assalamu'alaikum Bu. Perkenalkan nama saya Narendra Daneswara, biasanya dipanggil Rendra." Rendra mengulurkan tangannya pada Bunda Dita untuk berjabat tangan.
"Wa'alaikumsalam warahmatullah, saya Hasna, bundanya Adi dan Dita." Bunda Dita menyambut uluran tangan Rendra untuk berjabat tangan lalu Rendra mencium punggung tangan Bu Hasna.
"Duduk dulu Nak Rendra, sebentar ya saya panggilkan Dita."
"Iya, terima kasih Bu. Oiya ini ada titipan dari mama, maaf belum bisa ikut silaturahim ke sini karena ada acara yang juga tidak bisa ditinggalkan." Rendra menyerahkan tas bingkisan yang tadi dia bawa pada Bu Hasna.
"Malah jadi merepotkan, tolong ucapkan terima kasih ya sama mama." Ucap Bu Hasna setelah menerima tas bingkisan yang berisi puding buah. Beliau lalu masuk lagi ke dalam untuk menyimpan puding ke dalam kulkas sekaligus memanggil Dita.
"Menurut cerita Adi, Nak Rendra ini kakak kelasnya Dita, apa benar?" Tanya Pak Wijaya.
"Betul Pak, satu fakultas tetapi beda jurusan. Saya jurusan teknik sipil seperti Mas Adi."
"Semester berapa?"
"Besok ini insya Allah semester 6, Pak."
Dita dan bundanya keluar bersama dari dalam, Dita membawa nampan yang berisi 5 cangkir teh dan Bu Hasna membawa 2 piring jajanan pasar yang tadi dia beli. Setelah meletakkan semua suguhan di atas meja, Bu Hasna mempersilakan untuk menikmati.
"Ayo Nak Rendra minum dulu, jauh kan tadi perjalanannya. Maaf ini adanya cuma jajanan pasar, maklum di kampung."
"Terima kasih, ini sudah lebih dari cukup Bu. Saya boleh ke sini saja sudah sangat bahagia apalagi dijamu seperti ini." Rendra lalu mengambil cangkir teh lalu menyesapnya pelan.
"Rendra ini sudah punya kafe loh, Yah, Bun." Ucap Adi sambil menikmati tehnya.
"Masih banyak yang lebih hebat dari saya, Bu." Ucap Rendra merendah.
"Jual apa saja di kafenya?" Tanya Pak Wijaya.
"Aneka kopi, teh, susu, dan makanan ringan, Pak." Jawab Rendra.
"Tidak menjual miras kan?" Tanya Pak Wijaya lagi.
"Alhamdulillah tidak Pak. Saya hanya ingin menjual yang halal saja Pak agar lebih berkah rezekinya."
"Nak Rendra ini berapa bersaudara ya?" Tanya Bu Hasna.
"Saya tiga bersaudara Bu, saya anak kedua. Kakak saya Alesha dan adik saya Nisa, keduanya perempuan." Rendra lalu menceritakan soal keluarganya dan juga papanya yang sudah meninggal.
"Nak Rendra salat 5 waktu?" Tanya Pak Wijaya
"Alhamdulillah, insya Allah tidak terlewat."
"Selalu salat di masjid?"
"Belum Pak, kalau memungkinan di masjid atau musala, tetapi bila tidak bisa ya di rumah."
"Mulai dibiasakan ya salat fardu di masjid. Kamu juga Adi masih sering bolong ke masjid."
__ADS_1
"Insya Allah Pak."
"Ya, aku kena juga ini." Seloroh Adi.
"Bisa baca Al-Qur'an?"
"Insya Allah bisa, Pak."
"Rutin baca Al-Qur'annya?"
"Insya Allah rutin setiap selesai subuh atau setelah tahajud."
"Merokok? Miras?"
"Insya Allah tidak keduanya Pak."
"Tadi katanya punya kafe, berarti sudah ada penghasilan tiap bulan?"
"Alhamdulillah sudah Pak."
"Sudah berapa omzetnya?"
"Untuk per hari saat ini masih sekitar 2 juta, Pak."
"Penghasilanmu malah lebih besar dari saya per bulannya." Canda Pak Wijaya.
"Bapak bisa saja, itu tadi masih kecil Pak." Ucap Rendra yang ikut tertawa kecil.
"Jangan selalu memandang ke atas, untuk anak muda seperti Nak Rendra itu sudah bagus." Puji Bu Hasna.
"Iya Bu, alhamdulillah mama selalu mengajarkan saya untuk selalu bersyukur. Tetapi saya juga tidak boleh cepat berpuas diri dengan apa yang saya capai, saya harus terus berusaha sampai titik batas kemampuan saya."
Pak Wijaya dan Bu Hasna menganggukkan kepala mereka, dalam hati mereka mengagumi sosok Rendra yang sudah mandiri di usia muda.
"Saya rasa sudah cukup tadi perkenalannya, jadi tujuan Nak Rendra ke sini untuk apa?" Tanya Pak Wijaya yang seketika membuat suasana di ruang tamu menjadi sunyi dan menengangkan.
"Bismillah ... pertama tujuan saya ke sini untuk bersilaturahim dengan Pak Wijaya, Ibu Hasna, Mas Adi dan juga Dita. Kedua, saya ingin mengutarakan perasaan cinta saya pada putri Bapak dan Ibu yang bernama Dita. Ketiga, saya ingin meminta izin dan restu Bapak dan Ibu untuk saya bisa lebih dekat lagi dengan Dita." Jawab Rendra dengan lancar dan tenang tanpa terlihat cemas atau pun grogi.
"Kedekatan seperti apa yang Nak Rendra maksudkan?"
"Seperti pacar, Pak."
"Apa Adek juga cinta sama Nak Rendra?" Tanya Pak Wijaya pada Dita.
"I ... iya ... Ayah." Jawab Dita gagap membuat Bunda merangkul Dita untuk memberi kekuatan.
"Apa Adek juga mau pacaran sama Nak Rendra?" Tanya Pak Wijaya lagi.
"Aku ikut keputusan ayah, kalau ayah mengizinkan aku mau, tetapi kalau ayah tidak mengizinkan aku tidak mau." Jawab Dita sambil menunduk.
Pak Wijaya menghela napasnya.
__ADS_1
"Nak Rendra, meski Nak Rendra dan Dita sama-sama saling mencintai, tapi maaf, saya tidak mengizinkan kalian pacaran."