
“Kak Rendra enggak ke kafe?” Tanya Nisa saat Rendra yang baru pulang dari masjid langsung duduk di kursi ruang makan.
“Enggak, kenapa memangnya?” Rendra mengerutkan keningnya pada Nisa.
“Tumben aja, biasanya kan Sabtu sama Minggu Kak Rendra ke kafe.”
“Nanti habis Isya mau ngomong sama Mama dan Kak Sasha.” Ucap Rendra sambil mengambil tumis jagung muda dari mangkok sayur ke piringnya.
“Bagaimana tadi pertemuan dengan ayahnya Dita?” Tanya Ibu Dewi.
“Itu yang nanti mau aku omongin Ma. Sekarang makan dulu ya, sudah lapar nih.” Jawab Rendra.
“Kakak ditolak ya sama Mbak Dita?” Tebak Nisa sok tahu.
“Enggak,” sahut Rendra malas.
“Kalau enggak ditolak, kenapa dari pulang tadi wajahnya Kak Rendra itu kaya kanebo kering, kaku, enggak ada senyum-senyumnya?” Tanya Nisa penasaran.
“Berisik ah, orang lagi makan juga.” Jawab Rendra ketus.
“Nisa, sudah jangan mengganggu kakakmu. Cepat habiskan makanmu.” Tegur Ibu Dewi.
“Iya Ma,” Nisa melanjutkan lagi makannya dengan tenang.
“Tadi salat Magrib di masjid ya Ren?” Tanya Shasha mulai kepo.
“Iya, belajar rutin lima waktu di masjid.” Jawab Rendra.
“Syarat dari ayahnya Dita ya?” tebak Shasha.
“Enggak.”
“Bagus Ren, mama dukung dan doakan semoga kamu bisa istikamah.”
“Aamiin,” ucap Rendra mantap.
Setelah selesai makan, Rendra bersantai sejenak sambil menunggu azan Isya. Begitu azan Isya berkumandang, dia bergegas pergi ke masjid.
Sepulang dari masjid, dia langsung ke ruang tengah, di sana dia sudah ditunggu mamanya dan juga Shasha. Sementara Nisa di kamarnya mengerjakan tugas sekolah.
“Enggak ganti baju dulu Ren?” Tanya Ibu Dewi yang melihat Rendra masih memakai baju koko dan sarung.
“Enggak Ma.” Jawab Rendra yang langsung duduk di samping mamanya.
__ADS_1
“Jadi gimana hasilnya tadi siang?” Shasha mulai tak sabar.
“Nanti dulu Kak sabar, ini ada titipan salam takutnya lupa disampaikan. Mama dapat salam dari Ibu Hasna, bundanya Dita.”
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.” Balas Ibu Dewi.
“Jadi begini, tadi Pak Wijaya, ayahnya Dita, tidak mengizinkan aku pacaran sama Dita ....”
“Wah, kasihan adikku ini, sekalinya jatuh cinta langsung ditolak sama bakal calon mertua,” ledek Shasha yang memotong ucapan Rendra.
“Kak, dengar dulu aku belum selesai ngomong.” Tegur Rendra kesal.
“Galak amat sih, iya aku diam.” Sahut Shasha.
“Pak Wijaya malah minta aku melamar dan menikah sama Dita kalau aku memang mencintai Dita.” Rendra menatap mamanya dan Shasha bergantian, melihat reaksi mereka.
“Bagaimana menurut Mama dan Kak Shasha?” Tanyanya karena tidak juga ada reaksi dari mama dan juga kakaknya.
Ibu Dewi jelas terkejut mendengar ucapan Rendra meski dia tidak bereaksi secara ekstrem. Dia tidak menyangka hal secepat itu akan terjadi, melepas anaknya untuk menikah. Apalagi Rendra, satu-satunya anak lelaki yang dia harapkan bisa menggantikan posisi papanya sebagai pelindung keluarga. Tetapi dia tidak boleh egois bukan, mungkin memang sudah takdirnya Rendra bertemu jodohnya lebih cepat.
Shasha pun tak kalah terkejut, meski dia hanya diam tak menunjukkan reaksi apa pun. Sebenarnya dia pun tidak masalah bila Rendra menikah terlebih dahulu, toh kenyataannya dia memang belum mempunyai calon suami. Dia pun bukan orang yang peduli dengan omongan orang lain bila nanti dia digunjingkan karena dilangkahi oleh adiknya. Dia masih menunggu reaksi mamanya sebelum mengungkapkan pendapatnya.
“Rendra sendiri bagaimana? Siap untuk melamar dan menikah dengan Dita?” Tanya Ibu Dewi sambil menggenggam tangan Rendra dan menatap kedua mata putranya itu penuh cinta.
“Shasha bagaimana? Apa kamu ikhlas kalau Rendra menikah lebih dulu?” Ibu Dewi berganti menatap Shasha.
“Shasha enggak masalah, Ma. Lagian Shasha juga masih terikat kontrak kerja tidak boleh menikah.”
“Apa kamu siap kalau nanti digunjingkan orang karena dilangkahi Rendra?” Tanya Ibu Dewi penuh kelembutan.
“Enggak usah dipedulikan omongan orang, Ma. Biarlah mereka berkata sesuka hatinya, yang penting kita tahu kebenarannya seperti apa.” Jawab Shasha.
Ibu Dewi tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. “Kalau memang Rendra siap dan Shasha ikhlas, mama hanya bisa mendukung dan mendoakan semoga niat baik Rendra dilancarkan.”
"Aamiin," ucap Rendra dan Shasha serempak.
"Terima kasih Ma," Rendra mencium punggung tangan lalu memeluk erat mamanya.
"Terima kasih Kak," Rendra mendekat pada Shasha lalu mencium punggung tangan dan memeluk kakaknya itu.
"Sini kalian peluk mama," ucap Ibu Dewi sambil merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Shasha dan Rendra.
"Mama bangga sama kalian berdua bisa bersikap dewasa dan saling mendukung. Terima kasih kalian sudah tumbuh dengan baik meski tanpa papa. Di saat kalian harusnya bersenang-senang untuk menikmati masa remaja tetapi kalian dituntut harus bersikap dewasa."
__ADS_1
"Maafkan mama ya kalau sampai kalian dewasa belum bisa membahagiakan kalian. Mama berharap kalian akan tetap rukun meskipun mama nanti sudah tidak ada. Selama mama masih hidup, mama selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian dan mama akan mendukung apa pun pilihan kalian selama memang itu baik dan tidak keluar dari ajaran agama."
Mereka bertiga berpelukan dengan erat dan tanpa sadar meneteskan air mata.
"Sudah pelukannya ya," Ibu Dewi melepaskan tangannya yang tadi memeluk Rendra dan Shasha lalu menyeka air matanya. Rendra pun menarik dirinya begitu juga Shasha.
"Ini momen yang bahagia harusnya kita gembira bukannya bersedih," ucap Ibu Dewi sambil tersenyum menatap kedua buah hatinya bergantian.
"Kita lanjutkan ya pembicaraan tadi," kata Ibu Dewi.
"Kapan kamu rencananya melamar Dita, biar mama siapkan keperluan lamarannya?" Tanya Ibu Dewi.
"Belum tahu Ma," jawab Rendra.
"Kok bisa belum tahu, memang belum dibicarakan sama keluarga Dita?" sela Shasha.
"Dita saja belum memberi keputusan Kak," Rendra tersenyum miris.
"Maksudnya bagaimana Ren, kakak enggak ngerti?"
"Ayahnya Dita memberi dua pilihan pada kami, menikah atau tidak berhubungan sama sekali. Aku minta untuk bicara dulu dengan Dita, enggak mungkin aku memutuskan sepihak karena menikah itu bukan perkara kecil."
"Aku bilang ingin melanjutkan menikah tetapi Dita masih bingung. Kami kan masih kuliah, dan Dita juga masih semester awal sudah pasti banyak tugas. Dia takut tidak bisa menjalaninya apalagi kalau nanti punya anak."
"Makanya dia juga minta waktu untuk berpikir. Ya kembali seperti dua minggu kemarin, kami akan istikharah dan tahajud lagi untuk memantapkan hati dan minta pentunjuk."
Rendra menghela napas lega setelah menjelaskan duduk persoalannya.
"Kakak kira sudah diputuskan semua terus kita tinggal ke sana untuk melamar."
"Enggak Kak, keluarganya Dita juga menyerahkan keputusan pada kami berdua. Dan sekarang aku menunggu keputusan Dita. Semoga saja Dita bisa segera mengambil keputusan."
"Mama paham Ren apa yang Dita rasakan. Apalagi kalian masih muda, sama-sama masih kuliah, pastinya keputusan menikah bukan perkara yang mudah diambil. Beda kalau kalian sudah selesai kuliah dan bekerja, pasti sudah lebih siap.
"Mama cuma pesan, kalau memang kalian menikah dalam waktu dekat, kalian harus selalu berdiskusi untuk memutuskan sesuatu, jangan pernah ambil keputusan sendiri apalagi mementingkan ego."
"Kalian masih muda, ego masih sama-sama tinggi, tetapi sebagai suami kamu harus tetap bisa mengayomi istri, harus lebih sabar dan mengalah di awal. Nanti seiring berjalannya waktu pasti akan mengalir sendiri alurnya."
"Sebagai imam, kamu juga harus bisa membimbing istri untuk bisa lebih baik. Membimbing dan mendidik dengan lembut, tidak dengan memaksa. Jangan sekali pun kasar dan bermain fisik pada istri semarah apa pun kamu nanti. Dan pastinya kamu juga harus memberi nafkah lahir dan batin pada istrimu."
Ibu Dewi memberi nasihat panjang pada Rendra.
"Iya Ma, selalu doakan Rendra agar bisa menjadi suami yang baik dan saleh." Pinta Rendra.
__ADS_1
"Pasti mama doakan, karena hanya doa yang bisa mama berikan pada kalian."