
Peringatan!!!!
Bagi yang belum cukup umur atau belum menikah bisa dilewatkan bab ini, atau langsung ke bagian akhir dari bab ini. 🙏
...💞💞💞💞💞...
Rendra melepas kaos dan melemparnya sembarangan. Dia kembali membenamkan wajah di dada istrinya, membuat Dita membusungkan dada karena kenikmatan yang Rendra berikan. Kesempatan itu Rendra gunakan untuk melepas lingerie yang membalut tubuh Dita dan langsung membuangnya asal.
Ketika bibirnya masih bermain di dada Dita, satu tangan Rendra kembali ke bawah sana. Tangannya membelai dan mengusap dengan pelan, membuat sekujur tubuh Dita meremang dan menginginkan sesuatu di bawah sana.
“Mas, euh ....” Desah Dita yang terasa merdu di telinga Rendra.
“Enak ya? Kamu suka, Sayang?” Rendra mengangkat wajahnya, melihat ekspresi Dita.
“Mmmhhhh ....”
“Kamu sudah basah, Sayang.” Bisik Rendra di telinga Dita sembari memberikan kenikmatan di sana. Dengan perlahan, dia melepas g-string yang menjadi penutup terakhir tubuh istrinya. Dia pun lalu melepas dan melempar celana kolornya. Mereka berdua kini sama-sama sudah polos.
Sambil tetap mencium bibir Dita, Rendra memposisikan dirinya di antara kedua kaki istrinya.
“Apa kamu sudah siap, Sayang.” Bisik Rendra.
“Hmmm ... pelan-pelan ya Mas.”
“Iya, Sayang.” Rendra kembali mengecup bibir Dita.
Dia lalu membaca doa sebelum mulai berhubungan. “Bismillah, allahumma jannibnaasy syaithoona wa jannibisy syaithoona maa rozaqtanaa.”
(Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami.)
Rendra mulai memasuki tubuh istrinya. Dia sedikit merasa kesulitan karena Dita masih sempit. Dengan pelan namun pasti dia mulai mendorong masuk, Dita terlihat meringis menahan sakit. Rendra kembali mencium bibir Dita agar istrinya itu tidak fokus pada rasa sakitnya.
Setelah Dita mulai kembali terbuai dengan ciumannya, Rendra kembali mendorong masuk sambil terus mencium bibir Dita.
“Uhhmmm ....” Dita mengerutkan keningnya.
“Tahan sebentar ya, Sayang.” Rendra terus mencum bu Dita dengan ciuman sambil berusaha memasukkan diri sepenuhnya ke dalam tubuh Dita.
“Arghhh, Mas.” Teriak Dita sambil mencengkeram punggung Rendra.
Kini Rendra sudah sepenuhnya memasuki Dita. Dia diam tak bergerak agar Dita bisa menyesuaikan diri. Rendra kembali mencium Dita dan membisikkan kata-kata cinta agar istrinya itu bisa lebih rileks. Dia ingin pengalaman pertama mereka menjadi kenangan yang indah dan membahagiakan, bukan menjadi kenangan yang menyakitkan.
“Sayang, aku mulai bergerak ya.” Bisik Rendra saat Dita sudah rileks.
__ADS_1
“Iya, Mas.”
Rendra mulai bergerak pelan sambil memandang wajah Dita. Dia ingin melihat ekspresi Dita saat dia memasuki tubuhnya. Awalnya Dita masih mengerutkan kening saat Rendra mulai bergerak, tetapi lama-lama istrinya itu terlihat mulai menikmati setiap hentakannya.
“Sayang, buka matamu. Lihat aku.” Rendra tersenyum saat Dita membuka mata dan menatapnya.
“Masih sakit enggak, Sayang?”
Dita menggelengkan kepala sambil tersenyum.
Rendra terus bergerak di atas Dita, keringat mulai membasahi tubuh mereka berdua.
“Mmmmhhh ... Mas.” Dita meremas rambut bagian belakang Rendra.
“Iya, Sayang.”
“A ... ku, kaya ... nya mau sam ... pai.”
“Tunggu sebentar, Sayang. Kita sampai bersama.” Rendra mulai mempercepat gerakannya membuat Dita mendesah beberapa kali memanggilnya.
Gerakan Rendra semakin cepat dan tak terkendali.
“Ah ... aku sampai, Sayang.” Rendra mengeluarkan cairan cintanya di dalam tubuh Dita.
Dita menatap Rendra sambil tersenyum. “Terima kasih Mas, sudah sabar menunggu selama ini. I Love you too.” Dita mengecup bibir Rendra.
"Mmmhhh ... Sayang, kamu membangkitkan aku lagi."
Dita membelalakkan mata, terkejut.
"Sekali lagi ya, Sayang." Rendra memohon dengan tatapan penuh gai rah.
"Boleh istirahat sebentar enggak, Mas?" Rayu Dita dengan wajah dibuat memelas.
"Kamu cukup diam dan nikmati saja, Sayang. Biar aku yang melakukan semuanya." Rendra membungkam bibir Dita sebelum menerima protes dari istrinya itu.
Apalah daya, Dita tak kuasa menolak kenikmatan yang Rendra berikan. Kembali dia merasa melayang tinggi karena sentuhan Rendra hingga mencapai kenikmatan duniawi yang baru malam ini dia rasakan.
Mereka menyatukan raga dan meraih puncak kenikmatan hingga beberapa kali. Rendra seperti tak punya rasa lelah, sementara Dita hanya pasrah mengikuti permainan suaminya.
Mereka baru tidur dini hari karena Dita sudah tampak kepayahan. Mereka tidur dengan saling memeluk dan tanpa memakai sehelai benang pun, selimutlah yang menjadi penutup tubuh mereka berdua.
Selesai salat Subuh, Rendra kembali meminta lagi haknya. Padahal mereka baru saja mandi besar sebelum Subuh tadi. Sebagai istri tentulah sudah menjadi kewajiban Dita untuk memenuhi hak Rendra. Untung saja Rendra hanya memintanya sekali, karena Dita sudah sangat lelah. Mereka kembali tidur hingga terbangun karena bunyi alarm.
__ADS_1
Rendra memasang alarm pukul 08.00 pagi karena dia meminta dijemput Irvan pukul 09.00 pagi untuk melakukan agenda perjalanan hari kedua mereka di Lombok. Rendra memesan nasi goreng dengan telur ceplok untuk sarapan mereka, dia minta diantar ke kamar.
Rendra membangunkan Dita untuk mandi. Lalu dia menyiapkan air hangat di bathup dan meneteskan aroma terapi di sana agar tubuh Dita kembali segar setelah mandi. Dia menggendong Dita yang terlihat malas ke kamar mandi. Mereka mandi bersama untuk menyingkat waktu. Dita berendam di bathup sementara Rendra mandi memakai shower.
Selesai Rendra mandi, tak lama pintu kamar diketuk. Ternyata pelayan hotel mengantarkan makan pagi mereka. Setelah mengucapkan terima kasih dan memberi tips, Rendra menutup dan mengunci kembali pintu kamar.
Dia meletakkan makan pagi mereka di atas meja sambil menunggu Dita selesai mandi. Rendra menyalakan gawainya dan mengecek kalau ada pesan yang penting.
Dita akhirnya keluar dari kamar mandi, memakai bathrobe yang semalam dia pakai. Dia mengambil baju ganti di koper lalu masuk ke kamar mandi lagi untuk memakai baju. Kamar mereka mempunyai kaca jendela yang besar di beberapa sisi, jadi akan lebih aman kalau dia berganti di kamar mandi.
"Mas belum sarapan?" Tanya Dita melihat menu sarapan mereka masih belum tersentuh.
"Aku nunggu kamu, Sayang." Rendra mendongak dari mengecek gawainya.
"Harusnya Mas makan dulu saja. Aku masih harus keringin rambutku ini." Dita mengambil hairdryer yang sudah disediakan sebagai fasilitas kamar.
"Ya sudah, kita makan bareng. Aku makan sekaligus menyuapi kamu. Sementara kamu mengeringkan rambut." Rendra mengambil sarapan mereka lalu duduk di dekat Dita yang sedang mengeringkan rambut.
"Terserah Mas, saja. Ini udah telat banget loh Mas sarapannya."
"Ya, gimana dong. Habisnya tubuhmu bikin nagih terus, Sayang."
"Mas, ih." Pipi Dita memerah karena malu.
"Kita batalkan saja apa ya perjalanan hari ini. Kok aku jadi betah di kamar terus kalau kamu gemesin kaya gini." Rendra mencubit gemas pipi Dita.
"Mas, sakit tahu. Enggak ada batal-batal jadwal ya. Udah jauh-jauh ke sini masa enggak kemana-mana." Protes Dita tidak terima.
"Iya, Sayang. Aku cuma bercanda. Tapi, nanti malam mau itu lagi ya."
"Hah??? Mau lagi?"
"Kamu juga mau kan, Sayang?" Rendra menggoda Dita dengan menaik turunkan alisnya.
"Eng ... enggak ya. Biasa saja." Pipi Dita kembali merona.
"Bibir bilang enggak, tapi tubuhmu bilang iya. Siapa yang tadi bilang, Mas cepat di-...." Dita menyuapi Rendra dengan nasi goreng untuk mencegah suaminya itu mengeluarkan kata-kata yang akan membuatnya semakin malu.
"Sudah, cepat makannya dihabiskan jangan kebanyakan bicara." Dita melanjutkan lagi kegiatannya mengeringkan rambut.
Rendra tersenyum melihat segala polah tingkah Dita yang salah tingkah karena malu. Dia kembali meneruskan menyuapi Dita dan dirinya sendiri karena sebentar lagi mereka akan dijemput untuk menikmati wisata di Pulau Lombok.
Jogja, 150321 01.30
__ADS_1
Sudah belah duren ya, utang saya sudah lunas. ✌️✌️✌️ Semoga bisa dinikmati dan diterima dengan baik. 🤗🤗🤗