
Rendra dan Dita akhirnya menginap di sebuah Resort, Villa and Spa yang terletak di Bangunjiwo, Bantul, Yogyakarta. Rendra sengaja mencari tempat yang sepi, jauh dari kehidupan perkotaan agar mereka bisa lebih rileks. Resort dengan bauran dari alam yang sejuk dan vila-vila tradisional bermaterialkan kayu dan batu membuat suasana menjadi lebih romantis.
Setiap kamar yang ada di sini berdiri sendiri tetapi tetap berdekatan. Ada tiga tipe kamar yang ditawarkan yaitu Old Javanese Wooden (rumah tradisional kayu), Luxury Stone (rumah batu mewah), dan Royal Stone (rumah batu kerajaan). Yang membedakan dari ketiganya adalah luas kamar, dinding kamar serta fasilitasnya.
Mereka memesan kamar tipe Luxury Stone (Batu Mewah). Kamar seluas 100 meter persegi, dengan ornamen dinding batu dan pemandangan yang menghadap ke taman. Kamar dengan sentuhan arsitekstur tradisional itu, menggunakan material kayu yang berusia seratus tahun. Di dalam kamar, ada satu tempat tidur berukuran king dari kayu dengan kelambu berwarna putih dan sofa di depan ranjang.
Mereka datang ke resort dengan menggunakan taksi online, karena Rendra benar-benar ingin menikmati kebersamaannya dengan Dita. Selain itu dia juga tidak berniat pergi ke mana-mana selama menginap jadi hanya menikmati pemandangan dan fasilitas di sekitar resort saja.
Dita selalu merasa takjub dengan kejutan yang diberikan suaminya. Dia sangat suka dengan suasana alam yang jauh dari hiruk pikuk kota. Kalau biasanya mereka pergi ke daerah pantai, kali ini Rendra memilih daerah puncak pegunungan yang sejuk.
"Terima kasih, Mas. Aku suka banget di sini," ucap Dita begitu sampai di depan pintu kamar mereka.
Rendra tersenyum. "Alhamdulillah kalau kamu suka, Sayang. Enggak salah kan aku milih tempat ini sebagai tempat bulan madu kita yang kedua?"
"Mas, memang selalu tahu tempat terbaik." Dita mengacungkan dua jempolnya.
"Harusnya aku dapat hadiah loh," goda Rendra sambil menyodorkan pipinya.
"Ish ... malu ah dilihat banyak orang. Ini kan di luar, Mas."
"Kalau begitu, ayo kita masuk." Rendra membuka pintu kamar mereka.
"Assalamu'alaikum," ucap Dita sembari berjalan masuk ke kamar. Sudah menjadi kebiasaannya setiap menginap di hotel, dia pasti berkeliling kamar dahulu sebelum membereskan barang yang dibawa.
Rendra meletakkan tas mereka di atas meja, lalu dia duduk di sofa menunggu Dita yang masih melihat-lihat kamar.
"Keren Mas ini. Di kamar mandi juga ada ornamen batunya." Dita menyusul Rendra duduk di sofa.
"Makasih, Mas Rendra Sayang." Dita kemudian mengecup pipi suaminya.
"Yang satu lagi." Rendra menyodorkan sebelah pipinya.
Dengan malu-malu, Dita kembali mengecup pipi Rendra yang satu lagi.
"Sudah, Mas." Pipi Dita terlihat merona merah.
Saat dia hendak bangkit dari duduknya untuk membereskan tas yang mereka bawa, tapi Rendra justru menariknya. Membuat Dita terduduk di pangkuan Rendra.
"Mas, lepasin," pinta Dita. Tapi Rendra enggan melepaskannya.
"Mau ke mana sih, Sayang?" tanya Rendra sambil mengusap bibir Dita.
__ADS_1
"Beresin tas," jawab Dita sambil menunjuk tas yang tergeletak di atas meja.
"Itu bisa menunggu. Tapi, aku enggak bisa, Sayang." Rendra mendekatkan dirinya.
Dia menyentuhkan bibirnya pelan. Menikmati manisnya bibir nan lembut dan kenyal milik Dita, hingga membuat mereka sama-sama menikmati penyatuan itu.
Ritme yang semula pelan, lama-lama semakin cepat dan menuntut, membuat mereka harus berkali-kali mengambil napas agar tidak kehabisan oksigen.
Rendra mengangkat tubuh Dita ke atas ranjang tanpa melepas pagutan bibir mereka. Dengan pelan, dia membaringkan Dita. Kemudian Rendra melepaskan dirinya, lalu tersenyum pada Dita.
"Bisa kita mulai, Sayang?" Rendra minta persetujuan Dita sebelum mulai bertindak lebih jauh.
Dita mengangguk. "Pelan-pelan ya, Mas," ucapnya lirih sambil tersenyum malu.
"Tentu, Sayang." Rendra kembali mendekatkan dirinya. Dengan penuh kelembutan, dia menyatukan lagi bibir mereka. Tanpa ragu, mereka saling mengungkapkan rasa cinta dengan ciuman, sentuhan dan belaian hingga mereka berdua mencapai kenikmatan dunia.
...---oOo---...
Malam hari, seusai salat Isya, mereka menikmati pemandangan kota Jogja dari salah satu gardu pandang yang ada di sana, sembari makan malam dengan diiringi alunan musik yang romantis. Rendra memang selalu pintar mencari tempat yang romantis bila mereka menginap di hotel.
Perempuan mana yang tidak bahagia bila mendapat perlakuan yang manis dan romantis dari pasangannya. Begitupun Dita, selalu dan selalu mendapatkan hal itu dari Rendra. Suaminya yang dulu kasar dan judes, kini berubah 180 derajat. Rendra jadi sosok suami yang sabar, lembut, perhatian dan penuh kasih sayang.
"Sayang, suka?" Rendra menatap Dita.
"Sukaaaa bangetttt. Mas kok bisa tahu ada tempat seperti ini sih?"
"Apa sih yang suamimu ini enggak tahu?" Rendra menyombongkan dirinya.
"Iya, iya. Mas memang tahu segalanya," cibir Dita.
Rendra tertawa. "Aku bercanda, Sayang. Aku dikasih tahu temanku tempat ini. Katanya bagus untuk bulan madu."
"Memang kapan Mas tanya?" Dita mengernyit.
"Udah lama, sebelum kita nikah resmi. Waktu aku bilang mau kasih kejutan bulan madu dulu. Aku cari-cari informasi tempat-tempat yang bagus dan banyak direkomendasikan untuk bulan madu. Nah, salah satunya di sini, Sayang."
Dita menganggukkan kepalanya. Memang, Rendra tipe orang yang perfeksionis dan penuh perencanaan. Apa saja pasti direncanakan secara matang dan jauh-jauh hari sebelumnya. Jarang sekali dia bertindak secara spontan. Meski kepergian mereka kali ini dilakukan spontan, tetapi Rendra pasti tetap menyiapkan sesuatu sebagai kejutan.
"Dingin ya, Sayang?"
Udara malam terasa mulai menusuk tulang. Dita berulang kali mengusap lengan dengan tangannya untuk mengusir hawa dingin yang menyerangnya.
__ADS_1
"Sedikit, Mas."
"Jangan bohong. Masuk ke kamar saja yuk, Sayang. Enggak lucu kan kalau bulan madu malah masuk angin."
"Nanti dulu, Mas. Aku masih ingin menikmati pemandangan di sini."
"No. Besok lagi kan bisa. Kita masih satu malam di sini. Kita balik ke kamar sekarang," titah Rendra.
Dita akhirnya menurut pada suaminya. Rendra merangkul bahu Dita untuk mengurangi rasa dingin yang dirasakan.
"Kita bisa duduk di teras menikmati keindahan taman di sini," ucap Rendra setelah mereka sampai di depan kamar.
"Benar, boleh?" Dita menatap Rendra untuk memastikan.
Rendra menganggukkan kepala. "Boleh, tapi aku ambilkan jaket dulu biar enggak kedinginan."
Dita lalu duduk di teras depan kamar mereka. Sedangkan Rendra masuk ke kamar untuk mengambil jaketnya Dita.
Mereka duduk-duduk di teras sampai pukul 09.30 malam. Sebelum beranjak tidur, mereka membersihkan diri terlebih dahulu dan juga berwudu.
"Mau spa enggak, Sayang?" tanya Rendra sambil menyelipkan rambut di telinga Dita.
"Mau sih kalau ada, Mas?"
"Ada dong. Lusa ya sebelum pulang kita spa dulu."
"Aku ikut aja, Mas."
"Sip, karena kita akan mengeluarkan banyak energi dua hari ini." Rendra mengedipkan sebelah matanya.
"Mas, ih." Dita memukul pelan dada suaminya.
Rendra tersenyum. "Enggak sakit kan tadi?"
Dita menggeleng. "Alhamdulillah, enggak."
"Berarti udah siap berkeringat lagi, hummm." Rendra mengusap bibir Dita.
Mereka saling bertatapan dan saling mendekat, lalu saling menyatukan diri untuk meraih kenikmatan dunia.
Sardjito, 200421 20.45
__ADS_1