Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
75


__ADS_3

Agenda di hari kedua bulan madu Rendra dan Dita di Lombok adalah Sasak Tradisional Tour. Setelah dijemput dari hotel, mereka langsung menuju ke Desa Banyumulek, yang merupakan sentra kerajinan tanah liat/gerabah Suku Sasak Lombok. Banyumulek merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat, dan berjarak 14 km dari Kota Mataram.


Di Desa Banyumulek, Dita belajar membuat kerajinan gerabah yang dibimbing oleh salah satu pengrajin gerabah di sana. Pertama-tama sebongkah tanah liat yang basah ditaruh di meja putar, lalu mulai dibentuk sesuai keinginan dengan memutar meja putar. Melihat prosesnya terlihat mudah, tetapi begitu praktek sendiri ternyata sangat susah. Berulang kali Dita membentuk tanah liat tetapi tidak bisa rapi, masih terus meleyot ke samping.


Sementara Dita belajar membuat gerabah, Rendra asyik mengabadikan kegiatan istrinya dan juga keindahan alam serta aktivitas penduduk di sana.


“Ayo Sayang, kamu pasti bisa.” Rendra memberi semangat pada Dita yang terus mengeluh karena tidak bisa membentuk gerabah dengan sempurna.


“Sini Mas, coba sendiri.”


“Berdua ya bikinnya, biar kaya di film gitu.”


“Apaan sih Mas, jangan melantur omongannya.” Dita kembali fokus membentuk gerabah lagi. Dia ingin membuat mangkuk, tetapi setiap mencoba membentuk bulat pasti satu sisi jadi meleyot. Akhirnya setelah lama mencoba, dia menyerah. Tanah liat yang tadi dia buat disempurnakan bentuknya oleh pengrajin yang membimbingnya tadi. Hasil jadinya nanti akan dibawa mereka pulang.


Sambil menunggu mangkuknya jadi, Rendra dan Dita melihat-lihat ke area show room yang menampilkan hasil kerajinan pengrajin. Ada berbagai macam hasil kerajinan yang dipajang di sana, di antaranya gentong, guci, vas bunga, celengan, kap lampu, hiasan dinding dan kerajinan gerabah lainnya. Ada satu hasil gerabah yang menjadi khas di Desa Banyumulek yaitu Kendi Maling.


Kendi Maling memiliki bentuk yang unik karena lubang yang ada di dasar kendi, lubang itu digunakan untuk memasukan air ke dalam kendi. Filosofi dari kendi tersebut adalah seperti cara maling untuk memasuki sebuah rumah yaitu lewat atap atau jendela, bukan lewat pintu. Uniknya desain kendi maling ini, tidak membuat air yang ada dalam kendi keluar saat kendi tersebut diletakkan kembali.




...gambar kendi maling...


Mereka membeli beberapa kendi maling untuk oleh-oleh karena bentuknya yang unik. Setelah puas berkelilling dan mangkuk dari tanah liat jadi, mereka meninggalkan Desa Banyumulek menuju ke tempat selanjutnya.

__ADS_1


Tujuan mereka selanjutnya yaitu Desa Sukarare, yang menjadi sentra pembuatan tenun ikat atau songket khas pulau Lombok. Desa Sukarare ini berlokasi di Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah.


Di Desa Sukarare ini, kain tenun dibuat oleh kaum perempuan penduduk desa. Sedari kecil, anak-anak perempuan di desa ini diajarkan untuk bisa menenun kain. Karena syarat wajib boleh menikah bagi gadis di Desa Sukarare adalah pandai menenun. Jadi bisa dilihat di setiap rumah pasti ada alat untuk menenun. Para perempuan itu menenun di depan rumah mereka.


Keunikan dari kain tenun khas Desa Sukarare adalah motifnya yang berbentuk rumah adat, tokek, lumbung dan beberapa motif unik lainnya yang masing-masing memiliki makna. Bahan baku benang tenun yang mereka pakai adalah benang sutra emas, benang sutra, benang sutra perak dan benang katun. Proses pewarnaannya pun memakai pewarna alami dari alam.


Di sini Dita juga diajari cara menenun oleh penduduk setempat. Ya, meski dia tidak langsung bisa menenun satu kain, tapi dia tahu bagaimana proses menenun benang hingga akhirnya menjadi kain. Dita sempat mempraktekkan cara menenun yang kemudian diabadikan Rendra dengan kameranya.


Setelah Dita belajar menenun, Rendra dan Dita memakai pakaian adat Lombok kemudian berfoto di rumah tradisional suku Sasak yang ada di sana. Sebelum menuju lokasi selanjutnya, mereka juga membeli oleh-oleh kain tenun khas Lombok yang merupakan produksi penduduk Desa Sukarare.


Tempat ketiga yang mereka kunjungi yaitu Dusun Sade, dusun yang masih mempertahankan adat suku Sasak. Dusun Sade merupakan salah satu dusun yang terletak di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Di sini Rendra dan Dita ditemani tour guide penduduk asli Dusun Sade yang bernama Wahidin.


Mereka diajak berkeliling masuk ke dusun. Wahidin menjelaskan mengenai adat mereka. Dahulu, penduduk Dusun Sade banyak yang menganut Islam Wektu Telu (hanya tiga kali sholat dalam sehari) karena masih terpengaruh agama Hindu. Tetapi sekarang, banyak penduduk Dusun Sade sudah meninggalkan Wektu Telu dan memeluk Islam sepenuhnya.


Hal unik lainnya, warga Dusun Sade punya kebiasaan khas yaitu mengepel lantai menggunakan kotoran kerbau. Konon, dengan cara begitu lantai rumah dipercaya lebih hangat dan dijauhi nyamuk.


Para perempuan di Dusun Sade juga ada yang menenun kain di depan rumah mereka, dan menjualnya kepada para wisatawan. Selain itu mereka juga membuat aksesoris, ada gelang dari kain tenun, batu mutiara, kerang, dan akar tanaman laut. Mereka juga membuat topi tani yang unik, kipas, dan tas dengan bahan dasar kain tenun.


Wahidin juga menjelaskan kalau warga Dusun Sade masih melakukan pernikahan dengan keluarga dekat. Banyak di antara mereka yang menikah dengan sepupunya sendiri. Meskipun tidak dilarang menikahi perempuan di luar dusun, tapi kebanyakan masih menjalankan tradisi ini untuk terus mempertahankan warisan leluhur.


Tradisi unik kawin culik pun masih dilakukan hingga sekarang. Cara ini masih ada karena nenek moyang mereka masih percaya kalau perempuan yang ingin dipersunting tapi diculik sebelumnya, ada rasa bangga yang besar dan dipercaya sebagai cara terbaik warga Dusun Sade untuk menghargai satu sama lainnya.


Setelah berkeliling, dan membeli oleh-oleh di sana, mereka menuju ke tujuan berikutnya. Tak lupa Rendra membeli tip pada Wahidin sebelum pergi.


Pantai Kuta menjadi tujuan mereka selanjutnya. Pantai ini memiliki hamparan pasir putih yang sangat luas dan terlihat menawan karena berpadu dengan keindahan bukit-bukit yang mengelilinginya. Memiliki garis pantai yang bergelombang dengan jajaran terumbu karang yang cantik.

__ADS_1


Pasir di sini sangat unik, bentuknya bulat-bulat berwarna krem persis seperti butiran-butiran merica. Karena bentuk pasirnya Pantai Kuta juga memiliki sebutan lain yakni Pantai Merica.


Fasilitas di Pantai Kuta sudah lumayan lengkap seperti kamar mandi, penginapan, maupun tempat ibadah yang bersih. Karena Dita dan Rendra tidak memakai sunblock dan tidak membawa kacamata hitam, mereka hanya melihat-lihat pemandangan, berfoto sebentar untuk kenang-kenangan dan juga salat di sana.


Sesudah salat, mereka menuju restoran lokal di area Pantai Kuta. Mereka memilih menu ikan bakar dengan plecing kangkung. Plecing kangkung merupakan salah satu makanan khas Pulau Lombok. Hidangan ini terdiri dari kangkung yang direbus sampai matang yang disajikan dengan bumbu plecing, yang tebuat dari cabai rawit, tomat, terasi khas Lombok, dan jeruk limau. Plecing kangkung biasanya disajikan dengan tambahan sayuran seperti taoge rebus, kacang tanah goreng dan kelapa parut yang dicampur dengan cabai merah yang dihaluskan. Kangkung yang digunakan di sini memiliki karakter khusus yaitu berukuran besar dan bertekstur renyah, yang beda dengan kangkung pada umumnya.


Setelah makan, tujuan terakhir mereka hari ini adalah Pantai Tanjung Aan. Pantai ini merupakan pantai dangkal yang mempunyai garis pantai sepanjang 2 km. Ombaknya cukup tenang dan relatif lebih aman. Aktivitas yang bisa dilakukan di sini antara lain bermain air, berjemur menikmati pemandangan, dan bersantai sambil bermain pasir.


Sesudah puas berwisata di pantai, mereka diantar lagi ke hotel. Selama perjalanan dari pantai menuju hotel, Dita tertidur karena kelelahan. Dia tidur di pangkuan Rendra selama di perjalanan.


Begitu sampai di hotel, Rendra tidak membangunkan Dita. Dia meminta tolong Irvan dan Wawan untuk membawakan oleh-oleh yang tadi mereka beli, sementara dia menggendong Dita sampai ke kamar.


Begitu tiba di kamar, Rendra membaringkan Dita di atas ranjang. Lalu dia berterima kasih pada Irvan dan Wawan yang menunggu di luar kamar sekaligus memberi mereka tip. Mereka sempat mengobrol sebentar sebelum akhirnya berpamitan.


Rendra kembali ke kamar sambil membawa oleh-oleh dan menempatkan di sudut kamar. Besok saja saat mereka akan pulang, dia baru menatanya. Dia lalu menutup pintu dan mengunci kamar, kemudian berbaring menyusul Dita yang masih tidur dengan nyenyak.


Satu jam kemudian Dita terbangun. Dia terkejut karena sudah ada di dalam kamar. Seingatnya tadi dia tidur di mobil, siapa lagi pelakunya kalau bukan Rendra yang menggendongnya ke kamar.


Dia tersenyum menatap wajah Rendra yang masih lelap. Dalam hati dia bersyukur memiliki Rendra yang selalu membuatnya bahagia dan memanjakannya, meski kalau sudah cemburu dan sifat posesifnya muncul akan bertingkah sangat menyebalkan.


Dia menelusuri wajah Rendra dengan matanya, perlahan dia mendekatkan diri dan mengecup lembut bibir Rendra. Tanpa diduga saat akan bangkit, kepalanya ditahan tangan Rendra hingga membuat bibir mereka terus menempel. Ciuman yang semula lembut itu lama-lama menjadi lebih menuntut.


"Sayang, kita mandi bareng ya. Aku mau kamu lagi." Ucap Rendra dengan suata parau saat mereka menjeda ciuman. Rendra lalu bangkit dari tidurnya sambil terus mencium Dita hingga posisi mereka sama-sama duduk berhadapan.


Rendra lalu menggendong Dita, yang secara refleks merangkul lehernya. Mereka masuk ke kamar mandi untuk mandi sekaligus mencapai kenikmatan duniawi yang akan membuat mereka melayang tinggi.

__ADS_1


__ADS_2