
Sekitar pukul 5 pagi, Dita diantar Rendra pergi ke pasar tempat biasa mamanya belanja. Karena udara pagi itu masih dingin, mereka pergi menggunakan mobil Adi.
“Jangan lupa sabuk pengamannya, Sayang.” Rendra memasangkan sabuk pengaman Dita.
“Makasih, Mas.” Ucap Dita dengan tersipu.
“Mau pakai AC apa enggak?” tanya Rendra sebelum menjalankan mobil.
“Enggak usah, Mas. Dingin,” jawab Dita sambil mengeratkan jaketnya.
“Oke, kita berangkat. Jangan lupa berdoa dulu.”
Mereka berdoa bersama, lalu Rendra mulai melajukan mobil meninggalkan rumah Adi.
“Mas, nanti mau dimasakin apa?” Dita mulai bicara setelah mereka sempat diam beberapa waktu, hanya alunan musik dari radio yang memecah kesunyian.
"Apa saja yang kamu masak pasti aku makan, Sayang," sahut Rendra sambil tersenyum dan menoleh sebentar pada Dita.
Dalam hati, Rendra bersyukur karena sikap Dita sudah mulai mencair. Dia hanya harus lebih bersabar sampai Dita kembali seperti semula.
"Mas, mau nunggu di mana?" tanya Dita saat sampai di pasar.
"Aku temani kamu belanja, Sayang," jawab Rendra sambil mencari tempat parkir.
"Mas enggak malu masuk pasar?"
"Kenapa malu? Aku udah biasa keluar masuk pasar temani mama belanja. Suamimu ini bisa diandalkan di mana saja, Sayang."
"Kan, banyak cowok biasanya malu kalau masuk pasar."
"Suamimu tidak termasuk yang biasa itu, Sayang. Nah, udah dapat parkir. Yuk belanja." Rendra melepas sabuk pengamannya lalu membuka pintu mobil.
Mereka mengelilingi pasar sambil bergandengan tangan. Rendra sesekali juga merangkul Dita bila melewati kerumunan orang.
Sesudah mendapatkan apa yang diinginkan, mereka pulang. Rendra membawa banyak tentengan belanjaan di tangan kiri dan kanannya. Sementara Dita hanya disuruh membawa yang ringan.
Sampai di rumah Adi, Dita langsung ke dapur. Dia memasak untuk sarapan mereka. Sementara Rendra membantu menata belanjaan mereka di dalam kulkas.
"Udah Mas, biar aku saja nanti."
"Enggak apa-apa. Nanti kamu capek habis masak. Aku udah biasa kok, Sayang."
"Mau masak apa Dek?" tanya Adi yang baru saja masuk ke dapur.
"Ini Mas, mau bikin ayam kecap, ca brokoli sama tempe goreng," jawab Dita sambil tetap memasak.
"Harusnya tadi beli sayur matang aja, habis ke pasar kan capek."
"Aku enggak capek, Mas. Mumpung aku di sini bisa masak buat Mas Adi. Udah lama aku enggak masakin kan."
"Iya, makasih ya, Dek."
"Mas Adi mau kopi?" tawar Rendra yang akan menyeduh kopi.
"Wah, mau banget. Apalagi dibikinin sama barista terkenal."
"Mas Adi bisa aja. Aku masih remahan rengginan, Mas. Masih banyak yang lebih baik dan lebih terkenal." Ucap Rendra merendah.
"Kamu ini selalu saja merendah. Tapi bagus, jangan sampai kita jadi orang yang sombong karena kesuksesan yang kita raih. Aku ke ruang tengah dulu ya Rend, ada kerjaan yang harus aku selesaikan."
"Siap, Mas. Nanti aku antar kopinya ke sana."
__ADS_1
"Makasih, Rend." Adi meninggalkan mereka berdua di dapur.
"Sayang, aku bikin kopi dulu ya nanti baru bantuin kamu."
"Mas ngobrol aja sama Mas Adi. Aku bisa kok masak sendiri."
"Enggak, aku mau bantu kamu masak, Sayang."
Sesudah membuat kopi dan mengantarkannya pada Adi, Rendra kembali ke dapur membantu Dita memasak.
"Aku bantu apa nih?"
"Mas bumbuin tempe terus digoreng, bisa?"
"Bisa dong, hal kecil kaya gitu. Nanti deh aku masakin kamu hidangan spesial, biar kamu tahu kalau aku bisa masak." Rendra menyombongkan diri membuat Dita mencibirnya.
Setelah semua masakan selesai, Dita menatanya di meja makan. Dia melepas apronnya lalu memanggil Adi.
"Mas Adi, sarapan dulu."
"Ya, Dek. Sebentar tanggung tinggal sedikit lagi."
"Lho Mas, kenapa malah nyuci sih. Sarapan dulu bareng Mas Adi." Tegur Dita yang melihat Rendra mencuci alat masak yang tadi mereka pakai.
"Ini juga sambil nunggu Mas Adi. Udah, Sayang duduk aja di sana. Biar aku selesaikan ini dulu."
Dita akhirnya menuruti Rendra. Entah kenapa juga akhir-akhir ini dia merasa lebih cepat lelah. Dita menunggu di meja makan sambil terus memperhatikan suaminya.
"Melamun aja, Dek," tegur Adi yang ternyata sudah berdiri di sampingnya.
"Eh ... enggak, Mas."
"Baru mengagumi suami, ya. Adek beruntung punya suami seperti Rendra yang tidak segan turun ke dapur."
"Iya bikin kopi, teh, masak nasi, bikin mie instan," Adi tergelak.
Dita mencibir Adi.
"Baik-baik tuh sama suami idaman kaya gitu. Ngambek jangan lama-lama. Banyak wanita yang mengincar suamimu, Dek."
"Apaan sih, Mas Adi."
"Eh, mas ngomong serius ya. Buktinya aja sepupunya juga tertarik sama dia, Dek."
"Tau ah," Dita mengerucutkan bibirnya.
"Uluh uluh, Adek mas yang paling cantik ngambek. Tuh, Rendra udah selesai, layani suami dengan baik." Adi mengedipkan sebelah matanya.
Rendra duduk di samping istrinya. Dita mengambilkan nasi, sayur dan lauk ke piring Rendra, baru kemudian dia mengambil untuk dirinya sendiri.
Mereka bertiga makan sambil saling mengobrol. Pagi ini suasana sudah lebih mencair, karena Dita sudah mulai banyak bicara.
Selesai makan, Adi bersiap pergi bekerja. Sedangkan Rendra dan Dita duduk santai di ruang tengah setelah membereskan meja makan dan mencuci semua alat makan yang tadi dipakai.
Dita memencet tombol remote TV mencari saluran yang bagus dan menarik. Dan, Rendra melihat pekerjaan Adi yang masih tergeletak di atas meja. Sebagai mahasiswa teknik sipil, tentu saja dia memahami pekerjaan Adi.
Karena tidak ada saluran TV yang menurutnya menarik, Dita mematikan TV. Dia mengandarkan badannya di punggung sofa.
"Capek, Sayang?" tanya Rendra begitu melihat Dita bersandar.
"Lumayan," jawab Dita sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
"Istirahat di kamar, gih."
"Enggak, habis makan enggak boleh langsung tiduran."
"Ya udah, sini bersandar di bahuku aja lebih hangat daripada sofa."
"Apaan sih." Pipi Dita mulai merona.
"Tuh kan ... pipinya sudah memerah gitu, jadi gemes. Kan jadi pengen aku," goda Rendra.
"Pengen ...."
"Ehem ... mesra-mesraannya dilanjut nanti. Jagalah perasaan pria singel ini." Seloroh Adi yang baru keluar kamar dengan baju kerjanya.
"Maaf, Mas." Rendra memegang tengkuknya karena malu.
"Bercanda. Aku bahagia kalian sudah baik lagi. Aku kerja dulu, nikmati waktu kebersamaan kalian. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam warahmatullah," balas Dita dan Rendra bersamaan.
Setelah Adi pergi, hanya tinggal mereka berdua di rumah.
"Mas enggak kerja?" tanya Dita.
"Kerja apa?" Rendra malah balik bertanya.
"Biasanya kan sudah utak atik notebook."
"Hari ini aku mau seharian penuh sama kamu, Sayang. Aku masih kangen. Apalagi sama manjamu, Sayang."
"Dari semalam juga ketemu, masa masih kangen." Dita mengernyit heran.
"Secara fisik kita memang bersama, Sayang. Tapi, secara batin, aku masih merasa Sayang menjaga jarak. Apa aku salah?"
Dita menggelengkan kepala. "Maaf, Mas. Aku butuh waktu untuk bisa seperti biasa. Tapi, pelan-pelan aku akan terus mencoba."
"Aku tahu, Sayang. Aku ngerti. Just let it flow. Jangan memaksakan diri." Rendra mengelus pipi Dita.
"Makasih Mas, sudah mau mengerti. Tapi, aku belum siap bicara soal ...."
"Sssttt ... jangan diteruskan. Kita have fun saja sekarang. Jangan memikirkan hal lain yang membuat kita marah dan tertekan."
"Iya, Mas."
"Aku boleh cium kamu enggak?" tanya Rendra hati-hati.
"Biasanya juga langsung sosor tanpa izin dulu," jawab Dita.
"Jadi boleh nih?" Rendra mengerling dengan wajah berbinar.
Dita menganggukkan kepala.
"Sayang, mmhhhh ... kalau selain cium boleh enggak?"
"Apa?" Dita mengerutkan kening.
"Aku mau kamu, Sayang," bisik Rendra di telinga Dita yang membuat badannya meremang dan merasakan gelenyar aneh.
Dita menganggukkan kepala pelan, nyaris tak terlihat. Wajahnya sudah semakin merah karena menahan malu.
Rendra tersenyum, perlahan dia mulai mendekatkan wajahnya. Bibirnya menyentuh bibir manis Dita. Mereka saling menyesap, menyalurkan kerinduan yang sama-sama mereka rasakan.
__ADS_1
Saat Dita mulai meremas rambut suaminya, Rendra langsung mengangkat tubuh Dita dan membawanya masuk ke dalam kamar. Pagi itu mereka lewati dengan saling meluapkan kerinduan dan rasa cinta yang membuat mereka mencapai kenikmatan dunia berulang kali.
Jogja, 220321 01.20