Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
104


__ADS_3

Acara barbeku berjalan dengan lancar dan meriah. Di kesempatan itu Rendra mengucapkan terima kasih pada seluruh tim karena sudah bekerja keras dan bekerja sama memajukan kafe. Dia juga mengumumkan pengangkatan Candra sebagai manajer kafe, sekaligus membagikan bonus akhir tahun yang disambut gembira oleh mereka semua.


Suasana malam itu terjalin penuh keakraban, tanpa ada batas antara pemilik dan karyawan. Mereka berbaur, bercerita dan bercanda bersama. Rendra juga mendengarkan keluh kesah mereka saat melayani pelanggan yang kadang rewel dan banyak maunya. Dia juga minta mereka untuk mengutarakan ide, kritik atau pun saran untuk kemajuan kafe.


Mereka mengakhiri acara barbeku setelah hidangan utama habis tak bersisa. Sebelum pulang, tak lupa mereka membereskan tempat dan alat yang tadi mereka pakai hingga kembali bersih seperti semula. Karena semua karyawan sudah bekerja keras hari ini, Rendra meliburkan kafe selama satu hari di tahun baru agar mereka bisa beristirahat dengan tenang tanpa terbebani harus berangkat kerja.


Bella, dini hari ini pulang bersama dengan Candra dan beberapa orang yang searah jalannya. Meski mereka tetap membawa kendaraan sendiri-sendiri. Sedangkan Rendra dan Dita pulang paling akhir setelah semua karyawan pulang.


“Capek enggak, Sayang?” tanya Rendra sambil memasangkan sabuk pengaman Dita.


“Enggak Mas, senang banget malahan. Kayanya udah lama banget aku enggak kumpul-kumpul seperti ini. Makasih untuk malam ini, Mas.” Dita mendekati Rendra lalu mengecup pipinya.


Meski sempat terkejut dengan ciuman Dita, Rendra langsung tersenyum dengan lebar. "Kayanya aku harus sering-sering mengadakan acara seperti ini biar istriku senang dan aku dapat hadiah terus."


"I'll do everything to make you happy, My Lovely Wife (Aku akan melakukan segalanya untuk membuatmu bahagia, Istriku Tercinta)." Rendra mengelus pipi Dita.


Dita langsung tersipu malu begitu mendengar kata-kata manis Rendra.


"Sayang," panggil Rendra pelan sambil masih memegang pipi Dita yang halus.


"Iya, Mas," jawab Dita malu-malu.


"Kayanya menantang ini kalau kita melakukannya di mobil."


"Melakukan apa, Mas?" tanya Dita dengan ekspresi bingung.


"Kissing (berciuman)," bisiknya di telinga Dita.


"Jangan aneh-aneh deh, mmmpphh." Rendra membungkam Dita dengan ciuman di bibirnya. Dengan pelan tapi pasti, dia mulai mengulum dan menyesap bibir manis istrinya. Awalnya Dita memang menolak, tetapi lama kelamaan dia pun terbuai dengan ciuman Rendra.


Mereka akhirnya saling mengulum, menyesap, mengigit dan menjelajahi bibir dan mulut pasangannya. Tangan Dita pun tanpa disadari sudah mengacak-acak rambut suaminya. Sementara tangan Rendra sudah berkelana di dada istrinya.


Mereka seolah sudah melupakan di mana mereka sedang berada sekarang. Untung saja kaca mobil dilapisi kaca film yang gelap, jadi apa yang mereka lakukan tidak terlihat dari luar. Mereka baru saling melepaskan diri saat gawai Rendra tak berhenti bergetar, tanda ada panggilan masuk.


Rendra mengecek gawainya, ternyata mamanya yang menelepon. Mamanya hanya ingin memastikan mereka akan pulang atau akan menginap di kafe. Setelah menjawab kalau mereka akan pulang, Ibu Dewi memutuskan panggilannya.

__ADS_1


Usai menyimpan lagi gawai di atas dashboard, mereka saling tertawa karena melihat penampilan mereka yang sudah acak-acakan. Rendra membantu Dita merapikan penampilannya, begitu juga sebaliknya. Tidak lucu kan, mereka pulang ke rumah dalam keadaan acak-acakan, apalagi kalau sampai dilihat Ibu Dewi. Bisa malu setengah mati.


...---oOo---...


Liburan semester genap sudah tiba. PKL Rendra pun sudah selesai, tinggal membuat laporannya. Selama liburan, Dita jadi lebih sering ke kafe atau pun ke butik Mama Dewi kalau Rendra harus pergi untuk mengerjakan laporannya. Kondisi kesehatan Dita, pelan-pelan sudah mulai pulih. Tetapi, dia masih belum boleh mengangkat yang berat apalagi sampai kecapaian.


Dita selalu mendampingi Rendra bila dapat undangan pertemuan pengusaha atau harus mengisi pelatihan atau seminar. Terkadang Dita juga ikut bertemu dengan klien atau temannya. Sebisa mungkin, Rendra selalu melibatkan Dita di setiap kegiatannya. Selain karena ingin menikmati kebersamaan dengan istrinya, dia juga ingin Dita lebih mengenal lagi klien, relasi atau pun teman-temannya. Dia juga akan merasa lebih tenang kalau Dita ada di dekatnya.


Setiap pagi, setelah Rendra pulang dari Masjid usai salat Subuh, mereka berjalan-jalan di sekitar kompleks cluster. Meski tidak terlalu jauh, setidaknya Dita tidak hanya berdiam diri dan memanjakan tubuhnya. Berat badan Dita juga sudah mulai turun setelah sempat naik 7 kg selama hamil.


Masa nifas Dita sudah selesai, yang membuat Rendra senang bukan kepalang. Mereka langsung berjanji bertemu dengan dokter Lita begitu Dita selesai nifas.


Dokter Lita mengatakan kalau mereka sudah boleh berhubungan lagi karena masa nifas Dita sudah selesai meski belum mencapai 40 hari. Mereka disarankan untuk menunda kehamilan sampai 1,5 atau 2 tahun ke depan. Kehamilan Dita selanjutnya sebaiknya juga harus direncanakan lebih baik lagi.


Dokter Lita juga menjelaskan tentang bagaimana cara mencegah kehamilan. Dia menerangkan tentang berbagai macam alat kontrasepsi yang bisa mereka pilih. Dia juga memberi tahu mereka tentang bagaimana cara mengecek dan menghitung masa subur Dita, jadi mereka bisa saling mengingatkan bila salah satu dari mereka lupa. Dengan apa mereka akan mencegah kehamilan, itu menjadi keputusan mereka berdasarkan kesepakatan berdua.


Rendra pulang dari dokter Lita dengan wajah ceria. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya hingga membuat Dita heran.


"Mas, kenapa senyum-senyum sendiri?"


"Aku bahagia lah. Kita menginap di hotel yuk, Sayang."


"Malam pertama kita yang kedua," ucap Rendra sambil mengerling genit pada Dita.


Dita tersenyum malu mendengar ucapan Rendra.


"Mau ya, Sayang? Kalau di rumah kita enggak bisa bebas. Ya ya ya?" rayu Rendra.


"Terus nanti alasannya sama mama apa kalau kita menginap di hotel?"


"Gampang itu, mama pasti paham lah. Kita bilang saja mau bulan madu lagi atau short getaway. Udah lama kan kita enggak liburan berdua."


"Terserah Mas saja. Aku ikut."


"Nah, gitu dong. Jadi makin enggak sabar ini nunggu malam." Rendra kembali tersenyum riang.

__ADS_1


"Kita mau tidur di hotel berapa hari, Mas?" tanya Dita.


"Seminggu gimana?" Rendra menggoda Dita dengan menaik turunkan alisnya.


"Kelamaan. Jangan pemborosan, Mas. Secukupnya saja." Dita menolak usulan Rendra.


"Masalahnya, aku tuh enggak pernah cukup denganmu, Sayang. Selalu kurang dan ingin terus."


Dita memutar bola matanya jengah. "Yang serius dong, Mas."


"Aku serius, Sayang. Memangnya kamu belum bisa membedakan kapan aku serius dan kapan aku bercanda."


"Makanya yang serius jawabnya." Dita sudah mulai kesal dengan Rendra, yang sepertinya senang menggoda istrinya.


"Oke, 3 hari 2 malam. Deal ya!"


"Enggak satu malam aja, Mas?"


"No. Seminggu saja rasanya masih kurang, apalagi cuma semalam. Big No!!!"


"Ya sudah, terserah Mas saja."


"Nah gitu. Nanti setelah ini kamu packing baju kita ya, Sayang. Setelah itu kita bisa check in."


"Memangnya Mas sudah booking hotelnya?"


"Gampang lah soal booking. Nanti saat Sayang packing, aku bisa langsung booking kamar. Lagian kita juga pernah dapat hadiah pernikahan voucher menginap gratis yang bisa kapan saja dipakai."


"Mas aja lah yang atur. Aku terima beres saja."


"Nah betul. Biar aku yang bekerja, kamu cukup menikmati saja apa aku kerjakan." Rendra kembali mengedipkan sebelah matanya dengan genit.


Dita menggelengkan kepala menghadapi suaminya yang tiba-tiba berubah genit. Apa memang laki-laki menjadi genit setiap kali menginginkan sesuatu dari istrinya?


Dita sejujurnya juga gugup. Dia takut bekas luka operasinya akan jadi sakit atau terluka lagi. Tetapi dia juga tidak bisa menolak suaminya. Dia tidak mau dilaknat Malaikat sampai dua hari ke depan karena menolak berhubungan dengan suaminya.

__ADS_1


Dita melirik suaminya yang sedang bersiul dengan riang sambil memegang kemudi mobil. Dia tidak pernah melihat wajah suaminya secerah hari ini sejak kematian Akhtar. Rendra selalu saja khawatir dengan keadaannya. Sampai kadang dia jengah dengan sikap protektif dan posesif Rendra. Tetapi setelah dipikirkan lagi, Rendra bersikap seperti itu karena ingin menjaganya dari segala hal yang bisa menyakitinya. Jadi sudah sepantasnya dia bersyukur memiliki suami seperti Rendra dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Karena tidak ada manusia yang sempurna.


Jogja, 190421 01.20


__ADS_2