
Akhirnya Rendra dan Dita memutuskan pergi ke Parangtritis setelah sebelumnya browsing dan booking hotel dengan pemandangan pantai yang cocok untuk relaksasi. Karena hanya akan menginap semalam, mereka tidak banyak membawa baju ganti jadi hanya menggunakan ransel untuk membawa barang-barang mereka. Berpenampilan seperti piknik ala backpacker, meski mereka akan menginap di sebuah resort mewah yang ada di pinggiran Pantai Parangtritis.
Setelah berpamitan dengan Ibu Dewi dan Adi, mereka berdua berangkat menggunakan motor sport Rendra. Tak lupa memakai jaket kulit couple yang dibeli Rendra beberapa waktu yang lalu. Mereka menikmati perjalanan dengan saling bercerita hingga perjalanan selama kurang lebih 1 jam tidak terasa.
Penginapan yang mereka tuju lokasinya tidak di pinggir jalan raya, akses jalan masuk ke sana melewati area perkampungan warga. Meski begitu pemandangan di sana sangat indah karena menghadap langsung ke pantai. Selain penginapan itu menghadap ke laut, ada juga kolam renang besar di pinggir pantai yang bisa dipakai para tamu. Terdapat banyak gazebo juga di sana.
Sesudah memarkir motor, Rendra dan Dita menuju ke resepsionis untuk check in. Kamar yang mereka pesan tipe superior sea view, dengan kaca jendela besar yang menghadap langsung ke laut. Jadi dari dalam kamar mereka bisa langsung melihat laut.
Selesai check in, mereka diantar menuju ke kamar. Dita terlihat senang sekali melihat pemandangannya, terdengar deburan ombak yang menenangkan. Karena lokasinya jauh dari jalan raya jadi suasananya terasa tenang.
"Ini Pak kamarnya, silakan masuk. Kalau butuh sesuatu bisa menghubungi layanan kamar." Jelas karyawan hotel yang mengantar mereka.
"Terima kasih, Mas." Ucap Rendra sambil menyelipkan tip pada karyawan hotel itu.
"Terima kasih, Pak. Saya permisi dulu." Pamit karyawan itu.
Rendra menganggukkan kepala, dia lalu membuka pintu kamar mereka.
"Sayang, ayo masuk." Ajak Rendra pada Dita yang masih mengagumi pemandangan di depan kamar mereka.
Dita masih bergeming di tempatnya berdiri, sepertinya dia tidak mendengar ajakan Rendra karena sedang menikmati pemandangan sekitar. Akhirnya Rendra menghampiri Dita, dia berdiri di belakang Dita lalu memeluknya.
"Eh ... Mas, ngagetin aja." Dita berjingkat saat Rendra memeluknya.
"Kamu asyik sendiri sih, aku panggil enggak dengar." Rendra menempatkan dagunya di bahu Dita.
"Masa sih, Mas?" Dita menolehkan kepala melihat Rendra.
"Kamu suka suasana di sini?"
"Iya, suka banget. Makasih ya, Mas." Dita tiba-tiba mengecup pipi suaminya.
Sejenak Rendra terkesiap mendapat ciuman di pipinya. Apalagi Dita berinisiatif sendiri tanpa dia minta seperti biasanya. Dia pun lalu membalas mencium pipi Dita, yang sukses membuat istrinya itu merona.
"Masuk yuk, Sayang. Kita lanjutkan di dalam." Rendra melepas pelukannya lalu merangkul bahu Dita, membimbingnya masuk ke kamar.
"Masya Allah, indah banget pemandangannya dari dalam kamar. Kamarnya juga lumayan luas." Komentar Dita begitu memasuki kamar.
Dita berkeliling kamar melihat fasilitas apa saja yang ada di sana. Ada TV layar datar, mini bar, AC, bathrobe, handuk dan lainnya.
Rendra segera mengunci kamar setelah menutup pintu. Dia meletakkan ransel di atas meja, melepas jaket dan menyimpannya di punggung kursi. Dita kemudian membongkar ransel dan menata bawaan mereka di lemari. Rendra lalu melangkah menuju ranjang kemudian duduk berselonjor di atasnya.
"Istirahat di sini dulu, Sayang." Rendra menepuk kasur di sampingnya.
"Iya Mas, enggak ganti baju yang lebih santai?"
"Nanti aja setelah Asar. Hijabmu dilepas dulu, nanti kusut kalau buat tiduran."
Dita melepas jaket dan hijabnya lalu berjalan menghampiri Rendra. Dia duduk di samping suaminya. "Capek ya, Mas?"
Rendra menggeleng lalu tersenyum. "Enggak ada kata capek kalau ada kamu."
"Gombal." Cibir Dita meski dengan tersipu.
Rendra menarik wajah Dita agar menghadapnya. "Kok kamu enggak percaya sih. Sini aku buktikan kalau aku enggak capek."
Rendra mulai mencium dengan pelan bibir Dita, menikmati rasa manis bibir basah dan kenyal milik istrinya. Dia mengulumnya dengan lembut, menyesap, menggigit dan menelusuri setiap sisinya. Tak mau melewatkan sedikitpun.
"Bibirmu manis, Sayang, dan aku suka." Bisik Rendra di sela ciuman mereka.
Mereka kembali saling menikmati penyatuan bibir mereka. Dengan perlahan, Rendra mulai membaringkan Dita di atas ranjang. Sekarang posisi Rendra berada di atas tubuh Dita.
Ciuman Rendra mulai turun ke leher jenjang istrinya. Selain memberi ciuman, dia juga menggigit kecil leher Dita dan meninggalkan beberapa tanda di sana. Dita hanya memejamkan mata menikmati setiap sentuhan Rendra.
"Allahu Akbar ... Allahu Akbar ...."
Tiba-tiba terdengar suara azan Asar dari aplikasi pengingat salat di gawai Rendra.
Rendra pun kemudian menghentikan kegiatannya. Dia mengecup kening Dita lalu menyatukan kening mereka. Dita membuka matanya.
"Terima kasih, Sayang. I love you." Rendra kembali mencium kening Dita lalu bangun dari posisinya.
"Kita salat Asar dulu." Rendra beranjak meninggalkan ranjang, mengambil baju koko dan sarung lalu ke kamar mandi.
__ADS_1
Dita ikut bangun dari posisinya lalu merapikan tempat tidur. Setelah itu dia menyiapkan peralatan salat sambil menunggu Rendra keluar dari kamar mandi.
Begitu Rendra keluar, Dita segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudu. Mereka kemudian salat Asar berjemaah. Selesai salat dan menyimpan peralatan salat, mereka duduk di atas ranjang.
"Di sini dekat area paralayang lho, kamu mau coba?" Tawar Rendra pada Dita.
"Enggak mau, aku takut ketinggian. Tapi kalau Mas mau paralayang, aku temani ke sana."
"Enggak asyik lah sendiri. Kan kita bisa tandem terbangnya. Kita terbang berdua, kamu tinggal duduk di depan menikmati pemandangan, aku yang kendalikan parasutnya."
Dita menggelengkan kepala. "Enggak mau, yang ada nanti aku bukannya tambah rileks tapi malah stres karena takut ketinggian."
"Terus mau apa? Mau berenang, naik kuda, spa, jalan-jalan atau mau di kamar saja meneruskan yang tadi." Rendra memberikan beberapa alternatif kegiatan yang bisa mereka lakukan.
"Kalau gitu naik kuda saja. Mas mau kan?"
"Aku ikut saja apa yang kamu mau."
"Ya sudah siap-siap, aku hubungi layanan kamar dulu."
Selesai bersiap, mereka menuju ke area penyewaan kuda. Mereka menyewa dua ekor kuda karena tidak mungkin mereka berdua naik kuda bersama. Setelah diberikan pengarahan cara menaiki dan mengendalikan kuda, mereka berkuda mengelilingi pantai.
Sesudah berkuda, mereka lalu duduk di area pantai sambil menunggu matahari terbenam. Dita menyandarkan kepalanya di bahu Rendra. Tangan mereka saling menggenggam.
"Kamu senang ke sini, Sayang?" Rendra mencium punggung tangan Dita dengan lembut.
"Senang banget. Mas juga senang, kan?"
"Tentu saja, apalagi berdua sama kamu. Kayanya kita harus mengagendakan weekend gateway seperti ini tiap bulan."
"Kenapa Mas?"
"Biar aku bisa seharian penuh sama kamu."
"Ish, kan tiap weekend aku juga sama Mas terus."
"Tapi kan kadang kamu juga sama anggota keluarga lainnya. Tiap weekend juga kita pasti mengurusi pernikahan kita, jadi enggak bisa benar-benar rileks berdua."
"Di sini kita bisa benar-benar berdua menikmati quality time tanpa ada yang mengganggu. Melupakan semua urusan kuliah, pekerjaan dan persiapan pernikahan sejenak."
"Iya bulan depan kita liburan ala backpacker. Tapi kamu harus siap minim fasilitas ya kalau ala backpacker."
"Sekarang aja penampilan kita udah kaya backpacker, Mas."
"Tapi penginapannya kan enggak, Sayang. Bulan depan kita persiapkan lebih matang. Kalau hari ini kan spontanitas."
"Eh ... lihat Mas mataharinya sudah mau terbenam." Dita menunjuk ke sebelah barat di mana matahari terbenam. Rendra mengikuti arah pandangan Dita.
Langit sudah mulai menggelap dan berwarna oranye, matahari pelan-pelan mulai turun dan akhirnya terbenam di cakrawala.
"Masya Allah, cantiknya." Gumam Dita sembari terus tersenyum bahagia.
"Kamu juga enggak kalah cantik." Rendra kembali mencium punggung tangan Dita sambil menatapnya. Dia lalu mencuri ciuman di pipi Dita saat istrinya itu masih terpaku melihat keindahan langit yang mulai menggelap.
"Mas ih, ini kan di tempat umum. Malu dilihatin orang." Dita melepaskan tangannya dari genggaman Rendra lalu menutup kedua pipinya.
"Yang belum halal aja enggak malu kok mesra-mesraan di depan umum. Masa kita yang sudah halal malu sih."
"Tapi hal seperti itu enggak perlu ditunjukkan juga di depan umum, Mas."
"Suka-suka aku lah."
"Mas ih, dibilangin ngeyel."
"Mau aku gendong enggak sampai ke kamar?"
"Enggak mau, aku bisa jalan sendiri."
"Tapi aku pengen gendong kamu."
"Apaan sih, enggak mau." Dita bangkit dari duduknya lalu lari meninggalkan Rendra.
Rendra ikut bangun dari duduknya kemudian mengejar Dita. Akhirnya mereka kejar-kejaran di pantai, sampai akhirnya Rendra bisa menangkap Dita. Dia langsung mengangkat tubuh Dita lalu menggendongnya ala bridal style.
__ADS_1
Awalnya Dita memberontak, tetapi setelah Rendra mengancam akan mencium bibirnya bila terus menolak, akhirnya dia menurut.
"Ambil kunci kamar di saku depan yang sebelah kanan." Perintah Rendra setelah mereka sampai di depan kamar.
"Turunin aku. Mas ambil sendiri kuncinya." Tolak Dita.
"Ya udah kita semalaman kaya gini terus aja kalau kamu enggak mau ambil kuncinya." Rendra tak mau kalah.
"Ish, Mas tuh bisa aja ngancamnya biar aku nurut." Tangan Dita mulai masuk ke saku depan celana Rendra dan mencari kunci kamar. Untung dia langsung bisa mendapatkannya.
"Ini kuncinya." Dita menunjukkan pada Rendra.
"Buka dong pintunya, aku mana bisa buka pintu sambil gendong gini."
Dita pun akhirnya membuka pintu kamar. Rendra membuka pintu lebih lebar dengan punggungnya lalu dia masuk ke dalam sambil masih menggendong Dita.
"Mas turunin aku, ini udah sampai kamar."
"Cium dulu." Dita lalu mencium pipi suaminya.
"Enggak mau di pipi, maunya di bibir."
"Mas, ini udah Magrib lho."
"Makanya buruan ciumnya."
Cup ... cup ... cup ....
Dita tiga kali mengecup singkat bibir Rendra, wajahnya sudah memerah karena malu.
Rendra tersenyum. "Terima kasih, Cintaku." Dia lalu menurunkan Dita dari gendongannya.
"Kamu mau mandi dulu, atau kita mandi bareng biar menyingkat waktu?" Tanya Rendra dengan senyum menggoda.
"Aku mandi sendiri." Dita bergegas mengambil baju ganti lalu masuk ke kamar mandi.
Rendra tertawa melihat Dita, dia lalu menghubungi layanan kamar untuk memastikan pihak resort menyiapkan candle light dinner di pinggir pantai. Dia ingin memberikan kejutan makan malam romantis untuk istrinya.
Mereka menuju ke tempat makan malam setelah menjalankan salat Magrib. Sepanjang jalan mereka saling bergandengan tangan. Ternyata tempat makan malam yang disiapkan tidak jauh dari kamar mereka.
Dita terkejut saat mereka sampai di sana karena suasananya sangat romantis dengan penerangan yang tidak terlalu terang di sekitarnya dan lilin-lilin yang diletakkan di atas meja. Mereka duduk menghadap ke pantai ditemani dengan suara deburan ombak yang terasa menenangkan jiwa.
"Mas yang siapin semua ini?" Tanya Dita sambil memandang suaminya.
"Bukan, pihak resort yang siapin semua. Mana mungkin aku siapin ini sendiri dari tadi kan kita bersama terus."
"Mas ih nyebelin kalau ditanya jawabnya mesti muter-muter. Maksudku, apa Mas yang pesan seperti ini?"
"Iya tentu saja aku, siapa lagi suamimu kalau bukan aku."
"Tahu ah," Dita memalingkan wajahnya dari Rendra.
"Ngambek nih ye." Goda Rendra sambil mentowel-towel pipi Dita.
Dita tetap bergeming tidak menanggapi godaan Rendra.
"Udah dong ngambeknya, kita kan mau makan malam romantis masa malah ngambek gini." Rendra memegang dagu Dita, lalu mengarahkan wajah Dita untuk menghadapnya.
Rendra meraih kedua tangan Dita lalu mengecupnya satu per satu.
"Maafin aku ya, aku kan cuma bercanda." Rendra memandang Dita dengan tatapan memohon.
"Iya, tapi Mas jangan nyebelin gitu lagi kalau jawab pertanyaanku."
"Iya Sayang, aku janji. Sekarang senyum dong jangan cemberut gitu. Apa minta dicium dulu biar bisa senyum ... hummm."
"Apaan sih Mas." Dita tersenyum malu.
"Ih kan gemesin kalau lagi malu gini jadi pengen cepet masuk ke kamar."
Wajah Dita semakin memerah setelah mendengar ucapan suaminya. Lama-lama Rendra sekarang makin frontal kalau berbicara.
Mereka melewati makan malam itu dengan suasana yang romantis. Saling bercerita dan saling bercanda. Sesekali Rendra juga mencium tangan Dita.
__ADS_1
Setelah makan malam, mereka berjalan-jalan sebentar menyusuri pantai baru kembali ke kamar untuk beristirahat.
Pagi harinya sebelum check out, mereka menikmati layanan pijat dan spa untuk memanjakan tubuh mereka sebelum Senin besok mulai beraktivitas seperti sedia kala.