Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
108


__ADS_3

"Mas, nanti Kak Bara sama Kak Adel jadi ke Mas Adi?" tanya Dita yang sedang mencari dogi (baju karate) Rendra di lemari.


"Jadi. Kenapa, Sayang?"


"Mas, kok malah mau latihan ke Gelanggang."


"Mereka ke sini jam 10.00 kok, Sayang. Aku janji habis latihan langsung pulang." Rendra memeluk tubuh Dita dari belakang dan menyandarkan dagu di bahu istrinya.


"Enggak percaya kalau langsung pulang, biasanya malah asyik ngobrol. Kalau enggak ditelepon pasti lupa waktu."


"Enggak, Sayang. Aku janji langsung pulang hari ini. Atau, Sayang, ikut nunggu latihan aja biar aku langsung pulang begitu latihan selesai, hummm." Rendra mencium bawah telinga Dita.


"Masss, geli. Lepas, ih."


"Geli apa suka hummm?" Rendra masih menggoda istrinya. Dia menciumi leher jenjang Dita.


"Mas," pekik Dita sambil menyikut perut suaminya.


Rendra tertawa lalu menghentikan ciumannya. "Sayang, temani aku latihan aja ya. Biar aku lebih semangat kumite-nya." (1)


"Memangnya hari ini Mas mau kumite?" Dita menolehkan kepalanya ke samping.


Rendra menganggukkan kepala.


"Ya udah, aku temani. Tapi sebelum ke Gelanggang mampir belanja dulu ya, Mas." Dita memegang lengan Rendra yang melingkar di pinggangnya.


"Siap. Makasih, Sayang." Rendra mencium pipi Dita. Dia lalu mengurai pelukannya.


"Mas, mau langsung pakai dogi atau nanti ganti di Gelanggang?" Dita menyerahkan baju karate pada Rendra.


"Aku pakai bawahannya saja, atasannya nanti di sana. Sayang, tolong siapkan sarapan susu sama roti tawar ya. Aku mau siapkan peralatan sama mobil dulu."


"Kenapa bawa mobil, Mas?"


"Ribet nanti bawa belanjaan kalau pakai motor. Sudah, Sayang siapin sarapan saja ya, makasih." Rendra kembali mencuri ciuman di pipi Dita sebelum meninggalkan kamar untuk menyiapkan mobil.


...---oOo----...


"Assalamu'alaikum," salam Bara dari depan pintu ruang tamu yang terbuka.


"Wa'alaikumsalam warahmatullah," balas Adi yang sedang duduk di ruang tengah sambil mengecek laporan pekerjaannya.


Adi bangkit dari duduknya lalu melangkah ke ruang tamu. "Oh, Bara. Ayo masuk, silakan duduk. Aku panggil Rendra dulu."


Bara dan Adelia masuk ke ruang tamu rumah Adi.


Adi kembali masuk ke dalam, memanggil Rendra yang sedang membantu Dita di dapur menyiapkan makanan dan minuman.

__ADS_1


"Aku tinggal sebentar ya, Sayang. Kalau sudah siap nanti panggil aku. Jangan bawa sendiri ke depan. Oke," pesan Rendra pada Dita sebelum pergi ke ruang tamu.


"Maaf ya Mas Adi, sudah mengganggu waktu liburnya," ucap Bara saat Adi sudah kembali ke ruang tamu.


"Enggak ganggu kok. Ini pas kebetulan lagi enggak balik ke rumah orang tua."


"Oh ya Mas, kenalkan ini Adelia. Dia teman dekat, ya boleh dibilang sahabat saya dan Rendra. Adel, ini Mas Adi, kakak iparnya Rendra dan kakak kandungnya Dita." Bara mengenalkan Adelia pada Adi, begitu pun sebaliknya.


"Adi."


"Adelia."


Adi dan Adelia saling bersalaman. Mereka saling tersenyum ramah.


"Ayo, silakan duduk." Adi mempersilakan Bara dan Adelia untuk duduk karena dari tadi mereka masih berdiri.


"Iya, terima kasih, Mas." Bara dan Adelia kemudian duduk berhadapan dengan Adi.


"Eh, kalian udah datang. Sorry baru bantu Dita di dapur." Rendra menyapa Bara dan Adelia.


"Mas Adi, ini Bara sama Adelia mau tanya-tanya soal skripsi. Mereka masih bingung belum bisa menentukan judul dan topik yang akan diambil." Rendra menjelaskan maksud kedatangan Bara dan Adelia pada Adi, meski sebelumnya dia sudah mengatakannya tempo hari saat meminta Adi membantu kedua sahabatnya.


Adi menganggukkan kepala. "Rendra berlebihan ini, kita saling sharing aja sesuai pengalamanku. Soalnya aku juga bukan dosen tapi praktisi."


"Iya, Mas. Justru dari Mas Adi yang sudah berpengalaman, paling tidak memberi pencerahan pada kami."


"Mas Ren," panggil Dita dari dapur. Rendra segera ke dapur untuk membantu Dita membawa minuman dan camilan untuk mereka.


Setelah saling menyapa dan berbasa basi sebentar, Dita kembali ke dapur untuk persiapan masak makan siang. Sedangkan Rendra tetap di ruang tamu bersama Adi, Bara dan Adelia.


Pembicaraan mereka berempat terjeda saat azan Zuhur berkumandang. Adi, Rendra dan Bara pergi ke masjid untuk melaksanakan salat Zuhur. Adelia tetap tinggal di sana ditemani Dita.


"Kak Adel, salat atau sedang berhalangan?" tanya Dita saat mereka hanya tinggal berdua.


"Eh ... iya, salat," jawab Adelia sedikit gugup. Meskipun dia seorang muslim tetapi dia bukanlah yang selalu menjalankan salat lima waktu dalam sehari. Dia sendiri tidak ingat kapan terakhir kali menjalankan kewajibannya itu.


"Ruang salatnya di sini, Kak. Tempat wudu di samping kamar mandi di situ." Dita menjelaskan pada Adelia. "Kita salat berjemaah ya, Kak."


"Oh, iya boleh. Tapi, kamu imamnya ya," pinta Adelia.


"Kak Adel kan yang lebih tua, sebaiknya Kakak yang jadi imam."


"A ... aku memang lebih tua. Tapi pengetahuan agamaku masih kurang," ucap Adelia sambil menunduk karena merasa malu dengan Dita.


"Oke, Kak. Kalau begitu Kak Adel ambil wudu dulu. Aku akan ambil wudu di kamar. Nanti kita ketemu di ruang salat."


"Iya." Adelia menuju kamar mandi sebelum mengambil wudu.

__ADS_1


Setelah berwudu, Dita dan Adelia salat Zuhur berjemaah dengan Dita sebagai imam. Usai salat dan berdoa, Dita mendengar Adelia terisak.


"Kak Adel kenapa?" tanya Dita sambil menatap heran Adelia yang duduk di sampingnya.


"Terima kasih, Dita." Adelia tiba-tiba memeluk Dita, dan dia semakin terisak.


Dita balas memeluk Adelia meski dia tidak tahu penyebab perempuan cantik itu menangis. Dia mengelus punggung Adelia yang masih tertutup mukena.


"Kak Adel, kenapa menangis?" tanya Dita masih dalam posisi memeluk Adelia.


Adelia melepas pelukannya, dia menatap Dita dengan mata yang masih basah. "Terima kasih karena sudah mengingatkan aku untuk salat. Aku baru tersadar kalau selama ini aku jauh dari agama dan Allah. Mungkin ujian yang menimpaku sekarang ini sebagai hukuman atas semua dosa-dosaku."


Dita tersenyum dan menggenggam tangan Adelia, memberinya kekuatan.


"Dita, aku mau kembali lagi belajar agama dan salat. Kamu mau kan bantu aku?" Adelia menatap Dita penuh harap.


Dita menganggukkan kepalanya. "Alhamdulillah, Allah sudah memberikan Kak Adel hidayah. Insya Allah, aku akan berusaha semampuku membantu Kak Adel."


"Terima kasih, Dita." Adelia kembali memeluk istri sahabatnya itu. Tak lama, dia mengurai pelukannya.


"Kak Adel kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungi aku atau Mas Rendra, ya. Insya Allah kami akan berusaha semaksimal mungkin membantu Kakak."


Adelia mengangguk. Dia menghapus air mata di pipinya.


Dita melirik jam dinding di ruang salat, sebentar lagi pasti yang pergi ke masjid akan segera datang.


"Kak, maaf ya aku tinggal dulu. Sebentar lagi mereka pulang dari masjid. Aku harus menyiapkan makan siang dulu," pamit Dita sambil melepas mukena lalu menyimpannya kembali ke tempat mukena.


"Aku bantu ya," tawar Adelia.


"Boleh Kak, kalau tidak merepotkan. Aku ke dapur dulu ya, Kak." Dita meninggalkan Adelia yang masih merapikan mukena yang tadi dia pakai.


Sebelum membantu Dita di dapur, Adelia mencuci wajahnya dahulu yang tadi basah karena air mata.


Dita memasak yang praktis saja siang ini karena waktu yang mepet. Dia memasak sayur bayam dicampur dengan jagung manis, dengan lauk pindang dan tempe goreng, tak lupa membuat sambal terasi dan juga kerupuk.


"Eh, Sayang jangan mengulek sendiri. Sini aku ulekin." Rendra yang baru datang dari masjid langsung menghampiri istrinya yang akan mengulek sambal. Sampai saat ini Rendra masih terus melarang Dita melakukan sesuatu yang menurutnya berat.


Dita langsung menyingkir dari depan ulekan. Dia meneruskan menggoreng lauk, sementara Adelia membantu menyiapkan meja makan.


Tak lama semua makanan sudah siap dan disajikan di meja makan. Mereka berlima kemudian makan siang bersama.


...※※※※※...


Catatan:


(1) Kumite secara istilah berarti "pertemuan tangan" merupakan jenis latihan pada seni beladiri karate di mana dua orang karateka saling berhadapan sebagai musuh. Istilah ini juga dipakai saat bertanding.

__ADS_1


Jogja, 270421 00.55


__ADS_2