Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
97


__ADS_3

Dita baru saja selesai sarapan dengan menu dari rumah sakit saat dokter Lita datang memeriksanya. Seperti biasa dokter Lita masuk dengan mengucapkan salam lalu menanyakan kabar. Setelah itu baru memeriksa dia.


“Proses pemberian obat melalui infus sudah selesai, kondisi Ibu Dita juga baik. Jadi hari ini Ibu sudah boleh pulang. Nanti akan saya resepkan obat, jangan lupa diminum ya, Bu. Untuk sementara, sampai Ibu benar-benar pulih, tidak boleh melakukan aktivitas berat dahulu, apalagi angkat-angkat barang. Tetap konsumsi makanan yang bergizi. Tiga hari lagi kontrol untuk mengecek luka jahit bekas operasi.”


“Baik, Dok. Apa ada pantangan makanan untuk istri saya?” tanya Rendra.


“Tidak ada, Pak. Saya lihat Ibu juga tidak pilih-pilih makanan. Jadi tinggal mengatur makanan dengan gizi seimbang saja,” jawab dokter Lita.


“Terima kasih, Dok. Apa saya sudah bisa mengurus administrasinya sekarang?” Rendra kembali bertanya.


“Nanti tunggu info dari perawat ya Pak, mungkin sekitar 1 jam lagi. Sambil menunggu bisa menata barang yang dibawa.”


“Sekali lagi terima kasih, Dok. Mohon maaf kalau kami ada kesalahan dan kekhilafan selama di sini,” ucap Rendra.


“Sama-sama, Pak, Ibu. Kalau saya dan para rekan sejawat ada kesalahan dan kekhilafan dalam melayani Bapak dan Ibu selama di sini, kami juga mohon dibukakan pintu maaf.”


“Iya, sama-sama, Dok.”


“Saya permisi dulu, mau melanjutkan memeriksa pasien lain. Sampai bertemu tiga hari lagi ya, Bu Dita. Assalamu’alaikum.” Dokter Dita bersalaman dengan Dita, Rendra dan Ibu Hasna sebelum keluar dari ruang rawat inap Dita.


Tadi malam, infus Dita sudah dilepas. Dia juga sudah bisa berjalan tanpa harus didampingi lagi. Hanya untuk mandi, dia masih dibantu agar tidak membasahi perban yang menutup luka bekas operasi.


Setelah barang bawaan dibawa ke mobil dan administrasi rumah sakit sudah diurus, Dita akhirnya bisa pulang. Sebelum pulang ke rumah Adi, mereka mampir dulu ke makam papanya Rendra dan Akhtar.


Dita berjalan masuk ke kompleks makam dengan digandeng Rendra. Sedangkan Ibu Hasna memayungi Dita di sebelah kirinya. Tangan kiri Rendra membawa kursi lipat kecil untuk Dita karena istrinya itu pasti akan kesulitan untuk berjongkok. Tadi sebelum ke makam, mereka mampir ke toko untuk membeli kursi lipat.


Rendra meletakkan kursi lipat di depan gundukan kecil tanah yang masih merah. Dia lalu membimbing Dita duduk di sana. Setelah itu dia berjongkok di samping Dita. Ibu Hasna tetap berdiri sambil memayungi putrinya.


“Assalamu’alaikum Papa dan Akhtar. Papa, Rendra datang dengan Dita dan ibu mertua. Akhtar, ayah datang dengan ibu dan nenek. Bagaimana kabar Papa dan Akhtar di sana? Kami di sini alhamdulillah baik kabarnya." Rendra menyapa papanya dan Akhtar.


Rendra lalu mencabuti rumput kecil yang mulai tumbuh di sekitar makam papanya dan Akhtar. Setelah itu dia mencuci tangan dengan air di botol yang tadi dibawa. Rendra kemudian memimpin doa untuk papa dan Akhtar.


Diam-diam Dita meneteskan air mata yang lama-lama menjadi isakan tangis. Dia tidak kuasa menahan kesedihannya. Terkenang kembali saat Akhtar masih di dalam perutnya.

__ADS_1


Ibu Hasna memeluk lengan Dita dengan sebelah tangannya. Dia usap lengan Dita untuk memberikan putrinya kekuatan.


Setelah selesai berdoa, Rendra menoleh pada Dita. Dia berdiri lalu memeluk tubuh istrinya. Dita balas memeluk Rendra, dia menangis tersedu-sedu di pelukan suaminya.


Rendra mengelus punggung Dita. "Ikhlas ya, Sayang. Aku jadi sedih loh kalau kamu sedih. Akhtar juga pasti sedih. Ibunya Akhtar yang kuat dan hebat, sudah ya nangisnya. Kita pulang ya."


"Sebentar lagi, Mas. Tunggu sebentar lagi," ucap Dita yang masih terisak.


"Oke." Rendra membelai kepala Dita.


Tak lama kemudian, Dita mengurai pelukannya. Dia mengusap pipinya yang basah karena air mata.


"Pa, Dita pamit pulang dulu. Akhtar, Ibu pulang ya, Nak. Akhtar anak ayah dan ibu yang baik dan saleh. Semoga kamu menjadi tabungan kami di akhirat nanti, dan menjemput kami di pintu surga ya, Nak."


"Papa, Akhtar, kami pulang dulu. Kasihan Dita yang masih belum pulih. Insya Allah kami akan datang lagi kalau Dita sudah pulih seperti semula. Asaalamu'alaikum."


Rendra membantu Dita berdiri, lalu melipat kursi yang tadi diduduki istrinya. Setelah itu dia menggandeng Dita lagi ke luar dari kompleks makam menuju ke mobil.


...-----oOo-----...


Kontrol dengan dokter Lita juga tetap dilakukan. Luka jahitan bekas operasi Dita bagus, tidak ada reaksi alergi atau pun infeksi. Tetapi dia masih harus kontrol sekali lagi untuk memastikan kondisinya.


Selama di rumah ayahnya, Dita jadi sering bermanja dengan bundanya kalau Rendra sedang tidak ada. Mereka menghabiskan waktu berdua di rumah. Selain saling bercerita, mereka juga mencoba resep kue atau makanan yang sedang viral. Kegiatan ringan yang bisa menghilangkan kejenuhan dan mengalihkan pikiran dari hal yang membuat Dita sedih setiap kali teringat Akhtar.


Hari ini mereka membuat pai buah. Dita bertugas menyiapkan bahan-bahan, sedang bundanya yang mengadon untuk crust (kulit pai). Salah satu tips agar adonan kulit pai bagus, jangan terlalu banyak diaduk. Adonan kulit pai cukup dicampur dengan jari, spatula, garpu atau pisau pastry sampai adonan seperti pasir. Kalau pun mau di-mixer cukup sebentar aja. Jangan juga mengaduk dengan telapak tangan karena akan membuat adonan menjadi panas.


Setelah adonan kulit tercampur rata. Adonan dibulatkan, lalu Ibu Hasna menggiling adonan dengan ketebalan yang sama. Sesudah itu adonan kulit diletakkan di atas loyang pai yang mempunyai lubang kecil-kecil di bagian bawah. Kemudian adonan kulit diratakan sampai menutup semua permukaan loyang. Sebelum dioven tidak lupa menusuk adonan kulit pai dengan garpu agar tidak menggelembung dan matang merata.


Begitu kulit pai matang, didinginkan dan dikeluarkan dari loyang. Selanjutnya Dita membuat vla untuk diisi di atas kulit pai. Pertama-tama, dia mencairkan tepung maizena dengan sedikit susu, lalu dicampur dengan kuning telur. Kemudian, dia memasak susu cair dengan gula sampai mendidih, lalu api dikecilkan. Setelah itu cairan tepung maizena dan kuning telur dimasukkan dan diaduk dengan cepat, dimasak sampai meletup-letup, baru api dimatikan. Dita juga memasukkan vanila cair agar aromanya lebih menggoda.


Sebelum memasukkan adonan vla ke atas kulit pai, Dita mengoleskan dcc (dark cooking chocolate atau cokelat batangan) yang sudah dicairkan ke atas kulit pai, agar kulitnya tetap renyah. Setelah itu baru dia masukkan adonan vla ke atas kulit pai secara merata.


Buah-buahan yang sudah dibersihkan, dicuci dan dipotong, ditata di atas adonan vla. Ada buah anggur, jeruk dan juga buah kiwi. Memberi perpaduan warna yang cantik. Baru setelah itu di atas buah disiram atau ditutup dengan cairan agar-agar putih. Kemudian dimasukkan ke dalam kulkas sebelum nanti disajikan.

__ADS_1


Setelah mencuci semua alat yang tadi dipakai, mereka lalu bersantai di ruang tengah sambil menonton televisi.


"Dek, kapan rencananya balik ke rumah Ibu Dewi?" Ibu Hasna membuka pembicaraan.


"Kenapa? Bunda enggak suka ya aku di sini?" Wajah Dita berubah cemberut.


"Bukan begitu. Bunda sih malah seneng Adek sama Nak Rendra di sini, jadi ramai enggak sepi. Tapi bunda itu kasihan sama Nak Rendra, setiap hari berangkat pagi, pulang sampai sini kadang malam," ujar Ibu Hasna sambil membelai kepala Dita.


"Kan Mas Rendra yang mau ikut ke sini, Bun. Aku enggak maksa dia ikut."


"Ya wajar kan Dek, kalau Nak Rendra ikut ke sini. Dia juga pasti enggak akan tenang kalau kalian berjauhan. Apalagi Adek habis operasi gini."


"Aku kalau di sana juga cuma sendiri, Bun. Mama Dewi juga pasti di butik. Nisa juga sibuk dengan teman-temannya. Mbak Shasha kerja. Masa aku sendirian sepanjang hari. Enggak enak juga kalau enggak ngapa-ngapain."


"Kan Adek bisa ikut ke butik, atau ke kafe."


"Iya sih, Bun. Tapi aku juga masih belum bisa banyak aktivitas. Tunggu sampai kontrol besok, Bun. Ini aja masih terasa nyeri kalau banyak gerak."


"Ya nanti Adek bicarakan sama Nak Rendra, baiknya gimana. Kalau Nak Rendra pasti bakal nurutin semuanya apa yang Adek mau. Bunda yakin itu. Makanya Adek sebagai istri harus lebih peka dan peduli sama suami."


"Nak Rendra juga pasti khawatir meninggalkan Ibu Dewi. Mereka di rumah bertiga, wanita semua. Itu kan alasannya kalian tetap tinggal di sana, menjaga Ibu Dewi."


Dita menunduk. "Iya, Bun."


"Selain Adek, Nak Rendra juga punya tanggung jawab menjaga mamanya, Shasha dan juga Nisa. Jadi, Adek juga enggak boleh egois. Adek enggak keberatan kan tinggal sama mertua?"


"Enggak, Bun. Mama Dewi, Mbak Shasha dan Nisa baik sama aku. Aku juga kangen sebenarnya sama mereka. Meski Mbak Shasha sering usil dan suka menggoda kami, tapi dia baik. Nisa juga, apalagi Mama Dewi."


"Mas Rendra juga pernah minta izin sama aku mau menjaga mamanya sampai tua nanti, Bun. Meski nanti kami punya rumah sendiri, Mas Rendra akan mengajak Mama Dewi tinggal bersama kami. Aku enggak masalah soal rumah, Bun. Yang penting kami tetap bisa bersama. Ya, meski mungkin nanti bakal diejek atau diledek tinggal di pondok mertua indah."


"Enggak apa-apa tinggal sama mertua. Menjaga orang tua itu kan besar juga pahalanya, bukti bakti anak pada orang tua. Dulu kan sebelum eyang putri sama eyang kakung meninggal, mereka juga tinggal di sini. Ini rumah peninggalan eyang kakung meski sudah direnovasi sama ayah. Jadi bunda juga tinggalnya di pondok mertua indah." Ibu Hasna lalu tertawa yang diikuti oleh Dita. Mereka berdua tertawa menertawakan hal yang sama.


Jogja, 080421 14.25

__ADS_1


Boleh ya Kak minta sedekah jempolnya setelah membaca, terima kasih 🙏🤗


__ADS_2