
Sesudah mandi dan salat Subuh, Dita mulai mengepak baju dan perlengkapan mereka ke dalam koper. Sementara itu, Rendra menyelesaikan mengepak oleh-oleh yang kemarin sudah sebagian dipak ke dalam kardus.
Setelah sarapan pagi di hotel, mereka dijemput ke tujuan terakhir mereka di Lombok sebelum nanti mereka kembali ke Jogja. Penerbangan mereka di siang hari, jadi paginya mereka akan mengunjungi salah satu desa wisata yang ada di Lombok, yaitu Desa Bonjeruk.
Desa wisata Bonjeruk berada di Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. Desa wisata ini menawarkan keasrian alam desa dengan kebun buah dan persawahan. Kegiatan yang sering dilakukan oleh pengunjung yaitu bersepeda dan camping di sini.
Desa Bonjeruk juga merupakan desa bersejarah karena pernah menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda. Di sini ada sebuah bangunan bekas kantor Distrik Jonggat pada zaman Belanda yang masih kokoh berdiri. Selain itu ada kediaman Lalu Serinata, Kepala Distrik Jonggat, yang dikenal sebagai Gedeng Beliq (Rumah Besar), yang dibangun pada tahun 1933. Ada juga Masjid Raden Nuna Umas yang dibangun pada tahun 1800-an.
Rendra dan Dita diajak menelusuri pematang sawah, melihat pasar Ten Ten (pasar yang bukanya di hari tertentu), air terjun Kokoh Dalem dan juga Tebing Purba. Setelah itu mereka melihat proses pengolahan kopi secara tradisional di sana. Sebagai barista kopi tentu saja Rendra sangat tertarik segala hal tentang kopi.
Kopi yang khas di sana adalah kopi sangrai. Ada yang ada tiga jenis kopi sangrai yaitu kopi sangrai pasir, kopi sangrai kayu manis, dan kopi sangrai beras. Ketiga kopi itu mempunyai aroma yang berbeda, tergantung dari proses disangrai bersama dengan bahan apa.
Rendra sangat serius melihat seluruh proses pengolahan kopi dengan cara tradisonal itu. Pertama biji kopi disangrai dulu dengan wajan. Proses sangrai biji kopi ada yang hanya menyangrai biji kopi saja, ada pula yang disangrai bersama dengan beras, pasir atau kayu manis. Jika biji kopi disangrai menggunakan pasir akan mendapatkan kematangan yang lebih merata.Setelah disangrai, biji kopi kemudian dihaluskan dengan cara ditumbuk di alu yang terbuat dari kayu. Selanjutnya bubuk kopi bisa langsung diseduh atau dikemas ke dalam wadah.
Setelah mencicipi semua rasa kopinya, Rendra membeli semua jenis kopi yang dijual di sana, bahkan membeli biji kopi mentahnya. Dia nanti akan coba mengolahnya sendiri di kafe, siapa tahu bisa jadi menu baru yang akan menjadi salah satu best seller. Dasar Rendra, otak bisnisnya tetap jalan meski sedang bulan madu. Dia bahkan meminta kontak salah satu pengelola di sana.
Usai melihat proses pengolahan kopi, Rendra dan Dita memesan Paket Begibug (1) ala Bonjeruk. Menunya terdiri dari ayam merangkat (2), sate kuncung (3), sayur ares (4), sayur daun kelor, urap timun, beberuk (lansule) dan cengeh (5). Selain itu juga ada tim ikan yaitu ikan yang dibumbui dan dikukus dengan memakai daun pisang. Ayam merangkat merupakan masakan yang biasanya disuguhkan untuk kedua calon mempelai saat upacara prosesi pernikahan di Desa Bonjeruk. .
Selain ayam merangkat ada kudapan khas Desa Bonjeruk yaitu serabi. Serabi ini dimasak di atas wajan besi dengan bulatan-bulatan kecil. Serabi ini disajikan dengan ketan hitam, dengan pelengkap parutan kelapa dan juga cairan gula merah.
Rendra dan Dita duduk di lesehan sambil menunggu makanan dihidangkan. Dari sana mereka bisa melihat areal pertanian organik yang dikelola oleh pemuda tani desa. Mereka juga memesan ayam merangkat dan paket begawe untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.
Selesai makan, mereka kemudian meninggalkan Desa Bonjeruk dan langsung menuju bandara. Perjalanan dari Desa Bonjeruk ke bandara selama kurang lebih 30 menit. Pesawat mereka lepas landas pada pukul 13.20 dan mendarat di Denpasar pada pukul 14.16. Transit selama 35 menit, baru kemudian terbang lagi menuju Jogja pada pukul 14.50 dan tiba di bandara Jogja sekitar pukul 15.30. Mereka memang tidak memesan penerbangan langsung karena penerbangannya terlalu pagi. Jadi mereka mengambil jadwal penerbangan yang transitnya tidak terlalu lama.
Mereka dijemput kembali oleh perwakilan dari agen Tour & Travel untuk diantar pulang ke rumah Rendra. Mereka mampir sebentar ke rumah Pak Wijaya untuk memberikan oleh-oleh sebelum menuju ke rumah Rendra. Mereka baru tiba di rumah menjelang azan Magrib.
Kepulangan Rendra dan Dita disambut Ibu Dewi dan Nisa karena Shasha masih belum pulang dari kantor. Nisa sudah tidak sabar menunggu oleh-oleh yang dibawa kakaknya hingga membuat Ibu Dewi menegurnya. Setidaknya biarkan kedua kakaknya itu membersihkan diri dan beristirahat sebentar sebelum membuka barang bawaan mereka.
Rendra dan Dita lalu masuk ke kamar. Rendra meletakkan koper di dekat ranjang, kemudian merebahkan diri di atas ranjang.
“Mas, mandi dulu jangan rebahan. Sebentar lagi Magrib loh,” tegur Dita.
“Lima menit saja, Sayang.” Rendra tetap dalam posisinya.
“Enggak ada lima menit-lima menitan, nanti Mas ketiduran. Ayo bangun Mas, terus mandi.” Dita menarik lengan Rendra agar suaminya itu bangun.
Tetapi tenaga Rendra tentu saja lebih kuat dari Dita, bukannya Rendra bangun dari tidurnya malah Dita yang terjatuh di atas badan Rendra. Membuat Rendra memeluknya.
“Aku bangun, tapi kita mandi bareng ya.” Rendra mengedipkan sebelah matanya.
"Udah mau Magrib Mas, nanti Mas terlambat ke masjid."
"Memangnya mandinya lama, orang cuma mandi aja kok. Atau kamu ya yang ingin lebih dari mandi." Rendra kembali menggoda Dita.
__ADS_1
"Mas, ih." Dita mencoba melepaskan diri dari pelukan Rendra.
"Cium dulu sini, baru aku mandi."
Cup .... Dita mencium kilat bibir suaminya.
Rendra tersenyum penuh kemenangan, lalu melepaskan Dita. Dia bangkit dari tidurnya mau ke kamar mandi. Saat melewati Dita yang sedang melepas hijabnya, dia berbisik. "Nanti malam aku mau kamu."
Rendra mengecup pipi Dita sebelum masuk ke kamar mandi. Wajah Dita memerah mendengar bisikan Rendra tadi. Suaminya itu sepertinya tidak pernah merasa lelah meski setiap hari mereka melakukannya lebih dari sekali.
Dita kembali memfokuskan diri. Setelah melepas hijab, dia membuka koper dan mengumpulkan baju kotor di keranjang baju. Nanti dia akan merendam baju-baju kotor itu dan mencucinya besok pagi.
Dita juga menyiapkan baju ganti untuk Rendra yang diletakkan di atas ranjang. Rendra keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang membalut bagian bawah tubuhnya. Perut yang terbentuk sempurna dan otot yang padat tampak jelas terpapang di depan Dita.
"Aku mandi dulu, Mas." Dita segera memalingkan wajah lalu masuk ke kamar mandi. Dia bersandar di belakang pintu begitu sudah di dalam kamar mandi. Dia memegang dadanya yang berdebar kencang. Meski mereka sudah saling melihat tubuh polos masing-masing, tetapi melihat otot dan perut Rendra tadi masih membuatnya salah tingkah.
Rendra yang ada di kamar tertawa kecil melihat Dita yang jadi salah tingkah. Dia memang sengaja bertelan jang dada di depan Dita. Menggoda istrinya dan membuatnya salah tingkah menjadi hobi barunya sekarang.
Setelah salat Isya, Rendra membuka oleh-oleh yang mereka bawa di ruang tengah. Dia mulai memilah oleh-oleh akan diberikan pada siapa saja. Dita juga memberikan perhiasan mutiara yang dia beli untuk Ibu Dewi, Shasha dan juga Nisa.
Setelah acara membagi oleh-oleh dan menceritakan pengalaman mereka selama di Lombok, mereka semua memutuskan beristirahat karena malam semakin larut.
"Mas, besok mau ke kampus?" Tanya Dita saat mereka sudah berbaring di atas ranjang, bersiap tidur.
"Iya, kamu mau ikut?" Rendra menyelipkan rambut Dita di belakang telinga.
"Ikut ke kampus aja ya, habis itu kita ke kafe. Aku mau bikin kopi yang dari Lombok."
"Memangnya di rumah enggak bisa, Mas."
"Alatnya kurang lengkap, Sayang."
"Aku nyusul ke kafe pakai ojol aja, Mas."
"Kenapa?"
"Nanti Mas lama di kampus, terus aku ngapain kalau Bella enggak ada? Mending aku di rumah beberes."
"Ya udah, besok aku jemput aja kalau Bella enggak ke kampus."
"Ishhh ... kurang kerjaan. Buang-buang waktu."
"Dari pada kamu naik ojol."
__ADS_1
"Emang kenapa kalau aku naik ojol? Biasanya juga aku naik ojol kalau Mas lagi sibuk."
"Aku kan lagi enggak sibuk, Sayang. Jadi, kamu mau ikut ke kampus atau aku jemput?" Rendra memegang dagu Dita.
"Iya, aku ikut ke kampus."
"Nah, gitu dong. Kita manfaatkan waktu berdua selama mungkin. Dan karena malam ini aku bahagia, kamu beri kamu bonus."
"Bonus apa Mas?" Dita mengernyit penasaran.
"Aku akan membuatmu melayang tinggi berkali-kali."
"Itu mah maunya, Mas." Dita memukul pelan dada Rendra karena malu.
"Kamu juga mau kan, jangan bohong." Rendra memainkan kedua alisnya.
"Apaan sih, Mas." Dita semakin tersipu.
"Sssttt ... i want you right now, My Love." Rendra berbisik di telinga Dita sembari memberikan sensasi menggelikan dan melenakan.
"Mas, jangan bikin tanda di leher." Pinta Dita sebelum dia mulai terlena dengan sentuhan Rendra.
...※※※※※...
Catatan:
(1) Begibug adalah cara makan bersama suku Sasak di Lombok.
(2) Ayam merangkat berupa ayam kampung bakar yang disuir-suir, dan dibumbui dengan bumbu yang sederhana tetapi rasanya sangat nikmat. Bahan baku ayam merangkat adalah ayam kampung yang sejak menetas sampai dipotong, dibiarkan hidup bebas dan hanya memakan biji-bijian organik dari alam.
(3) Sate kuncung adalah sate yang dibuat dari pisang biji (puntik batu). Pisang mentah dimasak lalu diiris tipis-tipis, kemudian dicampur ayam, parutan kelapa dengan bumbu dan rempah-rempah hingga menjadi seperti adonan. Setelah itu dibungkus dengan daun pisang yang dibentuk kerucut. Lalu dibakar sekitar 15 menit.
Sate kuncung dulunya hanya disajikan untuk keluarga bangsawan dan hanya dibuat untuk acara tertentu.
(4) Sayur ares adalah sayur yang dibuat dari batang pisang yang dibumbui dengan bawang merah, bawang putih, kencur, jahe, kunyit, lengkuas, cabai, terasi, kemiri, garam dan bumbu rempah.
(5) Cengeh adalah sayur daun keladi yang dicampur ikan, kacang panjang, cabai rawit hijau dan dimasak dengan santan kental. Bumbu yang digunakan Cabai, bawang putih, terasi, kemiri, dan garam. Penampakan sayur ini hampir mirip dengan sayur lodeh.
...💞💞💞💞💞...
Terima kasih yang masih setia mengikuti perjalanan Rendra dan Dita berbulan madu di Lombok, semoga bisa sedikit memberi gambaran keindahan Pulau Lombok.
Tak lupa saya ucapkan terima kasih pada Mama Iqbal yang sudah bersedia menjadi narasumber tentang Lombok saat ini.
__ADS_1
"Maaf ya Mam, sudah merepotkan dan mengganggu waktunya. Mohon dikoreksi bila ada kesalahan dalam menulis tentang Lombok. Semoga suatu saat saya bisa ke Lombok lagi dan bertemu dengan Mama Iqbal 🤗🤗🤗."
Jogja, 170321 23.52