Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
42


__ADS_3

“Mama ingin ketemu Dita, apa bisa kamu bilang sama dia, Ren?”


“Ya, nanti aku sampaikan Ma. Tapi mungkin menunggu sampai dia kembali ke sini.”


“Kapan dia kembali ke sini?”


Rendra mengangkat bahunya. “Enggak tahu Ma, mungkin minggu terakhir libur semester. Dia kan harus heregistrasi, mengisi KRS (Kartu Rencana Studi) dan mengambil KHS (Kartu Hasil Studi).”


“Memangnya dia enggak bilang kapan mau balik?” tanya Shasha.


“Enggak, kan aku enggak pernah kontak selama masa istikharah.”


“Nanti aku tanya ke Dita ya Ma, aku kan punya nomornya.” Kata Shasha pada mamanya.


“Terserah siapa yang mau menghubungi Dita, sampaikan saja mama ingin ketemu dia kalau dia sudah kembali ke sini.”


Rendra dan Shasha menganggukkan kepala mereka. “Ya, Ma.”


“Mama ke kamar dulu ya, jangan lupa nanti dicek lagi pintunya ya Ren,” pesan Ibu Dewi lalu beranjak dari ruang tengah menuju ke kamarnya.


“Iya Ma,” sahut Rendra.


“Kamu sudah yakin Ren sama Dita?” Tanya Shasha saat mereka hanya tinggal berdua.


“Insya Allah, kenapa memangnya Kak?”


“Cuma memastikan saja, jangan sampai hanya emosi sesaat. Kakak suka sama dia. Anaknya baik, sopan juga supel. Tapi kayanya kamu mesti banyak sabar menghadapi dia, Ren.”


“Iya, Mas Adi juga sudah sering bilang harus sabar. Wataknya dia keras, kalau dikerasin jadinya malah ribut. Dulu kan awalnya juga kami selalu nyolot tiap ketemu karena sama-sama keras.” Rendra tersenyum menerawang saat membayangkan awal pertemuan mereka.


“Dih, yang baru jatuh cinta senyum-senyum sendiri, jadi serem ah lihatnya.” Goda Shasha berpura-pura takut.


“Aku cek pintu dulu Kak, terus tidur. Energiku terkuras besar hari ini.” Celetuk Rendra sambil berdiri lalu pergi mengecek pintu garasi dan pintu depan.


Shasha pun kemudian ikut beranjak masuk ke kamarnya sendiri.


Begitu Rendra masuk ke kamarnya, dia segera berganti dengan kaos oblong dan celana pendek untuk tidur. Kemudian dia ke kamar mandi untuk bersih-bersih sekalian berwudu. (1)


Rendra segera merebahkan dirinya begitu menyentuh kasur. Dia mengambil gawainya lalu mencari kontak seseorang kemudian menyentuh tombol panggilan.


“Hello, what’s up Bro?” sapa seseorang dengan riang di seberang telepon.


“Assalamu’alaikum, salam yang bener Bro.”


“Wa’alaikumsalam Pak Haji.”


“Apa kabar Bro? Posisi lo sekarang lagi di Jogja apa di Jakarta?”


“Alhamdulillah gue baik. Gue di Jogja, alhamdulillah dapat job ngamen terus di sini. Gue malah belum balik Jakarta, enggak tahu balik apa enggak. Mama sampai ngomel melulu kalau ditelepon. Kenapa Bro?”


“Gue mau ketemu sama lo. Kapan lo ada waktu?”


“Lo kangen sama gue ya? Hahaha. Besok gue bisa siang sampai sore, malam gue ngamen.”


“Oke besok siang habis Zuhur ya, kita ketemu di mana?”


“Di kafe aja, besok gue ke sana. Duh, kok kaya enggak enak ini perasaan gue. Berasa


dejavu (2) gue.”


“Gue tunggu ya besok di kafe. Gue tidur dulu, capek banget hari ini. Assalamu’alaikum.”


“Oke, wa’alaikumsalam.”


Setelah mematikan panggilan, dia segera menonaktifkan data internet lalu meletakkan gawainya di atas nakas. Kemudian dia kembali berbaring, berdoa lalu memejamkan matanya.


...---oOo---...


“Rendra sudah datang belum Mas?” Tanya Bara pada Pras, karyawan kafe yang sedang masuk shift pertama.


“Baru ke masjid Mas, katanya kalau ada temannya yang datang disuruh langsung naik ke atas. Ini Mas Bara kan?”


“Iya, gue Bara. Gue nunggu di sini saja Mas, males sendirian di atas. Tolong sekalian dibuatkan ice americano ya Mas.”

__ADS_1


“Siap Mas.” Pras lalu mulai membuatkan pesanan Bara.


“Rendra sudah datang dari tadi?” Tanya Bara sambil memainkan gawainya.


“Dari jam 11 tadi, kemarin kan Mas Rendra enggak datang. Ada urusan keluarga katanya, makanya hari ini datang agak pagi.” Jawab Pras.


“Rendra pernah bawa cewek ke sini Mas?” Tanya Bara penasaran.


“Enggak pernah Mas, tetapi kapan itu ada dua orang, satu cewek sama satu cowok datang dan ditemuin sama Mas Rendra. Mereka ngobrol sampai kafe tutup.”


“Mas tahu namanya?” Tanya Bara coba mengorek informasi.


“Enggak Mas, yang jelas mereka kelihatan akrab.” Jawab Pras sambil menyerahkan ice americano pesanan Bara. “Ini Mas pesanannya.”


“Terima kasih, Mas.” Ucap Bara.


“Eh ... lo udah datang Bro, udah lama?” tanya Rendra yang baru masuk ke kafe dengan baju koko dan sarungnya.


“Eh ... Pak Haji sudah datang. Assalamu’alaikum Pak Haji.” Seloroh Bara.


“Wa’alaikumsalam, di-aamiin-kan saja didoakan jadi Pak Haji. Kok enggak naik Bro?” Rendra menepuk punggung Bara.


“Males gue sendirian di atas mending di sini ada teman ngobrol.”


“Ya udah yuk ke atas, lo udah salat kan?”


“Sudah, Pak Haji.”


“Mas Pras, aku naik dulu ya. Kalau enggak ada yang penting banget tolong jangan diganggu ya.” Pesan Rendra.


“Siap Mas.”


Rendra dan Bara lalu naik ke lantai atas. Sebelum masuk ke ruangannya Rendra berganti baju dulu di ruang istirahat, setelah itu dia menyusul Bara yang sudah menunggunya.


“What’s up Bro? Kayanya penting banget lo harus ketemu sama gue.”


“Karena ini menyangkut Dita, dan menurut gue kalau lo tahu lebih cepat lebih baik.”


 “Shit!!! Perasaan gue udah enggak enak dari semalam.” Bara tersenyum kecut.


"Iya ... iya gue siap." Bara menyandarkan punggungnya di sofa.


"Setelah pulang dari Malioboro itu gue nembak Dita."


"Terus lo diterima?"


"Enggak."


"Lo ditolak?"


"Enggak juga."


"Terus?" Bara semakin mengernyit.


"Dia enggak jawab apa-apa."


"Jadi lo digantung sama Dita?"


"Bisa dibilang begitu."


Bara tertawa kencang, "nasib kita sama Bro."


Rendra menggeleng. "Enggak lah, kalau lo kan langsung ditolak sama dia."


"Sialan lo." Bara menatap kesal pada Rendra.


"Cerita gue belum selesai Bro. Jadi sehari setelah gue nembak Dita, dia langsung balik ke rumah orang tuanya sampai hari ini."


"Beberapa hari yang lalu dia WA gue, kalau gue mau dengar jawaban dia, gue harus ke rumah dan ketemu bokapnya. Terus Minggu kemarin ini gue ke sana."


"Gimana jawaban bokapnya Dita?"


"Beliau tidak mengizinkan kami pacaran."

__ADS_1


"Hahaha ... nasib lo ternyata sama kaya gue. Masih mending gue ditolak anaknya, nah elo ditolak bokapnya. Lebih sakit cuyyyy." Bara tertawa dengan keras.


Rendra menatap Bara dengan kesal. "Dengerin gue ngomong dulu woi, gue belum selesai ngomong."


Bara lalu segera menghentikan tawanya begitu melihat Rendra menatapnya dengan kesal. "Oke, gue diam."


"Gue memang ditolak jadi pacarnya Dita, tetapi gua malah disuruh melamarnya kalau gue benar-benar cinta sama Dita."


Deg ... deg ... deg ....


Bara seketika terdiam, senyum yang sempat menghiasi wajahnya tadi menghilang. Wajahnya memerah, rahangnya mengeras, dan kedua tangannya terkepal kuat. Napasnya memburu dan matanya terpejam.


Rendra hanya diam melihat Bara, dia tahu sahabatnya itu sedang mengatur emosinya. Jadi dia akan menunggu sampai Bara kembali tenang.


Lima menit ... sepuluh menit ... lima belas menit ... Bara masih tetap diam tak bersuara. Tetapi napasnya sudah mulai tenang dan wajahnya juga tak lagi kaku.


Bara menghela napas panjang sebelum bicara.


"Jadi lo mau lamar Dita?" Tanya Bara dengan wajah dan suara datar.


"Belum tahu, gue masih nunggu keputusan Dita."


"Memangnya Dita belum memutuskan mau menikah sama lo?" Bara mengernyit kembali.


"Belum, status gue saat ini ya digantung." Rendra mendesah pelan.


"Kalau dia mau menikah sama gue ya berarti gue harus segera melamar dia, kalau dia enggak mau ya sudah, kisah cinta pertama gue berakhir." Lanjut Rendra sembari menatap Bara.


"Terus kapan Dita mau ngasih keputusan?"


"Enggak tahu, tak berbatas waktu." Rendra tersenyum getir.


"Perjuangan lo ternyata sama beratnya kaya gue, kalau gue langsung ditolak dan lo dua kali digantung. Memang susah banget menaklukan Dita itu."


"Lo bener, bentengnya dia kokoh banget, susah ditembus." Rendra tertawa sumbang.


"Bro, kalau nanti Dita benar nerima lamaran lo pastikan gue ada di sana. Gue mau lihat dia bahagia sama lo dengan mata kepala gue sendiri. Saat itu gue akan benar-benar melepaskan Dita."


"Lo yakin? Bukannya lo bilang mau nikung gue di sepertiga malam."


"Nyatanya tikungan gue kurang tajam Bro, hahaha. Gue yakin kalau Dita terima lo berarti dia memang jodoh lo. Mau gue tikung kaya gimanapun juga enggak bakal mempan."


"Tapi lo baik-baik aja kan Bro?" Tanya Rendra sambil memicingkan mata pada Bara.


"Secara fisik gue sehat Bro, tapi hati gue jangan ditanya kabarnya, ambyar." Jawab Bara dengan senyum miris.


"Maafin gue ya Bro," ucap Rendra.


"Apa yang harus gue maafin? Lo enggak ada salah apa-apa sama gue."


"Tapi gue udah buat hati lo sakit."


"Sebelum lo maju buat mendekati Dita, memang harusnya gue udah mundur saat dia nolak gue. Tapi gue aja yang nekat tetap maju meski ditolak. Jadi hati gue sakit ya karena gue sendiri bukan karena lo."


"Gue tulus mendoakan untuk kebahagiaan lo berdua," tutur Bara.


"Dita kan belum memberi gue keputusan, Bro."


"Lima puluh persen gue yakin dia bakal nerima lo."


"Ya sama aja dong ngegantung kalau 50%."


"Hahaha ... yakin aja Bro, yang penting lo tetap berdoa dan berusaha."


"Thanks Bro, lo emang sahabat sejati gue."


...※※※※※...


Catatan:


(1)   Apabila engkau hendak tidur, berwudulah sebagaimana wudu ketika hendak shalat. Kemudian berbaringlah miring ke kanan, dan bacalah “Ya Allah, aku tundukkan wajahku kepada-Mu, aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu, karena rasa takut dan penuh haram kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari hukuman-Mu kecuali kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan kepada nabi-Mu yang telah Engkau utus.”


Jika kamu mati di malam itu, kamu mati dalam keadaan fitrah. Jadikanlah doa itu, sebagai kalimat terakhir yang engkau ucapkan sebelum tidur.” (HR. Bukhari 247 danMuslim 2710)

__ADS_1


Referensi: https://konsultasisyariah.com/18682-keutamaan-berwudhu-sebelum-tidur.html


(2)   Dejavu adalah sebuah gambaran sensasi di mana kita merasa pernah mengalami sesuatu.


__ADS_2