Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
79


__ADS_3

“Olivia, duduk di sini. Bude mau bicara sama kamu,” panggil Ibu Dewi sambil menunjuk salah satu sofa di ruang tengah.


Setelah salat Magrib, mereka semua berkumpul di ruang tengah, termasuk Nisa dan Shasha.


“Ada apa, Bude? Kok kayanya ada hal yang serius.” Olivia mendudukan diri di sofa.


“Tadi Bude dengar kamu tiduran di kamar Rendra,” Ibu Dewi membuka pembicaraan mereka.


“Iya, memangnya kenapa? Pasti Dita yang mengadu. Dasar tukang adu,” ucap Olivia tanpa merasa bersalah.


“Oliv, jaga bicaramu! Dita itu istriku. Kamu tidak punya hak menjelekkan dia, apalagi memfitnahnya.” Hardik Rendra sambil menunjuk wajah Olivia.


“Ren, tenang. Jangan emosi,” tegur Ibu Dewi dengan lembut.


“Rendra enggak terima, Ma. Dia sudah memfitnah Dita,” sahut Rendra berapi-api.


“Aku enggak fitnah, kenyataannya Dita mengadu pada Bude.” Olivia tetap bersikeras dengan pendapatnya.


“Mbak Dita itu bukan pengadu,” bela Nisa.


“Iya, sejak kamu datang ke sini dia tidak pernah mengadukan semua kelakuanmu. Kalau aku jadi Dita sudah aku habisi kamu.” Shasha ikut membela Dita.


“Kenapa kalian semua membela Dita? Dita itu orang baru di sini, kalian belum tahu saja sifat aslinya.” Sahut Olivia tak terima.


“Diam, Olivia!!!! Sekali lagi kamu menjelekkan Dita, aku tak segan berbuat kasar.” Wajah Rendra semakin memerah, kedua tangannya mengepal kencang.


“Ren, kendalikan dirimu. Sebaiknya kamu diam saja. Biar mama yang bicara.” Tutur Bu Dewi dengan nada lembut tetapi tegas.


“Iya, Ma.” Rendra menghela napas lalu menyandarkan punggung di sofa dengan tangan bersedekap di depan dada, dan menatap tajam Olivia. Dia tidak menduga Olivia yang dulunya baik sekarang jadi orang yang picik.


“Oliv, Dita tidak pernah mengadu sama Bude. Bude tahu dari Rendra. Bude minta mulai saat ini kamu menjaga jarak sama Rendra. Dan, jangan lagi masuk ke kamar mereka. Rendra sekarang sudah punya istri, tidak sepantasnya lagi kamu bermanja-manja sama dia.” Ujar Ibu Dewi sambil menatap Olivia.


“Jadi, aku yang salah Bude?” Tanya Olivia tanpa merasa bersalah, sambil menunjuk dirinya sendiri.


Ibu Dewi menganggukkan kepala.


“Salahku di mana?” Olivia masih tetap bersikeras tidak bersalah.


“Kamu tidak bisa menempatkan diri. Kamu sembarangan masuk ke kamar mereka,” sahut Shasha.


“Masa masuk kamar saja jadi masalah sih,” gerutu Olivia.


“Kak Rendra sudah punya istri, harusnya Olivia enggak boleh sembarangan masuk kamarnya. Aku saja enggak pernah masuk kalau enggak izin dulu,” terang Nisa.


"Dulu saja tidak masalah, kenapa jadi masalah sekarang?" Olivia mengernyit.


"Dulu Rendra belum menikah, Oliv. Sekarang dia sudah menikah. Seharusnya kamu bisa menjaga perasaan istrinya."


"Dita saja yang lebai, masalah kecil dibesar-besarkan."


"Olivia!!!" Rendra geram dengan Olivia.


"Kak Rendra berubah sekarang. Jadi cowok yang tegas dong, jangan mau dikendalikan sama Dita."


Rendra beranjak dari duduknya, berniat mendekati Olivia.


"Rendra, duduk!" perintah Ibu Dewi.


Rendra pun kembali duduk, menuruti perintah mamanya.


"Oliv, Bude sudah berusaha menasehati kamu dengan baik. Kamu sudah dewasa, seharusnya kamu tahu mana yang pantas kamu lakukan, dan mana yang tidak. Tetapi kalau kamu tetap bersikeras dan tidak mau merubah sikapmu, Bude akan minta mamamu menjemputmu."


"Bude, kenapa jadi bawa mama?" Olivia terlihat cemas. Mamanya adalah kelemahannya, dia tidak berani melawan kalau mamanya sudah memutuskan sesuatu.


"Karena Bude sudah tidak bisa menasehati kamu. Selalu saja membantah setiap diberi tahu. Kamu juga tidak mau menghormati Dita. Jadi, lebih baik kamu kembali saja ke Jakarta. Bude tidak mau rumah tangga Rendra dan Dita terusik karena kamu."


"Tapi, Bude ...."


"Bude beri waktu sehari untuk memikirkan apa yang bude katakan. Kalau kamu tidak berubah, terpaksa bude bilang sama mamamu."


"Iya, Bude."


"Ingat, jangan bersikap manja lagi sama Rendra. Jangan sembarangan masuk kamar mereka lagi. Dan, kamu harus minta maaf sama Dita."


"Ke ... kenapa aku harus minta maaf sama Dita?"


"Karena kamu tidak menghormati dia, dan sudah berprasangka buruk padanya," jelas Ibu Dewi.


Olivia terlihat tidak senang karena dia harus minta maaf pada Dita. Dia sama sekali tidak merasa bersalah. Di matanya, Dita saja yang lebai dan terlalu membesarkan hal yang sepele.


"Kalau aku tidak mau minta maaf?" tanya Olivia dengan wajah masam.

__ADS_1


"Besok, kamu harus kembali ke Jakarta." Jawab Ibu Dewi tegas.


"Baik, aku akan minta maaf. Dita di mana sekarang?"


"Dita di rumah kakaknya."


"Huh ... istri macam apa itu malah meninggalkan suaminya," sindir Olivia.


"Olivia!!!" teriak Rendra.


"Bela terus saja istrinya, Kak. Aku memang sudah tidak ada artinya lagi di mata Kak Rendra."


"Apa maksudmu?"


"Dulu Kak Rendra selalu memperhatikan aku. Mau menuruti aku. Sekarang apa-apa Dita."


"Hal yang wajar kan. Dita istriku. Dia prioritas utamaku, setelah mama."


"Jadi, selama ini aku enggak ada artinya di mata Kak Rendra?"


"Arti bagaimana? Aku perlakukan kamu sama kaya aku sama Nisa. Tidak ada yang beda."


"Ah, sudahlah. Tidak ada gunanya juga aku bicara." Olivia menghela napas panjang.


"Sekali lagi, bude minta kamu renungkan semuanya, Olivia." Kata Ibu Dewi sebelum menutup pembicaraan mereka karena azan Isya sudah berkumandang.


...---oOo---...


"Assalamu'alaikum," salam Adi saat masuk ke dalam rumah. Dia mendengar ada suara TV dinyalakan, jadi dia tahu kalau Dita ada di rumahnya.


"Wa'alaikumsalam," balas Dita pelan. Dia meringkuk di sofa dengan tatapan kosong ke layar televisi.


Adi menghampiri Dita. Adiknya itu bangun lalu mencium punggung tangan dan kedua pipinya. Dia lalu mengecup kening Dita sebagai balasannya.


"Rendra mana, Dek?" Tanya Adi karena tidak melihat Rendra ada di sana. Biasanya mereka berdua pasti sedang duduk bersisian di sofa ruang tengah. Atau salah satu dari mereka berbaring, dengan kepala di pangkuan yang satunya.


"Di rumah," jawab Dita datar.


"Adek, ke sini sendiri?"


Dita menganggukkan kepala tanpa menoleh pada Adi.


"Kalian bertengkar?"


"Kenapa?"


Dita hanya diam tak menjawab, matanya tetap menatap layar televisi di depannya.


"Oke, kalau belum mau cerita. Mas mau mandi dulu." Adi bangkit dari duduknya hendak masuk ke kamar.


"Mas," panggil Dita yang membuat Adi menghentikan langkahnya.


"Apa, Dek?" Adi menatap Dita dengan kening mengerut.


"Makasih Mas, sudah izinkan aku di sini." Ucap Dita sambil menatap Adi.


"Hei ... ini juga rumahmu Dek. Kamu bisa kapan saja pulang ke sini."


Dita tersenyum kaku.


"Mas, mandi dulu ya."


Dita menganggukkan kepala tanpa mengatakan apa pun. Dia kembali ke posisinya semula meringkuk di atas sofa. Tanpa disadari, air mata jatuh dari sudut matanya. Dia mengusap dengan tangannya. Dia tidak mau Adi melihatnya menangis.


...---oOo---...


"Ada apa, Dek? Mau cerita sama mas?" Adi mendekati Dita, lalu duduk di sampingnya.


Dita menyandarkan kepalanya di bahu Adi.


"Apa aku salah Mas, kalau aku marah karena ada wanita lain yang tidur di atas ranjang kami?"


Adi terkesiap mendengar ucapan Dita. Dia membuat Dita duduk berhadapan dengannya.


"Apa Rendra selingkuh Dek?" Tanya Adi sambil memegang kedua bahu Dita.


Dita menggelengkan kepala. "Enggak, Mas."


"Terus siapa wanita itu?"


"Sepupunya," Dita menundukkan wajahnya.

__ADS_1


"Kok bisa dia masuk kamar? Mau ngapain?"


"Aku juga enggak tahu Mas. Aku dari jemur baju, pas masuk kamar dia sudah tiduran di atas kasur. Katanya dia nunggu Mas Rendra mandi." Dita menghela napas panjang.


"Apa Rendra yang minta dia nunggu?"


Dita kembali menggelengkan kepala. "Kayanya dia masuk sendiri. Mas Rendra juga kaget saat tahu sepupunya itu di kamar."


"Terus kalian bertengkar?"


Dita menganggukkan kepalanya.


"Terus Adek kabur ke sini?"


"Aku ke sini pamit ya, Mas. Enggak main kabur."


"Oke. Enggak kabur, tapi menyepi di sini." Adi meralat ucapannya.


"Situasi semakin enggak kondusif. Kami sama-sama emosi. Mas Rendra sebenarnya melarang aku ke sini, tapi aku enggak mau meluapkan emosi di sana. Aku menghormati mertuaku, Mas."


"Aku mau menenangkan diri dulu. Biar kami juga saling introspeksi diri, Mas."


"Iya, Dek. Mas mengerti, tapi seharusnya kamu jangan meninggalkan rumah tanpa izin suami."


"Terus aku harus bertengkar terus sama Mas Rendra dan melihat sepupunya itu?" Protes Dita tak terima.


"Ya, susah juga sih." Adi meringis memperlihatkan deretan giginya.


"Mas, kalau kami saling berteriak di dalam kamar apa malah tidak memperkeruh keadaan?"


"Iya juga, sih. Jadi canggung juga pasti sama Ibu Dewi."


"Iya, aku sudah berusaha menahan diri, tapi hari ini aku sudah tidak bisa lagi. Lebih baik aku menghindar dan menenangkan diri."


"Sampai kapan rencananya Adek mau menenangkan diri?"


"Mas Adi enggak suka aku di sini?"


"Eh ... bukan begitu. Mas cuma ingin kalian segera membicarakannya jangan sampai berlarut-larut. Kalian mau tinggal di sini pun Mas enggak keberatan kok. Jangan salah sangka, Dek." Adi mengelus kepala Dita.


"Ingat Dek, kalau marahan tidak boleh lebih dari 3 hari."


"Iya, Mas. Aku tahu, doakan ya Mas biar semuanya cepat selesai."


"Mas selalu mendoakan kebaikan untuk kalian berdua."


"Mas, enggak ke masjid?" tanya Dita saat suara azan Isya berkumandang.


"Mas salat jemaah aja di rumah sama Adek. Mas kangen sama Adek, tapi Adek sudah jadi milik Rendra. Mas enggak bisa seenak hati kaya dulu."


Dita memeluk erat kakaknya. "Aku juga kangen sama Mas Adi."


Mereka saling berpelukan selama beberapa saat.


"Ayo, kita salat dulu. Setelah itu kita makan. Adek belum makan kan?"


"Ya, belum. Di kulkas enggak ada apa-apa. Mas enggak pernah makan di rumah ya."


"Mas lupa belum belanja. Mas malas masak buat diri sendiri."


"Makanya, Mas Adi buruan cari istri biar enggak sendirian terus." Ledek Dita.


"Mentang-mentang ya sudah punya suami bisa ngomong begitu." Adi mencubit pucuk hidung Dita.


"Ya kan Mas Adi jadi ada yang mengurus. Ada yang menemani. Ayah sama bunda juga pasti bahagia."


"Nanti kalau sudah ada jodohnya pasti menikah, Dek."


"Tapi kalau enggak dicari mana ketemu, Mas."


"Memangnya Adek mencari jodoh jadi bisa menikah?"


Dita menggelengkan kepala.


"Nah kan, jodoh akan datang pada saatnya, Dek. Jodohnya Adek ternyata lebih cepat dan lebih dekat. Mas masih harus menunggu."


"Iya, iya, Mas."


"Kita salat dulu aja ya. Nanti sesudah salat kita pesan makanan. Oke!"


"Oke."

__ADS_1


Jogja, 200321 01.40


__ADS_2